Friday, March 29, 2013

Meluruskan Eksistensi Jidal


SIAPA yang tidak miris di saat seorang kekasih pergi meninggalkannya. Ibarat sebuah pasangan yang diikat dengan rasa cinta tentu saja sangat susah untuk berpisah.

Jangankan berpisah untuk selamanya, perpisahan dalam durasi waktu sebentar saja terasa sakit untuk mereka alami. Semua itu karena rasa cinta yang sudah terealisasi dalam jiwa mereka. Begitulah kesedihan yang sedang menimpa mayoritas Ummat Islam beberapa hari ini. Salah seorang dari kekasih mereka telah pergi untuk selamanya. Beliau adalah Prof Dr Muhammad Saied ramadhan Buthi, atau yang lebih  rentan dikenal dengan Syehk Bouty di Suriah beberapa hari yang lalu.

Kalau ada yang bertanya mengapa mereka sedih? Maka penulis akan mengkonfrontasikan ibarat seorang anak yang ditinggalkan ayahnya, dia pasti akan bersedih. Kenapa tidak? Sosok ayah yang memenuhi kebutuhan hidupnya, ayah tempat dia mengadu. Begitu juga dengan Syeh Bouty, beliau ibarat ayah bagi mereka dalam agama.

Patut Dipuji

Syeh Bouty merupakan seorang ulama besar di abad ini. Beliau perintis sekaligus pengokoh eksistensi paham ahlu sunnah waljamaah di Suriah khusunya. Bila kita berbicara tentang ulama yang memerangi paham anti mazhab (Taklid mazhab), maka beliau berada di saf paling depan dalam memberantasinya. Hal ini bisa kita lihat dari karya-karya yang lahir dari tangannya.

Ulama yang bermazhab Syafi'i ini lahir di kampung Gelika pulau Buthan wilayah Kurdistan, Turki pada tahun 1929. Ayahnya orang alim yang sangat disegan dalam ilmunya. Sejak kecil beliau sudah dipersiapkan sebagai buthi junior yang akan melanjutkan estefet ayahnya.

Pada saat Dinasti Ustmani runtuh, kekuasaan dipegang oleh Attaturk yang oleh sejarah mencatat terjadi pembantaian ulama besar-besaran saat itu. Maka ayah beliau berinisiatif untuk berhijrah ke Suriah.

Sejak kecil beliau sudah disuntik dengan beragam ilmu agama terutama oleh ayahnya sendiri. Setelah itu ilmu yang sudah terpatri dalam jiwa beliau terus disuburkan dengan menghadiri berbagai halaqah ilmu di sana.

Beliau juga menggali ilmu di Al-Azhar sebagai Universitas ternama di dunia yang selalu mengorbitkan ulama kredibel dan pakar cendikiawan islam.

Berbagai macam pujian dari kalangan ulama ahlus sunnah terarah kepada beliau. Hal ini menunjukkan ketakziman mereka terhadap beliau begitu besar. Dedikasi beliau kepada Islam selain menyalurkan ilmu, beliau juga menjadi orang penting dalam mereboisasikan gerakan Ihkwanul Muslimin di Suriah yang pada saat itu berada di urat nadir.

Selain itu kebangkitan gerakan Hamas juga terindikasi oleh keheroikan beliau. Sampai-sampai tahun 2005 beliau rela menjual rumahnya yang harganya disumbangkan untuk keperluan Mujahidin di Gaza.

Namun tak dapat dipungkiri, di sana ada beberapa orang yang menganggap kehilangan beliau bagaikan rahmat bagi mereka. Karena menurut mereka beliau adalah sosok parasit yang menghambat keberhasilan rencana mereka. Maka tak heran bila kita melihat di beberapa media ada yang mengekpost rasa senang mereka untuk menyambut kehilangan Syehk Bouty.

Perlu Diadopsi

Bila kita mengkaji sedikit lebih dalam tentang firqah-firqah islam. Maka kita akan menemukan beragam pikiran yang diasung oleh pelopor aliran tersebut.

Di sini penulis lebih mengarahkan kepada aliran wahabisme yang sangat rentan menentang keilmuan Syehk Bouti. Sebagai Ulama yang setia meluruskan paham Asya'irah tentu sangat tidak bisa diterima pemikirannya oleh golongan Wahabisme yang menganut Taslis tauhid (Uluhiyah, Rububiyyah, dan Asma Wa sifat).

