Sunday, March 25, 2012

Catatan Metamorfosis

Telah tertulis dalam suratan takdir-Nya. Semua ketentuan itu akan berlaku sesuai garis. Di satu sisi ada kebahagiaan dan kesenangan, di sisi lain terdapat kesedihan dan penderitaan. Begitulah kehidupan. Tak ada yang bisa mengelak dari apa yang telah menjadi rencana dan ketetapan Tuhan.
Kita mengetahui dan menyadari bahwa sebesar apa usaha yang kita lakukan, seperti itulah hasil yang akan kita peroleh. Padahal adakalanya kita tidak menyadari bahwa semuanya bermuara pada tindakan keberanian kita sendiri dalam menentukan jalan dan pilihan hidup.

Terkadang, banyaknya daftar hitam (black list) mengantarkan ketidaksiapan kita untuk menerima rapor dari tangan kiri yang merupakan refleksi dari usaha. Terlepas dari alasan besar kecilnya pengorbanan, kuat lemahnya usaha atau salahnya cara dalam mengolah. Daftar ini akan menjadi sangat panjang, semakin panjang hingga tak terukur dan terbilang karena menumpuknya kegagalan. Besarnya kesalahan atau dosa masa lalu telah kita lakukan semasa hidup.

Kemana kita melangkah?

Ada sebuah solusi yang diajarkan dalam islam sebagai jawaban atas perasaan bersalah dan keinginan untuk terbebas dari keterpurukan. Islam tidak mengkambinghitamkan keadaan, lingkungan, kepribadian atau surat penebusan dosa sebagai penyelesaian. Karena solusi itu adalah taubat.
Taubat yaitu perubahan. Perubahan identik dengan metamorfosis. Metamorfosis dalam bahasa yunani adalah methamorpho; pembaharuan. Seperti halnya seekor ulat yang bermetamorfosis menjadi seekor kupu-kupu.

Ulat dan kupu-kupu adalah dua binatang yang mewakili dua hal yang berbeda. Akan  sangat kontradiktif ketika keduanya dipertermukan. Ulat lazim digambarkan sebagai binatang yang menjijikkan dan menakutkan.  Kebanyakan dari kita ketika melihat seekor ulat, akan menghindar bahkan ada yang membunuh. Ia dianggap sebagai hama tanaman penggerogot daun dan binatang penyebar wabah.

Sebaliknya kupu-kupu adalah binatang yang melambangkan keindahan, lukisan perasaan manusia, disukai banyak orang, mempunyai pergerakan yang hebat, cepat dan lincah. Hinggap dari satu bunga ke bunga lain. Ia juga merupakan binatang yang menjalankan fungsi untuk menyebarkan kehidupan bagi makhluk lain.

Keluarlah dari sinopsis, kemudian tarik tali simpul. Maka kita akan menemukan kenyataan bahwa kupu-kupu yang banyak disukai orang, ternyata berasal dari ulat yang menjijikkan, dan banyak dijauhi orang.  Ulat mentransformasikan dirinya menjadi kupu-kupu, dari yang tadinya ditakuti dan dihindari, menjadi dicari, dikagumi dan dipuji keindahannya.

Proses transformasi yang dilakukan kupu-kupu, bukanlah suatu proses yang mudah. Proses perubahan hingga menjadi kupu-kupu merupakan proses yang sangat berat, lelah, menyiksa dan taruhannya adalah hidup atau mati. Oleh karena itu tidak semua ulat mampu mengubah dirinya menjadi kupu-kupu yang indah. Buktinya, kita sering melihat kepompong yang mati karena proses metamorfosisnya gagal.

Dan inilah metamorfosis! Ia merupakan suatu rasa sakit, sedih bahkan tangis yang akan bercampur menjadi rasa baru yaitu bahagia. Hasil inilah yang akan dicari semua orang. Pengembangan diri tidaklah bisa dilakukan secara ’instan’, akan tetapi memerlukan proses yang sangat lama, berat dan melelahkan.

Jangan Jadi Rayap/laron

Jangan sekali-kali  berpikir bahwa semua metamorfosis menghasilkan kupu-kupu. Ingat, masih ada kumbang dan beberapa hewan lainnya. Laron juga merupakan hewan yang bermetamorfosis.
Siklus kehidupan laron adalah metamorfosis yang bertahap. Kehidupannya dimulai dari telur-telur rayap yang menetas menjadi nimfa. Rayap memang dilahirkan untuk mengkonsumsi kayu. Ia tidak peduli kayu-kayu yang dimakan masih dipakai oleh manusia atau tidak. Hal inilah yang menyebabkan manusia harus meracuninya dengan obat anti-hama.

Sifat dan gaya hidup rayap berbeda dengan kupu-kupu dan kumbang. Kupu-kupu dan kumbang adalah tipe serangga penyendiri yang amat mandiri. Mereka menjalankan siklus hidupnya secara mandiri. Mulai dari lahir, mencari makan, metamorfosis sampai dewasa secara mandiri.

