Thursday, March 21, 2013

Idealisme Transendental; Menembus Destinasi Akhirat


Bombastis! Geliat Umar ra. dalam membina umat telah menyembulkan pernak pernik pesona elegan sosok talenta; pioner kejayaan Islam masa lampau yang selalu berada di garda terdepan menggiring rakyat menuai benih-benih elang syariah yang ditabur oleh baginda Rasulullah Saw. semasa hidupnya. Semua orang terkesima, tak terkecuali pisau analisis sejarawan yang tertoreh apik dalam berbagai literatur, cukup menjadi bukti, indikasi kehebatan Umar ra. membumikan falsafah iman secara heterogen dalam bingkai kemasyarakatan.
Namun tak dinyana, kisah itu ditutup dengan melankolis oleh sebuah insiden tragis, sepenggal tragedi yang telah meninggalkan luka menganga dalam tubuh umat, saat dimana sang legenda harus tertikam ketika sedang asyik-masyuknya bermunajat kepada Allah (baca:shalat shubuh).

Sebuah Fakta

Episode akhir kehidupan amirul mukminin, telah menyisakan sederetan kisah yang sarat muatan spirit; penuh letupan spritualitas yang terurai dan bersimpuh terpekur dalam setiap baitnya. Syahdan, dalam sakitnya beliau pernah mengerang: "Celakalah aku dan ibuku jika Allah tidak menyayangiku".

Tepat di penghujung hayatnya, amirul mukminin punya satu harapan yang diutarakan pada buah hatinya Ibnu Umar, agar ia memohon Aisyah ra. untuk sudi kiranya mengizinkannya dikebumikan berdampingan dengan Rasulullah Saw. jika menghadap sang Khaliq kelak. Sekonyong-konyong Aisyah membalas proposal tersebut, seraya berkata: "Sebenarnya tempat ini telah lama kupersiapkan untukku, namun dengan senang hati kali ini aku rela mengedepankan hasrat Umar, ketimbang memperturutkan keinginanku".

Mendengar jawaban Aisyah dari belahan jiwanya itu, seolah lisannya tak kelu memuji Allah, seakan tersirat, impian yang selama ini dipendamnya akan segera terwujud, "ka peuteumuen" kalau boleh dibahasakan; karena itu dengan sigap Umar berkata: "Jika aku mangkat kelak, bawalah diriku ke rumah Aisyah ra. mintalah izin sekali lagi padanya, jika ia mengabulkannya bawa aku masuk, namun, jika ia menolak (berubah pikiran), kuburkan aku bersama kaum muslimin lainnya".

Dalam riwayat yang lain beliau berujar: "Demi Allah, sekiranya aku punya emas seisi bumi ini, akan kutebus azab Allah sebelum aku melihatnya", statement yang sedikit tidaknya telah membuat kita bergidik terpana dan terkesiap untuk mengerucutkannya sebagai hal yang begitu luar biasa bagi seorang Umar.

Krisis Revivalisme, Harapan dan Upaya

Kisah diatas setidaknya menjadi piranti terhadap ambivalen (temuan) fakta disaat sikap apatis dan animo 'sekelompok varian' untuk memarginalkan sikap pragmatis terhadap persiapan kita menuju akhirat. Seolah, begitu mudahnya melewati detik-detik kematian yang belum jelas juntrungannya bak libirin yang ujungnya tak disangka.

Penulis cenderung menginterpretasikan fenomena tersebut sebagai sebuah fallacy (buah pikiran yang keliru), ataupun rasa inferiority complex (rendah diri) dan overheating (kepanasan) yang mulai terjangkit pada masing-masing mereka setiap menyimak aksi dan reaksi yang bersinergi dengan pilar agama.

Ditambah lagi stigma sulitnya bangkit kembali dari keterpurukan, telah menjadi dogma yang berkecambah dalam relung sebagian orang. Benar, Setiap insan tentu punya pengalaman nista ketika pernah bertindak serampangan yang bergeser dari ruh syariat.

Tak pelak, karena setiap manusia berpotensi untuk melakukan kesalahan, Namun, terus berkutat sehingga menjadi kesalahan berantai (kebablasan) berimbas tersusunnya skenario keterhambatan diagnosa pahala yang ikut bergelinding seiring amal yang kita lakukan. Sontak, Instropeksi diri (QS. Adz-Dzariyat:21) bisa mengikis sikap pesimistis terhadap perbendaharaan amal yang kita punya, sekaligus mereview ulang janji taat yang pernah terekam di zaman azali (QS. Al-'Araf:172).

Hipotesa sosok sekaliber Umar ra. akan sulitnya menghadapi maut, telah mengembalikan akal dan panca indra (empiris) kita untuk menelaah ulang langkah-langkah jitu menamatkan segmen hidup dengan husnul khâtimah, sekaligus menjungkirkan paradigma yang salah untuk kembali saling topang dan bela, menuju gelombang eksodus; meracik kembali konsep (manhaj), perilaku, pola hidup dan cita rasa yang sesuai dengan ajaran Al-Quran dan sunnah selaku sumber konstan nanotentik dalam ajaran Islam.

