Showing posts with label Sejarah Mesir. Show all posts
Showing posts with label Sejarah Mesir. Show all posts
Wednesday, June 17, 2020

Memaknai Seruan Al-Azhar "Kembali ke Turats"

Oleh: Muhammad Asruri* www.tellerreport.com/ Beberapa tahun belakangan ini, seruan Al-Azhar kepada umat Islam agar kembali kepada p...
Oleh: Muhammad Asruri*
www.tellerreport.com/


Beberapa tahun belakangan ini, seruan Al-Azhar kepada umat Islam agar kembali kepada pemahaman Islam yang moderat terus menggema. Hal ini seiring dengan semakin panasnya wacana keislaman yang berkembang di tengah masyarakat dewasa ini. Umat Islam dibuat berjalan di tempat dengan selalu sibuk dengan urusan-urusan duniawi yang memandulkan kreativitas internal klasik keislaman. 

Mengurai sejarah keemasan Islam tidak terlepas dari literasi klasik atau turats yang dibukukan oleh pemikir-pemikir Islam terdahulu, dimana sejak mulainya pembukuan ilmiah pada masa imam arba'ah hingga sekarang. Hingga kita berada dalam masa dimana kurang bahkan tidak mampu beraktivitas secara produktif layaknya ilmuan muslim dimasa keemasan Islam. 



Kondisi umat yang demikian itu dipicu oleh semakin maraknya dunia takfir dan tabdi’ di tengah kehidupan masyarakat. Wal hasil, mujtahid telah mengupas tuntas melalui jalan ijtihad hukum-hukum syar’i, dimana mereka memproduksi hukum yang akan didistribusikan kepada konsumen-konsumen muslim melalui calonya yaitu ulama baik mutaakkhirin hingga mu’tabar.

Imam Abu al-Khattab berkata: "Seorang mufti adalah dia yang menjadikan fatwa-fatwa layaknya kalung yang akan dipakai oleh penikmatnya".

Dengan kata lain, ada banyak peran penting dalam kokohnya ilmu keislaman dalam penyebaran islam, mulai dari masa mujtahid mutlak, kemudian diambil oleh penjual hukum yaitu mustafti, agar konsumen yaitu kita bisa menikmati jalannya hukum keislaman. 

Gettyimage.ea

Hal semacam inilah yang membuat Al-Azhar menginisiasi sejumlah muktamar untuk menggulirkan wacana moderasi Islam kepermukaan, sehingga dapat diakses dan dipahami oleh publik secara luas atau dengan bahasan ilmiah adanya mahkamah ilmiah yaitu ranah lingkup fiqih muqarin. Dan untuk memahami moderasi Islam dengan tepat dan benar, maka satu-satunya jalan adalah dengan kembali menggali turats (khazzanah keislaman) sunni al-Asy’ari sebagai mazhab ahlu sunnah. Sebab itulah beberapa bulan yang lalu, Al-Azhar menggelar seminar dengan tema “Imam Abu al-Hassan al-Asy’ari” yang merupakan tokoh sentral dari mazhab sunni al-Asy’ari, bahkan seminar-seminar lainnya yang bertemakan “Ahlu Sunnah wal Jamaah”.

Baca juga: Ayo Kembali ke Turast!

Maka demi kemaslahatan bersama, mari sama-sama kita mudur sedikit ke belakang, sejarah Al-Azhar dari masa ke masa. Dalam sejarahnya, Al-Azhar yang sekarang telah jauh perkembangannya dari dahulu, baik melalui struktur bangunan, pembelajaran dan manhajnya. Namun semua itu tidak terlepas dari peran penting empat dinasti abad silam, dimulai sejak dinasti Fathimiyah yang didirikan oleh al-Mahdi Abu Muhammad Ubaidillah tahun 297 H.

Di Maroko, di bawah kepemimpinan Abu Tamim Ma’ad al-Mu’iz li Dinillah dengan panglima perangnya Jauhar al-Siqilli. Dinasti Fathimiyah berhasil menaklukkan Mesir pada tahun 358 H. Setelah tiga invasi yang dilakukan oleh khalifah sebelumnya mengalami kegagalan. Setelah Mesir berhasil dikuasai, hal pertama yang dilakukan al-Siqilli adalah mendirikan kota al-Mansuriyah, nisbat kepada khalifah Fathimiyah ke-3 al-Mansur billah Abu al-Tahir Ismail. Kemudian pada tahun 362 H. Al-Mu’iz mengubah kota ini menjadi al-Qahirah (Kairo). 
Youtube.com
Sejarah keilmuan Al-Azhar dimulai pada masa ini, sistem belajar mengajar (talaqqi) pertama kali dipimpin oleh Qadhiul Quddat (hakim agung) Abu Hassan al-Wani ahli fikih Syiah Ismailiyah dengan kitab al-Iqtisar atau al-Iqsar karya orang tuanya Ibnu Hayyun. Hingga di masa ini mazhab resmi negara adalah Syiah Ismailiyah. 

Pada tahun 566 H. Sultan Nuruddin al-Zanki memerintah Shalahuddin al-Ayyubi mengalihkan kekhalifahan Fathimiyah ke dinasti Abbasiyah: al-Mustadi bi Nurillah. Pada masa ini praktis mazhab resmi Mesir berubah dari Syiah ke Sunni, dan dibukanya Madrasah Nashiriyah yang mengajarkan mazhab Syafi'i, Madrasah Qumhiyah (Maliki) dan Madrasah Suyufiyah mengajarkan mazhab Hanafi. 

Pada tahun 665 H. Izzuddin Aidmar wakil kesultanan Mamalik era Sultan Baibars menguasai Mesir, bil khusus Al-Azhar dan mengaktifkan pengajian fikih Syafi'i dan membuka kembali sistem wakaf setelah sebelumnya dihentikan. Di masa ini Al-Azhar berdedikasi tinggi dalam sejarah penyebaran Islam dilihat dari terbentuknya Madrasah Baibarsiyah yang khusus mengajarkan fikih Syafi'i, Madrasah Jauhariyah dan madrasah lainya yang dibangun oleh Zahir Baibars, Qalawun dan lainnya. 

Kemudian pada januari 1517 M. Mesir berhasil ditaklukkan oleh Dinasti Utsmani, dan pusat kekhalifahan berpindah dari Kairo ke Istanbul. Hal ini mengakibatkan putusnya hubungan Mesir dan Syam serta terlepasnya Hijaz dari Mesir. Pada masa ini awal mula dibentuknya jabatan Grand Syekh Al-Azhar dengan kandidat pertamanya Syekh Muhammad Abdullah al-Kharrasyi. Pada era ini, Al-Azhar mulai dikenal ke penjuru dunia dan mempertahankan manhaj yang dicetus oleh Shalahuddin al-Ayyubi. 

Dari inilah kita melihat langsung melalui literasi sejarah, bahwa tolakan-tolakan keras terhadap al-Azhar hanyalah fiktif belaka sebab ingin memudarkan pamornya. Sejak masa dinasti Fathimiyah hingga sekarang, al-Azhar tidak terlepas dari baju turast karena itu merupak huwwiyah Al-Azhar. Setiap paparan pembahuran berupa karya-karya modern semua berpadu dan bersumber dari kupasan turast, karena turast itulah tatanan ilmiah Islam dan salah satu bekasan dari mukjizat retorika (balagah) al-Quran. Badiuzzaman Said Nursi berkata: "Di antara mukjizat al-Quran adalah tersebarnya segala aspek keilmuan melalui lajnah klasik (turast)". 

Akhir kata, penulis mengajak para jil-jil penerus syiar Islam untuk kembali mendalami turast sebelum meranjak turun ke zona penjualan hukum.



*Penulis adalah Mahasiswa tingkat 1 Jurusan Syariah Islamiyah Fakultas Syariah wal Qanun Universitas Al-Azhar.
Monday, May 18, 2020
Mengenal Lebih Dekat Madrasah Asya'irah dan Tokoh-Tokohnya
6:18 PM

Mengenal Lebih Dekat Madrasah Asya'irah dan Tokoh-Tokohnya

Oleh: Muhammad Zulfa* Wellcomecollection.org Hidup di era berkembangnya berbagai pemikiran yang menyimpang, membuat umat Islam menda...
Oleh: Muhammad Zulfa*
Wellcomecollection.org

Hidup di era berkembangnya berbagai pemikiran yang menyimpang, membuat umat Islam mendapat serangan terhadap akidah dari luar Islam juga dari dalam tubuh umat Islam sendiri. Tentu hal yang paling ditakutkan di era globalisasi ini adalah penyimpangan akidah, apalagi hilangnya akidah. 

Namun, sepantasnya kita bersyukur karena mayoritas umat ini masih diselimuti oleh akidah yang benar. Yakni akidah yang diserukan oleh Rasulullah Saw. dan dijaga oleh para sahabatnya. Tentunya kita perlu tahu mengapa akidah yang lurus ini bisa bertahan hingga sekarang? Siapakah para kesatria yang telah memperjuangkan akidah ini hingga masih bisa dirasakan oleh umat Islam abad ini sehingga menjadi akidah mayoritas? 

