Sunday, February 22, 2015

Hidayah untuk Rosita (Bagian Satu)

(Based on true story)
Oleh: Ibnu Hafif al-Irsyadi
Google image

“Kitab ini adalah pedoman hidup. Jika kalian berpegang teguh padanya, niscaya hidup kalian akan tentram. Akan tetapi jangan sekali-kali membacanya sendirian di kamar tanpa ada yang membimbing, karena kalian bisa saja salah memahami dan sesat.”

 “Rosita, ini Mama belikan Al-Kitab dengan cover merah muda, kesukaan kamu. Tapi ingat jangan dibaca sendiri dikamar.”
 “Ros, kamu rajin banget ya. Ke mana-mana bawa Al-Kitab. Memangnya kamu mau menghafalnya ya?”
 “Kak Ros sering bawa Al-Kitab, tapi kok gak pernah dibaca?”

***

Rosita terduduk lesu di meja belajarnya yang terletak tepat di samping tempat tidurnya. Matanya terus memandang Al-Kitab berwarna merah muda yang tergeletak di atas meja. Ia sedang merenung. Sudah setahun lebih mama memberikannya hadiah Al-Kitab, namun sampai detik ini belum banyak yang ia ketahui tentang isinya. Ia memang selalu membawanya kemanapun ia pergi, bukan saja karena itu hadiah ulang tahun dari mamanya. Tapi ia memang mencintai Al-Kitab, sebagaimana ia mencintai sang mama.

“Aku sedang membaca kitab suci agama kami,” ia teringat perkataan Qosim teman sekelasnya, ketika ia mendapatinya sedang membaca sebuah buku berbahasa Arab dengan suara yang indah.
“Memangnya boleh membaca kitab suci tanpa ada yang membimbing?”

“Namanya juga kitab suci Ros. Kalau gak boleh dibaca, gimana bisa dia menjadi pedoman hidup kita. Malah dalam agama kami membaca kitab suci merupakan perbuatan mulia, bayangkan setiap huruf diganjar dengan sepuluh kebaikan. Konon lagi kalau kita hafal. Subhanallah. Masak kalian dilarang membaca kitab suci kalian tanpa adanya Pendeta?”

Percakapannya dengan Qosim tadi pagi itu merenggut ketenangan hatinya sore ini. Ia gelisah. Matanya belum lepas dari kover sebuah buku berwarna pink dengan bordiran hitam indah tulisan Al-Kitab di atasnya.

Gemuruh hujan di luar rumah tidak mengusik konsentrasinya. Kedua tangannya ia genggam dengan jari jemari saling menyatu. Bibir dan dagunya menempel dengan kumpulan jari tersebut. Sesekali ia menarik nafas panjang melalui genggaman tersebut dan kemudian melepasnya. Matanya kadang juga terpejam. Rasa gelisahnya semakin menjadi-jadi. Tak terasa dahinya berkeringat, padahal udara sangatlah dingin.

Setelah berkali-kali tarikan nafas dan merasa sedikit tenang, ia menurunkan kedua tangannya ke atas meja. Ia kembali ingin mencoba meraih Al-Kitab tersebut dan membukanya. Ini kali kelima ia mencoba. Setiap kali tangannya menyentuh kitab itu, ada hawa sejuk menakutkan yang menyelinap di ubun-ubun kepalanya.

Entah perasaan takut pada siapa yang tiba-tiba saja hadir dan meruntuhkan keberaniannya untuk membaca kitab tersebut. Keberanian yang sudah ia tumbuhkan sejak pagi tadi, sejak ia iri melihat Qosim yang dengan senang hati membaca kitab sucinya. Sejak ia merasa lebih mencintai kitab agamanya daripada Qosim. Sejak ia percaya Al-Kitab adalah kitab yang paling otentik kebenarannya.

Kini tangannya sudah menyentuh kover tersebut. Matanya terpejam. Ia sudah terbiasa dengan perasaan takut yang kembali muncul. Keberaniannya kian menebal. Tangan kirinya membuka Al-Kitab, sedangkan tangan yang satunya memegang sisi lain kitab tersebut. Ia mencoba membuka mata dan mencoba menangkap rangkaian tulisan dua kolom di hamparan halaman pertama. Hampir saja ia memulainya.

