Friday, June 26, 2015

Ketika Cinta Berdalih

ilustrasi/google image
Oleh : Tamhar el-Isybily*

“Aku tahu nama lengkapnya. Bahkan aku tahu no.Hp-nya! Nomor keramaaat!” Ujar Amin sambil tersenyum lebar.

“Nih, baca keras-keras!” Responku sambil menyodorkan Nokia N70 milikku.

Penuh rasa ingin tahu, Amin segera menyambar benda persegi panjang dari tanganku, lalu membaca dengan dahi berkerut ”Waalaikum salam. Ya, ni no.Hp saya. Insya Allah saya ikut”. “Ini kan no. Cinta” Ujar Amin dengan muka lesu.

“Hahaha..kamu baru tahu no. Hp-nya, ketinggalan! tuh, tengok, SMS aku dah dibalasnya. Hahaha” Pekikku nyaring. Amin diam saja, celingukan sambil mencocokkan nomor pengirim dengan no. HP keramat yang dibangga-banggakannya tadi. Setelah itu hampir saja aku tertawa lebih keras melihat muka memelas penuh kekalahan, kalau saja tidak terdengar suara dari kamar sebelah “Din..., Din... Jangan ribut! Aku nggak bisa konsentrasi nih” Kata Imran, si perfeksionis rumahku. 

“Ya Bang, sori…sori…” Jawabku pendek.

“Ohya Din. Kemari kamu!” Katanya lagi.

Bergegas aku menuju kamarnya, meninggalkan Amin yang kelihatannya masih belum bisa menerima kekalahan. 

“Ada apa bang?” Tanyaku selembut mungkin. Sedikit tentang Imran, sekarang ia tingkat empat Ushuluddin Universitas Al-Azhar. Lelaki yang kuanggap perfeksionis dan cuek sama cewek ini, meraih predikat imtiyaz tiga tahun berturut-turut. Di samping itu, ia juga aktif di KMA sebagai sekretaris I. Sebenarnya aku sangat kagum. Hanya saja menurutku hidupnya terlalu formal dan monoton. Kegiatannya hanya itu-itu saja, ke KMA, kuliah, talaqi, latihan bola dan menulis artikel. 

“Daftar nama yang ikut rihlah sudah ada sama kamu Din?” Tanya Imran sambil menerusi kegiatannya di atas keyboard. 

“Udah Bang, saya ambilin?”

“Ya, tolong cepat ya. Suruh si Amin juga kesini.”

Kurang dari satu menit kemudian aku dan Amin telah berada di kamar Imran dengan data-data yang diinginkannya.

“Ni bang...ada 42 semuanya, kurang 3 orang lagi.”

Imran membaca data-data tersebut sambil membetulkan letak kacamatanya.

“Cut Nacinta Fonna...cewek yang kalian ributkan tadi ikut juga?”

“Bah...ketahuan bang Imran! Sialan, pasti gara-gara suara Amin yang meringkik kayak keledai tadi. Aku diam saja. Pasti kena ceramah ni” Batinku. 

“Tajuddin, Amin...rasanya Abang dah terlalu sering nasihatin kalian.” 

“Tuh dah mulai muqaddimah ceramahnya” bisikku dalam hati.

“Kita ini talibul ‘ilm, tugas kita belajar. Untuk apa ngabisin waktu untuk mikirin yang nggak berguna. Memang betul sekarang lagi libur musim panas, nggak ada kuliah, tapi tempat talaqi kan banyak, jangan kayak pengangguran gini la…” Aku dan Amin mendengar ceramah yang sudah sering kami dengar selama 2 tahun ini. 

“Ngerti kalian?” Suara penuh kharisma Imran mengejutkanku.

“I..iya bang, ngerti.”Jawabku polos seperti anak TK. Sebenarnya pura-pura polos. 

“Ya sudah, balik ke kamar sekarang. Sebelum tidur jangan lupa baca tasbih fatimah”

“Ya bang.” Jawab kami serentak sembari berlalu meninggalkan Imran yang geleng-geleng kepala.

Sampai di kamar, aku segera duduk menghadap meja belajarku sambil meraih sebuah buku. Ini dia salah satu diktat kuliah yang akan kuhabiskan malam ini. Kutatap lagi sampul buku yang indah itu dengan senyum. 10 LANGKAH MEMIKAT WANITA. Demikian kira-kira tulisan di sampul yang tidak pernah membosankan mataku. He he, Si Cinta, cewek Aceh kelahiran Malaysia itu pasti dapat kupikat. Bukan tanpa alasan, aku yakin sekali akan bakat “kebuayaanku”. Meski sudah banyak yang menjadi mangsa. Tapi kali ini beda, si Cinta memang betul-betul istimewa. Makcek Malaysia ini lebih cantik dari Siti Nurhaliza. 