Ya, mereka adalah penjaga akidah umat Islam, Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. Dengan jasa dua pendekar ini dan murid-muridnya, umat Islam mampu beradaptasi dengan siapapun dan dimanapun. Akidah ini adalah pondasi dari keseluruhan umat Islam berabad-abad yang lalu, bahkan hingga sekarang. Karena dua pendekar ini, umat Islam sangat terjaga dalam menghadapi proses perubahan dunia pemikiran dan penyerangan terhadap umat Islam baik dari dalam maupun luar. 

Dalam tulisan singkat ini, penulis hanya akan menyinggung Imam Asy'ari dan murid-muridnya (madrasah Asya'irah), karena madrasah Asy'ari lebih merata di seantero dunia Islam, mengingat banyaknya kesatria hebat yang lahir dari madrasah Asya'irah ini. 

Madrasah Asya'irah adalah pasukan khusus yang berjuang untuk melawan, membersihkan penyimpangan serta menguatkan dan menyebarkan akidah Asy'ari ke seluruh dunia. Dari mereka lah akidah Asy'ari tersebar hingga ke Nusantara. 

Proses berkembang dan majunya akidah Asya'irah tentu tak semudah yang kita bayangkan. Perjuangan ini meliputi beberapa periode: 

Periode Perlawanan 

Sebelum Imam Asy'ari berpaling dari paham Mu'tazilah, Ahli Sunnah sudah lebih dahulu diperjuangkan oleh beberapa tokoh ahli Ilmu Kalam, di antaranya Abu Hanifah beserta ashabnya, Haris Al-Mahasabi, Ibnu Kallab, Al-Qalanisi dan lainnya. 

Saat itu, paham yang paling berkuasa di dunia Islam adalah Mu'tazilah. Kelompok Islam lain, seperti Jabariyah dan Qadariyah kerap kali mendapat perlawanan dari mereka. Tetapi gaung mereka masih di bawah Mu'tazilah. Salah satu penyebabnya adalah pemerintah kala itu juga menganut paham Mu'tazilah. Hingga akhirnya muncul lah Abu Hasan Asy'ari untuk melawan dan membasmi Mu'tazilah dan pemahaman lainnya dalam Islam. 

Selain Abu Hasan Asy'ari, para murid seniornya juga ikut serta dalam melakukan perlawanan, mereka adalah: 

1. Abu Hasan Al-Bahili, gurunya Al-Baqilani.

2. Abu Abdullah ibnu Mujahid At-Tha'i, gurunya Al-Baqilani.

3. Abdullah bin Ja'far Asbahani.

4. Bandar bin Husain.

Keempat kesatria ini membentuk satu barisan di belakang Abu Hasan Asy'ari dalam membatu perlawanan menghadapi Khawarij, Jahmiyah, Qadariyah, Jabariyah yang telah berkembang pesat di ibu kota Islam, Baghdad -khusunya daerah Kufah dan Bashrah. Lebih-lebih paham Mu'tazilah yang menyerukan pemikirannya lewat bayang-bayang pemerintah. 

Syekh Said Ramadhan al-Buthi dalam bukunya Qadhaya Sakhina mengatakan "mesjid Kufah dan Bashrah adalah universitas pertama dalam dunia Islam, di sini lah pergulatan pemikiran bergulir hingga runtuhnya khilafah. Dua mesjid ini menjadi bukti bahwa Islam sangat terbuka terhadap pemikiran atau hurriyatu ra'yi." 

Di dua mesjid inilah berlangsungnya pertarungan antar pendekar-pendekar terkuat dalam setiap kubu: Khawarij, Jabariyah, Murji'ah, Jahmiyah, Qadariyah dan dua kubu terkuat Mu'tazilah dan Ahluss sunnah yang diperkuat oleh Abu Hasan Asy'ari dan murid-muridnya. 

Sehingga, pada abad ke empat hijriah. Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan murid-muridnya berhasil mendapat kejayaan. Mu'tazilah dan kubu lainnya kalah dalam peperangan. Ahlu Sunnah yang sebelumnya minoritas berubah menjadi mayoritas. 
Wikipedia.org

Periode Penguatan 

Di periode ini, tugas madrasah Asy'ari tidak seberat masa pertama. Namun, perang yang berkecamuk di periode ini masih memanas. Di masa ini, Mu'tazilah kembali bangkit dari kuburannya yang dipelopori kembali oleh beberapa tokoh yang tersisa di Baghdad. Tapi, tak lama setelah itu mereka dikubur kembali oleh Abu Bakar Al-Baqilani dan para kesatria lainnya. 

Di periode ini, garda terdepan dalam memperkuat madrasah Asy'ari adalah:

1. Abu Bakar Al-Baqilani (wafat 403 H), muridnya Abu Hasan Al-Bahili dan Ibnu Mujahid. 

Dr. Muhammad Musa dalam bukunya Nasy'ah Al-Asy'ari wa Tatawuruhu berujar "manhaj Asy'ari yang kuat dikokohkan kembali oleh Al-Baqilani dan semua teori dalam manhaj Imam Asy'ari disusun dan ditata rapi oleh Al-Baqilani." 

2. Abu Ali Daqqaq Naisaburi (wafat 405 H), gurunya Imam Qusyairi pemilik kitab masyhur Risalah Qusyairi.

3. Abu Abdullah Hakim Naisaburi (wafat 405 H).

4. Abu Bakr Ibnu Faruq ( wafat 406 H), beliau menulis kitab Mujarrad Maqalat Syekh Imam Asy'ari. Buku ini berisi artikel-artikel Imam Asy'ari. Dari buku inilah ulama-ulama di periode berikutnya bisa mengetahui lebih luas tentang pandangan-pandangan Imam Asy'ari. Karena, banyak buku yang ditulis Imam Asy'ari sendiri ikut terbakar saat tentara Mongol membakar perpustakaan Baghdad. 

5. Abu Ishak Isfiraini (wafat 418 H), gurunya Imam Juwaini, ayah Imam Haramain. 

Periode Penyebaran dan Perluasan 

Dalam menyebarkan paham Asy'ari tentu banyak hal yang dilakukan oleh ulama Asy'ari. Kebiasaannya, para ulama menyebarkannya lewat halaqah-halaqah pengajian. Seperti halnya di madrasah An-Nidhamiyah milik Imam Haramain. Ketika banyaknya pelajar yang menimba ilmu disini, maka bertambahlah tentara Asya'irah, sehingga mereka bisa menyebarkan akidah ini ke daerah-daerah lain, khususnya kampung halaman mereka. 

Tokoh madrasah Asy'ari paling terpengaruh di periode ini: 

1. Abu Bakar Al-Baihaqi (wafat 458 H), pemilik kitab Asma' wa Sifat dan kitab I'tiqad wa Al-Hidayah ila Sabili Rasyad.

2. Abdul Qahir Al-Baghdadi (wafat 429 H), murid Abu Ishak Isfiraini.

3. Abu Zar Al-Harawi (wafat 439 H), orang pertama yang menyebar madrasah Asy'ari ke Mekkah dan sekitarnya. 

4. Abu Muhammad Al-Juwaini (wafat 439 H) ayahnya Imam Haramain. Ulama pada masanya memuji beliau "jika ada nabi setelah nabi Muhammad Saw., maka beliau lah nabinya, karena keluasan ilmu dan akhlaknya." 

Di periode ini Mu'tazilah dan kelompok lainnya dibersihkan pemahamannya di Baghdad dan sekitarnya. 

Periode Pertahanan 

Di periode ini, tugas pejuang madrasah Asy'ari lebih dominan kepada mempertahankan madrasah dan penyebarannya dengan merincikan uraian-uraian pejuang sebelumnya, serta memperluas penjelasan dan mengoreksi beberapa gagasan ulama-ulama Asya'irah sebelumnya. Seperti kritikan Imam Haramain kepada Imam Al-Baqilani. 

Di antara tokoh Asy'ari yang paling terdepan di periode ini: 

1. Khatib Al-Baghdadi (wafat 439 H), pemilik kitab Tarikh Baghdad sebanyak 40 jilid lebih.

2. Abu Qasim Qusyairi, pemilik kitab Masyhur Risalah Qusyairiyah.

3. Abu Ishaq Syairazi (wafat 476 H), pengarang kitab Al-Muhazzab dalam fikih Syafi'i.

4. Imam Haramain (wafat 476 H), pemilik kitab Al-Burhan di ushul fikih, juga kitab Al-Irsyad dan Asy-Syamil.

Imam haramain sangat berjasa dalam pengugatan terhadap akidah Asy'ari. Dari beliau lah lahirnya para pejuang Asy'ari di generasi selanjutnya, seperti Imam Al-Ghazali dan Ilqia Al-Harasi. 
Mesjid Sultan Hasan yang berfumgsi sebagai Madrasah Ahlu Sunnah

Periode Kejayaan 

Di abad ke 5 hijrah, akidah Asy'ari sudah menjadi akidah mayoritas. Kelompok-kelompok yang menyimpang hanya tinggal beberapa saja, seperti Al-Bathiniyah dan Falsafah. Di periode ini, dua kelompok ini dibantai habis-habisan oleh Imam Al-Ghazali dengan bukunya Tahafut Falasifah. Sekalipun di abad ini juga ada tokoh dari Andalusia Ibnu Rusyd yang ingin merobohkan kitab Tahafud milik Al-Gazali dengan bukunya Tahafut Tahafut Al-Falasifah. Tapi, di abad ke 7 hijriah, buku Ibnu Rusyd dan buku Al-Ghazali diadili oleh ulama Ottoman atas perintah Sultan Muhammad Al-Fatih. Di antara tokohnya adalah Syekh Alaudin At-Tusi dan Khawajah Zadah Ar-Rumi. Mereka berhasil mengadili Ibnu Rusyd dan Al-Ghazali berikut karya mareka. 