Sedangkan rayap yang akan menjadi laron adalah makhluk sosial yang amat bergantung pada lingkungannya atau pada koloni tempat ia tinggal. Bahkan, untuk membunuh seekor rayap kita hanya cukup memisahkannya dari kumpulan koloninya. Maka, ia akan mati seketika saja.

Ini adalah sebuah ketergantungan yang mematikan. Sangatlah tidak logis ketika hal ini terpatri dalam diri kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk lainnya.
Rayap hidup dalam koloni yang terbagi dalam kelas-kelas, yaitu kelas reproduksi, kelas prajurit dan kelas pekerja. Meski mereka saling tergantung satu sama lain, kelas pekerja tidak akan sungkan dan ragu untuk memakan temannya sendiri baik yang sehat, sakit, maupun yang sudah mati dengan alasan menjaga keseimbangan koloni.

Perbuatan kanibal ini akan terus-menerus dan berlangsung lebih dashyat jika koloni sedang terancam kekurangan makanan atau menghadapi masa-masa sulit lainnya.

Ini menjadi titik tolak bagi kita untuk tidak bergantung secara berlebihan kepada orang lain. Sehingga membuat keadaan kita sendiri jauh dari kemandirian. Kadangkala sering juga kita terlalu terlarut dalam kesedihan karena perpisahan. Seakan-akan kita tidak mungkin dapat hidup tanpa orang yang meninggalkan kita.

Kawan... ketika kita berhadapan  dengan hal tersebut, maka janganlah seperti rayap yang mati karena perpisahan dengan rayap-rayap lain.

Pada kondisi ekstrim yang lain; yaitu memakan teman sendiri dengan beragam alasan.  Kita bukanlah kanibal yang tidak peduli dengan kondisi teman-teman kita. Janganlah seperti rayap yang rela mempertahankan kehidupannya sendiri dengan jalan memangsa jenis mereka sendiri ketika berhadapan dengan kondisi apapun.

Bermetamorfosislah

Kehidupan kita pasti mengalami perubahan di setiap waktunya sebagai pembelajaran. Untuk menghadapi dan memaknainya, belajarlah untuk punya keinginan berubah ke arah yang lebih baik. Allah akan merubah keadaan itu. Tapi Allah punya syarat untuk kita yaitu metamorfosis; seperti ulat, bukan seperti rayap. Hemat kata untuk semua kawan-yang pernah gagal, ”mulailah bangun dan angkat kakimu untuk melangkah.”

Beberapa catatan awal untuk kita memulainya

Pertama, perubahan yang dimulai dari diri sendiri. "Ashlih nafsaka, yashluh laka An-nāsu" (Perbaikilah dirimu sendiri terlebih dahulu, niscaya orang lain akan mengikuti apa yang kamu lakukan itu (Hadis)).

Kedua, berubahlah dimulai saat ini juga. Banyak alasan untuk tidak mengambil tindakan hari ini dan alasan yang paling utama adalah perasaan takut. Orang yang mempunyai kebiasaan menunda suatu tindakan, sangat ahli dalam menemukan alasan-alasan yang kedengarannya sangat masuk akal.  Ingat, tak ada alasan untuk menunggu sampai datangnya saat tepat dan motivasi yang cukup kuat untuk maju. Sekaranglah!

Ketiga, berubah dari hal yang  terkecil. Sering kita menginginkan perubahan besar dalam hidup kita. Namun melupakan hal yang terkecil.

Kawan, betapa indahnya ketika kita dapat melepaskan diri sendiri dari belenggu hidup, guna memperoleh kebebasan hidup yang bermakna.
Mudah-mudahan kita bisa menghadapi tuntutan praktik professional dari waktu ke waktu. Moga kesadaran  sesama akan menoreh garis baru dalam kehidupan kita. Ini juga sebagai alasan untuk sedikit saling berbagi ingatan tentang hidup. Mudah-mudahan menjadi katrol hidup atau garis besar panduan bagi individu untuk sama-sama mengalami keindahan perubahan menuju optimalisasi diri.

Lihatlah ulat sutera, kalau ia tak mampu terbang bertahun lamanya dengan sayap berwarna-warni, setidaknya ia sempat mengepak sayap di udara untuk sesaat dan kemudian kembali menjalin sutera untuk generasi berikutnya. Jangan sekali-kali berkeinginan untuk mempercepat perubahan kepompong menjadi kupu-kupu, karena akan berakibat cacat/matinya kupu-kupu tersebut. Semua proses perubahan diri yang dikarbit hanyalah bersifat sementara dan tidak akan membuat kita sempurna melainkan "tidak bisa terbang." (Disadur dari berbagai sumber)

Karya Tgk. Muhibbusshabri Abdul Hamid
Telah dimuat di el-asyi edisi 103
Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: Catatan Metamorfosis Rating: 5 Reviewed By: kmamesir