Al-Qur'an dan Mesir
Oleh: Hanif Maulana*
قديما قالوا: نزل القرآن الكريم في مكة وقُرِئ في مصر وكُتب في إسطنبول
Dahulu orang pernah mengatakan: "Al-Quran itu diturunkan di Makkah juga Madinah, dibacakan di Mesir, dan ditulis di Istanbul."
Hijaz (Makkah dan Madinah) sebagai tempat turunnya kalamullah, ini sangat jelas. Dibacakan di Mesir, karena saking banyaknya ulama dan qari dari mereka yang tampil ke dunia. Ditulis di Istanbul, disebabkan keindahan mereka dalam dunia kaligrafi.
Berbicara tentang dunia Al-Qur'an dan qiraat, bisa dikatakan bahwa Mesir menduduki peringkat pertama. Gurunya guru kami, Syekh Aiman Suwaid, pakar ilmu qiraat dunia dan tajwid masa kini pernah berkata:
"Semua guru-guru kami (dalam dunia Al-Qur'an) ada hubungannya dengan Mesir, bukan hanya sekarang. Silakan kamu balik ke zaman siapapun, Al-Qur'an masuk ke Mesir, tapi tidak pernah keluar. Semenjak futuhat islamiyah hingga sekarang. Berbeda dengan negeri yang lain, Al-Qur'an masuk ke negeri tersebut, tapi tidak lama kemudian keluar (keilmuannya meredup bahkan hilang). Contohnya Andalus, di sana ada Imam Abu Amru Ad-Daani (w. 444 H) pemilik kitab at-Taysir Fi al-Qira'at as-Sab'i, juga ada Imam Asy-Syathibi (w. 590 H), Makki Ibn Abi Thalib Al-Qaysi (w. 437 H), Abu Umar At-Thalamanki (w. 439 H) dan imam hebat lainnya. Namun, sekarang tidak ada lagi, keilmuannya terputus. Mesir adalah pondasi dan asasnya Al-Qur'an. Sanad-sanad Al-Qur'an kami dan seluruh negara islam, semuanya akan kembali ke ulama-ulama Mesir. Saya tidak sedang berbasa-basi, ini atas dasar amanah keilmuan." Jelas beliau di dalam sebuah cuplikan.
Sepertinya Allah telah menghendaki untuk memilih Mesir tampil sebagai negeri yang memimpin dunia dalam pengajaran Al-Qur'an. Pada abad ke-13 dan 14 Hijriah, banyak tokoh besar yang muncul dari negeri ini yang mengkhidmat kalamullah, baik secara lisan maupun tulisan. Di antaranya ada Syekh Muhammad Ahmad Al-Mutawalli (w. 1313 H/1895 M), Syekh Muhammad Makki Nashr, Syekh Ali Muhammad Al-Dhabba‘ (w. 1380 H/1960 M), Syekh ‘Amir ‘Ustman (w. 1408 H/1988 M).
Dari segi tilawah, jangan ditanyakan lagi. Siapa yang tidak pernah mendengar lantunan syahdu Syekh Mahmud Khalil Al-Husari? Muhammad Siddiq Al-Minsyawi, Abdul Basit Abdus Samad, Muhammad Rif'at, Mustafa Isma'il dan qari hebat lainnya. Ketika mereka melantunkan ayat suci Al-Qur'an, seakan bacaan tersebut bersatu dengan jiwa, masuk ke dalam hati, dan mengalir di dalam darah.
Bukan hanya pada abad ini, jauh berabad-abad sebelumnya Mesir sudah tampil di dalam dunia Al-Qur'an dan tajwid. Sebut saja seperti Imam Warsy (w. 197 H), salah satu perawi qiraat 'asyarah, beliau asalnya dari Mesir. Bahkan, Imam Syathibi yang asalnya dari Andalus, memutuskan pergi ke Mesir untuk belajar dan mengajar Al-Qur'an. Hingga kemudian dikebumikan di negeri Kinanah. Setingkat Imam Al-Jazari (w. 833 H) pun berkali-kali berkunjung ke Mesir. Di sana ada ribuan, bahkan jutaan ulama dan qari yang lahir dari bumi yang penuh berkah ini.
Di masa sekarang, kita menemukan kehidupan sehari-hari orang Mesir yang tidak terlepas dari Al-Qur'an. Jangankan ulama dan penuntut ilmu agama, sopir angkot pun memutar lantunan ayat suci Al-Qur'an saat menarik penumpang. Begitu juga penjual daging, sayuran, pedagang kaki lima yang dalam kesehariannya pasti memutar murattal Al-Qur'an.
Tidak sedikit di antara orang awam yang menghafalnya. Lebih-lebih seorang pelajar. Tak hanya pelajar ilmu agama, pelajar ilmu kedokteran, arsitektur, ekonomi pun menghafal 30 juz. Bahkan di antara mereka ada yang mempelajari ilmu qiraat, menghafal matan Syathibiyah dan Durrah (dua nadzam rujukan utama dalam ilmu qiraat).
Sungguh negeri yang penuh berkah Al-Qur'an dan ulama. Semoga Allah juga memakmurkan negeri kita, Indonesia dengan Al-Qur'an dan juga ilmu agama. Amiin ya rabbal 'alamin.
*Penulis merupakan mahasiswa tingkat IV Fakultas Ushuluddin Jurusan Hadist, Universitas Al-Azhar, Kairo
Editor: Nisa Kamila

Posting Komentar