Tokoh paling berperan di periode ini: 

1. Imam Ghazali (wafat 505 H).

2. Ibnu Asaqir (wafat 571 H), pengarang kitab Tarikh Damaskus sebanyak 40 jilid dan kitab Tabyin Al-Kazibi Al-Muftara, Ibnu Subqi mewajibkan semua pengikut Asy'airah untuk membaca buku ini. 

3. Abu Bakar Syasyi (wafat 507 H).

4. Abu Sa'ad Sam'ani (wafat 562 H).

5. Abu Nasar bin Qusyairi (wafat 514 H).

Al-'Allamah Zahid Kautsari dalam muqaddimahnya memberi sebuah pernyataan terhadap periode ini "hingga periode Al-Ghazali mazhab Asy'ari menjadi sebuah madrasah besar yang di dalamnya terdapat beragam pendapat. Semua pendapat yang telah dikemukakan para mutakallimin Asy'ari sah dinisbahkan kepada Asya'irah/madrasah Asy'ari (pendapat itu sah dianggap sebagai pendapat mazhab). Tapi, setelah masa Imam Ghazali, jika ada ulama yang mengemukakan pandangannya, maka pandangan itu tidak dinisbahkan kepada madrasah Asy'ari, tapi hanya dinisbahkan kepada individunya saja. Seperti beberapa pandangan Imam Fakrudin Ar-Razi."

Periode Pembentukan Madrasah dengan Talkhis dan Syarah 

Di periode ini kelompok Mujassimah dan Qaramiyah kembali subur di beberapa daerah. Namun Imam Fakhruddin Ar-Razi dengan senjatanya, ilmu, berhasil membuat sebagian kelompok ini bertaubat dan masuk dalam saf Asy'ari. 

Beberapa tokoh paling terpengaruh di periode ini: 

1. Imam Fakruddin Ar-Razi, dengan bukunya Muhassal Afkara Al-Mutaqaddim dan Syarh Tanbih Al-Isyarah. Dalam buku ini beliau mengkritik beberapa pandangan tokoh filsafat seperti Ibnu Sina dan Al-Farabi. Sekalipun di kemudiannya, seorang ulama Syiah yang bernama Nasirudin At-Tusi, pemilik kitab Tajrid Al-Aqa'id mengkritik Ar-Razi dalam kitabnya Syarh Muhassal. Tapi, pada akhirnya kitab At-Tusi diadili oleh Muhammad Ar-Razi dengan kitabnya Muhakamah dan diperkuat lagi setelahnya oleh 'Adhudddin al-Iiji dalam kitabnya Mawaqif

2. Imam Al-Amidi, pemilik Tariqah Ushuliyin dan pemilik kitab Al-Ihkam fi Usuli Ahkam.

3. Sultanul Ulama Izzudin ibnu Abdisalam.

4. Imam Taqiyudin Subki, ulama yang memiliki ilmu setingkat mujtahid mutlak dan ayahnya pengarang kitab Jam'ul Jawami'.

5. Ibnu Hajib, pemilik kitab masyhur Mukhtasar Muntaha, Kafiyah dan Syafiyah .

6. Imam Baidhawi, penulis kitab Minhajul Wusul dan tafsir masyhur Tafsir Baidhawi.

7. Imam Adhuddin Al-Iiji, pemilik kitab Mawaqif.

Inilah sekilas ulasan mengenai madrasah Asy'ari yang terbentuk selama 5 abad. Madrasah Asy'ari ini pertama kali dibentuk pada 10 terakhir Ramadhan. Dimulai dari masa Imam Asy'ari hingga Ibnu Hajib. Karena perjuangan mereka lah akidah Asy'ari menjadi mayoritas dan karena kegigihan mereka pula akidah Asy'ari masih bertahan hingga sekarang. 



*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo.
Saturday, September 21, 2019
Matrouh Siwa Undercover
4:17 PM

Matrouh Siwa Undercover

Peserta Rihlah Musim Panas KMA Mesir 2019 Oleh:  Muhammad Iqbal* Pada liburan musim panas ini seperti biasanya, para Masisi...

Peserta Rihlah Musim Panas KMA Mesir 2019
Oleh: Muhammad Iqbal*

Pada liburan musim panas ini seperti biasanya, para Masisir akan disibukkan dengan kegiatan masing-masing di luar perkuliahan. Berhubung waktu libur yang diberikan oleh pihak kampus cukup panjang, banyak di antara mahasiswa yang memilih menghabiskan liburan di kampung halaman, tentunya bagi mereka yang berdompet tebal. Hehe. Namun, banyak pula yang memilih tetap di Mesir dan mengisi liburan dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Salah satu program utama Departemen Humas KMA Mesir adalah rihlah. Musim panas ini tepatnya pada 12-14 September 2019, program rihlah kita berdestinasikan Matrouh dan Siwa. Dua kota cantik bak negeri dongeng. 

Kami menempuh perjalanan darat dari Kota Kairo dan dengan Matrouh sebagai tujuan pertama. Matrouh berjarak sekitar 482 km dari Kota Kairo dengan perjalanan darat yang memakan waktu 6 jam. Kota Marsa Matrouh merupakan ibu kota dari Provinsi Matrouh yang berbatasan langsung dengan Laut Tengah atau Laut Mediterania yang identik dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Selain warna laut yang jernih, ternyata pantai ini juga kaya akan kisah historis. Di sini terdapat hammam (kamar mandi) yang menurut sejarah ini pernah menjadi tempat mandinya Ratu Cleopatra asal Yunani yang kala itu berkuasa di Mesir. 

Di Matrouh gaeh!
Tak jauh dari Hammam Cleopatra terdapat satu pantai yang tak kalah eksotis. Namanya Ageeba, yang berarti ajaib. Dengan warna laut yang jernih, titik keindahan pantai ini juga terdapat pada dua tebing tinggi yang mengapitnya. Di pantai ini kami mandi, makan, beristirahat dan tak lupa menunaikan shalat. Setelah makan siang kami langsung mandi bersama teman-teman sambil mengabadikan momen indah ini dengan kamera dan smartphone.

Setelah mandi kami langsung bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Kota Siwa. Berbeda dengan jalan dari Kairo ke Matrouh yang mulus dan bisa membuat anda tertidur lelap, ternyata long journey ke Siwa tak semudah yang dikira. Jalan di sini memang tidak jauh berbeda dengan jalan-jalan yang menghubungkan antar provinsi di Mesir yang identik dengan jalan lurus dan membentang di tengah-tengah padang pasir yang tandus. Namun, karena jalan yang bergelombang para pengemudi tentunya harus lebih berhati-hati, jika tidak maka nyawalah yang menjadi taruhannya.

Baca juga: Telah Terbit, Buku Long Journey to Egypt Edisi Revisi ke Tujuh

Bila anda hanya sebagai penumpang saya sarankan untuk membawa snack atau makanan ringan seperti kuaci, kacang, popcorn dan lain-lain. Hal ini supaya anda tidak merasa bosan di tengah perjalanan, karena di sepanjang jalan lurus itu anda pasti akan merasa bosan, di kanan dan di kiri hanya ada padang pasir. Ops… Tapi jangan minum terlalu banyak juga, karena di tengah perjalanan anda akan sulit menemukan tempat istirahat. Jikapun ada, kebanyakan kamar mandi yang disediakan jauh dari kata layak. Untuk itu minumlah secukupnya saja dan jangan lupa menunaikan hajat di setiap tempat istirahat yang anda lalui. 

Tepat pada pukul 11.00 malam CLT akhirnya kami tiba di Kota Siwa. Karena belum makan malam, kami terpaksa membiarkan rendang khas Aceh menggoyang lidah kami. Ah, sekali-kali insya Allah enggak gendut. Rendang ini memang sudah terlebih dahulu dimasak dan disiapkan ketika di Kairo oleh agen wisata yang memberangkatkan kami, yaitu Albina Group milik salah seorang mahasiswa asal Aceh. 

Baca juga: Sembilan Objek Wisata Luxor Yang Wajib Kamu Kunjungi

Siwa terletak sekitar 783 km dari pusat Kota Kairo, dengan waktu tempuh kurang lebih 9 jam. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota ini saya langsung terpesona bukan main. Ya, mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Suasana di kota ini tak jauh berbeda dengan desa-desa yang terletak di pinggiran kota kairo. Dengan rumah-rumah sederhana, bahkan sebagian kecil masih ada yang beratap daun kurma dan hanya sedikit bangunan yang bertingkat. Hotel tempat kami menginap terletak di tengah-tengah kebun kurma yang hanya berjarak sekitar 1 km dari pusat Kota Siwa. Yusuf seorang petugas hotel menyambut kami dengan sangat ramah dan mempersilahkan kami untuk memakan kurma di sekitaran hotel dengan sesuka hati, asalkan tidak untuk dibawa pulang atau dijual.