“Tok tok tok.” Suara ketukan pintu mengejutkannya. Ia buru-buru menutup kitab tersebut. ”Rosita, kamu kenapa. Dari tadi mama capek memanggilmu. Ayo kita makan. Semuanya sudah siap di meja makan.”
“Iya Ma, maaf tadi Rosita sedang dengerin musik pakai headset.” Rosita membuka pintu dan mengikuti mamanya turun. Dan Al-Kitab tersebut masih tergeletak manis di atas meja.

***

Wajah murung Rosita belum berubah sejak percakapannya dengan Qosim tempo hari. Perasaan tidak tenang yang muncul semakin membesar. Belum pernah ia segelisah ini. Ia sudah jarang membawa kitab sucinya. Ia lebih memilih meninggalkannya di atas meja. Terhitung hingga hari ini sudah puluhan kali ia berusaha mencoba membacanya, namun selalu gagal. Kalau tidak karena panggilan mamanya, telepon Diani temannya, mata yang mengantuk atau perasaan takut yang kembali muncul.

Hari ini ia ingin bertemu Qosim. Ia ingin memompa kembali keberaniannya yang sudah mulai menghilang. Entah itu teori dari mana, akan tetapi ia yakin jika melihatnya dan bertanya padanya perihal kitab suci, ia akan kembali bersemangat untuk membaca Al-Kitab.

Seperti biasa Qosim berada di ruangan Rohis sekolah. Ia sedang duduk di depan meja pengurus Rohis, maklumlah ia adalah ketua Rohis. Ketika Rosita sampai dan mengetuk kosen pintu yang terbuka, Qosim terkejut. Apa yang membuat gadis Kristen berambut panjang tergerai ini mengunjungi Rohis? Batinnya.

“Qosim, aku boleh minta waktu sebentar?” Rosita meminta dengan memelas.
“Hmm, dengan senang hati. Asal jangan di kantin ya, aku sedang puasa.” Qosim tersenyum diikuti juga anggukan Rosita.
“Di bangku taman aja,” tawar Rosita yang diikuti dengan persetujuan Qosim.

Sesampainya di taman Rosita tidak mau membuang waktu, ia langsung menyerbu Qosim dengan pertanyaannya.
 “Menurutmu semua kitab suci itu benar atau tidak?”

Qosim terdiam mendengar pertanyaan yang terkesan tiba-tiba tersebut. Ia menelan ludah. Tidak menyangka Rosita akan bertanya demikian. Jawabannya akan menentukan ke arah mana pembicaraan ini, dan bahkan juga hubungan pertemanan mereka. Ia merasa Rosita sedang mencari agama yang benar, ia tidak mau membuang sia-sia kesempatannya untuk berdakwah. Oleh karenanya ia harus menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat bijak.

“Tergantung.”
“Tergantung apanya?”
“Tergantung kau memandangnya dari sudut mana? Kalau memandangnya dari sudut agama masing-masing, maka kitab suci lain pasti tidak benar. Makanya saranku, kalau memang mau mencari kebenaran pandanglah dari sudut pandang objektif bukan subjektif. Artinya kamu tidak memihak satupun, dan bacalah semuanya. Jika memang kamu sedang mencari kebenaran maka kamu akan mendapatkannya.”

“Tapi jangankan membaca kitab lain, membaca Al-Kitab saja dilarang tanpa adanya Pendeta?”
“Tidak ada kitab suci yang tidak boleh dibaca. Jika dilarang berarti ada sesuatu di balik itu,” ulas Qosim sambil tersenyum.

Rosita kembali gelisah, kali ini berbeda. Ia benar-benar sangat gelisah. Ia tidak memandang Qosim, matanya tertuju pada hamparan rumput taman yang basah karena hujan tadi malam. Tanpa pamit ia beranjak dari bangku taman dan menghilang dalam kerumunan siswa di kantin sekolah, dan tentunya tanpa menoleh ke belakang. Qosim hanya tersenyum dan berdoa semoga Rosita mendapatkan petunjuk. (Bersambung)
Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: Hidayah untuk Rosita (Bagian Satu) Rating: 5 Reviewed By: kmamesir