Monday, February 17, 2014

Tentang Gerobak Bawwabah



Oleh : Mawaddah Nashruddin
Orang bilang, hidup di Kairo serba mudah. Serba murah. Banyak jalan menuju kaya. Itu sih masih katanya. Sebelum aku menjalani sendiri jalan menuju ‘kaya’ itu.
Dua minggu yang lalu, tahta kebendaharaan rumah resmi jatuh ke tanganku. Sebelumnya aku sempat menolak, bisa-bisa uang itu habis aku hutangi kalau aku sedang kere. Tapi tetap saja akhirnya aku juga yang harus mengurus keuangan rumah. Mengingat aku yang paling lama menjadi penghuni rumah megah di kawasan Bawwabah ini. 
Sebelumnya si Mumut (bendahara sebelumnya) sempat ngajarin segala tetek-bengek urusan rumah. Bayar uang air kapan, bayar gas berapa, sampah berapa, ngatur uang rumah gimana, uang listrik biasanya berapa, hatta urusan kecil seperti cara minta uang rumah sama yang telat bayar gimana seharusnya.
Sampailah kami ke satu kondisi dimana kami dituntut untuk mandiri…
Hari itu tukang listrik datang. Menagih pembayaran bulan Januari. Dengan wajah datar ia sodorkan kuitansi pembayaran. Zakiyah yang mengambil. Aku berlari dari dalam kamar, penasaran dengan harga listrik untuk bulan lalu. Aku sempat melongo, mataku melotot pada selembar kertas yang tercantum jelas 300 LE yang harus kami keluarkan untuk membayar itu si tukang listrik.
Ini musykilah, dalam hati aku membatin. Bulan lalu uang listrik cuma 100 LE, bulan ini naik drastis menjadi 300 LE. Mau tidak mau, ikhlas nggak ikhlas, untuk membayar 300 LE. itu ya harus menguras uang belanja bulan ini. Kacau.
Aku berfikir bagaimana cara menyampaikan ke anak rumah, tidak termasuk adik-adik yang baru masuk beberapa hari lalu. jadi sisanya hanya kami berenam. Kami berenam yang harus menanggung kekurangan untuk jatah belanja bulan ini. 
Akhirnya, lewat media BBM & WA aku jelaskan ke mereka. Asli, aku bergetar mencari kata-kata yang bisa membuat mereka bisa memahami kondisi kami saat itu. Dengan kondisi keuangan yang sama-sama kejepit, aku tidak tega meminta mereka untuk tabarru-an. Tapi diluar dugaan, mereka santai-santai saja dengan masalah yang aku sampaikan.
Ada ide gila –menurutku- yang tiba-tiba sudah mereka sepakati. “Kita jualan saja” kata kak Mulia.
Beruntung kami punya seorang madam di rumah ini. Kak Mulia, seorang kakak yang punya keahlian memasak, dan aneka jajanan yang sudah pernah dicobanya rata-rata memang enak. Aku akhirnya ikut tertarik dengan rencana ini. Tanpa melibatkan adik-adik, akhirnya dengan bermodal 15 LE. uang itu kami pakai untuk beli spaghetti dan bahan-bahan yang lain. Cuma 15 LE. “Cuma”. Murah kan?
Hari pertama misi kami berjalan lancar. Bahkan diluar dugaan, dari uang yang tadinya cuma 15 le itu, kami sulap jadi 85 le. 65 le dapat laba bersihnya. Sihiiiiyy, asik juga ternyata ya!
Hari kedua, kami jadi ketagihan. Kami bekerja lebih semangat lagi. Target pasar kami hari itu adalah di acara pengajian mingguan KMA. KMA, wak!
Gak kebayang deh, gimana nanti jualnya, rame ikhwannya pulak. Tapi ya, bismillah saja. Kalau halal insyaAllah gak kemana. Di lubuk hati yang paling dalam aku merasa sangat bersalah, membawa teman-temanku pada situasi seperti ini. Baru beberapa hari memegang tampuk kepemimpinan sudah timbul masalah, walaupun salahnya bukan mutlak dariku (sok-sok cari alasan lagi). 
Kata mereka, Mumut ibaratnya seperti Mubarak. Di jamannya dia, warga bawwabah hidup makmur. Jaya raya. Bayar rumah gak pernah telat. Aku sering telat bayar rumah, karena tanggal makmurku bukannya di awal bulan, tapi justru di pertengahan bulan. Awal-awal bulan itu termasuk masa-masa kere buatku. Karena orangtuaku yang PNS, baru bisa mengirim uang tanggal-tanggal 6, belum lagi nanti kalau mamak belum sempat ke Bank. Ya ma’alesy da’wah deh.
Mumut dengan segala harta yang dia punya (ceileh) selalu sigap menanggung kekurangan angota. Uang rumah selalu dibayar tepat waktu walaupun harus ditambal pakek uangnya dulu. tak jarang kalau sesekali kami goda untuk mentraktir makan di warung, dia juga mau. Pokoknya serba top markotop deh (bek GR mut).
Nah -kata mereka lagi- jamanku ini ibarat jamannya Mursi. Gak tau deh maksudnya apa. Padahal kan aku baru berkuasa selama dua minggu, kok sudah kelihatan seperti jamannya Mursi? Haha. ya mungkin beberapa hari lagi aku bakalan di kudeta juga kali ya.
Oke. Hari itu jadi juga aku dan beberapa karyawan lainnya jualan di KMA. Sok keren bawa dagangannya pakek taxi pula. Jajanannya mie goreng &. tahu isi plus sambalnya masing-masing. Baru turun dari taxi aku langsung jantungan rasanya. Dag dig dug gak karuan. Itu barang dagangan gak ada yang mau bawa masuk ke dalam. Pada malu! Karena ternyata acara sudah dimulai 15 menitan yang lalu. Kali ini bukan lagi jantungan, tapi keringatan walaupun lagi musim dingin. Hahay!
Akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam. Grasak-grusuk langkah kaki bikin semua orang melihat ke arahku. Ya salam, malunya minta emas (bukan minta ampun). 
Akhirnya, pengajian selesai. Ternyata setelah ngaji di KMA akan diadakan acara takziyah, wiridan juga sammadiyah. Dan kami sekeluarga baru menyadari bahwa jual-menjual kami ini bukan disaat yang tepat. Ada takziyah kok sempat-sempatnya jualan. Tapi ya sudahlah. Namanya juga tidak tahu.
Hanya sebagian dagangan yang baru laku. Akhirnya aku minta tolong si Tahid untuk jualin di tempat cowok. Anak rumah pada bisik-bisik di belakang aku “jangan bilang punya siapa, jangan bilang punya bawwabah!” Aku mah santai saja, toh nanti belakangan juga tau.
Setelah acara takziyah selesai, si Tahid datang. Tangannya penuh duit. Dagangannya laku keras. Cuma sisa mie goreng beberapa bungkus. Sisanya itu aku jual pakek jurus sedikit memaksa. Si Fitra dan si Adun lewat “hai, ka bloe mie loen, hana peng nyoe keu bayeu rumoh” eh, gak nyangka, si Fitra langsung ngeluarin uang 5 po-nan. Satu bungkus mie akhirnya berpindah tangan. 
Lewat si Zuhri “Hai zuhri, kabloe mie lon dilee”
Kaleuh lon bloe, lhee boeh lom loen bloe, ka troe leuh
Eh, ada Uncle, aku pun bersungut-sungut membujuk Uncle untuk beli. Uncle bilang “udah beli tadi, empat bungkus lagi, beneran!” yasudah, Uncle dikebiniskan dulu.
Ada lagi bang Aqsha, Zulfan dan Wandi. Kudekati. Dengan yel-yel yang sama, dengan memasang muka super prihatin, aku memelas. Eh bg aqsha malah bilang:
 “ci pasang muka paleng seudeh dilee, nyan golom seudeh lom” aissss… itu si zulfan juga ikut-ikutan “ci boh slogan Save Bawwabah dilee bak plastik.”
Para pembaca yang budiman, kalau dihatinya terlintas “kok cowok semua sih yang dipanggil” itu karena yang cewek sudah pada beli, dan ahkwat yang lain sudah pada pulang, sisanya cuma para karyawan bawabah 
Malam itu, selepas dari KMA, kami pulang dengan senyum mengembang.
Bahkan tertawa riang. Mungkin menertawai diri kami sendiri. Aku yakin semua hati malam itu bergembira. Entah gembira karena jualannya laku, entah juga karena pengalaman hari itu. Sampai di rumah aku langsung update cerita, untuk mengabadikan kejadian paling berharga dalam hidupku itu.
“Seminggu yang lalu aku masih ‘berduka’ kehilangan beberapa sahabat tercinta. Tapi malam ini sepulang beut, aleh pakeun kami sekeluarga merasakan kebahagiaan tiada tara. Semoga ‘alathul seperti ini. Walaupun gara-gara malam ini, home sweet home kami mendapat slogan memalukan: “save bawwabah”.
Alah hom, yang penting kami happy.”
Cerita ini belum berakhir. Masih ada sehari lagi untuk kami membuka lapak. Tadinya, selepas acara di KMA itu, si Wandi sempat bilang lewat BBM “waddah, besok anak cowok ada acara Cakra Donya, kayaknya pas tu untuk dagang.” Cuma, karyawan saya sepertinya mulai kelelahan dan butuh istirahat. 
Aku mulai menikmati pekerjaan ini. Walaupun kadang ada beban juga kalau sesaat saja tidak bantu-bantu. Jualan kami ini sekarang sudah punya nama, bukan lagi j-u-a-l-a-n namanya, tapi sudah d-o-r-o-n-g g-e-r-o-b-a-k. DORONG GEROBAK. Selama tiga hari itu, aku belajar banyak. Belajar sabar. belajar bertanggung jawab, belajar mandiri, dan tentunya sekarang aku sudah bisa buat risol dan mie goreng. Ya, nikmati saja masalah itu. Jadikan masalah tanpa masalah.
Dari pengalaman ini, aku mulai percaya satu hal, bahwa pekerjaan yang kita lakukan bersama keluarga, walaupun capeknya luar biasa, tetap tidak terasa karena dikerjakan dengan cinta. Berjualan seperti ini, semua kami lakukan sama-sama. Mulai dari belanjanya sama-sama. Motong-motongnya sama-sama, proses penggorengan, bungkus-bungkus, beres-beres semuanya dilakukan bareng-bareng sambil becanda, cerita entah apa, atau ada yang nyanyi dan lain sebagainya.
Sampai hasil keringat itu akhirnya berbuah kenikmatan tiada tara. Dari modal 15 le, dalam 3 hari berubah jadi 300 le. Dengan hasil ini kami bisa menutupi kekurangan bulan ini, bahkan untuk satu bulan kedepan. Alhamdulillah.
Eh iya. Sekarang gerobak kami sudah bocoe ban. Jadi dengan berat hati kami tidak bisa jualan lagi. (niatnya pertama memang untuk menutupi kekurangan 200 LE. yang tadi).

Tapi kalau memang masih rindu dengan jajanan ala Bawwabah Dua silahkan kunjungi Facebook atau hubungi perwakilan gerobak diwilayah anda.

No comments:

Item Reviewed: Tentang Gerobak Bawwabah Rating: 5 Reviewed By: Admin