Polemik “Perang Logika” di Era Digital
Oleh: Insanul Arif*
| Unsplash.com |
Di era sekarang, seseorang tidak lagi berperang menggunakan fisik, melainkan menggunakan logika. Hal ini sangat dianjurkan, tetapi harus melalui tata cara tertentu. Jika suatu individu atau kelompok menerapkan sistem berlogika dengan cara yang benar, hal tersebut akan mendorong seseorang untuk berpikir kritis dalam berbagai aspek. Seperti di pesantren, terdapat forum diskusi yang biasa disebut dengan Bahtsul Masail. Meskipun tidak semua pesantren memiliki forum tersebut, namun perlu kita akui bersama bahwa keberadaan Bahtsul Masail sangat membantu membangun pola pikir yang kritis.
Mengambil inspirasi dari tradisi Bahtsul Masail, kita melihat bahwa kebenaran tidaklah lahir dari ruang hampa, melainkan melalui rangkaian argumen kritis hingga mencapai titik kesimpulan melalui kesepakatan bersama. Namun di era digital, banyak ruang diskusi berubah menjadi echo chamber—ruang gema yang hanya memperkuat pendapat sendiri tanpa membuka diri terhadap sudut pandang lain.
Logika sebagai fondasi: Tanpa kaidah logika yang kuat seperti ilmu manthiq dalam tradisi pesantren atau critical thinking dalam sains modern, maka diskusi hanya akan menjadi perdebatan yang sia-sia.
Retorika sebagai jembatan: Retorika yang santun dan logis berfungsi untuk menyampaikan gagasan tanpa harus merendahkan lawan bicara.
Seiring terjadinya konflik di Timur Tengah yang semakin memanas, kita sebagai penuntut ilmu juga dituntut untuk lebih peka terhadap kondisi yang ada. Salah satunya dalam hal berpikir kritis. Di media saat ini banyak tersebar isu-isu peperangan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas di lapangan. Hal ini menuntun kita untuk lebih berhati-hati dalam menyaring informasi. Saat ini telah banyak tersebar berita hoaks yang membuat orang meyakininya, terutama dari akun media sosial yang tidak memiliki kredibilitas yang jelas.
Untuk mencegah hal tersebut, perlu beberapa langkah penting:
1. Tidak menerima berita secara langsung tanpa melalui proses berpikir kritis terlebih dahulu.
2. Melakukan diskusi kritis dengan kelompok-kelompok intelektual.
3. Mempraktikkan pola logika yang benar sesuai kaidah yang telah ditetapkan.
Sebagai penuntut ilmu yang kritis, kita dituntut untuk memiliki "resistensi logika". Resistensi ini hanya bisa didapatkan jika kita mempraktikkan pola logika yang benar dan terstruktur, sebagaimana kaidah dalam Bahtsul Masail yang selalu mengembalikan persoalan pada teks primer (nash) dan konteks yang relevan (waqi'iyyah). Tanpa itu, kita hanya akan menjadi bagian dari arus informasi yang penuh dengan propaganda dan berita palsu (hoaks).
Perang logika juga sering dikaitkan dengan kebebasan berekspresi atau kebebasan berpendapat. Namun di balik kebebasan tersebut terdapat tata cara tertentu yang harus diperhatikan. Saat ini, banyak orang yang salah memaknai kebebasan tersebut dengan bersikap semena-mena. Hal ini sangat berbahaya jika muncul oknum-oknum yang lebih mengedepankan retorika dibandingkan logika dan pengetahuan.
Retorika tidaklah salah, namun akan lebih tepat digunakan ketika ilmu sudah benar-benar matang. Retorika sering dianggap sebagai estetika dari sebuah gagasan. Jika retorikanya bagus tetapi isinya kosong, maka akan dianggap sebagai omong kosong. Sebaliknya, jika logika dan pengetahuannya sangat berbobot tetapi retorikanya tidak dapat dipahami oleh orang lain, maka hal tersebut juga tidak akan berjalan secara efektif. Oleh karena itu, penting bagi kita sebagai penuntut ilmu untuk menyeimbangkan antara logika dan retorika agar tujuan yang dimaksud dapat tersampaikan dengan baik.
Salah satu tantangan terbesar dalam perang logika saat ini adalah perubahan standar kebenaran. Dahulu, kebenaran diukur melalui kedalaman ilmu dan validitas metodologi. Namun di era digital sekarang, kebenaran sering kali dikalahkan oleh jumlah pengikut (followers) dan tingkat keterlibatan (engagement). Fenomena ini menciptakan bias konfirmasi, di mana individu hanya mencari pembenaran atas pendapatnya sendiri, bukan mencari kebenaran secara objektif.
Retorika dalam Islam sering dikaitkan dengan konsep balaghah, yaitu kemampuan menyampaikan sesuatu sesuai dengan kondisi pendengar (li kulli maqam maqal). Dalam hal ini, retorika bukan sekadar teknik untuk memenangkan perdebatan, melainkan sebagai sarana untuk menyampaikan kebenaran dengan cara yang tepat. Oleh karena itu, keseimbangan antara logika dan retorika menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan.
Perang logika di era digital menjadi salah satu ujian bagi integritas seorang penuntut ilmu. Kebebasan berpendapat yang tidak dibarengi dengan kedalaman ilmu hanya akan melahirkan kerancuan pemikiran.
Untuk menjaga kejernihan berpikir, setidaknya ada dua langkah penting:
1. Intelektualitas kolektif: Melakukan diskusi dengan berbagai pihak agar pemikiran tidak stagnan.
2. Skeptisisme yang sehat: Tidak menerima informasi secara mentah tanpa verifikasi.
Di era sekarang, banyak terjadi perebutan narasi. Sebagai penuntut ilmu, tugas kita bukan hanya menjadi penyimpan pengetahuan, tetapi juga menjadi komunikator yang mampu meluruskan informasi. Dengan menyeimbangkan pengetahuan dan retorika, kita dapat menciptakan diskusi yang mencerahkan, bukan memperkeruh suasana.
*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo.
Editor: Teuku Maliki
Posting Komentar