Saturday, May 11, 2013

Al-Azhar; Pencetak Generasi Mandiri



Selaku mahasiswa Al Azhar, tentunya kita sudah merasakan bagaimana proses belajar mengajar di kampus ini. Akan tetapi, bisa mengundang tanda tanya besar bagi mereka yang baru mendengar sistem perkuliahan seperti ini.

Sebagai mana yang kita ketahui, bahwasanya sistem perkuliahan disini menggunakan sistem ceramah, dosen memberikan materi kuliah sampai batas akhir jam mata kuliah tersebut, tanpa absensi kehadiran mahasiswa. Dosen memberikan tugas makalah tanpa meminta untuk dipresentasikan diruang kuliah.

Sekilas kita lihat ini terkesan mudah dan sederhana. Akan tetapi jangan kita anggap sepele dan kita biarkan berlalu begitu saja, karena pada hakikatnya ini butuh perjuangan yang kuat dan serius jika kita ingin berhasil. Supaya tercapai maksud dan tujuan Al Azhar dalam mendidik mahasiswanya.

Inilah Al Azhar, punya ciri khas tersendiri dalam mendidik mahasiswa untuk mengembangkan agama dan peradaban Islam. Bukan berarti dengan menganut sistem ini, Al Azhar mengabaikan kurikulum yang dianggap membangun potensi mahasiswa seperti menulis dan diskusi. Akan tetapi, Al Azhar mengajarkan mahasiswa supaya mandiri.

Dari sanalah Al Azhar membangkitkan potensi mahasiswanya, untuk menjadi generasi ulama mandiri di masa depan. Bagaimana ketekunan mahasiswanya berjuang mencari ilmu. Mencari referensi yang benar, dilatih untuk bertanya pada dosen atau kepada para masyaikh walaupun diluar ruang kuliah. Karena ilmu tidak datang dengan sendirinya, akan tetapi kita harus mendatanginya.

Materi di bangku kuliah adalah pintu pembuka bagi kita selaku mahasiswa untuk mengetahui ruang lingkup apa saja yang akan kita pelajari. Sedangkan pendalamannya bisa kita lanjutkan di tempat-tempat pengajian yang sudah disediakan.

Al Azhar mengajarkan kepada mahasiswanya ilmu alat, yang paling utama diantaranya adalah ilmu bahasa Arab yang meliputi Nahwu dan Sharaf. Selanjutnya ilmu-ilmu alat yang lain, yang berupa kaedah-kaedah pada setiap cabang ilmu pengetahuan. Sehingga mahasiswa mampu mengkaji khazanah ilmu-ilmu agama Islam yang diwarisi oleh para ulama terdahulu. Kemampuan untuk menggali ilmu-ilmu inilah yang diharapkan Al Azhar kepada mahasiswanya, terlebih ketika mereka selesai dan kembali ke tanah air. Karena dengan itu mereka akan mampu menelaah sendiri tanpa harus selalu bertanya setiap saat.

Beruntung jika kita masih berada di negeri seribu menara, negeri yang bisa kita ajukan berjuta pertanyaan. Akan tetapi jika kita telah kembali ke tanah air, ketika tempat bertanya tidak lagi kita temui atau kesempatan untuk bertanya tidak lagi seperti sekarang, maka kita akan kesulitan.

Mutiara-mutiara berharga sangat banyak terdapat dalam kitab-kitab turats warisan ulama Islam. Dengan demikian, siapa saja yang mampu menguasai ilmu alat, dia akan mampu menggali dan menyajikannya sendiri. Karena situasi dan kondisi menuntut kita untuk selalu siap siaga dalam hal ilmu yang akan kita terapkan dalam kehidupan kita. Terkadang, secara mendadak kita harus mampu menjawab tantangan zaman dalam kaca mata Islam. Sehingga kita terjaga dari segala ancaman pemikiran luar yang akan merusak Islam.

Ilmu alat tersebut ibarat perisai dan pedang. Jika kita mampu menguasainya, berarti kita sudah mempunyai perisai dan pedang yang akan kita gunakan dalam menjalankan misi dakwah islamiyah. Kita akan mampu menahan serangan dari mana saja dengan menggunakan perisai tersebut demi menjaga pemikiran Islam yang benar. Dan juga bisa menyerang pemikiran menyimpang yang berkembang seiring berkembangnya zaman.
Al Azhar membuka pengajian sebanyak-banyaknya di luar jam kuliah, sehingga para mahasiswa bebas dalam memilih pengajian mana yang ingin diikuti. Inilah sebabnya Al Azhar menggunakan sistem seperti ini.

