Monday, March 24, 2014

Setahun Syeikh Buthi: Resensi kitab Hadza Walidi (Bagian II)

Oleh; Rizky Syahputra, Lc.


Kehidupan di Damaskus
Menjadi pendatang dinegeri orang bukanlah hal yang mudah, apalagi untuk membangun sebuah keluarga. Kehidupan ekonomi Damaskus ketika itu memang tidak bersahabat, khususnya bagi orang asing yang tidak mempunyai aset apa-apa seperti Syeikh Mulla.

Suatu ketika, tatkala Mulla Ramadhan dan keluarganya menumpangi bus yang bertujuan ke Damaskus, mereka bertemu dengan seseorang yang berasal dari Kurdi. Lelaki itu bertanya kepada Mulla, apa yang menyebabkan beliau meninggalkan segala harta dan kampung halaman lalu hijrah ke Damaskus bersama seluruh keluarga?

Mulla Ramadhan hanya menjawab pertanyaan lelaki itu dengan singkat. 
Akan tetapi si Lelaki itu justru memperingatkan Mulla bahwa kehidupan di Damaskus tak semudah yang dibayangkan. Hanya orang-orang yang memiliki harta berlimpah dan punya kemampuan lebih yang mampu bertahan. 

Istri Mulla sempat khawatir dengan peringatan si lelaki, bahkan mengamini kata-katanya tersebut dan memohon kepada Mulla agar mereka kembali ke kampung halaman. Namun Mulla berkata : “Bukankah Engkau telah berjanji bahwa kita tidak akan kembali walaupun kita akan mengahadapi kesulitan yang besar.”


Peringatan laki-laki tersebut sama sekali tidak menggoyahkan tekad Mulla Ramadhan untuk hijrah di jalan Allah. Beliau percaya Allah tidak akan menyia-nyiakan hambanya yang hijrah dijalanNya.


Setelah tiba di Damaskus, Mulla dan keluarga menempati satu kamar kosong di wilayah Kurdi. Benar memang seperti yang dikatakan oleh lelaki yang beliau jumpai di bus, tak ada profesi lain yang dapat membantu beliau selain menjaja kitab-kitab bekas berbahasa Kurdi ke seluruh wilayah Suriah.



Istri beliau sempat ragu karena buku-buku bekas itu harganya terlalu murah. Namun Mulla hanya menyerahkan segalanya kepada Allah. Dan atas izin Allah dari hasil penjualan buku pertama, beliau memperoleh untung tiga kali lipat dari modal. Mulla pun terus menjalani profesi ini hingga dalam waktu satu tahun beliau akan melakukan sekali atau dua kali perjalanan demi menjajakan buku-buku tersebut ke berbagai wilayah Suriah lalu kembali dengan membawa kebutuhan pangan untuk keluarga. 

Perkenalannya dengan ulama-ulama Damaskus

Ketika pertama di Damaskus Mulla tidak dikenal sebagai  Alim Ulama, akan tetapi beliau dikenal hanya sebagai pedagang. Namun seiring berjalannya waktu, beliau berkenalan dengan beberapa Ulama di lingkungan Kurdi tersebut dalam berbagai kesempatan. Ketika mereka melakukan diskusi, Mulla sering menjawab soal-soal yang diutarakan kepada beliau. Akhirnya Mulla dikenal sebagai Faqihussyafii pertama di lingkungan Kurdi tersebut. 


Lalu sedikit demi sedikit pelajar-pelajar Kurdi pun datang kepada beliau hendak berguru, diikuti oleh beberapa pelajar-pelajar  di beberapa Ma’had  Damaskus bahkan dari berbagai wilayah Suriah, baik Kurdi maupun Arab. Ketika masih di Bhoutan beliau telah menjalani profesi sebagai guru di sekolah-sekolah Kurdi. Dan atas izin Allah beliaupun kembali menjalani profesi tersebut disamping kegiatan sehari-harinya sebagai pedagang.


Menjadi Imam Mesjid
Selang beberapa waktu Mulla dan keluarga pun pindah ke rumah pribadi beliau di Syamdin, setelah sebelumnya hanya tinggal dirumah kontrakan.  Disebelah barat dari wilayah itu terdapat satu dusun yang di di huni oleh penduduk miskin, akhlak mereka rusak juga dihantui oleh kebodohan. Dan ditengah dusun terdapat tempat terbengkalai yang biasa digunakan masyarakat untuk menumpuk sampah,  namun dua orang penduduk dusun itu tergerak hatinya untuk membersihkan tempat tersebut agar terhindar dari kuman dan penyakit.



Berita itu terdengar oleh Mahyuddin,  seorang pengusaha kaya yang baik dari distrik Kurdi. Atas usaha dan jerih payah, Beliaupun berhasil membangun tempat itu menjadi sebuah mesjid.  Lalu beliau meminta Mulla Ramadhan untuk menghidupi mesjid itu dan menjadi Imam tetap disana. Karena Mahyuddin telah megenal Mulla  dan mengagumi dengan keilmuan Mulla Ramadhan.

