Wednesday, November 20, 2013

Mencatat Matruh-Siwa ( Bagian Kedua )

Mencatat Matruh-Siwa ( Bagian Kedua dari Dua Tulisan)
October 22, 2013




Sosok Nur el-Ibrahimy, pelajar AL-Azhar era 40-an dengan pakaian jas klasik seakan terlihat dengan jelas kemarin di Pantai Ajiba. Produktifitas beliau dalam berkarya seperti hembusan angin pantai Mediterania, Meu sap… sap, kata seorang kawan.



Kita jadi terkenang setelah membaca kisah perjalanan sastrawan Mesir yang menyebut seluruh tanah Aceh adalah puisi. Paling menarik adalah tentang banyaknya riwayat penamaan kata Aceh, tentang para kafilah dagang Gujarat yang singgah di salah satu pantai Aceh, lalu terkesima dengan sebuah pohon dan berteriak; acha.. acha.. Seperti halnya sastrawan besar Mesir Najib Mahfud yang terpesona dengan Khan Khalili, Akhirnya Khan Khalili sendiri menjadi salah satu magnum opus miliknya.



Butuh waktu sekitar tiga jam perjalanan dari Marsa Matruh untuk meluncur ke Siwa. Kita menyebut perjalanan ke Siwa ini sebagai silaturrahmi sejarah dan sastra. Silaturrahmi yang sangat dekat, bahwa sastra yang dibalut dengan sejarah akan lebih gurih dan renyah. Siwa yang terletak di bagian paling timur Mesir memang punya nilai sejarah tinggi.



Musik-musik klasik tanah Eropa yang kita putar selama perjalanan membawa pada guratan sejarah Yunani. Bahwa ada bentuk pencarian sejarah yang lebih serius tentang ketertarikan seseorang dengan kota Athena di Yunani, kota yang menyimpan sejarah besar para ilmuwan dan intelektual sekaliber Plato, Aristoteles dan senior mereka Thales. Ada sensasi sejarah yang luar biasa disini.



Tentang sosok Tiro yang mewakili Aceh berhasil menafsirkan semangat Nietzsche dalam tubuh kecilnya. Penindasan haruslah dimusnahkan sama seperti pembelaan keluarga Husein di padang Karbala belasan abad lalu. Dan kita dapati bahwa Siwa merekam itu semua dengan jelas, di mata airnya yang jernih.



Ribuan tahun sebelum masehi tanah Siwa adalah laut lepas, alam kemudian berproses, lagi-lagi kita merasakan bahwa peuneujeut tuhan benar-benar maha indah, bertafakkurlah, afala ta’qilun, afala tatadabarun, afala tatafakkarun, afala tatazakkarun. Alquran menggunakan istifham li tanbih, sebagai peringatan agar manusia tak lupa akan hakikat dirinya. 



Ada segmen dimana Siwa menjadi tempat religi kaum penguasa. Sejarah Iskandar Akbar atau Alexander The Great misalnya, punya makbad di tanah ini. Segmen dimana tanah Siwa yang dikelilingi lautan garam, 90 Km dari paras laut, ia pantas disebut sebagai jazirah malah, memproduksi garam terbaik. Siwa yang menjadi penghasil kurma terbesar di Mesir, kita merasakan itu saat berjalan di jazirah Fatnas, saat menguyah kurma seperti halnya mengunyah sejarah Siwa ribuan tahun sebelum Masehi. 



Kita mencoba masuk ke dalam relung kehidupan Siwa, tentang bahasa Barbar yang jelas berbeda dengan bahasa Arab, bahasa yang digunakan oleh tetangganya, Libia. Kita tersentuh dengan kehidupan religi penduduk Siwa yang 100 persen beragama Islam, tak ada kriminal disini, tak ada kong kalikong politik. Nilai-nilai Islam benar-benar diekpresikan dengan baik. Lelakinya memakai pakaian khas jubah, wanitanya sangat terjaga.



Mencatat Siwa adalah mencatat nilai-nilai kesantunan., tanah Siwa telah ditakdirkan tuhan sebagai tanah subur. Ada ratusan mata air, ada danau garam, dan oase yang menjadikan masyarakat Siwa tersenyum penuh santun. Berendam di air belerang menjadikan kepala dipenuhi ide-ide positif. Kita dingatkan akan penyembuhan tradisional penyakit rematik dan asam urat orang-orang tua dahulu. Siwa menjadi tempat produksi kemasan air terbaik, Hayat. Seperti namanya, Siwa benar-benar merupakan kehidupan, dan masyarkat disini bisa memaknainya dengan sangat elegan.



Makbad Amun menjadi contoh kepingan sejarah yang sebagiannya telah hancur karena badai. Sang ratu Cleoptra benar-benar menjamah tanah ini, kita mendapati mata air yang diberi nama ain Cleoptra. Hati kita berdebar manakala mendengar ulasan seorang masyarakat Siwa, tentang sejarah negerinya, tentang bunga Zaitun yang mekar, tentang peran Musa bin Nushair membalut Siwa dalam keislaman yang kental.



Rihlah safari atau Off Road membuat hentakan musik Michael Learns to Rock menjadi sangat nyata dan menarik. Tembang-tembang kenangan miliknya Nike Ardila atau Dedi Dores sangat tersiksa bahkan tak mendapat tempat. Off Road ini kita sebut sebagai bentuk silaturrahmi nyata antara sastra dan sejarah, dimana sastra padang pasir yang memikat dengan rasa sejarahnya yang kuat. Kehidupan timur Afrika benar-benar alami, jauh dari sifat-sifat keiblisan; keangkuhan. Disini kita bahkan tak bisa lagi mendefenisikan tentang makna politik. 



Ketika berada di tengah padang pasir yang menjadi perbatasan Siwa- Libia, seorang kawan berseru, “wah… kuburannya Muammar Khadafi tak jauh lagi dari sini..” Ini benar-benar sangat menarik. Off Road via jeep ke padang pasir dan oase benar-benar mendebarkan, ada suasana sastra yang begitu anggun ketika matahari tenggelam. Suguhan teh hangat siwa kemudian menambah kesempurnaan itu.



Akhirnya buah kurma dan ranumnya Zaitun akan menjadi suguhan mengasyikkan tentang seribu satu kisah Siwa. Kita menjadi jatuh cinta dengan tanah ini, Islam benar-benar di ekpresikan dengan baik. Pada suatu waktu, kita harus kembali kesini untuk menyapa Siwa, belajar bagaimana mengelaborasi rasa santun. Barangkali keangkuhan yang selama ini menjalar, membuat kita tak bisa lagi tersenyum. Kalaupun tersenyum akan terasa pahit dan ini sangat bertentangan dengan mata air Siwa yang jernih dan tawar. Siwa bagi kita adalah tempat untuk belajar mengolah senyum, bagaimana kita bisa mengekpresikan rasa syukur. Sehingga sastra dan sejarah tetap akan selalu bersilaturrahmi dengan elegan dan penuh senyum.



Hotel Cleopatra, Kota Siwa, Matruh. Pukul 9.35 Malam.

Oleh: Tgk. Azmi Abubakar


No comments:

Item Reviewed: Mencatat Matruh-Siwa ( Bagian Kedua ) Rating: 5 Reviewed By: Furqan Ar-Rasyid