Tiga bulan yang lalu, Cinta datang ke Kairo sebagai mahasiswi baru di Al-Azhar. Karena kedua orangtuanya asli Aceh, dia menjadi anggota KMA. Sejak orientasi MABA namanya mulai dikenal dan disebut ramai mahasiswa. Cantik, aktif, supel dan tidak sombong. Tapi yang paling menawan adalah senyumannya. Aku pernah melihatnya sekali, dan senyuman itulah yang membuatku harus memakai taktik super jitu untuk menakhlukkannya walaupun banyak saingan.

Satu jam kemudian, aku menarik nafas, tersenyum, meraih si N70, lalu mulai menulis :

Burung pinguin pake sepatu

Lagi ngapain yang di situ?

***

“Hm...awak serius?”Tanya Cinta sungguh-sungguh. Terlihat bola matanya yang bulat semakin bulat. 

“Ya, saya serius. Saya sudah fikir masak-masak. Awak bagi aje nombor talipon mak ayah awak.”

“ Waah, saya nak sangat sangat!” Pekiknya bersemangat, penuh antusiasme. 

Perlahan, aku meraih ponsel setiaku, lalu bertanya dengan mantap “Berapa nomornya?”

“Wooiii!! Bangun!!” Teriakan Amin mengejutkanku. 

“Berapa nomornya..berapa nomornya! Kamu mimpi menang togel ya?” Cerocos Amin menjemput kesadaranku. Aku diam saja, masih berusaha melawan kantuk. Sialan Amin, padahal sedikit lagi aku hampir mendapatkan no.HP balon mertuaku. 

“Dah sampe ya Min? Kog busnya nggak jalan?” Tanyaku, mencoba mengalihkan pembicaraan. Malu juga kalau ketahuan mimpi begitu. Pasti aku mengigau tadi.

“Dah sampe apanya! Tu, supirnya kena tilang. Rupanya dia pake rukhsah muzawwarah. SIM palsu. Sudah setengah jam ditahan polisi. Kita disuruh tunggu disini. Dasar orang Mesir! Sebelum berangkat tadi katanya semua beres, surat-surat lengkap semua. Nggak tahunya...bah!” Aku mendengar ocehan Amin sambil menatap keluar jendela bus. Tampak beberapa peserta rihlah duduk di maqha pinggir jalan sambil berdialog.

“Min, turun yuk. Gabung sama kawan-kawan” Ajakku.

“Malas ah, kamu turun duluan. Entar aku nyusul” Sahutnya. 

Segera kugerakkan tubuhku menuju pintu sambil celingukan kiri kanan. Ramai kawan-kawan yang sudah turun. Tinggal beberapa orang saja yang kelihatannya lebih suka tinggal di dalam. Kulihat Imran terlelap sambil mendekap sebuah buku. Monoton, lagi-lagi kata itu terlintas di benakku waktu melihat lelaki itu. Sedangkan Cinta, oh..dimana dikau? Kog nggak ada di dalam? Mungkinkah dikau di luar? Dengan mantap segera kulangkahkan kaki ke luar pintu bus mencarinya. Mana tahu nanti jumpa, bisa melihatnya dan ia tersenyum padaku...ouuhhh, senangnya. 

“Ayo Din, duduk sama kita-kita. Masak wakil panitia rihlah asyik ngorok aja di dalam bus.” Suara Izzat diikuti ketawa kawan-kawan menyambutku. Aku hanya tersenyum dan segera meraih salah satu kursi di maqha itu. Aku malas meladeni mereka. Yang menari-nari dalam kepalaku hanyalah bayangan Cinta. Mataku liar mencari-carinya diantara beberapa cewek yang duduk di ujung maqha sebelah sana. Tidak ada, kemanakah ia? Kulayangkan pandangan ke segala arah, nihil. Mungkin tadi aku terlepas pandang waktu di dalam bus. 

