Tuesday, February 18, 2014

Budaya ‘Senewen’



Oleh: Zahrul Bawady M. Daud

Dulu, sinetron Korea mungkin hanya dinikmati oleh segelintir orang. Tapi seiring perjalanan waktu, penyebaran penikmat film Korea semakin meluas. Tidak mengherankan kalau beberapa pakar perfilman memprediksikan Bollywood dan Hollywood akan tersaingi beberapa tahun ke depan, dalam waktu yang singkat.

Secara objek pangsa pasar, sinema Korea tak hanya menjadi tontonan pemuda pemudi bermata sipit. Tak jarang lelaki berjanggut dan berwajah garang turut menyimak episode demi episode berbau korea. Di kalangan wanita, tak hanya ABG labil, akhwat-akhwat halaqah pun fasih jika disuruh bercerita kelanjutan sinetron Full House.

Fenomena “merakyatnya” film Korea di satu sisi membuat kita miris. Di tengah maraknya tanyangan low-edukasi, malah kembali diperparah dengan hadirnya tontonan minim nilai budaya lokal. Maka tepatlah jika mengguritanya perfilman Korea di Indonesia digambarkan sebagai gerakan invasi, atau dalam keadaan yang lebih parah bisa bermakna agresi.

Masuk ke Aceh, sinetron Korea tidak hanya dipandang sebagai film anti budaya, tapi juga nihil nilai-nilai relegius. Menjamurnya remaja pencinta Korea bisa jadi sedikit melenakan mereka dari tugas sebagai anak bangsa, yang akan diberikan tanggung jawab pelaksanaan Syariat Islam ke depan.

Jika ingin merunut, maka demam Korea tidak hanya salah masyarakat. Namun lihatlah bagaimana bangsa kita dididik. Kita dikenalkan sebagai bangsa yang memiliki aneka ragam budaya dalam berbagai catatan sejarah dan buku panduan. Namun pada praktiknya pemerintah hanya menganggap Bali sebagai objek wisata, batik sebagai baju lokal dan wayang sebagai hiburan.

Maka tidak salah jika kita mengalami krisis identitas, karena memang kebanyakan identitas kita secara sistematis tidak memiliki pengakuan yang memada. Padahal kita punya aset yang hebat untuk melahirkan sebuah budaya popular dengan nilai-nilai global yang dituntut.

Agresi atau Invasi

Kita tentu masih ingat betapa maraknya  media Indonesia ketika menyambut kedatangan Super Junior (SuJu), sebuah grup band asal Korea. Saya kira ini hanya blow up media yang bekerjasama dengan sponsor. Nyatanya memang animo masyarakat membuncah. Mereka rela antri dari pagi hingga malam lalu sampai pagi lagi. Miris.

Kita mesti waspada. Melihat geliat dunia hiburan Korea sedikit ke belakang, sebenarnya yang menimpa kita adalah imbas infiltrasi (penyusupan) budaya Barat (baca: Amerika). Ketika Amerika menjajah budaya Korea, lalu dengan berbagai pergulatan mereka bangun untuk mencari mangsa baru. Indonesia dengan berbesar hati menerimanya.

Kejadian tersebut mengingatkan kita dengan pendudukan Jepang di Indonesia. Lalu Amerika menjatukan bom atom di Hirosima dan Nagasaki. Kesamaannya adalah Indonesia selalu menjadi imbas. Baik itu invasi fisik ataupun mental. Jika dulu diuntungkan, maka kini (maaf) merugikan.

Jadi sebenarnya (menurut musisi) kita sedang disodorkan dengan alternatif  berkualitas super copy (KW). Bahasa kerennya imitasi. Tapi kita merasa nyaman saja. Entertainment Korea sama sekali tidak perlu melakukan akulturasi (penyesuaian) budaya ketika masuk Indonesia. Kita menjadi pelahap tanpa penyaring.

Parahnya lagi kita tak hanya menjadi penikmat. Tapi melakukan plagiat. Saat ini muncul boyband atau girlband beraliran Korea. Beberapa laki-laki pun harus rela jadi pria metroseksual atas nama seni (estetika).  Mereka rela keluar masuk salon, facial demi sebuah sugesti; Kamu mirip artis korea.