Hotel di tengah kebun kurma
Meskipun terletak di tengah padang pasir dan tidak dialiri oleh sungai Nil tetapi Siwa adalah daerah yang sangat subur. Bahkan hebatnya, Siwa menjadi daerah penghasil kurma terbesar di Mesir. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani kurma dan zaitun. Kurma Siwa memang sangat terkenal di Mesir apalagi yang berisi kacang Almond. Produksi minyak zaitun juga tak kalah masyhurnya di kota ini. Karena kualitasnya yang tergolong bagus maka banyak hasil produksinya yang diekspor ke negara-negara Eropa. 

Toke kurma goloem keuneng bue beungoeh
Satu lagi hal yang menarik, di Siwa anda akan kesulitan menemukan air minum kemasan selain yang bermerek Safi. Hal ini dikarenakan pabrik produksi Safi memang terletak di Siwa dan airnya bersumber dari oasis Siwa sendiri.

Selain oasis, situs yang paling menakjubkan di Siwa bagi saya adalah danau garam. Bila di daerah kita garam identik dengan laut, tapi tidak di Siwa. Anda akan terkagum ketika melihat danau yang dikelilingi gunungan garam yang berbentuk kristal di tengah gurun pasir yang gersang. Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kau dustakan? 

Mengapung di Danau Garam
Pada musim panas danau ini akan mengeras dan berwarna putih. Sedangkan di musim dingin danau garam akan mencair dan berwarna biru. Beruntungnya kami hari ini sudah memasuki musim gugur dan danaunya sudah mencair. Hal yang jangan sampai anda lewatkan ketika mengunjungi danau garam ini adalah berenang, kalau saja anda lewatkan maka anda akan menyesal seumur hidup. Hehe. Kadar garamnya yang terlalu tinggi membuat tubuh anda tidak akan tenggelam dan hanya mengapung, sensasinya seperti berenang di Laut Mati.

Ohya hati-hati, jangan sampai percikan air garam ini mengenai mata anda apalagi menyelam sambil membuka mata. Jika saja itu dilanggar maka siap-siap mata anda akan terasa perih melebihi perihnya air laut. Oleh karena itu saya sarankan bila anda ingin berenang kesini hendaklah membawa air mineral sebagai persiapan jika saja air tersebut mengenai bagian mata. 

Penduduk asli Siwa adalah Suku Berber, yaitu suku yang mendiami Afrika bagian utara seperti Aljazair, Libya, Maroko dan termasuk Mesir. Orang siwa sangat ramah sebagaimana orang perdesaan pada umumnya. Karena letaknya yang berdekatan dengan Libya maka kebanyakan penduduk Siwa menggunakan bahasa Arab Amiyah dengan aksen Libya. 

Keseruan di Siwa
Berbeda dengan Kairo atau kota-kota besar lainnya, di Siwa anda akan jarang menemukan wanita yang keluar rumah sendirian. Selama dua hari dua malam di sana, hanya satu kali saya pernah berpapasan langsung dengan wanita. Itupun dengan pakaian serba hitam, bercadar dan tentunya bersama mahramnya. 

Terdapat perbedaan antara pakaian wanita asli Siwa dan wanita pendatang yang tinggal di Siwa, yaitu pada warna dan ukuran kain yang digunakan. Wanita asli Siwa identik dengan pakaian yang serba panjang, lebih tertutup dan warna abu-abu menghiasi kerudung panjangnya. Sedangkan wanita non Siwa memakai cadar dengan warna hitam pekat yang tak jauh berbeda dengan wanita bercadar di Mesir pada umumnya. Nah, jika anda menemukan wanita yang tidak menutup aurat di kota ini sudah dipastikan bahwa wanita tersebut bukan penduduk Siwa melainkan para pelancong. 
Setiap tahun pada bulan Oktober para pria Siwa berkumpul selama empat hari empat malam di Jabal Dakrour untuk memperingati Hari Perdamaian atau dinamakan Festival Syaha. Hal ini telah dilakukan secara turun temurun dalam rangka menjaga perdamaian antara kedua belah pihak yang pernah bertikai, dan di jabal Dakrour ini merupakan tempat berlangsungnya perdamaian itu. Mereka membaca do’a, dzikir, dan shalawat. Sedangkan para wanitanya menyiapkan makanan di rumah untuk disantap bersama. 

Ngadem dari terik mentari di pergurunan
Siwa berada di salah satu bagian Gurun Sahara, yaitu gurun pasir terluas di dunia, sangking luasnya seperempat dari Benua Afrika adalah Gurun Sahara. Gurun yang ada di Benua Afrika ini luasnya sekitar 9.2 juta km persegi. Mencakup dalam wilayah beberapa negara, di antaranya Aljazair, Chad, Mali, Mauritania, Mesir, Libya, Nigeria, Sudan, Tunisia dan beberapa negara lain. 

Berkendara dengan kecepatan tinggi di jalan raya mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Namun di gurun pasir, anda akan merasakan sensasi yang berbeda. Oleh karena itu, jika ke Siwa jangan sampai anda lewatkan kegiatan yang paling seru di sini yaitu offroad di Gurun Sahara. Pengemudi akan memacu kendaraannya di tengah padang pasir yang mulus kemudian mendaki dan menurun secara tiba-tiba. Lalu berbelok zig-zag dengan kecepatan melebihi 100 km/jam tentunya akan membuat jantung anda berdetak lebih kencang. 

Baca juga: Teuku Ilham Fathin Mandor Baru IT Pro

Alangkah serunya anda berkunjung ke Siwa dengan jumlah rombongan yang banyak. Semakin banyak rombongan anda maka akan semakin wah, karena akan ada atraksi saling kejar mengejar yang diperagakan oleh pengemudi offroad anda. Hanya dengan tarif 220 LE (Rp.189.000) per orang, tentunya harga ini bukan sesuatu yang mahal karena ada fasilitas lain yang diberikan oleh pengelola offroad. 

Setibanya di tengah-tengah gurun pasir tadi pengemudi offroad mengajak kami untuk bersantai-santai di atas gunung pasir yang tingginya mencapai 100 meter. Gunungan ini terbentuk karena adanya hembusan angin dari waktu ke waktu. Sambil menikmati sunset yang kemerah-merahan, kami disuguhkan syai (teh) panas campur serai dan kacang tanah gonseng yang sangat gurih. 

Ngesyai sambil menikmati senja
Selain makanan dan minuman tadi kami juga mencoba sesuatu yang sangat menguji nyali, yaitu sand-boarding dari atas gunungan pasir yang tingginya mencapai 100 m. Agar papan selancar lebih mulus terlebih dahulu kami menggosoknya dengan lilin. Banyak teman-teman yang berjatuhan karena memang baru mencobanya untuk pertama kali seumur hidup. Namun bila terjatuh anda tidak perlu takut, permukaan pasirnya sangat lembut hingga tidak akan merasa sakit ataupun terluka. 

Hari terakhir sebelum meninggalkan Siwa, terlebih dahulu kami mengunjungi Jabal Mauta atau Gunung Kematian. Di gunung ini terdapat banyak kuburan kuno, tempat di makamkan tentara Alexander the Great atau lebih dikenal dengan Alexander Agung. Dari atas puncak Jabal Mauta ini anda bisa menyaksikan seluruh penjuru kota Siwa dengan hamparan kebun kurmanya yang luas. 

Menaklukkan Gunung Kematian
Di tengah-tengah kebun kurma ini terdapat Ain Cleopatra atau Mata Air Cleopatra. Airnya segar dan jernih. Saya sendiri tidak tau persis asal mula penamaan ini, apakah karena Cleopatra yang catok mata air ini ataukah hanya sekedar numpang lewat saja. Mata air ini berbentuk bulat seperti sumur raksasa dengan diameter sekitar 20 meter. Dan lagi-lagi setiap menemui mata air kami tidak pernah lupa untuk mandi, Apalagi mandi kali ini adalah mandi terakhir kami di kota yang penuh pesona ini.

Namun sayangnya, belum sampai setengah jam kami mandi sekelompok turis yang bisa dipastikan berasal dari Eropa. Malas juga kami bersatu kolam dengan turis barat, karena kami adalah bangsa terlebih di muka bumi. Hehe. Jadi kami langsung undur diri bersiap angkat kaki.

Begitulah sekilas mengenai rihlah musim panas kami ke Matrouh Siwa. Dengan segala keindahan di atas, sangat bisa dipastikan: Sangat rugi, bila anda sudah bertahun tinggal di Mesir tapi tak pernah menginjakkan kaki di Matrouh dan Siwa!

Itu pendapat saya sih. Bagaimana menurut netizen? Silahkan memberi pendapatnya di ruang komen di bawah. Buone Vacanze![]


*Mahasiswa Tingkat 1 jurusan Syariah Islamiyah Fakultas Syariah wal Qanun Universitas Al-Azhar 
Friday, August 30, 2019
Buku Panduan Tak Selamanya Memandu
12:24 PM

Buku Panduan Tak Selamanya Memandu

Oleh: Muhammad Syukran* (dok. pribadi) Ada kebiasaan baik di kalangan kita akhir-akhir ini. Ini disebabkan peradaban manusia yang se...
Oleh: Muhammad Syukran*
(dok. pribadi)
Ada kebiasaan baik di kalangan kita akhir-akhir ini. Ini disebabkan peradaban manusia yang semakin cerdas. Juga pola pikir yang semakin sistematis. Di saat manusia dahulu takut dan sungkan untuk bergerak lebih maju kini semua orang berlomba-lomba agar digelari sudah maju dan beradab. Dengan kata lain bisa diartikan jika masyarakat sekarang sudah semakin pintar mampu memilah dan memilih mana yang terbaik untuk pilihan hidup. 


