Tuesday, February 18, 2014

Efek Invasi Budaya Korea



Oleh:Husna Hayati

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), invasi berarti penyerbuan ke dalam wilayah negara lain. Ketika salah seorang kru el-Asyi meminta menulis tentang invasi film Korea, menuju arah pulang ke Mukattam, melewati bangunan pemakaman berwarna merah.Terbayang seolah zaman kembali ke masa lalu, seperti mesin pemutar film zaman layar tancap memancarkan gambar tentara Tartar bergerak tegap siap menyerang.
Nah, lho…Tapi ternyata tentara yang mau melakukan  invasi dalam tema kita kali ini tidaklah setegap tentara-tentara Tartar, malah  cenderung gemulai.
Menulis sesuatu tentu saja harus mengetahui apa yang akan dituliskan. Maka mulailah saya bergerilya di youtube mencari lagu-lagu dengan kata kunci Boyband dan K-pop. Kenapa dua kata kunci itu? Hasil googling menawarkan kata-kata tersebut.

Mencoba menikmati musiknya, mengamati geraknya dan menganalisa apa yang dirasakan jiwa serta untuk menyelami apa kira-kira yang dirasakan ramaja- remaja sampai histeris ketika melihat idolanya tersebut manggung.
Hmm…Musik yang ceria, semangat, dengan video klip yang sangat menarik untuk dunia remaja menjadi latar belakangnya.

Benarkah refleksi budaya?

Secara umum, memang  jiwa manusia punya kecenderungan dengan musik semangat, terlebih lagi bagi jiwa muda remaja. Awalnya terasa bising, tapi sedikit demi sedikit, mulai terasa ada gelombang yang sama untuk menerima. Semakin lama semakin bersahabat, terlebih ketika melihat gerakan- gerakan yang mengalahkan semangat gerakan senam.

Iseng- iseng saya juga searching dengan kata kunci “Mengapa suka film dan lagu  Korea?”

Wah, begitu banyak ternyata alasannya, tapi yang paling penting adalah, “Pelakunya enak dipandang , suaranya empuk di telinga, mantap gerakan dance-nya, dan romantis gak ketulungan. Benar-benar membuai jiwa.

Rasa suka akan membuat seseorang itu mengikuti dan meniru hal yang disukainya. Dan manusia dibangkitkan bersama yang dicintainya.

Begitu banyaknya film- film dan lagu- lagu  yang ditelurkan dari negeri ginseng tersebut, tentu saja butuh dana yang tidak sedikit. Sekedar untuk kewaspadaan, jika kita menilik secara mendalam, sponsor- sponsor aliran dana yang tidak sedikit itu, tidak mungkin mareka hanya sekedar main-main tanpa misi.

Selain keuntungan bisnis, dunia musik dan perfilman adalah dua hal yang saat ini sulit sekali ditolak remaja, bahkan jika berniat menolak sekalipun. Karena tebaran pesonanya dan tarikan dari lingkaran lingkungan yang terus menerus menggoda sekaligus memaksa, membuat  para remaja menerimanya sadar ataupun tidak.

Maka bagi pihak yang menginginkan pemuda muslim terjerembap dalam dunia awam, dunia mimpi yang jauh dari aturan yang Allah gariskan untuk keselamatan hidupnya, ini adalah prospek yang sangat menjanjikan untuk menghancurkan kepribadian muslim, dengan efek laten yang dahsyat. Maka tentu saja mareka akan mengambil kesempatan ini untuk menyusupkan pemikiran yang mereka inginkan. Perlahan dan terus menerus.

Mind propaganda

Ivan Pavlov, ilmuwan asal Rusia dan peraih hadiah Nobel 1904 untuk psikologi dan ilmu medis, melalui teorinya tentang conditioned reflex atau involuntary reflex action, ia menyatakan, "Perilaku manusia dapat diatur atau dikondisikan sesuai proses pembelajaran yang diperolehnya."

Dalam sejarah modern, adalah Adolf Hitler (1889-1945) orang pertama kali yang menggunakan mind manipulation atau manipulasi pikiran sebagai senjata. Ibarat komputer, mind atau gugusan pikiran manusia dapat dimanipulasi, dapat di-hack, bahkan dapat disusupi virus untuk merusak seluruh jaringannya. Dalam autobiografinya (Mein Kampf), Hitler menulis, "Teknik propaganda secanggih apa pun tak akan berhasil bila terdapat hal yang terpenting tidak diperhatikan, yaitu membatasi kata-kata dan memperbanyak pengulangan."