Setelah beristikharah dan bermusyawarah dengan beberapa sahabat, Mulla pun menyetujui. Tujuan beliau menyanggupi permintaan tersebut bukan hanya untuk sekedar menjabat sebagai seorang Imam. Akan tetapi  sebagai seorang Alim beliau merasa bertanggung jawab untuk menghilangkan kebodohan yang ada dalam masyarakat tersebut dan menyadarkan mereka dari kejahilan.  Akhirnya beliau pindah untuk ketiga kalinya ketempat yang dekat dengan Mesjid tersebut agar mudah menunaikan kewajiban beliau. 

Metode Dakwah Mulla Ramadhan 
Mulla Ramadhan berkata: “ Aku memiliki tetangga seorang lelaki yang selalu berbuat berbagai jenis dosa besar. Ia adalah peminum khamar,  berlidah tajam sekaligus suka bertindak asusila. Diantara musibah yang paling besar,lelaki itu sering menyewa pelacur lalu mengundang teman-temannya untuk menggauli pelacur tersebut, setiap malam rumahnya dipenuhi suara dendang dan nyanyian. “


Mengahadapi kondisi seperti ini Mulla pun berunding dengan beberapa penduduk yang sholat di Mesjid untuk menasihati lelaki itu, walaupun hasilnya nihil.



Ternyata lelaki tersebut tahu bahwa Mulla berupaya mengahalang perbuatannya. Maka suatu hari sebelum menjelang sholat Shubuh lelaki itu datang kerumah Mulla dalam kondisi mabuk dan melempar batu ke pintu rumah beliau. Bahkan setelah itu ia juga melempari jendela mesjid dengan batu ketika para jamaah sedang menunaikan shalat.

Syeikh Mulla tau benar, bahwa dalam dakwah kita tidak hanya bergantung pada keindahan bahasa, dan kehikmatan tingkah, serta berapa banyak nasehat yang mampu kita berikan, akan tetapi disana ada bagian lain yang sering dilupakan oleh kebanyakan para pendakwah hari ini. Bagian itu adalah doa. Setelah berdakwah dengan lisan, seorang dai dituntut untuk menyerahkan hasil dakwahnya kepada Allah, agar Allah memberikan hidayah kepada orang tersebut. Karena sesungguhnya hidayah itu hanya ada disisi Allah.


Melihat hasil dakwahnya tidak membawa hasil, Syekh Mulla pun bertwajjuh kepada Allah di waktu sahur dan memohon agar Allah memberi hidayah kepada lelaki itu. Mulla berkata “Entah berapa kali aku menangis dalam sujud memohon agar Allah memberi hidayah untuk lelaki itu.”

Selang beberapa hari kemudian, tiba-tiba lelaki tersebut mulai mengeluarkan pelacur-pelacur yang pernah disewa dari rumahnya, dan setelah itu ia berhenti minum khamar. Bahkan Mulla pernah bertemu dengannya didalam Mesjid dan ia mencoba mencium tangan Mulla. 


Ketika Mulla melaksanakan ibadah Haji, beliau berwasiat agar tidak menghiasi rumah untuk menyambut beliau ketika pulang. Namun setelah terdengar kabar bahwa Mulla hampir tiba dari ibadah haji, si lelaki itu justru menghiasi rumah Mulla dengan hiasan yang special. Walaupun keluarga Mulla sudah melarangnya namun ia tetap bersikeras. Dan ia meletakkan karpet merah di depan rumah untuk menyambut kepulangan Mulla. Dan ketika Mulla kembali, keluarga beliau langsung menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mulla pun berdoa dan memuji Allah. Seorang lelaki yang dulunya bergelimpangan maksiat dan benci kepada beliau kini menjadi orang yang sangat menghormati Mulla setelah beliau mendakwahi si lelaki dan memohon kepada Allah untuk menghidayahi lelaki itu. 


Bahkan daerah yang dulunya terjangkit kebodohan dan maksiat itu semakin lama semakin berubah. Penduduk yang shalat di Mesjid semakin ramai bahkan selain menjadi tempat ibadah mesjid itu juga menjadi tempat menimba ilmu agama. Dan sekarang Mesjid itu dinamai Mesjid Al-rifai.

Baca juga : Setahun Syeikh Buthi: Resensi kitab Hadza Walidi (bagian I)


Judul Buku : Hadza Walidi (inilah Ayahku) 

Penulis      : Syekh Al-syahid Muhammad Said Ramadhan Al-bhouthi

Penerbit     : Dar al-fikri

Tanggal Terbit : 2010 cetakan ke 12
Halaman         : 199
Kategori         : Biografi
Teks             : Bahasa Arab

No comments:

Item Reviewed: Setahun Syeikh Buthi: Resensi kitab Hadza Walidi (Bagian II) Rating: 5 Reviewed By: Admin