Friday, March 21, 2014

Setahun Syeikh Buthi: Resensi Kitab Hadza Walidi (Pertama)


www.fikr.com

Oleh: Rizki Syahputra. Lc*

Judul Buku               : Hadza Walidi (inilah Ayahku)
Penulis                    : Syekh Al-syahid Muhammad Said Ramadhan Al-bhouthi
Penerbit                  : Dar al-fikri
Tanggal Terbit          : 2010 cetakan ke 12
Halaman                  : 199
Kategori                  : Biografi
Teks                        : Bahasa Arab

Sekilas tentang Penulis
Penulis buku ini, Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-bhouthi terkenal sebagai ulama Rabbani yang mendunia. Dilahirkan di Cileka 1929 di Bhouthan (perbatasan antara Turki dan Suriah).  Karena hegemoni Attaturk yang menguasai Turki dan melarang segala bentuk praktik islam di Turki pada saat itu, lalu keluarganya hijrah ke Suriah. Syekh Bhouthi berguru dengan syekh Hasan Al-Bannakah di Ma’had al-Taujih Islami Damaskus dan kemudian beliau melanjutkan studi di Universitas Al-azhar, Mesir.

Beliau adalah ulama yang sangat produktif dalam menulis, salah satu karya besar Syekh Bhouthi adalah kitab Fiqh al-sirah, yang beliau tulis ketika masih remaja. Bisa dibilang, dalam waktu  satu bulan syekh Bhouthi dapat menerbitkan satu atau dua buku. Beliau juga aktif mengajar di mesjid Al-Umawi di Damaskus, dan beberapa mesjid di Suriah lainnya. Konon, majelis beliau tersebut selalu di penuhi oleh ratusan jamaah.

Sebenarnya, dibalik kepribadian dan kesuksesan syekh Al-bhouthi ada sosok yang sangat mempengaruhi kehidupan beliau. Sosok inilah yang sebenarnya menjadi rujukan Syekh Bhouthi dalam berbagai hal. Sosok ini pula yang mendidik Syekh Bhouthi hingga menjadi seorang ulama rabbani yang mendunia. Beliau adalah Mulla Ramadhan Al-bhouthi, ayah dari Syekh Said Ramadhan Al-bhouthi sendiri. 

Ide untuk menuliskan buku ini
Walaupun Syekh Bhouthi sangat mengagumi  ayahnya, beliau sama sekali tidak menulis biografi syekh Mulla sampai ketika beberapa sahabat Syekh Mulla  meminta syekh Bhouthi untuk menulis biografi ayahnya demi mengenang jasa-jasa Mulla Ramadhan.

Meski demikian, Syekh Bhouthi tetap khawatir jika seandainya hal tersebut tidak diridhai oleh Mulla Ramadhan.  Telebih beliau memandang kehormatan orang yang sudah wafat sama seperti yang masih hidup. Namun syekh Bhouthi teringat bahwa Mulla Ramadhan sering membacakan kepadanya kisah-kisah ulama Kurdi untuk diambil pelajaran. Dan Mulla juga menyayangkan kisah-kisah tersebut tidak ditulis oleh siapapun hinga akhirnya tenggelam ditelan waktu.  Oleh Karena itu syekh Bouthi berniat menulis biografi Mulla Ramadhan ini agar masyarakat  dapat mengambil ibrah dari perjalanan kehidupan beliau. Syekh Bhouthi mulai menulis buku ini setelah beristikharah dan memohon petunjuk Allah.

Akan tetapi buku ini tidak hanya berbicara tentang perjalaanan kehidupan Mulla Ramadhan, tapi juga kehidupan syekh Bhouthi dan keluarga beliau. Buku ini mengajak pembaca untuk merasakan bagaimana indahnya besar dalam keluarga ulama. Tak diragukan lagi, membacanya satu sampai beberapa kali, pembaca akan merasakan sendiri perubahan dalam diri yang dapat diambil dari buku ini.

Mengenal Sosok Mulla Ramadhan Al Bouthi

Di bagian pertama dari kitab ini, syekh bhouthi menceritakan latar belakang Mulla Ramadhan dimana beliau dilahirkan tahun 1988 dari orangtua yang bersuku Kurdi. Juga beliau menceritakan kisah perjalanan Mulla dalam menuntut Ilmu serta  sistem pembelajaran Ilmu agama didaerah perkampungan Kurdi yang unik, hingga penyakit yang diderita Mulla Ramadhaan ketika masih muda yang membuat beliau hampir meninggal. Konon ketika beliau terserang penyakit tersebut beliau pernah melihat malaikat maut ingin mencabut nyawa beliau. Namun atas izin Allah beliau sembuh setelah Ayah beliau bernazar jika beliau sembuh dari penyakit maka beliau akan menginfakkan beberapa domba.

Mulla Ramadhan juga pernah mengikuti jihad  perang dunia pertama di laut hitam hingga di perbatasan Turki Usmani dan Rusia. Namun peperangan tersebut membuahkan hasil  yang pahit bagi Mulla Ramadhan, karena beliau  mengikuti peperangan dengan niat jihad fi sabilillah mempertahankan khilafah Islam.  Akan tetapi para prajurit  kekhalifahan  justru lalai dalam melakasanakan perintah Allah, bahkan sebagian ada yang berbuat maksiat. Saat itu Mulla Ramadhan sudah mengerti bahwa khilafah Islam diambang keruntuhan.