Kutatap bus bertuliskan spanduk KMA SUMMER TOUR 2010 itu lekat-lekat. Tidak ada yang istimewa, hampir saja kuputuskan untuk balik ke dalam bus. Tiba-tiba pemandangan di belakang maqha ternyata mengubah niatku. Sambil berjalan ke belakang, kembali aku teringat Cut Nacinta Fonna, si burung merak negeri jiran. Aku sangat yakin bisa mendapatkannya dengan beberapa strategi berikut:

Pertama, modal tampang yang lumayan dan bakat alami playboy yang kumiliki. Kedua, aku punya “orang dalam”, Hafiza namanya, kawan sekamarnya Cinta. Ketiga, aku sudah muraja’ah empat kali buku 10 LANGKAH MEMIKAT WANITA. Dan yang terakhir aku punya Izzat. Ohya, Izzat juga kawan serumahku. Seperti Bang Imran, menurutku Izzat juga termasuk makhluk aneh. Nggak tertarik ama perempuan. Mungkin kekurangan hormon testoteron. Cuma “sedikit” berbeda dengan Bang Imran, minat Izzat cuma ada di game, komik dan ngejailin orang. Nah, si Izzat ini pernah sekolah dua tahun di Malaysia. Makanya, aku memanfaatkannya untuk mengajariku beberapa kosakata bahasa Malaysia yang akan kugunakan untuk memikat Cinta. 

Pemandangan didepan membuyarkan lamunanku. Dua makhluk berjilbab duduk sambil komat-kamit mengemukakan sesuatu. Satu diantaranya menyadari kehadiranku dan menoleh kepadaku. Hafiza rupanya. Kalau begitu yang satu lagi pasti Cinta. Hatiku mulai berdebar tak karuan.

“Assalamualaikum…” Sapaku dengan nada seindah mungkin.

”Waalaikumsalam…” Keduanya menjawab serentak. 

“Eh, ada Tajuddin. Busnya mau jalan ya?” Tanya Hafiza. 

“Enggak tahu, kayaknya belum.” Jawabku polos. Seperti biasa, pura-pura polos.

“Coba aku cek dulu ya!” sambung Hafiza sambil beringsut meninggalkan kami berdua. Luar biasa, Hafiza memang orang dalam yang bisa diandalkan! Ini pasti strateginya untuk meninggalkan kami berdua saja.

“Dah lama awak duduk kat sini?” Tanyaku mengawali pembicaraan sambil mencoba tersenyum semanis madu Yaman. Sesuai muqarrar, halaman 43, langkah 6: REBUT HATINYA DENGAN SENYUMAN.

“Takde lah, baru 20 minit je...”Ya tuhan, suara burung merak ini ternyata sebening asfour.

Cinta berkata lagi, kali ini sambil tersenyum ”Kalau awak nak cakap ngan bahasa Aceh, saya boleh paham. Mak ngan Abah kat umah cakap bahasa Aceh.” Hampir saja aku terbuai terbang ke langit ke tujuh melihat senyuman legendaris itu. Untung aku teringat halaman 70, JENIS LAKI-LAKI YANG DISUKAI WANITA, no. 2: Wanita kagum pada lelaki yang bisa mengusai diri. 

“Tak ape-ape, saye bise cakap Malaysie, kawan saye ramai budak Malaysie. Bahkan saye pernah chatting dengan anak menteri semak beluke Malaysie. Waktu itu die cakap baru pulang dengan maknye dari rumah sakit korban lelaki .” Jawabku mantap. Kutekankan huruf “e” di setiap akhir kata agar tampak lebih terlihat Malaysia-nya. Aku yakin pasti Cinta terkagum-kagum dengan kefasihan bahasa Malaysiaku. Terima kasih Izzat, terima kasih! Kulihat Cinta seperti ingin tertawa, pasti itu tawa kekaguman. 

Selanjutnya halaman 20, langkah 3: TUNJUKKAN BAHWA ANDA PENUH PERHATIAN.

“Pasti Cinte, eh..Cinta, anak pertame kan?” Tanyaku diplomatis.

”Macam mana awak boleh tau?”

“Kan name awak ade Fonna-nya, artinye dalam bahase Aceh: yang pertame ade.” 

“Ooo..macam tu ke..Hmm, Fiza mana ya, apasal lambat sangat?” 

“Mungkin die pergi ke bilik termenung .”Jawabku. 