Oleh karena itu, bagi kita yang sedang menempuh pendidikan di kampus ini, kita harus berperan aktif dalam hal usaha mendapatkan ilmu. Inilah yang diharapkan oleh Al Azhar. Keaktifan mahasiswa yang mandiri, tidak bergantung kepada sistem. Bukan berarti Al Azhar memberikan kebebasan kepada mahasiswanya untuk mengkaji dan menulis sesuka hatinya, akan tetapi ada aturan-aturan bagi seorang penuntut ilmu agama untuk menempuh jalur yang benar.

Jalur itu berupa pembelajaran dan kajian yang digali langsung kepada para ulama Mesir, karena itulah Al Azhar membuka tempat-tempat talaqqi yang memang sudah menjadi tradisi belajar mengajar yang sudah dilakukan sejak awal-awal berdirinya Al Azhar. Yang dimulai di pojok-pojok mesjid, kemudian baru dibangun universitas. Inilah metode ataupun solusi supaya keabsahan ilmunya terjaga.

Dengan demikian, lakukanlah hal-hal terbaik, karena itu semua akan menjadi sejarah dalam hidup kita. Jika hal-hal ini terlewatkan begitu saja, maka beberapa tahun kedepan akan adanya penyesalan dihati kita. Disaat-saat kita merindukan masa-masa seperti ini, kita tidak akan bisa mengulangnya kembali. Karena yang namanya kesempatan itu tidak datang kedua kalinya.

Kita ibarat seorang prajurit tempur, yang harus siap siaga kapan saja. Karena musuh selalu mengintai kita, jika kita lalai maka dia akan dapat mengancam jiwa ataupun kelompok kita. Kita harus mandiri dan berani, setiap ada masalah di lapangan harus bisa kita selesaikan secepatnya dengan bijak dan tanpa ada niat untuk menunda-nunda. Karena permainan teka-teki pikiran kita terkadang juga akan menjadi musuh utama yang sewaktu-waktu bisa membunuh peluang dan kesempatan emas yang sifatnya terbatas.

Untuk mencapai target dan cita-cita, kita harus melalui tahapan-tahapan dan waktu. Karena semua itu tidak ada yang instan, semua butuh waktu dan proses. Kita harus bersabar, istimrar dan penuh keyakinan.
Tidak ada prajurit perang yang akan memenangi pertempuran jika dia baru mengasah pedang ketika serangan musuh datang.

Karena itulah, kita harus mengasah pedang dan memperkuat perisai mulai dari sekarang serta selalu siap siaga. Jika tidak tahu cara mengasah pedang yang benar, tanyakan pada ahlinya. Akan berakibat fatal jika kita mengasah bagian yang salah, maka sewaktu-waktu pedang tersebut akan menebas kita. Demikian juga ilmu, jika kita salah dalam menuntut ilmu, atau menuntut ilmu tanpa guru, maka kita akan menelusuri jalan kesesatan dan menyesatkan.

Saya teringat kata-kata Doktor usul fiqh tingkat 4 Fakultas Syariah saat pertemuan terakhir mata kuliah Usul Fiqh: “Harapan saya, agar kalian bisa menjadi duta-duta terbaik Al Azhar di manapun kalian berada, baik itu di Indonesia, Nigeria, maupun di negara-nrgara lain. Dan kalian harus tetap menggunakan manhaj Azhari”.

Dengan demikian, kita tidak cuma bisa membanggakan bahwasanya kita adalah mahasiswa Universitas Islam tertua di dunia, tapi kita harus mampu membuktikan dan memperlihatkan identitas Al Azhar yang memang terbukti mencetak generasi ulama. Sehingga Al Azhar pun bangga punya mahasiswa seperti kita.


Oleh : Muammar Zainun

Mahasiswa tingkat akhir Fak. Syariah wal Qanun, Universitas Al-Azhar ; saat ini juga menjabat sebagai ketua KMA 2012-2013

No comments:

Item Reviewed: Al-Azhar; Pencetak Generasi Mandiri Rating: 5 Reviewed By: KMA Mesir