Zaman dulu saat seseorang ingin bepergian jauh dari rumah, pasti akan bertanya kepada orang yang punya pengalaman. Terlepas tujuan yang sama, bisa jadi dari persiapan dan bekal atau hanya sekadar nasehat-nasehat kecil di jalan. Contoh lain saat ingin berhaji di zaman dulu. Setiap orang pasti akan meminta wejangan kepada orang tua yang sudah pernah ke sana. Pasti akan ada cerita-cerita unik kemudian dilanjuti bimbingan khusus agar selamat sampai tujuan. 

Beda dengan sekarang. Orang sudah mampu bepergian jauh tanpa ditemani seorang teman pun. Dengan alasan jarak tempuh yang jauh sudah lebih dekat jika naik pesawat, tak perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan. Hanya saja uang di saku harus lebih dari cukup. Biasa orang sering membayar sebuah liburan atau traveling berikut dengan pemandunya. Karena belum pernah ke sana. 

Beberapa tahun terakhir muncul inisiatif dari beberapa orang yang dirasa mampu meminimalisir pengeluaran saat perjalanan. Tanpa harus membayar pemandu untuk keluar negeri. Yaitu dengan membaca buku panduan traveling dengan pilihan tempat tujuan masing-masing. Hampir setiap tempat di seluruh belahan dunia sudah ada panduannya. Ide cemerlang ini muncul dari catatan perjalanan sebagian orang yang kemudian dijadikan buku agar dapat memandu orang lain. Selain sebagai informasi destinasi, buku-buku tersebut juga mampu menambah wawasan pembaca. 

(dok. pribadi)
Sekarang orang tak perlu naik kapal laut, kuda dan unta bahkan keluar hotel memanggil taksi untuk bepergian jauh. Cukup membuka handphone dan memesan kendaraan yang diperlukan lewat aplikasi tertentu. Itu semua adalah bentuk inovasi demi kemudahan manusia di zaman serba ada ini. Bayangkan saja jika kita terus mewarisi tradisi orang tua dahulu bepergian harus seperti mereka lakukan, sungguh sangat repot. 

Saat pertama kali tiba di Mesir, saya sering tidak berada di rumah. Menghabiskan banyak waktu di luar, melewati bangunan kota tempat saya tinggal. Saya mampu mengingat semua tempat yang saya lewati. Dan tak akan tersesat jika diajak ke sana lagi. Menyusuri setiap jalanan dan bangunan guna memudahkan aktivitas sehari-hari. Naik transportasi umum dan taksi yang ada. Kadang saya tak segan-segan menumpang mobil bak terbuka agar mengefektifkan waktu dan uang jajan. Begitulah nasib perantau yang tak tahu malu ini. 

Hampir setengah bagian negara Mesir sudah saya kunjungi. Walaupun begitu ada hal yang kurang dan ganjal di benak saya. Itu terjadi setelah saya gabung dengan komunitas sejarah Kupretist du Caire. Di sana saya mendapat banyak wawasan tentang tempat-tempat di Mesir. Dari nilai sejarah dan arti dari tempat tersebut. Sebuah kode etik yang berlaku sebelum pergi ke suatu tempat, yaitu terlebih dahulu harus membaca sebuah tulisan atau buku yang menulis tentang tempat tersebut. 

Hingga kemudian saya tahu kalau di tempat komunitas saya bernaung ada sebuah “guide book” bagus. Yaitu buku panduan tentang Mesir, sangat lengkap bagi siapapun yang hendak berjalan-jalan atau mempelajari Mesir lewat sebuah tulisan. Buku “Long Journey to Egypt” adalah buku panduan ke Mesir dan Al-Azhar terlengkap. Berbahasa Indonesia dan sangat praktis bisa membantu Anda mengelilingi negara Mesir dengan mudah tanpa harus tersesat. 


Buku ini merupakan karya anak bangsa di bawah komunitas besar, Keluarga Mahasiswa Aceh  (KMA) di Mesir. Cetakan pertama buku ini di tahun 1995 dan masih berlanjut hingga sekarang. Buku ini sudah ribuan copy beredar di Mesir dan tanah air. Sudah cetakan ketujuh, dengan beberapa kali revisi di setiap edisinya. Sehingga betul-betul update dan tidak tua seperti umurnya. Bahkan terdapat destinasi baru Mesir yang mungkin belum ditulis di buku lain. 
(sumber: Tim Buku “Long Journey to Egypt”)
Seperti buku panduan perjalanan lainnya. Semisal Haji Backpacker, Perjalanan ke Atap Dunia, The Jilbab Traveler, The Journeys, Kedai 1001 Mimpi, dan 5 cm. Buku ini tak hanya memandu seseorang berjalan dengan bebas tapi juga mampu mengaktualkan para pembaca. Sehingga tempat-tempat bernilai sejarah tak hanya dilalui dengan berfoto selfie ria. Di dalamnya terdapat gambar tiap tempat yang mampu menghadirkan para pembaca seolah sedang berada di tempat tersebut, foto-foto tersebut dari hasil jepretan pribadi penyusun. 

Buku ini sudah menjadi rujukan utama bagi turis Asia seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan negara serumpun melayu. Buku tebal 440 halaman ini dapat ditemukan di toko buku tanah air. Jika tidak dapat, anda boleh memesan di Instagram dan Facebook Keluarga Mahasiswa Aceh Mesir. Harganya terjangkau dan ringan saat dibawa ke mana-mana. Karena menggunakan kertas berbahan ringan dari sebelumnya. 

Buku ini bukan saja membahas tentang destinasi wisata tapi juga studi di Al-Azhar dengan lengkap. Bisa dibayangkan untuk kuliah di Al-Azhar Universitas tertua di dunia itu, Anda hanya cukup membaca buku ini sebagai pengenalan. Itu sangat membantu Anda mengetahui informasi secara praktis, akurat, valid dan terkini bagi calon mahasiswa Indonesia yang hendak belajar di Mesir. 

Kembali seperti yang saya katakan di awal, bahwa tidak selamanya buku panduan dapat memandu seseorang bepergian jika saja buku itu tidak disentuh lalu dibaca. Seperti buku panduan untuk menerbangkan pesawat, Anda bisa mempelajari teori-teorinya tapi belum tentu bisa menerbangkan sebelum mempraktekkannya. Begitu juga buku panduan ini hanya menjelaskan bagaimana tempat dan suasana di Mesir tapi kalau Anda tidak mengunjunginya juga tidak akan tahu esensi dari tempat tersebut. Sama persis seperti Al-Quran yang tak mampu memberi hidayah bagi manusia yang tak membacanya dan dibacakan kepadanya.

Terakhir sedikit penilaian penulis tentang buku ini. Selain sangat bagus, belum penulis temui buku yang dapat menyamainya. Bahkan ada yang menjadikan buku ini sebagai referensi kepenulisan. Dengan adanya edisi terbaru ini semoga mampu mempermudah jalan menuju Mesir serta mampu mengatasi rasa malas membaca di kalangan kita, terlebih bukunya sudah sangat ringan untuk dijinjing dan dibawa ke mana-mana.

Bagi yang ingin membeli, Segera Hubungi Tim Buku “Long Journey to Egypt”. Harga yang ditawarkan sangat bersahabat.

👉 HANYA : 120 Le
👉RESELLER/AMBIL BANYAK : HARGA SPESIAL

Via Call/ Whatsapp:
Ahmad Yani (+20 114 188 1003)
Mukhlis Hasballah (+20 109 509 9212)
A'maril Basyiriy ( +20 101 763 5737)
Zulfahmi (+20 155 804 4860)
Ari Adliansyah (+20 101 621 3757)


*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.
Wednesday, August 7, 2019
Sembilan Objek Wisata Luxor Yang Wajib Kamu Kunjungi
6:56 PM

Sembilan Objek Wisata Luxor Yang Wajib Kamu Kunjungi

Sumber foto: @visitegypteg Oleh: Muji Yusnandar* Masih dalam suasana liburan, banyak dari mahasiswa yang masih bingung bagaima...
Sumber foto: @visitegypteg

Oleh: Muji Yusnandar*

Masih dalam suasana liburan, banyak dari mahasiswa yang masih bingung bagaimana cara mengisi hari-hari liburan itu agar dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, seperti talaqqi serta menghadiri kajian-kajian Islami yang biasanya banyak terpapar di ruwaq-ruwaq masjid Al-Azhar, madhyafah dan masih banyak lagi majlis-majlis ilmu dan talaqqi yang tersebar di seluruh penjuru kota Kairo. Sebagian ada pula yang ingin menikmati masa liburan dengan mengunjungi beberapa objek wisata serta situs-situs bersejerah peninggalan peradaban Mesir Kuno, ikon terfavorit yang tidak dapat ditinggalkan dari list daftar planning objek wisata baik itu seputar maupun di luar Kairo.