Terlihat Cinta akan tertawa kagum lagi kalau saja aku tidak mulai berkhotbah “Saya cukup geram dengan polis. Gare-gare mereke perjalanan kite dah tertunde satu jam”

Langkah 2, halaman 15 : TUNJUKKAN BAHWA ANDA BERWAWASAN LUAS. Yes, kebetulan kemarin baru saja aku membaca artikel tentang kriminalitas. Seorang anggota polisi terlibat. “Polis, seharusnya menjadi pelindung masyarakat. Sangat disayangkan, di era sekarang ini polis malah menjadi masalah bagi masyarakat. Polis yang menahan bus kite pasti kerane cume mau uang.” Kataku lagi.

Aku melihat Cinta mengernyitkan dahinya, dan ketika terlihat dia ingin mengatakan sesuatu..Ups, halaman 71, JENIS LAKI-LAKI YANG DISUKAI WANITA, no. 5: Wanita suka lelaki yang berbuat sesuatu dengan sempurna. Aku belum selesai dengan sempurna, maka kulanjutkan:

“Dunia sogok-menyogok begitu akrab dengan yang namanye polis. Di seluruh dunie, polis same saje. Di Burkina Faso, kalau tampak orang buncit, pasti itu polis. Suka makan sogok dan risywah. Saya paling benci polis. Bahkan dalam beberapa kasus kriminaliti, banyak polis yang terlibat. Misalnya…”

”Hai, kalian berdua! Bus sudah mau jalan tuh!” Teriakan Hafiza mengakhiri khotbahku...

***

Sudah seminggu sejak pertemuan bersejarah di belakang maqha itu. Menurut teori dari muqarrar, seharusnya aku sudah menjadi orang yang paling gembira sekarang ini. Tapi, ah..sialan! Aku malah bingung memikirkannya, bahkan si burung merak itu tidak mau membalas SMS-ku. Kutelepon berulang kali juga tidak mau diangkat. Kutanya Hafiza, katanya Cinta sekarang mau konsentrasi belajar, mau menambah hafalan, serta 1001 macam dalih dan alasan yang lain. Oh..sungguh menyusahkan ketika Cinta berdalih. Atau jangan-jangan kosakata bahasa Malaysia dari Izzat...

“Kemari Din!” Suara Imran membuyarkan lamunanku. 

“Tolong kamu ketik data-data ini! Komputer Abang bervirus, semua data hilang.” Kata Imran sambil menyodorkan kertas bertuliskan data-data pelajar baru. 

Kuraih kertas itu kemudian menuju ke kamar, duduk menghadap meja komputer. Kubaca sekilas nama-nama pelajar baru, hingga sampai ke sebuah nama yang selama ini mencuri selera makanku. Kubaca dengan cermat, Nama: Cut Nacinta Fonna, Alamat:....dan seterusnya sampai ke Pekerjaan Ayah: Polisi. Mataku terbeliak. HAH!! P-O-L-I-S-I...

***

“Apa ni Din?”Tanya Izzat ketika hendak masuk ke kamarku. Matanya lekat melihat poster di pintu yang baru saja kutempel kemarin. Gambar hati dipalang dan dilingkari warna merah. Mirip poster NO SMOKING di pintu kamar bang Imran, hanya saja posterku gambarnya bukan puntung rokok berasap, tapi gambar hati. Tidak kujawab pertanyaan Izzat. Masih geram rasanya dikerjain olehnya tentang terjemahan bahasa Malaysia bo-ongan itu.

“Wah, tumben kamu rajin baca muqarrar” Sambungnya, karena melihatku khusyuk membaca diktat kuliah. Kali ini betul-betul muqarrar.

“Aku lagi kena penyakit bang Imran” Jawabku datar, tanpa menolehnya.

”Hai, orang kayak kamu mau jadi Bang Imran, mana mungkiiin..!”seloroh Izzat setengah tertawa.

Tanpa menggubris ocehannya, kuraih mp3 di samping foto ayah-ibuku lalu menghidupkan musik yang baru ku-copy dari Bang Imran. Sesaat kemudian suara merdu nan syahdu Yasin Brother mengusap telingaku:

Masa muda dilalui hanya sekali

Pergunakan ia agar kau tidak kesali

Di esok hari

Merasa dicuekin, Izzat salah tingkah. Dengan malas dia berjalan keluar dari kamarku, dan sekali lagi menatap poster di pintu kamar. Ia tersenyum membaca tulisan di bawah gambar hati : DILARANG JATUH CINTA, INGAT ORANG TUA!

*Penulis adalah mahasiswa pasca sarjana,Fak. Syariah Islamiyah, Univ. Al-Azhar








No comments:

Item Reviewed: Ketika Cinta Berdalih Rating: 5 Reviewed By: Unknown