Meminjam istilah pasaran, perilaku mencontoh pada budaya Korea sama dengan menyontek pada jawaban yang salah. Tak heran jika apresiasi seni sangat minim. Karena memang hiburan Korea secara budaya yang dipandang sebagai hasil cipta, kehendak (karsa) dan rasa belum dikategorikan memenui syarat. Jadi kita tidak sedang mempraktikkan seni budaya, namun budaya ‘senewen.’

Sekarang kita pantas bertanya, adakah tanah air kita sedang diinvasi atau diagresi? Invasi dapat dimaknai dengan kegiatan berbondong-bondong memasuki suatu tempat atau memasuki daerah lain dengan niat menguasai wilayah tersebut. Sedangkan agresi dimaknai dengan penyerangan secara fisik maupun psikis(jiwa-mental). Jawabannya ada pada realitas masyarakat kita.

Ketika penggiat entertainment Korea menerapkan gaya Amerika dalam dunia hiburan, mereka menyempatkan diri untuk memadukan dengan latar Asia (tepatnya Korea). Namun kita selalu minder, tidak berani menampilkan unsur kedaerahan. Kita selalu menjadi bangsa yang pengekor. Bangsa yang cenderung lebih suka ‘mangat na meurasa tan,’ ketimbang mengolah dengan cita rasa sendiri.

Saat ini kita mulai bangga banyak tahu tentang Korea. Siapa, apa dan bagaimana perilaku bangsa dan bahasa mereka. Makin hari, kenyataan masyarakat kita sebagai bangsa kelas dua semakin terbukti. Ternyata kita sendiri yang membuat bangsa ini inferior(merasa rendah). Beberapa orang yang sudah masuk tahap ekstrim malah tak hanya mengetaui, tapi mencintai. Naas.

Seharunya efek Korea di Indonesia bisa berbua manis. Ide-ide atraktif  harus lahir demi mewujudkan bangsa kita yang tidak low-entertaiment. Tanyangan televisi seharusnya mampu mewujudkan identitas kehidupan kita sehari hari dengan format yang maju, lazimnya drama Korea.

Berharap menjadi orang Korea

Sadar tidak sadar aneka budaya Korea diikuti muda-mudi. Seperti debu yang terbawa angin dari Korea kemudian hinggap di Indonesia dan menyebar  sampai menempel dikulit masyarakat kita. Lalu kita terhipnotis dan merasa sudah menjadi orang Korea dengan debu itu.

Adakah efek hiburan separah itu? Pertanyaan ini muncul setelah kita melihat apa tujuan dibalik dunia hiburan. Apakah mereka hanya memperjuangkan sebua lelucon untuk sebuah tertawaan atau menampilkan kezaliman terhadap tokoh protogonis agar mata kita lembab menangis. “Gop dikliek meureumpok peng, troh tanyo meureumpok male.”

Kalla, tidak sekali kali. Merujuk kepada sebuah pertentangan kebudayaan, ada nilai-nilai abstrak yang ingin ditempuh dari setiap hiburan korporasi. Mereka tidak akan membuang uang begitu melimpah hanya untuk sebuah hiburan murni. Jika ada, maka sang sutradara benar benar miskin ide.

Sebagian tujuan drama dan aneka hiburan Korea bisa dikatakan sudah menemui hasil. Lihatlah, betapa banyak saat ini muda-mudi yang berjalan diterik matahari sambil mengenakan syal. Itu hanya contoh kecil. Betapa tontonan bersfat korea sukses meninggakan living ideology, yaitu sebua tatanan universal berlandaskan nilai sosial murni. Ini baru yang menggurita, belum lagi jika kita melihat perilaku satu persatu remaja ‘gila’ Korea.

Hemat saya pribadi, tontonan Korea lazimnya sebuah tontonan berusaha membawa kita ke arah wishfull thinking, sebuah daya khayal alam bawah sadar yang merayap ke dalam state of mind. Masuk dan meracuni pikiran kita. Lalu kita berharap benar- benar menjadi orang Korea dan bersikap kekorea- koreaan. Buktinya banyak anak muda terobsesi untuk menjadi Lee Min Ho, Le Min Jung ketimbang menjadi Ampon Leman yang berwibawa.

Akhirnya, beruntunglah anda yang tidak terpengaruh dengan tontonan Korea, dan sungguh beruntung bagi anda yang tidak menontonnya sama sekali. Wallahu A’lam.


*Tulisan ini telah dimuat pada Buletin el-Asyi KMA Edisi 119

No comments:

Item Reviewed: Budaya ‘Senewen’ Rating: 5 Reviewed By: Admin