Friday, June 19, 2015

KUSYARI

Foto: Google Image
Oleh: Muhammad Daud Farma

Sudah bukan hal yang langka lagi rasanya jika perut ini terasa melilit, sebab lumrahnya bisa makan tiga kali sehari sedangkan kini hanya bisa makan dua kali sehari.Sudah menjadi hal yang biasa jika setiap pagi aku mendengar perutku keroncongan karena kurang makan. Makan makanan pokok saja pun jarang, apalagi makan makanan ringan,tambah jarang bahkan hampir tidak pernah. Hal ini kulakukan sebagai cara untuk menghemat pengeluaran uang kiriman dari orang tua, tetapi berhemat juga ada batasnya. Jangan terlalu hemat sampai memaksakan diri untuk menahan lapar dan dahaga yang dirasa. 

Memikirkan hari esok memang ada baiknya. Namun jika bertahan untuk hari ini saja sudah tidak sanggup, maka janganlah memaksakannya untuk bertahan dari kelaparan itu sendiri. Keselamatan diri harus diutamakan, yaitu dengan cara yang bijak dan tidak menurunkan daya tahan tubuh kita sendiri. Berbicara tentang betapa banyaknya orang di luar sana yang hanya bisa makan sekali dalam sehari, bahkan mungkin tidak makan sama sekali, kemudian membandingkan dengan diri sendiri, itu adalah pemikiran yang salah!! 

Mereka tidak menahan lapar dan tidak makan seharian bukan karena mereka sengaja, namun melainkan karena mereka benar-benar tidak memiliki uang dan tidak ada apa pun yang bisa dimakan. Kita memiliki uang yang bisa digunakan untuk membeli makanan serta masih ada sesuatu untuk dimakan, kenapa tidak?? Jika kita berfikir tentang berhemat untuk membelanjakan duit karena khawatir tidak ada apapun untuk hari esok, itu salah!! 

Karena jikalau untuk hari ini saja kita sangat membutuhkannya dan harus membelanjakannya maka hal itu harus terpenuhi. Haruslah kita disini bijak mempertimbangkan mana yang perlu dan mana yang lebih perlu, mana yang penting dan mana yang lebih penting, dan mana yang mendesak dan mana yang lebih mendesak. Hal itu sangat penting untuk kita pahami ketika kita jauh dari orang tua.

KUSYARI, begitulah tulisan dan bacaannya. Istilah yang tak asing lagi untuk Mahasiswa asal Indonesia di Mesir atau familiar dengan nama Masisir, mereka sudah tak heran lagi ketika kata itu terdengar oleh mereka “Kusyari”. Ada apa dengan Kusyari? Kenapa harus Kusyari? Ya itulah yang muncul pertama kali di benakku untuk menuliskanya…

Tujuh bulan yang lalu, aku telah terbiasa dan terlatih untuk tidak makan tiga kali sehari, melainkan hanya dua kali sehari. Aku mulai terbiasa dengan hal itu ketika jauh dari orang tua yang telah melahirkan dan merawatku. Maklum, santri itu anti cemen. Kejadian ini bermula ketika Aku berada di Medan Sumatera Utara (Sumut) ketika itu aku tak sendiri, aku bersama teman satu pengabdian mengikuti ujian seleksi calon Mahasiswa Universitas ternama di Timur Tengah, yaitu Universitas Al-Azhar yang namanya telah menggaung di seluruh penjuru dunia.

Rencana untuk melakukan perjalanan ini sudah tersusun dengan matang, baik jasmani, rohani maupun materi. Tapi kali ini materi yang sakit, aku juga tak tahu entah apa sakitnya sehingga tak ada sepeserpun yang hadir dalam dompet usang nan sempit ini.

Teman pengabdian ku sebenarnya asli Jakarta yang nyantri di salah satu Pondok Modern yang terkenal dan terkemuka di Nusantara, tepatnya berada di Pulau Jawa. Enam tahun nyantri di Pulau Jawa kemudian mengabdikan diri di Pulau Sumatera wilayah Sumatera Utara tepatnya di Aceh Tenggara yang berprovinsikan Aceh merupakan satu hal yang belum pernah terbayang sama sekali di benaknya. Karena memang begitulah system pembelajaran yang ada di Pondok Modern yang mewajibkan bagi Alumninya untuk mengabdikan diri di Pondok cabang maupun Pondok alumni, tidak langsung begitu saja menerima Ijazah dan bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Kebijaksanaannya dalam mengatur waktu makan menandakan Ia adalah orang yang hemat dalam membelanjakan uang sakunya dan belajar hidup sederhana. Aku lebih memahami tentang dirinya, karena kami begitu dekat ketika masa pengabdian di salah satu Pondok Pesantren di Aceh Tenggara. Kami sering pergi ke luar kota bersama ketika hari libur, Ia yang lebih sering mengajakku dengan seluruh akomodasi ditanggungnya sendiri. Termasuk ketika makan Mie Aceh di Kampung Karo pun ia yang rela membayar pesanan kami berdua.

