Wednesday, October 2, 2013

Di Pangkuan Bidadari (Bagian 1)

Oleh; Tarian Langit
[buletin el-Asyi Edisi 112]



"Razzak,  kuburlah jasadku bersama panglima Allah di negeri ini. Aku mohon kepadamu sampaikan surat ini kepada calon istriku Aya Khumaisa. Nikahilah dia, karena engkaulah yang pantas menjadi pendamping  hidupnya. Aku akan menanti kalian berbahagia di dunia ini, dan biarkan Aku bahagia bersama para mujahid Allah di alam sana".

***
Pagi itu Aku sangat bahagia, rasa syukur atas nikmat Allah terus ku ucapkan dalam benak hatiku, karena Aku merasa Allah begitu sayang kepadaku.  Bagaimana tidak, Aku termasuk seorang dari beberapa calon mahasiswa yang akan mendapatkan beasiswa kuliah di negeri jiran Malaysia.

Seperti cita-citaku sejak kecil, Aku akan mantapkan niat untuk belajar di Universitas Malaysia, jurusan kedokteran.
Jika Aku bisa memutar  kembali skenario Allah ke belakang, maka ayahku pasti sangat bangga dengan prestasi yang telah Aku dapatkan sekarang ini.
''Ah...mengapa harus berandai-andai, bukankan berandai-andai itu perkataan setan.'' Aku jadi teringat betapa besarnya peran seorang ayah dalam kesuksesanku saat ini.

Ketika Aku masih duduk di bangku SD, Aku sangat sering mendengar ayah memberikan nasehat dan semangat untukku. Ayah sering bertanya kepadaku.
"Asyraf jika besar nanti mau jadi apa?". Tanya ayah.
"Asyraf mau jadi dokter yah". Jawabku polos.
''Kalau mau jadi dokter, Asyraf tidak boleh bermalas-malasan, karena seorang dokter itu hanya untuk mereka yang belajar dengan giat bukan dengan malas-malasan". Ucapan manja seorang ayah kepada anaknya.
"Ia yah, Asyraf akan belajar dengan rajin agar Asyraf bisa jadi dokter, dan bisa obati ibu dan ayah Asyraf". Jawabanku ketika itu.

Tapi sayangnya, hanya tiga tahun ayah bisa membangun motivasi dan semangat belajarku. Ketika aku berumur sembilan tahun beliau meninggal. Masyarakat sangat terpukul dengan meninggalnya ayahku, mengingat beliau satu-satunya teungku di pemukiman kami, beliau juga sangat berpengaruh dalam masyarakat.

"Ya Allah ampunilah dosa hamba dan dosa kedua orang tua hamba, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil hingga dewasa ". Doaku dalam kalbu.

"Woooi... kok bengong,  orang-orang pada bahagia tu. Ente malah bengong di sini, mikirin apa sih?'' Razzak membuyarkan semua kenangan-kenangan indahku bersama sang ayah. Aku hanya membalas dengan sebuah senyuman.

"Jadi ente serius mau ambil jurusan kedokteran?", tanya Razzak dengan nada lebih serius.
"Ya dong." Balasku simpel.

"Jawabnya kasih alasan dulu kek, biar yang nanya puas." Timbalnya lagi kesal.

"Yaaaah ente..alasannya masih sama kayak dulu di SMA, mau jadi penolong manusia dengan mengobati siapa saja tanpa kupungut biaya, terutama orang fakir dan miskin." Balasku.

"Ente yakin?" Tanyanya lagi.

"Ya donk.. Ane yakin. Ane akan belajar untuk menolong ummat."
Seperti firman Allah dalam surat Yasin.

“Wah.. Syukurlah.. Makasi atas ilmu Ust. Asyraf hari ini." Lengkurnya.
"Kita sama-sama belajar Sob." Balasku.

***
 Selesai shalat subuh Aku langsung siap-siap untuk berangkat ke Malaysia. Semua proses pemberangkatan ditanggung oleh Badan Beasiswa bagi siswa berprestasi dari negeri jiran.

Kulirik jam tanganku 06:20 wib. Dua koper baju dan barang keperluan yang lain sudah ibuku siapkan sejak semalam, sekarang tinggal berpamitan dengan sanak saudara.

Pagi itu rumahku dipenuhi seluruh keluarga besar, setelah semuanya lengkap Aku menyalami dan meminta kepada mereka untuk mendoakanku.
Semua senyuman yang menghampiriku bangaikan suntikan semangat yang menggebu-gebu. Senyuman itu penuh dengan harapan sebuah kesuksesan untukku.

Target jam Sembilan harus sampai ke bandara, jadi kami berangkat dari rumah sekitar jam tujuh pagi. Dikarenakan letak rumah yang begitu jauh dari bandara Sultan Iskandar Muda (SIM).

"Yuukk...brangkat! Gak ada barang yang tertinggal kan ..?" Tanya pak sopir labi-labi.

"Yuk, udah siap semua barangnya pak, semua udah masuk ke mobil."  Jawabku.

Mobil mulai berjalan. Kulirik ke belakang, atap rumahku tak terlihat lagi. Jangankan atap rumah, kampung halamanku saja sudah semakin nampak mengecil.

Aku tidak pernah ke daerah  Blang Bintang,  jadi Aku memang sama sekali belum tau di mana letak bandara Sultan Iskandar Muda, namun Aku tau posisi mobil sekarang tepat di pasar Lambaro.

"Ah...mudah-mudahan cepat sampai ke bandara." Ucapku dalam hati.

Rasa penasaran akan bandara sirna seketika. Ketika aku melihat ada sebuah pintu gerbang besar yang berdiri kokoh bertuliskan "SELAMAT DATANG DI BANDARA SULTAN ISKANDAR MUDA".

"Alhamdulillah akhirnya sampai juga di tempat tujuan."
Ternyata sampai di sana teman-teman lain sudah lama menunggu kedatanganku.

"Emm sudah lama nunggu ya?'' Tanyaku memulai pembicaraan.
''Ya ni, hampir berakar nungguin ente," Jawab Zul sambil bercanda.

"Oohh...ya sudah. Ane minta maaf kalo sudah buat kalian lama menunggu. Kalian tau sendiri kan, kampungku jauh banget dengan bandara." Balasku sedikit tersenyum.

"Takkan kami maafkan." Jawab Zul lagi sambil cengengesan ala Kuda Niel.

"Mana ada lama,  Zul aja baru nyampe tu." Timpal Muna yang juga mau berangkat ke Malaysia.

"Tukan ketauan bohong si Zul." Balasku lagi sambil meyenggol bahunya dengan bahuku.

“Teman-teman kita chek-in yuk, katanya jam 11.00 kita akan take-off jadi mulai sekarang sudah bisa chek-in." Kata Razzak yang merubah suasana menjadi sedikit serius.

Bersambung...


No comments:

Item Reviewed: Di Pangkuan Bidadari (Bagian 1) Rating: 5 Reviewed By: Furqan Ar-Rasyid