Berbicara tentang planning liburan di luar kota Kairo tentunya lebih banyak lagi sebut saja seperti: Faiyoum, kota yang terkenal dengan kota tersubur di Mesir, dengan beberapa situs wisata andalan, seperti danau Qarun (Buhairah Qarun), kincir angin (Al-Suwaqi), dan piramida Lahun dan Huwara. Serta Ismailiyah dengan danau timsah-nya, Port Said dengan museum Nasional dan Terusan Sueznya, Iskandariyah dengan Benteng Qaitbay serta Masrah Rumany (Romanian theatre) dan masih banyak lagi objek-objek wisata serta situs bersejarah Mesir lainnya seperti Asyut, Sinai, Aswan dan lainya masih banyak lagi dengan keunikan serta kelebihan masing-masing yang dapat kita sandingkan satu dengan yang lainnya.


Kali ini kita akan membahas objek-objek wisata di salah satu kota yang memiliki situs paling bersejarah di Mesir yaitu Luxor, berbicara tentang Luxor mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita terutama para Masisir, kata-kata Luxor yang telah lumrah selain dikenal sebagai kota kelahiran Grand Syekh Al-Azhar Ahmad Thayyib, ternyata kota ini juga banyak menyimpan khazanah peradaban Mesir Kuno. Kota Luxor (dalam bahasa Arab ditulis: al-Aqshar) dikenal dengan world open air museum (museum air terbuka). 


Sumber Foto: @luxorportal

Luxor juga dikenal sebagai pusat pemerintahan raja-raja Mesir Kuno era new kingdom dengan nama wizy-wany. Kemudian masyarakat Yunani Kuno merubah namanya menjadi Thebes. Dinamakan dengan Thebes dikarenakan banyaknya pilar yang tersebar di seluruh penjuru kota tersebut. Nama tarsebut terus berkembang hingga bangsa Arab menamakannya Luxor yang berarti istana. Hal tersebut dilakukan karena mereka terkesan dengan banyaknya bangunan-bangunan bersejarah yang sangat indah, megah layaknya istana para raja.

Ada banyak situs–situs bersejarah peninggalan peradaban Mesir Kuno yang wajib anda kunjungi saat berlibur di Luxor nanti. Tetapi kali ini saya hanya menyebutkan sembilan objek wisata yang paling masyhur di kalangan turis internasional yang sangat recommended boleh jadi anda tidak diakui pernah ke Luxor jika anda belum mengunjungi salah satunya. Di antara sembilan tempat bersejarah yang wajib anda kunjungi saat berlibur ke Luxor nanti sebagai berikut:

1. Ma’bad al-Aqshar

Adalah sebuah istana yang terletak di pusat kota Luxor, istana agung ini dibangun oleh Amenhotep III sekitar tahun 1400 SM. Namun pembangunan istana tersebut belum sempat rampung karena ia meninggal sebelum istana tersebut selesai dibangun. Pintu gerbangnya dijaga oleh dua patung Ramses berukuran raksasa dalam posisi duduk. Juga ada pula dua buah obelisk (tugu lancip). Salah satunya masih berdiri tegak namun salah satunya lagi sudah dipindahkan ke Concord Square, Paris. Dijarah tentara Prancis saat mereka menduduki Mesir.

Sumber Foto: @faikalamaul

2. Thariq Kibasy

Sesuai dengan namanya, tempat ini adalah jalan setapak sepanjang tiga kilometer yang memisahkan Ma’bad Kibasy dengan Ma’bad Karnak. Di antara kedua jalan tersebut terdapat patung yang saling berhadapan. Tubuh patung tersebut terdiri dari badan singa berkepala domba sebagai simbol Raja Amon.

3. Kuil Karnak

Dibangun sekitar tahun 2000 SM diperuntukkan sebagai singgasana Raja Amon. Sebanyak 50 kerajaan kecil ikut serta dalam membangun Karnak. Karnak termasuk tempat peribadatan terbesar di Mesir. Luasnya lebih dari 31 hektare. Kuil Karnak jauh lebih megah dari Kuil Abu Simble. Pintu gerbang Karnak yang tinggi dan megah akan tampak dari kejauhan. Di dalamnya terdapat 134 pilar yang menjulang ke angkasa.

Sumber Foto: @faikalamaul
4. Buhairah Muqaddasah

Buhairah Muqaddasah (danau suci) adalah salah satu sarana masyarakat Mesir Kuno untuk melakukan ritual peribadatan. Danau ini terdapat di sebelah kiri lapangan setelah Karnak, bersebelahan dengan ruang-ruang para pendeta.

5.Lembah Gharbiyah (Lembah Para Raja)

Masih di kawasan Luxor, lembah ini terletak di tepian Barat sungai Nil. Diperuntukan sebagai kuburan raja-raja Mesir Kuno. Di sini terdapat 62 kuburan Fir’aun dan keluarganya. Di atara raja yang dikubur di sini adalah Thutmo-sies, Ramses, Amenhutep II dan jenazah Tutankhamon yang muminya masih utuh dan masih bisa disaksikan hingga sekarang. Kuburan yang ditemukan pada tahun 1922 oleh Howard Carter mampu menggemparkan dunia. Pasalnya jenazah Tutankhamon dibalut dengan 120 kilogram emas. Jenazah Tutankhamon hingga kini masih berada di posisi pemakaman semula.

6. Kuil Hatshepsut

Hatshepsut adalah salah satu situs sejarah Mesir yang masih utuh. Dibangun oleh ratu yang memerintah Mesir abad 15 SM. Kuil ini terletak di balik bukit lembah raja. Nama kuilnya adalah Djuser-djeseru. Hatshepsut wanita yang berbusana pria. Ia selalu mencitrakan dirinya sebagai laki-laki agar diterima menjadi pemimpin Mesir.

Sumber Foto: @ineolivera

7. Kuil Tuthmosis III dan Kuil Amenhotep II

Di sebelah kiri Kuil Hatshepsut terdapat Kuil Tuthmosis III dan Kuil Amenhotep II. Tuthmosis III adalah anak tiri Hatshepsut, selir yang dijadikan istri oleh Tuthmosis II. Secara keseluruhan, ini adalah komplek kuil tiga generasi raja Mesir, yaitu: Hatshepsut, Tuthmosis, Amenhotep.

8. Museum Luxor

Museum ini terletak di antara Kuil Karnak dan Kuil Luxor ini memiliki koleksi barang peninggalan dari zaman kerajaan Mesir Kuno sampai masa Dinasti Mamalik. Kebanyakan dikumpulkan dari Kuil Theban dan Necropolis. Di sini pula tersimpan mumi Ramses I, dan mumi Ahmose dari dinasti ke-18. Pada lantai dasar terdapat dua patung terkenal, patung Tuthmosis III dan patung Amenhotep yang terbuat batu pualam putih yang dijaga oleh dua buaya besar sebagai simbol dari Dewa Sobek.




9. Mesjid Al-Hajjaj

Masjid ini dibangun oleh umat Islam masa Dinasti Fathimiyah berkuasa. Mesjid Al-Hajjaj berdiri di antara reruntuhan kuil-kuil Fir’aun.

Mesjid Al-Hajjaj berdiri di atas Kuil Luxor. Sesuai dengan namanya, mesjid ini didirikan oleh seorang sufi tersohor berasal dari Irak. Sisa-sisa tiang dari Kuil Luxor yang telah tertimbun tanah dimanfaatkannya untuk membangun sebuah mesjid yang kemudian diabadikan oleh pemerintah Mesir sebagai objek wisata yang harus dijaga.

Sumber Foto: @azaleajeanette

Nah, itulah guys beberapa rekomendasi yang dapat diambil sebagai rujukan ketika sobat hendak berlibur ke Luxor, sekarang sudah tahukan objek-objek wisata yang ada di sana. Luxor adalah salah satu kota paling bersejarah di Mesir yang padanya banyak tersimpan sisa khazanah-khazanah kemegahan dan kebesaran dari umat terdahulu, jadi yang hendak berlibur ke Luxor sangat direkomendasikan sekali. Selain untuk menikmati keindahan kota Luxor kita juga dapat bermuhasabah diri untuk meningkatkan keimanan serta ketakwaan kita terhadap Allah Swt. dengan cara menapaki, menelusuri serta merenungi apa–apa yang telah terjadi pada umat-umat terdahulu.


*Penulis adalah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di Darul Lughah Syekh Zayed.






Saturday, May 4, 2019
Satu Langkah Lebih Dekat dengan Talaqqi di Al-Azhar
1:41 AM

Satu Langkah Lebih Dekat dengan Talaqqi di Al-Azhar

Oleh: Muji Yusnandar * Image by Twitter Tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita para masisir kata-kata berobjekkan talaqqi....

Oleh: Muji Yusnandar*

Image by Twitter


Tentu sudah tidak asing lagi di telinga kita para masisir kata-kata berobjekkan talaqqi. kegiatan ini merupakan metode penyampaian ilmu dengan sistem face to face yang mana seorang syaikh atau guru menyampaikan ilmu melalu lisan(musyafahah) secara langsung kepada murid-muridnya dengan metode halaqah, yaitu seorang guru duduk di tengah-tengah murid-murid nya; lazimnya nyaa diatas kursi,  kemudian para murid tersebut duduk berdekatan mengelilinginya, lalu guru tersebut membacakan materi yang akan dibahas kemudian murid-murid tersebut mendengar penjelasan yang dipaparkan oleh guru tersebut sambil mencatat hal-hal yang penting dari maklumat yang telah disampaikan oleh sang guru.