Kehadiran buku beliau yang berjudul 'al Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Mazhab Islamy' (Salafy adalah Masa yang Diberkati, Bukan Nama Kelompok Islam) yang mengupas tuntas kekeliruan Salafi modern (wahabi) juga telah membuat kebencian mereka terhadap beliau kian membara.

Berbagai macam syubhat mereka lemparkan kepada beliau, tapi dengan kecerdikannya semua syubhat tersebut dengan mudah beliau luruskan.

Namun, bila kita telisik dari cara mereka dalam mengkritik Syehk Bouti ini perlu untuk kita luruskan mekanismenya. Terjadi perbedaan pendapat dalam berijtihat itu merupakan hal biasa dalam dunia Islam.
Rasulullah Saw dalam sebuah hadis mengatakan, " terjadi perbedaan pendapat dari ummat ku adalah Rahmat".

Rasa benci mereka terhadap beliau bahkan kepada kalangan ulama yang berpaham Asya'irah sebenarnya sudah lama ada. Tapi rasa benci ini terlihat sangat kental dipertontonkan pasca revolusi Timur Tengah dan Suriah khusunya. Buku Syehk Bouty 'Al Jihadu Fil Islam' yang beliau karang jauh sebelum terjadinya Revolusi Suriah mendapat tantangan alot dari mereka.

Berbagai macam dalil naqli dan 'aqli yang beliau utarakan dalam buku tersebut tentang tidak bolehnya menentang pemerintah.

Yang sangat menarik dalam cetakan yang ke dua dalam mukaddimahnya beliau menulis, "saya siap berargumentasi dengan orang-orang yang tidak selaras dengan pemikiran saya, saya siap memuaskan mereka hanya dengan menggunakan dalil akal saja, tapi tidak ada seorang pun dari mereka yang datang kepada saya secara empat mata", mereka berani berkoar-koar di belakang layar.

Kritik tersebut juga datang dari perintis paham Wahabi itu sendiri, Syehk Al-Bani. Dalam sebuah postingan bertulisan Arab penulis melihat kata-kata yang tidak selayaknya lahir dari sosok muhaddist ini. Di mana Syehk Al-Bani mengatakan Syehk Bouty itu sesat, bodoh dalam berijtihat dan lain sebagainya. Imam Mazhab sekaliber Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali terlihat sangat banyak khilaf pendapat yang telah lahirnya Mazhab. Tapi mereka tidak pernah saling menyalahkan bahkan mengatakan bodoh dan sesat.

Oleh karena itu, kita harus memahami betul-betul akan eksistensi  Jidal dalam Islam. Islam agama yang dinamis, memperlakukan penganutnya secara santun dan lemah lembut. Dalam Islam tidak pernah memaksakan orang non-Muslim untuk masuk Islam melainkan atas kesadaran yang lahir darinya. Apalagi kita memaksa orang lain yang tidak sejalan pikiran dengan kita untuk mengikuti ide kita dengan cara anarkis. Ini benar-benar tidak sesuai dengan Dinul Islam.

Salah satu keberhasilan dakwah Islam dari dulu sampai hari ini adalah mendakwahkan dengan bahasa yang alagoris. Keberhasilan dakwah Dr Zakir Naik yang mengakibatkan masuk Islam jutaan orang Eropa adalah karena lembut dan indahnya cara jidal beliau. Maka teori jidal yang telah terabadikan dalam Alquran surat an-nahl ayat 125 harus menjadi pondasi utama yang benar-benar kita kaji sebelum berjidal.

Hatta dalam kehidupan sehari-hari kita dianjurkan untuk berjidal dengan baik. Islam tidak hanya menganjurkan pemeluknya membaca Alquran, tapi selebihnya mentadabburi akan pesan-pesan yang disampaikan ayat-ayat Alquran. Berjidal dengan teori yang disampaikan Alquran juga menuai bermacam kebaikan, diantaranya eratnya tali persaudaraan. Dan jauh dari rasa benci dan dendam. Semoga kita stermasuk golongan-golongan yang dirindukan Alquran. Semoga!


Oleh Abdul Hamid M Djamil |Mahasiswa Universitas Al-Azhar,
Alumnus Dayah Ummul Ayman Samalanga.
.'. Tulisan ini telah dimuat di Suaraaceh.com

No comments:

Item Reviewed: Meluruskan Eksistensi Jidal Rating: 5 Reviewed By: kmamesir