Friday, February 27, 2015

Hidayah untuk Rosita [Bagian Tiga (Tamat)]

Based on true story 
Oleh: Ibnu Hafif al-Irsyadi
Google Image
 

“Qosim ajarkan aku tentang kitab sucimu!”
“Ah, kamu serius Rosita. Kamu tidak sedang bercanda kan?”
“Aku serius. Seperti katamu, aku harus membaca semuanya sampai menemukan kebenaran.”

“Alhamdulillah, semoga Allah menuntunmu.” Qosim tersenyum dan Rosita terdiam tanpa ekspresi. “Ada satu ayat yang sangat luar biasa dalam Al-Quran.” Rosita membuka mulutnya untuk bertanya, namun Qosim langsung memotongnya, “Sebentar, aku tahu kamu ingin bertanya banyak hal. Namun cukup dengarkan saja ayat ini dulu.”

Qosim membaca ayat 255 surah Al-Baqarah. Ya, ia membaca ayat kursi. Ayat yang menggambarkan keagungan Allah dan kekuasaan-Nya yang menyelimuti langit dan bumi. Dialah Tuhan yang tidak pernah berkedip, selalu hidup tak akan mati. Tuhan seluruh alam. Tidak ada satu pun kejadian di dunia ini yang luput dari penglihatan-Nya dan keluar dari kehendak-Nya. Dialah Sang Pencipta, Pengatur, dan Penghancurnya kelak. Maha suci Allah.
 
Mata Rosita berbinar. Belum pernah ia merasakan ketenangan seperti ini. Ia seperti melayang, merasakan indahnya kedamaian. Apa yang baru dibacakan Qosim seperti mantra yang menyihirnya untuk melupakan pahitnya penderitaan hukuman yang dirasakannya beberapa hari lalu. Ia merasa seperti terlahir kembali. Sangat bahagia.

Setelah lama memejamkan matanya, ia meminta Qosim membaca kembali ayat tersebut. Dua kali, lima kali, sepuluh kali. Entah berapa kali ia telah mendengarnya dari mulut temannya itu. Hanya saja setiap kali mendengarnya, ia seperti melayang sedikit lebih tinggi, dan merasakan kedamaian.

Namun ternyata waktu tidak bersahabat dengannya, bel tanda masuk kelas berbunyi. Qosim harus mengakhiri bacaannya. Namun ia berjanji akan menuliskan ayat itu untuk Rosita sepulang sekolah, tentunya dengan dua bahasa, Arab dan transliterasinya dalam bahasa latin.

Rosita tersenyum sambil meneteskan air mata air mata. Ia merasakan ketenangan yang belum pernah dirasakannya. Ia berterima kasih pada Qosim untuk hari ini, dan berharap bisa menghafal ayat tersebut dengan cepat dan membacanya setiap hari. Qosim hanya tersenyum dan bergumam dalam hati, berdoa semoga Allah memudahkan jalan Rosita menuju shirat mustaqim.

***
 
Rosita sudah hafal luar kepala ayat kursi yang diajarkan Qosim tempo hari. Ia selalu mengulangnya, ketika bagun tidur, berangkat sekolah, pulang sekolah, istirahat di rumah, tidur kembali, bahkan ketika sembahyang di gereja. Ia merasa tenang setelah membacanya.
Sekarang Kamis malam, tepatnya malam Jumat Kliwon menurut kalender Jawa. Kali ini ia ingin membuktikan sesuatu. Walaupun ia sudah menghafal salah satu ayat dari kitab suci agama Islam, yang belum pernah dilakukannya untuk kitab sucinya sendiri, namun Ia masih belum yakin sepenuhnya dengan ajaran Islam. Apa yang akan dilakukannya menentukan ke arah mana ia akan melangkah.

Hari ini, sebagaimana mitos orang-orang terdahulu, bahwa setan dan jin akan berkeliaran. Ia ingin membuktikan apakah ayat yang dihafalnya ini merupakan ayat berbau surga atau jangan-jangan ketenangan yang dirasakannya ini adalah karena pengaruh cintanya yang diam-diam ia rasakan pada Qosim.