Metode pembelajaran melalui halaqah ini telah diterapkan oleh nabi Muhammad saw sejak awal-awal kedatangan islam, kemudian hal tersebut diterapkan juga oleh para sahabat, tabiin, salaf al-shalih, kemudian berlanjut nan berkepanjangan hingga sampai saat ini tak terkecuali dengan ruwaq-ruwaq Al-Azhar

Sebagai mana kita ketahui bahwa masjid Al-Azhar memilih banyak ruwaq-ruwaq untuk pembelajaran keilmuan dengan menggunakan sistem talaqqi dengan metode halaqah, diantaranya yang masyhur kita ketahui, yaitu ruwaq ustmaniyyah, ruwaq fathimiyyah, ruwaq magharibah, ruwaq al-atrak, dan ruwaq Abbasiyah. Ruwaq-ruwaq inilah yang banyak melahirkan ulama-ulama yang intelek dan para cendikiawan muslim bertaraf internasional yang menyebar di berbagai belahan bumi, membawa ajaran islam yang lurus serta pola fikir yang moderat, hingga dapat diterima oleh masyarakat di belahan bumi mana pun mereka berpijak.

Setiap hari masjid Al-Azhar tidak pernah sepi oleh majelis-majelis serta halaqah ilmiah. hal ini menjadi magnet dengan daya ketertarikan tersendiri yang dapat memikat hati para pelajar Indonesia, maupun para pelajar yang berasal dari negara lain yang tidak dapat diperhitungkan lagi jumlah nya. Hingga saat ini, ruwaq-ruwaq masjid Al-Azhar masih eksis berkontribusi menyebarkan ilmu berbasis ahlussunah wal jamaah serta disiplin ilmu lainnya yang tidak hengkang dari dari batasan garis akidah ahlussunah wa al-jamaah. 

Al-Azhar sendiri memiliki tiga manhaj (kurikulum), yang mana seorang pelajar yang belajar di Al-Azhar tidak dapat dikatakan seorang yang Azhari jika tidak menganut tiga manhaj tersebut, sebagai mana yang dituturkan oleh grand syaikh al Azhar syaikh Ahmad thayyib, sebelum beliau diangkat menjadi grand Syaikh. 

Pertama, hendaklah seorang Azhari itu berakidah ahlu sunah wal jamaah, yaitu berkeyakinan(beriktikad) dengan manhaj Imam al-Asy'ary dan Abi Mansur al-Maturidi.


Kedua,seorang itu baru dapat dikatakan Azhari jika dia bermadzhab dengan empat mazhab Ahlu Sunnah dan mengamalkan salah satunya.


Dan ketiga, hendaklah seorang Azhari itu bertasawuf kepada jalannya Imam Junaid dan Imam al-Ghazali.jadi seorang yang belajar di Azhar baru layak dikatakan seorang yang Azhari jika dia beri'tikat dengan tiga manhaj tersebut.

Sistem pembelajaran talaqqi di masjid Al-Azhar diterapkan sejak pertama kali masjid itu didirikan oleh seorang panglima dinasti Fatimiyah Jauhar Al-Siqli dimulai sejak tahun 970 M dan selesai dua tahun kemudian yaitu tepatnya pada tahun 972 M. Setelah itu Khalifah Fathimiyyah yang ke empat yaitu Khalifah Muiz lidinillah meresmikan masjid Al-Azhar yang diawali oleh Syaikh Ibnu Nu'man mengajarkan kitab al-Iqtishar fil Fiqhisy Syi'i al Isma'ili, dengan sistem talaqqi dan menggunakan metode halaqah.

Adapun jejak pelajar nusantara sendiri baru diukir sejak munculnya Ruwaq Jawi, yang dibangun pada akhir pemerintahan Mamalik. Ruwaq inilah yang menampung para pelajar melayu dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Brunei,dan hingga saat ini sistem pembelajaran talaqqi dengan metode halaqah tetap menjadi perimadona masyaikh Al-Azhar dalam menyampaikan materi nyaa di pelbagai ruwaq di bundaran masjid Al-Azhar dan terbukti bahwa metode ini adalah metode yang paling kondusif hingga tidak pernah lekang dan masih digunakan hingga saat ini.dan tidak berlebihan jikalau seandainya saya mengatakan,

“jika ka'bah adalah kiblat ibadah maka Al-Azhar adalah kiblat ilmu," berawalkan dari sebuah masjid legendaris menjelma menjadi pusat instansi pembelajaran islam terbesar di era modern dengan tetap mempertahankan sistem pembelajaran klasiknya.

*Penulis adalah Mahasiswa Persiapan Bahasa Dar Al-Lughah, Universitas Al-Azhar Mesir.
Friday, April 5, 2019
Manipulasi Sejarah Pembakaran Perpustakaan Alexandria Mesir (Bagian I)
12:27 AM

Manipulasi Sejarah Pembakaran Perpustakaan Alexandria Mesir (Bagian I)

Oleh: Muhammad Mutawalli Taqiyuddin* (Image: history101.com) Dalam Bahasa Indonesia, perpustakaan berasal dari kata "Pustaka&qu...
Oleh: Muhammad Mutawalli Taqiyuddin*
(Image: history101.com)
Dalam Bahasa Indonesia, perpustakaan berasal dari kata "Pustaka" yang berarti kitab atau buku. Dalam bahasa asing, ada beberapa istilah yang maknanya sama dengan perpustakaan, antara lain seperti Biblioteca (bahasa Italia), La Bibliotheque (bahasa Perancis), dan Library (bahasa Inggris).


Awal kemunculannya, perpustakaan adalah taman berbagai koleksi buku. Namun, saat ini perpustakaan tidak hanya menampilkan berbagai koleksi buku, tapi juga berbagai benda-benda yang mengandung unsur ataupun nilai ilmu pengetahuan seperti periodik, mikroskop, manekin dan lain sebagainya. 

Di belahan utara Mesir, Iskandariyah atau yang lebih dikenal dengan Alexandria adalah nama salah satu kota yang menjadi saksi akan peradaban ilmu pengetahuan sejak era sebelum masehi. Dikarenakan dulu pernah ada satu perpustakaan yang akrab disebut dengan Perpustakaan Agung Alexandria sekaligus dinobatkan sebagai perpustakaan pertama di dunia. 

Sejarah Pembangunan 

Perpustakaan Agung Alexandria dibangun pada tahun 323 SM oleh Raja Ptolemy Soter sebagai raja pertama Dinasti Diadoch. Kemudian sejak dipimpin oleh para penggantinya seperti Ptolemy Philadelphus (285-247 SM) dan Ptolemy Eurgetes (247-221 SM), perpustakaan ini terus berkembang dan menjadi sangat besar. Perpustakaan ini dibangun oleh Ptolemy I dengan maksud utama mengumpulkan dan memelihara semua karya kesusastraan Yunani. Pentingnya perpustakaan di Mesir pada waktu itu ditandai dengan beberapa ilmuwan besar yang bekerja di temoat tersebut seperti Erastothenes, Aristophanes, Aristarchus, Callimachus, Apollonius dan Zenodotus pada abad tiga atau dua sebelum masehi.

Perpustakaan ini menjadi ikon bahwa pada masa itu, Alexandria menjadi pusat pembelajaran dan ilmu pengetahuan. Di dalamnya mengoleksi antara 40.000 hingga 400.000 gulungan, yang mungkin setara dengan 100.000 buku. Pada puncak kejayaannya, perpustakaan ini mempekerjakan 100 staf ahli. 

Mengapa Alexandria Menjadi Pusat Intelektual pada Masa Itu? 


Alasan mengapa Alexandria dianggap sebagai pusat intelektual pada masa itu dikarenakan keberadaan banyak cendikiawan terkenal yang bekerja di perpustakaan tersebut. Zenodotus dari Efesos yang berupaya menstandarisasi naskah-naskah puisi Homeros, Kalimakos yang menulis Pinakes—yang dianggap sebagai katalog perpustakaan pertama di dunia.



Apollonius dari Rodos yang menyusun puisi Wiracarita Argonautika. Erastothenes dari Kirene yang telah menghitung keliling bumi dengan keakuratan yang hanya meleset sedikit dari angka yang sudah dihitung dengan alat lebih modern. Aristophanes dari Bizantion yang membuat diakritik Yunani, dan juga orang pertama yang membagi naskah-naskah puisi menjadi berbaris-baris. Aristarchus dari Samotrakia yang membuat naskah definitif puisi-puisi Homeros serta menulis komentarnya yang panjang untuk karya puisi-puisi tersebut.

Kemudian beralih pada masa Ptolemy III Euergetes, salah satu cabang perpustakaan didirikan di Serapeum. Serapeum ini pada awalnya adalah nama kuil yang diperuntukkan bagi dewa Mesir-Yunani bernama “Serapis”, yang menggabungkan aspek Osiris dan Apis dalam bentuk manusia yang diterima oleh orang-orang Yunani Ptolemeus di Alexandria.