Memotret penggalan pesan nabi saw., paling tidak kita bisa merunut ulang sebuah hadis hasan: "Segera kerjakan amal ibadahmu sebelum datang tujuh hal, apakah kamu menunggu datangnya kemiskinan yang membuat kamu lupa segala-galanya, ataukah kamu menanti datangnya kekayaan yang menyeret kamu ke jurang kemaksiatan, ataupun kamu menunggu tubuhmu digerogoti penyakit kronis, atau kamu baru mau beramal ketika kamu sudah pikun alias tua renta, atau malahan saat mautmu datang, ataukah saat Dajjal datang (baru kamu mau beramal), atau paling-paling kamu hanya menunggu kiamat datang, dan asal kamu tahu kiamat itu begitu dahsyat".

Ya, sebuah ultimatum yang setidaknya bisa menjadi awwal wahlah(langkah awal) yang prima sekaligus ratifikasi agar kita mulai berbenah diri; menyeruput suplemen amal guna memperbaiki instalasi ibadah yang kian hari semakin begundal seiring jauhnya perjalanan usia, sebelum altileri maut siap menjamah kapan saja.

Menghantarkan kita menuju dimensi ruang dan waktu yang berbeda dengan kehidupan dunia selaku miniatur akhirat yang kecil dan bersifat temporal, untuk menerima akumulasi amal yang terkomposisi didunia, mulai dari tangga barzakh, menuju padang mahsyar memperebutkan tiket menuju syurga yang partikular dan abadal âbidîn

Mampu melantunkan kalimah lâilâhaillallâh saat sakratul maut tiba, kiranya bisa menjadi simbol dan tiket menuju surga (HR. Ahmad). Namun, telaten dan gontai melafalkannya saat maut menjemput bukanlah perkara yang gampang. Ilustrasi sederhananya seperti teko yang mengeluarkan air sesuai jenis yang kita isi, demikian pula mulut kita akan begitu deras mengucurkan zikir saat ajal menanti.

Jika memang sering terisi dengan untaian tasbih sewaktu hidup, bayangkan bila yang masuk kedalam mulut saban harinya adalah sesuatu yang tidak Islami, semakin utopis pula zikir itu terwujud, seakan tanpa sekat mulut akan mendongak, memuntahkan kembali isi binalnya yang telah lama terpasung, seirama dengan melayangnya ruh. Na'ûdzubillah!

Karena itu Syedara long, tinggalkanlah input data dosa masa lampau, iringingi taubatmu bertalikan pengerahan segenap energi untuk menyongsong penantian maut dari sekarang (Aktsirû dzikra hâdzimil ladzzât), meminjam istilah 3M nya Aa Gym, mulai dari sekarang, mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri.

Retas kembali orientasi untuk membumikan nilai-nilai integralistik agama dalam simpul-simpul kejiwaan yang telah lama berkarat di altar komunitas alienasi (terasing), bergumullah dengan ibadah agar mampu menyematkan predikat mukmin disaat penentuan agenda akhir kehidupan.

Konklusi

Jika Jean Claude Killy bisa berujar: "Jurus paling cepat menjadi juara adalah melihat bagaimana para juara bermain", sebenarnya rasulullah telah jauh hari mendengungkan agar kita senantiasa mengikuti sunnah beliau dan para sahabat, selaku kurun terbaik yang telah beliau tabalkan dalam sabdanya, dimana jamak diketahui setiap sahabat punya visi hidup terarah menuju akhirat.

Paling tidak kita juga masih terenyuh menyaksikan etalase sejarah Abbad bin Bisyr ra. yang rela berlumuran darah dengan tiga tusukan anak panah saat bertugas menjaga campmuslimin ketimbang membangunkan Ammar bin Yasir ra. saat panah pertama melukainya.

Ia telah merengkuh lambang supremasi itu, terbukti dari ungkapannya: "Ketika panah pertama bersarang di tubuhku, aku sedang membaca sebuah surat, dan aku tidak ingin memutuskan bacaanku sebelum kuhabiskan surat itu, sekiranya bukan karena takut mengkhianati tugas yang rasul embankan padaku, demi Allah aku rela berpisah nyawa ketimbang memutuskan bacaanku".

Pada kasus serupa Anas bin Nadhr ra. harus tercabik-cabik dengan sayatan pedang, tikaman tombak, dan anak panah yang menancap di sekujur tubuh, sampai-sampai jasadnya hampir tak bisa dikenali sekiranya saudara perempuannya tidak mengingat tanda di jempol kakinya.

Semua itu hanya karena sebuah patron visi iman dan esensi misi amal yang terakomodir untuk menggelontorkan energi ibadah, selaku idealisme transendental, menuju gradasi iman, meruntuhkan oligarki hawa nafsu, meraih ornamen akhirat yang abadi.

Karena itu, memagut visi bonafid dan harmoni dalam menggawangi dinamika kehidupan dunia menuju akhirat seperti para jawara tersebut, sejatinya akan membangkitkan motivasi -bukan hanya sekadar fantasi- ke arah lebih baik demi meraih pameo husnul khâtimah dihadapan Allah swt. untuk selanjutnya menikmati akses hamparan nikmat abadi yang dijanjikan Allah swt semenjak keluarnya ruh hingga memasuki mahligai surgawi. Dan hingga akhirnya, kompilasi tulisan ini menjadi stimulan agar kita bisa 'hidup lebih hidup' dalam onggokan entitas ruhiyah, menyulap kerenyangan yang ada, menyambangi destinasi akhirat dengan khitâmuhu misk. Semoga!

Afrizal Syamaun Budiman

No comments:

Item Reviewed: Idealisme Transendental; Menembus Destinasi Akhirat Rating: 5 Reviewed By: kmamesir