Saturday, March 28, 2015

Pembagian Hadis Maqbul (Bagian II)

Google Image
Oleh: Mustafa Ahmad*
*Mahasiswa Daurah Lughah Universitas Al-Azhar, Asal Aceh Tenggara. 

Hadis hasan terbagi kepada hasan lizatihi dan hasan lighairihi. 

1. Hadis Hasan Lidzatihi
Pengertian hadis hasan lidzatihi secara bahasa adalah lawan dari jelek dan buruk. Adapun secara istilah, “Hadis yang sanadnya tersambung dengan rawi yang ‘adil tidak ada 'illah di dalamnya.” 

Catatan : 
Hadis hasan lidzatihi sama dengan hadis sahih lidzatihi pada semua syarat kecuali pada satu syarat. Hadis sahih lidzatihi di sifati dengan tamamu-dhabt sedangkan hadis hasan lidzatihi disifati dengan khaffu-dhabt. 

Kedua hadis ini sama–sama wajib diamalkan . 

2. Hadis Hasan Lihgairihi 

Hadis hasan lighairihi merupakan bagian dari hadis maqbul. Hadis hasan lighairihi berasal dari hadis dha’if yang kemudian hadis ini didatangkan dengan sanad yang lain atau sisi yang lain hingga mengalami perbaikan, sehingga dapat diangkat derajatnya menjadi hadis hasan lighairihi. Disebut hadis hasan lighairihi karena sifat hasan pada hadis ini tidak bersumber dari zatnya tetapi didukung dari faktor luar yaitu ‘adhid (عاضد). 

‘Adhid adalah datangnya hadis dengan sanad yang lain atau sisi yang lain sehingga dapat memulihkan sifat dha’if pada hadis itu. Jika pada awal sanad rawinya lemah maka rawi yang lemah ini dapat di kuatkan oleh rawi pada sanad kedua hingga naik derajatnya menjadi hasan lighairihi. 

Tidak semua hadis dha’if dapat mengalami peningkatan menjadi hasan lighairihi. Ada beberapa hadis dha’if tidak dapat diangkat derajatnya menjadi hasan lighairihi karena beberapa keadaan. 


Hadis dha'if yang dapat mengalami peningkatan dengan 'adhid (عاضد): 

1. Hadis dari riwayat seseorang yang buruk hapalan nya. 
2. Hadis dari riwayat mastur. Yaitu hadis yang diriwayatkan oleh dua rawi tapi tidak dhabith. 
3. Diriwayatkan dari rawi majhul ain. Yaitu rawi yang tidak dikenali apakah adil agamanya dan dhabit hapalannya. 
4. Diriwayatkan dari hadis mudallas. 
5. Hadis mursal. 

Semua bagian hadis ini dapat mengalami peningkatan menjadi hasan lighairihi jika ada rawi yang dapat membantu nya dalan sanad atau sisi yang lain. Ada juga hadis dha’if tidak dapat mengalami peningkatan menjadi hasan lighairihi: 

1. Hadis maudhu’, yaitu hadis yang dibuat-buat di nisbat kepada Rasulllah SAW dalam sanad itu ada rawi yang kadzib (dusta).
2. Hadist matruk, yaitu hadist yang dari rawinya terdapat pendusta, dan tidak dapat diketahui hadis itu kecuali dari dia. 
3. Hadist syadz, yaitu hadis yang rawinya kuat tapi berlawan dengan rawi yang lebih kuat dari dia, dan tidak mungkin menggabungkan keduanya dari segi manapun. 
4. Hadist munkar, yaitu hadist yang rawinya dha'if berlawan dengan yang lebih dha'if darinya. Baik dari segi tsiqah (terpercaya) dan atau shaduq (kejujuran rawi) juga tidak mungkin menggabungkan kedua nya. 

Apa Maksud Hadis Hasan Sahih? 
Istilah ini banyak digunakan Imam Tirmizi dalam hadis beliau. Istilah ini menimbulkan suatu masalah karna hadis sahih rawinya taammu-dhabt (تا م الضبط) dan rawi hadis hasan khafifu-dhabt (خفيف الضبط). Bagaimana mungkin dapat terkumpul kedua sifat tersebut pada satu rawi? 

Perlu ketelitian dan kejelian dalam menjawab pertanyaan ini. Para Imam Muhaddis telah menjawab pertanyaan ini serta telah menyelesaiakan masalah-masalah, juga khilaf-khilaf di dalamnya sebagai berikut; 

Yang dikatakan hadis hasan sahih adalah jika memiliki satu sanad atau lebih. 

Yang dikatakan hasan sahih adalah hadis dengan dua sanad, hadis yang satu derajatnya sahih sedangkan menurut sanad yang lain derajatnya hasan. Contoh: 

حديث أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه و سلم أنه قال : لو لا أن أشق على أمتي لأمرتهم بالسواك عند كل صلاة . 

Hadis ini diriwayatkan Imam Tirmidzi dari sanad Muhammad bin Amru bin Al-Qamah. Muhammad bin Amru memiliki sifat siddiq (jujur) jadilah derajat hadis itu hasan. Sedangkan Imam Bukhari meriwayatkannya dari Abu Zanad, akraj dari Abu Hurairah derajat hadisnya sahih. 

Keberadaan sifat (ulya) tinggi pada rawi hadis tidak menghilangkan sifat rendah, maka setiap sahih hasan dan tidak sebaliknya. 

Gabungan sifat shahih dan hasan adalah derajat mutawassithah (pertengahan) antara shahih dan hasan. 

Kembali pada ikhtilaf ulamak jarhu wa takdil dalam memberikan hukum. diantara mereka mengatakan rawi hadis hasan sahih itu derajatnya sahih ada juga yang mengatakan hasan. 

Sifat hasan terletak pada matan hadis, dan sifat sahih terletak pada sanadnya. 

Hukum Islah atau Perbaikan yang Dinisbatkan pada Ulama Mutaakhirin

Hukum hadis itu sahih atau hasan jika telah mencakupi syarat–syaratnya sebagian syarat hadis itu dapat dibahas serta diketahui kepastiannya. Syarat-syarat hadis yang mungkin dapat ditelusuri: 

1. Tersambungnya sanad 
2. 'Adil rawi 
3. Dhabith rawi 

Syarat-syarat yang tiga ini mungkin bisa ditelusuri atau dibahas para–para spesialis dalam ilmu hadis mutaakhkhirin. Ada juga syarat-syarat hadis yang tidak memungkinkan bagi mereka untuk membahasnya yaitu: 

1. السلامة من الشّذوذ, terbebas dari syadz. 
2. السلامة من العلة, terbebas dari 'illah* 

Disarikan dari kitab “Buhus fi Ulumil Hadis, Karangan Prof. Dr. Al-Khusyui Al-Khusyui Muhammad Al-Khusyui. Dosen Ulumul Hadis wa Ulumihi, Universitas Al-Azhar.

No comments:

Item Reviewed: Pembagian Hadis Maqbul (Bagian II) Rating: 5 Reviewed By: kmamesir