Ia keluar menuju belakang rumah yang merupakan perkebunan cokelat keluarganya dan warga kampung. Rumah keluarga Martin memang terletak tepat di akhir perkampungan dan langsung berbatasan dengan ribuan hektar ladang cokelat. 
 
Sebelum keluar mamanya mengingatkan bahaya keluar rumah di malam hari begini, akan tetapi Rosita meyakinkannya bahwa ia cuma ingin mengambil sedikit dedaunan untuk tugas pekerjaan rumah. Dan sekarang ia sudah berada di luar rumah, tepat di depan kebun yang lebih terlihat seperti hutan dengan rimbunnya pepohonan.

Dengan langkah agak perlahan ia maju. Bulu kuduknya berdiri, ia merinding. Merasakan aura kegelapan hutan. Tanpa adanya penerang. Sejauh mata memandang hanya hitam, hanya langit yang terang sebagai penunjuk jalan. Ia masuk ke dalam hutan dengan badan gemetaran, namun ia sudah bertekad tidak akan kembali hingga ia membuktikan kebenaran ayat kursi tersebut. Ia yakin jika ajaran Islam benar, tentunya salah satu ayat dari kitab suci Islam itu akan mampu mengusir jin dan setan.

Belum jauh ia melangkah, ia melihat bayangan besar di depannya. Bayangan yang sering diceritakan masyarakat sekitar. Bayangan yang sangat menakutkan. Bayangan yang jikalau kau melihat ke atasnya dia akan terus membesar, namun jika melihat ke bawah dia akan mengecil. Tetap saja rasa takut tak akan mengizinkan siapa pun untuk melihat ke bawah, selalu saja melihat ke atas jadi pilihan. Bayangan makhluk hitam yang menakutkan, genduruwo.

Rosita berkeringat, walaupun tekadnya sudah kuat, tetap saja ia takut. Ia terpaku beberapa detik, bulu kuduknya serasa ingin keluar dari kulitnya. Ia benar-benar ketakutan. Bayangan tersebut terus membesar hingga tiada batas. Ia tak sanggup mengalihkan matanya dari bayangan hitam legam itu.
Mulutnya bergetar dengan giginya saling bergemerutuk. Ini ketakutan terdahsyat yang pernah ia alami. Tubuhnya bergetar hebat, ia sangat takut. Hingga hatinya tersadar, ia punya ayat kursi. Entah kenapa saat itu ia sangat yakin dengan keampuhan ayat kursi.

Ia mencoba memejamkan matanya, namun nihil. Ia terlalu takut. Dengan mata terbuka dan memandang makhluk menyeramkan di depannya yang terus membesar ia merapalkan ayat kursi yang ia hafal. Berkali-kali hingga ia tidak mampu menghitungnya. Berkali-kali hingga makhluk itu perlahan-lahan menjauh.

Ajaib, genduruwo itu benar-benar pergi. Menghilang dari hadapannya.

Rosita terus mengulang ayat tersebut, walaupun makhluk itu telah menghilang, terus mengulang hingga rasa takutnya hilang dan berganti dengan kebahagiaan tak terhingga. Tak terasa butiran halus mengalir di pipinya. Ia menangis. Akhirnya ia menemukan kebenaran.

Ia berlari kembali ke dalam rumah dan terus naik ke atas menuju kamarnya. Ia tidak menghiraukan teguran ibunya untuk menutup pintu belakang. Ia sangat bahagia. Hanya ada satu hal dalam pikirannya, bertemu Qosim dan menyatakan kesediaannya memeluk ajaran damai yang dianut Qosim, ajaran Islam.

Maha Suci Allah yang berkehendak.
"Sesungguhnya engkau tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk". [Al Qashash/28 : 56] (Tamat)

Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: Hidayah untuk Rosita [Bagian Tiga (Tamat)] Rating: 5 Reviewed By: kmamesir