Friday, March 15, 2013

Filosofi Rapai Geleng


Sebagai orang Aceh, tarian rapai geleng bukanlah hal asing di mata kita. Tarian tradisional yang berisikan geraka-gerakan enerjik ini selalu saja menarik untuk ditonton, baik oleh kalangan tua maupun muda. Tarian ini tak hanya menonjolkan sisi gerakannya saja, syair-syair yang dibawakan juga selalu berhubugan dengan dakwah dan juga nilai-nilai moral.

Nama rapa'i diadopsi dari nama Syaikh Rifa'i yaitu orang pertama yang mengembangkan alat musik pukul ini. Syair-syair dibawakan oleh syekh dalam bentuk lagu. Hingga sekarang syair-syair itu banyak yang dibuat baru namun tetap pada fungsinya yaitu berdakwah.

Di Mesir sendiri, putra-putra nanggroe tetap berusaha menjaga warisan kebudayaan Aceh ini. "Matee Aneuk Meupat Jeurat, Gadoh Adat Pat Tamita", sebuah ungkapan yang luar biasa dari para leluhur Aceh ini artinya adalah kalau anak manusia meninggal ada kuburannya, tapi kalau adat yang hilang ke mana hendak dicari. Berangkat dari semangat inilah, pada tahun 2010 silam Rapai Geleng Aneuk Nanggroe resmi berdiri di bawah naungan Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir.

Rapai dan Filosofi

Gerakan Rapai Geleng terdiri dari: lambat, cepat, sangat cepat dan diam. Kemuadian ada juga Asek-asek Ule atau saling silang kepala dengan berlawan arah, tapi tidak saling berbenturan.

Di Rapai Geleng, Kita dituntut untuk serasi dalam gerakan, baik itu ketika lambat, cepat, sangat cepat dan diam. Begitu juga dalam kehidupan bermasyarakat, kita harus dinamis mengikuti perkembangan kehidupan, sehingga kita selalu bisa berbuat sesuatu sesuai dengan keadaan dan tempatnya.

Begitu pula ketika kita memilih untuk mencari jalan yang berbeda, usahakan agar jalan yang kita pilih tersebut tidak berbenturan dengan jalan orang lain, sehingga terjadi keserasian dalam hidup bermasyarakat.

Tak hanya itu, syekh juga berperan penting dalam menjaga keserasian gerakan tarian, ketika Syekh berjalan sesuai tempo, maka para penari juga akan mengikuti sehingga tarian tmpak indah. Tapi apabila syekh membawakan syair tidak sesuai tempo, penari juga akan bergerak tidak sesuai tempo, sehingga rusaklah tarian.

Begitu juga dalam hidup bermasyarakat ada seorang pemimpin yang menjadi pilot yang membawa warganya ke satu tujuan. Ketika pemimpin berjalan sesuai aturan rakyat sejahtera, tapi ketika pemimpin melenceng keluar jalan, rakyat yang tanggung derita. (FR)

No comments:

Item Reviewed: Filosofi Rapai Geleng Rating: 5 Reviewed By: kmamesir