Pernikahan

Mulla Ramadhan  menikah dengan dengan pemudi yang masih kerabat dengan beliau bernama Manji. Dari rahim istri pertama lahirlah  anak laki-laki satu-satunya yaitu  Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-bhouthi. Mulla Ramadhan lalu membawa bayi pertama beliau kepada seorang gurunya yang sangat beliau hormati, beliau adalah Syekh Said , salah seorang ulama Kurdi  yang terkenal dengan julukan Syekh Saidan. Syekh Said pun memeluk bayi tu dan berdoa untuknya sekaligus menamai bayi itu dengan namanya, Muhammad Said.

Setahun setelah kelahiran anak lelakinya, Mulla ramadhan melakukan ibadah manasik haji ke Baitullah. Dan selepas pulang dari haji itu beliau terserang lagi penyakit yang parah. Dalam kondisi demikian yang beliau fikirkan adalah bagaimana jika beliau meninggal sedangkan anak lelakinya itu tidak ada yang mendidik. Beliau khwatir jika sampai anaknya tumbuh dan terpengaruh oleh suasana kampung Kurdi yang masih terbelakang dan jauh dari agama. Karena itu setelah beliau sembuh Mulla Ramadhan pun menulis sebuah buku khusus untuk anak beliau yang berisi nasehat dan wasiat yang harus dijalani ketika anaknya beranjak dewasa.

Hal ini menunjukkan  tingkat kepedulian Mulla Ramadhan terhadap anak dan keluarga beliau. Walaupun beliau seorang Ulama yang masyhur namun beliau hanya menulis satu kitab dan hanya diperuntukkan untuk anak lelaki beliau satu-satunya yaitu Syekh Said Ramadhan Al-bhouthi. Walhasil , syekh Bhouthipun menjadi ulama rabbani yang namanya terdengar keseantero dunia. Keilmuannya tidak diragukan, baik dalam bidang aqli maupun naqli. Beliau tak hanya menguasai agama, namun juga menguasai filsafat. Tulisan disertasi beliau dibidang Maslahat Mursalah merupakan yang paling detail dan dalam.  Semua ini tidak lepas dari pengaruh Mulla Ramadhan dalam kehidupan beliau.

HIjrah ke Damasakus.

Tahun 1923 khilafah Islam ditumbangakan oleh Attaturk dan  melarang segala praktik yang berbau Islam. Mesjid dilarang mengumandangkan Azan berbahasa arab tapi harus dengan bahasa Turki. Alquran berbahasa Arab dilenyapkan lalu diganti dengan bahasa Turki. Majelis-majelis keilmuan di Turki ditiadakan. Dan ia juga mengganti huruf arab dengan huruf latin dan memaksa pria dan wanita mengenakan dandanan ala barat serta memaksa wanita melepaskan jilbab dan niqab. Semua ini dilakukan oleh Attaurk untuk memusnahkan Islam setelah menumbangkan Kekhalifah dari Turki.

Dalam kondisi seperti ini murid Mulla Ramadhan bernama Mulla Yusuf datang kepada beliau sambil menangis karena beliau bermimpi melihat Rasulullah memerintahkannya dan Mulla Ramadhan untuk Hijrah dari turki.

Oleh karena situasi yang tidak nyaman di Turki pada saat itu, Mulla Ramadhan berinisiatif pindah ke Negara lain, yaitu Suriah. Akan tetapi beliau masih ragu dan khawatir jika seandainya hijrah itu akan membahayakan beliau dan keluarga. Namun ketika beliau mentadabur Al Quran sampai di pertengahan surat An-nisa, beliau menemukan sepotong ayat, disana seolah-olah Allah menjawab akan kekhawatirannya:

“Dan barangsiapa berhijrah dijalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan dibumi  ini tempat hijrah yang luas dan (rezeki) yang banyak. Dan barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju)), maka sungguh,pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (An-Nisa: 100)

Lalu Mulla Ramadhan bermusyawarah dengan Istri  dan mengambil janji dari Istri beliau agar tetap setia dan sabar menerima segala ketentuan Allah yang akan terjadi. Setelah mendengar persetujuan dari Istrinya, lalu Mulla Ramadhan bersiap-siap untuk melakukan perjalanan. Tanah pertanian yang dimiliki Mulla ditingalkan begitu saja untuk kerabat karib beliau.

Dengan hanya  mengantongi 8 lira emas, perjalan berbahaya tersebut  dilakukan dengan menumpangi sampan menyusuri sungai Dajla sampai ke perbatasan Turki dan Suriah. Jika saja tentara Attaturk melihat, mereka akan langsung ditangkap dan ditembak.

Namun Allah melindungi Mulla dan dan keluarganya, sepanjang perjalanan beliau tidak pernah berhenti berzikir hingga akhirnya atas izin Allah beliau melewati perbatasan Turki dan sampai di perkampungan pertama wilayah Suriah bernama Ain Diwar. Disana beliau dan keluaraga beristirahat selama beberapa hari dan memeperoleh kewarganegaraan Suriah serta akte kelahiran Syekh Bhouthi.


Bersambung

No comments:

Item Reviewed: Setahun Syeikh Buthi: Resensi Kitab Hadza Walidi (Pertama) Rating: 5 Reviewed By: kmamesir