Adegan- adegan dan pernyataan yang sering diulang- ulang dalam siaran televisi, membuat penonton menjadi sangat biasa dengan adegan tersebut. Meskipun ada adegan yang bernilai positif, akan tetapi tidak menutup kemungkinan tentang adanya perkara negatif yang tidak layak diterima oleh seorang remaja muslim.

Di antara hasil dari efek pengulangan- pengulangan adegan dalam film dan lagu-lagu Korea adalah, minimal mereka akan terbiasa melihat aurat, musik laghwu menjadi kebutuhan jiwa dan pacaran dengan gaya abi umipun dirasa amat sangat wajar. Itu belum termasuk bergadang untuk menghabiskan 30 juz lebih disk- disk film yang mungkin membuat shalat subuh melayang lam pucok u.

Takdir hidup setiap manusia berbeda. Jika ada remaja yang sedang mengalami masalah dalam keluarga, dengan landasan keislaman yang belum  kokoh, bisa jadi akan  menimbulkan frustasi karena membandingkan tokoh di film dengan dirinya. Atau mungkin ia akan  menjadikan film dan lagu-lagu tersebut sebagai pelarian dari masalah.

Jadi, menyelesaikan masalahnya bukan lagi dengan zikrullah atau shalat dan tilawah, tapi dengan melarikan diri dari masalah, dengan cara menenggelamkan diri dalam hiruk pikuk dunia lain, dunia film dan lagu yang liriknya lebih sering tidak diketahui artinya “Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya (Q.S. As Syams: 8).

Dalam jiwa manusia, Allah memberikan dua potensi. Potensi kebaikan yang mengarahkan jiwa untuk mendekati Allah, dan potensi keburukan yang akan menarik manusia untuk mendekati   hal yang disukai musuh Allah (syaitan). Sebagaimana kebutuhan raga akan makanan, begitu juga jiwa. Maka perlu kiranya diperhatikan makanan apa yang kita berikan ke jiwa, apakah makanan yang menguatkan potensi kebaikan dan melemahkan keburukan, ataupun sebaliknya.

Sederhananya, misalkan kita ingin menjadi seorang penghafal Al- Quran, maka jangan biarkan jiwa memakan makanan dari lagu-lagu dan film-film. Karena jiwa akan lapar lagi dan meminta untuk disuapi makanan seperti yang diperkenalkan awalnya. Itulah salah satu alasan mengapa banyak remaja sulit melepaskan diri dari lagu-lagu yang terlanjur disukai.

Inilah hasil invasi yang bisa langsung disaksikan sekarang disekitar kita. Bahkan mungkin orang-orang yang paling dekat dengan kita. Atau jangan-jangan kita sendiri. Na'uzubillah min zalik.

Teringat ketika pulang ke Aceh, murid saya bilang begini lebih kurang, “Bukan Cuma pegang tangan, tapi begini, begini….(ini adegan nyata atau adegan di film?)

Ini adalah invasi. lebih hebat dari invasi Tartar yang menjadikan Baghdad berwarna merah dalam genangan darah dan hitam dalam asap ribuan buku yang terbakar. Invasi ini, adalah invasi yang tidak butuh pasukan berkuda atau kereta baja. Ini invasi dengan alunan nada, ragam kisah, yang akan diterima dengan mulus, tanpa perlawanan. Mendikte otak secara terus menerus, dari awalnya menolak, menjadi membenarkan, hingga akhirnya menerima, lalu  menjadi habit yang membentuk sebuah pribadi yang jauh dari tuntunan dinul-Islam.

Berhati- hatilah!

Invasi ini bernama ghazw al fikri (perang pemikiran). Dia merasuk lembut dalam sanubari, membelit urat-urat  saraf, lalu menyatu dalam degup jantung, menjadi candu yang dirindui. Lalu kita akan menjadi makhluk terjajah yang merasa mardeka. Jika sudah begitu, jangan tanyakan lagi di mana hukum Allah. Kepada Allah kita mohonkan penjagaan.

*Penulis baru saja menyelesaikan pendidikan S2 di Institut Liga Arab, Mesir

Tulisan ini sudah dimuat pada buletin el_Asyi edisi 119

No comments:

Item Reviewed: Efek Invasi Budaya Korea Rating: 5 Reviewed By: Admin