Semua usaha para cendikiawan tersebut menjadikan Perpustakaan Alexandria sebagai wakil dari kota tersebut akan peradaban ilmu pengetahuan yang sangat gemilang saat itu. Perpustakaan Alexandria menjadi yang terbesar disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktornya adalah karena pada masa kejayaannya, setiap kapal dan penjelajah yang singgah ke Mesir akan digeledah. Setiap buku dan naskah yang ditemukan akan disalin, hasil salinannya akan diberikan kemudian naskah aslinya akan disita oleh pihak perpustakaan. 

Memoar Sejarah Terbakarnya Perpustakaan Alexandria

Berbicara mengenai sejarah Perpustakaan Alexandria selain kejayaannya pada masa Mesir-Yunani Kuno, kemundurannya juga menjadi topik yang selalu panas dibicarakan, karena para pemalsu sejarah selalu mengulang-ulang keterkaitan muslim dengan keruntuhan perpustakaan. Mereka mendoktrin bahwa yang meruntuhkan perpustakaan tersebut adalah Arab muslim saat penaklukan Mesir dan Iskandariyah yang dipimpin oleh Amr bin ‘Ash atas perintah Khalifah Umar bin Khaththab. 

Pembakaran Perpustakaan Agung Alexandria oleh umat muslim adalah salah satu pemalsuan sejarah yang dimaksudkan agar mendoktrin dunia bahwa agama Islam adalah agama anti ilmu pengetahuan. 

Tuduhan terhadap Amirul Mukminin

Sigrid Hunke (w. 1999) seorang penulis berkebangsaan Jerman menuliskan sebuah buku berjudul “Allah ist ganz anders – von 1001 Vorurteilen uber die Araber” membahas mengenai apa yang telah dipalsukan dalam catatan sejarah kehancuran salah satu pusat peradaban ilmu pengetahuan tersebut. 

Ia menuliskan dalam bukunya bahwa memoar pembakaran perpustakaan ini adalah pemalsuan sejarah yang tidak ingin dihapus, meskipun sudah berulang kali ditegaskan kepalsuan sejarahnya. Sebuah koran harian Jerman terkenal kembali menyebarkan berita tersebut. Dalam koran itu dikatakan:

“Ketika pasukan tentara yang membawa panji akidah menyerang dalam serbuan penjajahan yang dipimpin oleh Amru bin ‘Ash ke Mesir, sampai Mesir akhirnya terjajah dan Alexandria ditaklukkan, ia memerintahkan agar perpustakaan kuno di sana dibakar (Perpustakaan Mouseion) yang didalamnya ada sekitar 700 ribu manuskrip, dengan mengambil bahan bakar di tempat-tempat pemandian, yang dengan itu musnahlah peninggalan kuno umat manusia yang diwariskan oleh bangsa Yunani. Dikatakan bahwa ketika itu dia hanya mengikuti perintah Khalifah Umar dengan ucapannya yang kosong dan pemikirannya yang sempit mengatakan:

"Apa yang ada dalam manuskrip-manuskrip itu bisa jadi ilmu yang sesuai dengan apa yang ada dalam Kitab yang tidak ada lagi kitab selain Al-Quran maka ilmu tersebut tidak lagi dibutuhkan dan tidak perlu untuk dipertahankan. Atau bisa jadi apa yang ditulis di dalamnya bertentangan dengan Al-Quran maka dia haruslah dibakar, karena Islam tidak mengizinkan kecuali hanya satu kitab saja yang disusun, kitab segala kitab yaitu Kitab Allah, yang tak lain dan tak bukan adalah Al-Quran."

Ilustrasi tragedi dan pembakaran perpustakaan Alexandria. (Image: historyconflicts.com)
Bagaimana bisa Arab melakukan pemusnahan biadab ini kepada ilmu pengetahuan yang tidak akan ada lagi penggantinya? Mengapa mereka melakukan penghancuran sedangkan orang-orang di sini hingga sekarang masih meluapkan kemarahan dan cecaran terhadap orang-orang kasar yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan mulia itu? ”

Maka berdasarkan tuduhan yang dilemparkan melalui media koran di Jerman tersebut, Sigrid Hunke melanjutkan penjelasan dengan mengangkat atau mengungkap fakta sebenarnya dan tak terbantahkan sampai saat ini sebagai balasan untuk menjawab tuduhan-tuduhan ini.

Fakta Museion

Faktanya bahwa Museion (Institution of The Muses) Alexandria adalah sebuah rumah musik atau puisi, sekolah filsafat dan perpustakaan seperti Akademi Plato dan juga gudang teks. Ia merupakan sebuah institusi yang dapat mempertemukan beberapa ilmuwan terbaik dunia Helenistik yang setara dengan universitas modern. Didirikan oleh Ptolemy I Soter atau mungkin oleh anaknya Ptolemy II Philadelphus. 

Museion Alexandria yang dibangun oleh Raja Ptolemy I Soter pada tahun 300 M adalah sumber penyebararluasan ilmu pengetahuan Yunani Helenistik, dengan besarnya perpustakaan yang menghimpun hampir satu juta manuskrip. Dikatakan bahwa perpustakaan itu mengumpulkan semua tulisan yang ditulis dengan bahasa Yunani.

Museion ini mencakup semua jenis sains dan pengetahuan yang ada pada saat itu, kemudian barulah perpustakaan ini terbakar pada tahun 47 SM selama pengepungan terhadap Kaisar Alexandria. Kemudian Cleopatra membangun kembali perpustakaan tersebut dan menambahkan manuskrip baru dengan jumlah yang tidak bisa diremehkan, itu semua diambil dari Perpustakaan Pergamum.


Pergamum adalah salah satu kota Yunani Kuno di Mysia, sebelah barat laut Antolia, terletak di ujung sisi utara Sungai Caicus, 16 mil dari Laut Aegea. Saat peradaban Yunani Kuno, Kota Pergamum memilki perpustakaan terbaik setelah Perpustkaan Agung Alexandria. 

Sigrid Hunke melanjutkan bahwa tepat pada abad ketiga menjadi awal penghancuran terencana, buktinya antara lain:

- Kaisar Caracalla menghapuskan Akademi tersebut kemudian dibubarkan, membunuh para ilmuwannya dalam pembantaian yang sangat keji dan begitu mengerikan.

- Patriark Kristen pada tahun 272 Masehi menutup Perpustakaan tersebut dan memaksa para ilmuwannya membakar “tulisan-tulisan kafir”, sehingga dihancurkan oleh orang-orang kristen fanatik.

- Pada tahun 366 M, Kaisar Valens mengubah Museum Caesareum menjadi sebuah gereja, menjarah perpustakaannya, membakar buku-bukunya, menyiksa para filsufnya serta menuduh mereka melakukan praktik sihir dan tenung.

- Pada tahun 391 M, tindakan pembasmian orang-orang kafir (nonkristen) terus berlanjut. Patriark Theophilos berhasil mendapatkan izin dari Kaisar Theodosius untuk menghancurkan Serapeum sebagai pusat akademi terbesar dan terakhir bagi tempat perlindungan pengetahuan masa lalu, kiblat terkenal yang dituju oleh para penuntut ilmu dari segala penjuru, menjadikan perpustakaannya yang menyimpan 300 ribu manuskrip ini sebagai santapan lidah si jago merah, kemudian membangun biara dan gereja di atas bekas reruntuhannya. 

- Tentang apa dan siapa saja yang selamat, maka itu akan segera menjadi target dari kelompok ekstremis Kristen yang tersebar di Alexandria tepatnya pada abad kelima masehi, di mana mereka terus melakukan pemusnahan ilmu pengetahuan serta tak segan-segan lagi meruntuhkan pusat-pusat budaya, monumen dan perpustakaan mereka dan menyerang para ilmuwan mereka. Itu semua sebagaimana pengakuan dari Severus Antokia yang penuh kesombongan dan tanpa sedikit pun rasa malu, di mana pada kemudian harinya ia menjadi Patriark Koptik beserta beberapa teman-temannya. 

Demikianlah beberapa bukti fakta yang dapat terjawab secara jelas siapa sebenarnya yang meruntuhkan serta merusak seluruh jejak-jejak peradaban ilmu pengetahuan di Alexandria dulunya. Kita lihat bahwa semua perpustakaan-perpustakaan kuno di Mesir sudah tidak ada lagi ketika Arab memasuki bumi Afrika yaitu dari Alexandria, Mesir pada tahun 642 M, atau lebih tepatnya lagi bertepatan pada tahun ke-8 Umar bin Khaththab sebagai Khalifah Ar-Rasyidin.

Referensi : 
-Hunke, Sigrid, “Allah ist ganz anderz – Enthullung von 1001 Vorurteilen uber die Araber;(Allah Tiada yang Menyerupai-Nya)”, Pusat Terjemah Al-Azhar, Cairo: 2018.
-Bagir, Haidar, "Buku Saku Filsafat Islam", Mizan Digital Publishing, Bandung: 2006
-Soleh, M. Ag, Dr. H. A. Khudori, "Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer", Ar-Ruzz Media, Jogjakarta: 2016
-“Alexandria, Perpustakaan Pertama di Dunia”, primaindisoft.com.[]

*Penulis adalah Mahasiswa tingkat I Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir