Monday, October 1, 2012

This Mean War!

Tiga bulan sudah liburan kita lalui, rasanya semua penat telah pulih kembali. Liburan yang begitu panjang telah membuat aktifitas belajar kita terhenti. Namun di sana ada sekelompok anak manusia sama sekali tidak menjadikan liburan sebagai sebab penghambat belajar mereka. Sehingga masa liburannya tetap saja terisi oleh corong-corong ilmu.

Saat peperangan dahsyat di term ke dua  berlalu, terlihat dengan kasat mata banyak di kalangan kita yang merasakan inilah kemerdekaan. Sehingga mereka mendefinisikan masa liburan ini sebuah bentuk kebebasan. Kenapa tidak, aktifitas belajar yang tersusun rapi sebelum term ke dua dimulai, kadang menghidupkan malam hanya demi soal-soal ujian Al-Azhar yang konon katanya sulit di mengerti. Begitu ujian selesai semua itu laksana kemarau panjang yang digempuri air hujan, hilang tidak meninggalkan bekas.

Umpama sebuah negara yang otoritasnya dipegang oleh penjajah tentu rasa sakit yang menjadi konsumsi rakyatnya. Namun disaat penjajah pulang semuanya terasa senang dan merdekalah yang mereka alami. Di sini penulis menisbahkan ujian Al-Azhar layaknya sebuah peperangan. Karena tidak ada seorang pun yang mengikuti ujian di Universitas Al-Azhar lalu mengatakan ujian di Azhar itu mudah, enteng. Justru mereka akan berkata ujian Al-Azhar tak ubahnya sebuah peperangan dahsyat. Sehinggga terlihat para mahasiswa dua bulan sebelum ujian sudah mulai mengatur strategi. Begitulah peperangan butuh persiapan yang matang sebelum memulai.

Namun tanpa disadari masa liburan yang begitu panjang kini sudah berakhir. Al-Azhar yang dulu pintu gerbangnya ditutup rapat kini telah di buka kembali. Begitu juga dengan instansi-instansi ilmu lainnya semua telah "online" lagi. begitulah waktu terus saja berjalan tidak pernah berhenti, tiga bulan bagaikan tiga hari. Maka berbahagialah bagi mereka yang memprioritaskan liburannya untuk menggali hal-hal yang susah ditemukan saat kuliah dimulai.

Kini tiba saatnya mengaplikasikan rancangan-rancangan yang pernah kita rencanakan pada masa liburan dahulu. Otak dan pikiran yang sudah beku karena panjangnya fase liburan kita asah kembali. Pintu gerbang Al-Azhar yang sempat digembok tiga bulan lalu telah resmi di buka.

Maka tidak ada lagi istilah bermalas-malas untuk mencari  jati diri. Sudah saatnya semua mimpi kita lahirkan ke alam nyata, biar mereka tau bahwa mahasiswa Al-Azhar itu bisa mengaplikasikan ide tidak hanya teori, dan suatu saat nanti kita bisa menjadi rujukan dan teladan bagi ummat manusia.

Menerobos Dinding Al-Azhar

Sebuah bangunan yang kokoh tentu tidak mudah untuk meruntuhkannya. Bangunan tersebut tidak akan runtuh jika kita hanya mengandalkan fisik dan kekuatan, tapi butuh alat dan masa yang tidak singkat untuk memusnahkannya. Begitulah Al-Azhar yang kerumitannya tidak hanya termashur di Kairo tapi juga di seluruh dunia. Bila ingin menerobosnya tentu butuh pengorbanan, butuh tatacara dan perlu mengatur strategi yang sangat jitu untuk sukses di Al-Azhar.

Di sini penulis menyebutkan lima strategi yang harus kita atur untuk meraih sebuah kesuksesan. Pertama kebiasaan. Aristoteles mengatakan "Pusat keunggulan adalah pengulangan." Segala sesuatu yang sering kita ulang pada suatu hari nanti akan menjadi kebiasaan. Membaca muqarrar (diktat) merupakan satu hal yang harus kita ulang supaya menjadi kebiasaan. Karena tanpa membiasakan diri untuk membaca muqarrar bisa membuat kita malas dalam belajar dan akhirnya terpuruk di meja ujian.

Kedua bergerak. Usahakan waktu luang kita tidak terlalu banyak, semuanya harus terisi. Allah berfirman: "Maka apabila kamu telah selesai (dari se-suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain." (Qs Asy-syarh:7). Bergerak merupakan satu cara menggapai kesuksesan. Air yang dibiarkan dalam satu kubangan akan membusuk, begitu juga manusia kalau kita umpamakan. Namun gerakan yang kita lakukan juga harus ada visi dan misi serta harus mengena sasaran.

Ketiga menjaga waktu. Bagaimana seseorang bisa menjaga waktu? Waktu memegang peran penting untuk meraih kesuksesan. Maka tak heran bila kita lihat di buku-buku yang membicarakan tentang kesuksesan pengarangnya tak pernah abstain menguraikan tentang menejemen waktu. Karena terlalu berharga waktu itu selalu dibicarakan.

Ibnu Mas'ud ra. mengatakan: "Tidak ada hari yang membuat aku sedih kecuali suatu hari di saat matahari terbenam namun amalan ku tidak bertambah". Salafus shalih mengatakan: "Seandainya waktu bisa ditukar dengan uang akan ku belikan waktu orang-orang yang duduk di warung itu". Sampai sebuah klinik kesehatan di Amerika Serikat menyediakan waktu tunggu pasien hanya lima menit.
Bila terlambat satu menit harus diganti lima dolar. Bayangkan, jepang sendiri hari ini standar waktu yang mereka gunakan adalah menit. Namun negeri Arab yang khabarnya didiami banyak orang Islam masih menggunakan jam sebagai standar waktunya. Padahal menghargai waktu merupakan hal terpenting dalam Islam. Allah sendiri dalam firman-Nya banyak bersumpah dengan nama waktu.

Keempat berdoa. Doa adalah senjata  umat Islam. Setelah lelahnya berusaha harus dilengkapi dengan doa. Pepatah pernah mengingatkan: "Berdoa tanpa berusaha bohong, berusaha tanpa berdoa sombong."
Doa orang tua sangat membantu kita untuk meraih kesuksesan. Maka jangan segan-segan meminta doa kepada mereka, karena doa mereka sudah mendapat rekomendasi dari rasul terhadap diterimanya. Jangan sampai putus asa terhadap doa kita jika keinginan belum sampai titiknya.

Kelima jaga kesehatan. Menjaga kesehatan merupakan inti dari segalanya. Karena bila tubuh ditimpa penyakit semua aktifitas akan terhenti.

Semua orang punya kesibukan tersendiri, tapi usahakan untuk tidak memaksakan diri di atas kemampuan kita tanpa memberikan hak-hak tubuh. Kadang-kala kita bergadang larut malam hanya untuk mengerjakan hal ynag sepele karena deadline sudah dekat. Berapa banyak rencana yang kita usung bila sakit tiba semuanya akan sia-sia. Oleh karena itu menjaga kesehatn itu penting.

Lebih lagi kita yang berdomisili di Kairo, mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Saat musim panas tiba harus kita pikirkan hal-hal berbahaya untuk dikonsumsi yang dapat menimbulkan penyakit misalnya. Begitu juga dengan musim dingin semuanya harus kita waspadai. Apalagi di saat pergantian musim, disini biasanya terminal penyakit bagi warga asing.

Jangan sampai ujian tiba kita harus belajar di atas kasur karena sakit. Sebaik-baik kita adalah orang yang bisa mengatasi bukan mengobati. Pepatah Arab mengatakan: "Mencegah lebih baik dari pada mengobati". Pepatah Aceh juga berkata: "Awai buét dudoë piké, teulah ôh akheé keupéu lom guna. Wallau a'lam.

Abdul Hamid M. Jamil
Penulis Adalah Penggiat kajian Zawiyah Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) berdomisili di Distrik Matarea, Kairo

Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: This Mean War! Rating: 5 Reviewed By: kmamesir