Kedermawanannya menandakan bahwa ia termasuk orang yang berada. Tapi hari ini sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ketika hari ini kami sebagai musafir yang berada di daerah rantau. “Haryo, nanti kalau ente bangun duluan, bangunin ana ya”, Pintaku padanya dengan logat bicara khas Kota Cane yang kental, tak jauh beda dengan logat bicara orang Batak. Pernah juga dikatakan bahwa nada bicaraku mirip logat bicara orang Jerman, Aku kaget ketika mendengar hal yang disampaikan Guru Kursus Bahasa Jepangku saat itu. Beliau menanyakan padaku,….

”Farma, ungkapan rasa terimakasih dengan bahasa asli Aceh Tenggara bagaimana?” Tanya beliau kepadaku sebagai muridnya.

“Mekhijin…” Jawabku dengan sedikit menjelaskan kepada beliau bahwa yang kuucapkan tadi artinya terimakasih.

“Kok kedengaran seperti bahasa Jerman ya!!” Sahut beliau dengan ekspresi yang serius beliau katakana kepadaku. Aku tak kuasa menahan tawa yang sudah berada di ujung mulutku dan berhasil aku tahan karena pandangan mata beliau yang penuh tanda tanya. Rasa bangga pun muncul tiba-tiba dalam benakku, karena baru kali ini aku mendengar bahasa asli daerahku dikatakan mirip dengan Bahasa Jerman. Beliau tidak memuji, tetapi beliau memang benar-benar bahwa hal itu memang serius dan jujur beliau katakan. Hal itu terlihat jelas dari mimic wajah beliau yang polos serta tanpa ada tawa mengejek di bibirnya.

Mungkin hal itu terjadi karena beliau sering mendengar obrolan orang Jerman, sehingga bahasa daerahku yang memang belum pernah beliau dengar sebelumnya dikaitkan dengan bahasa luar negeri. Aku pun sedikit gembira mendengarnya, lalu "Doumo arigatou gozaimasu Sensei." Ucapku bahagia. (Terima kasih banyak Guru) . Kukatakan dalam bahasa Jepang, karena kelas kami pada saat itu adalah kelas kursus bahasa Jepang. Kelas kami yang dikenal dengan sebutan Markas atau juga Japanese Language Center Sakura-Egypt (Jlc Sakura-Egypt).

“Iya, nte tidur duluan aja, jangan lupa shalat subuh dulu Ud. Nanti jam dua belas siang kita makan di luar ya Ud”. Jawabnya dengan suara pelan yang mengisyaratkan kepadaku bahwa ada yang sedang beristirahat di dalam kamar itu, dan juga menandakan bahwa Ia juga merasa sangat lelah, begitupun yang aku rasakan.

Sebelumnya tak pernah jadwal makan kami berubah. Subuh ini ada perubahan makan dari hari sebelumnya. Ia telah memutuskan bahwa makan tepat pukul dua belas siang nanti. Ketika aku bertanya alasan merubah jadwal makan kita pagi itu ia tidak menjawab, dan ternyata ia sudah tertidur duluan,… “Asem juga nih orang, tadinya aku berpesan agar ia yang membangunkanku nanti, tapi malah dirinya yang tertidur pulas duluan”. Kataku dengan suara berbisik seperti desisan angin di pagi itu. Sangking lelah yang kita rasakan, tidur hanya beralaskan tilam tipis dan udara dingin tak menghalangi rasa kantuk yang telah menyergap diri kita masing-masing.Tak berselang lama kita telah berada di antara hidup dan mati, bertemu dengan mimpinya masing-masing.

Jarak tempuh yang cukup jauh antara Kota Cane Aceh Tenggara dengan Medan Sumatera Utara, dengan hitungan kira-kira dan bisa lebih dari enam jam perjalanan jika menggunakan mobil Bintang Tani Jaya (BTN). Berangkat pukul sebelas malam, dan sampai di tempat tujuan pukul lima pagi. Kami memilih menginap di Pesantren Modern yang juga salah satu Pesantren terbesar sekaligus ternama di Medan Sumatera Utara. Lagi-Lagi Pesantren, aku sengaja tidak menuliskan nama pesantrenya, karena kekhawatiranku nanti dianggap promosi. Seakan tulisanku ini adalah brosur, aku mengantisipasikan hal tersebut.

Pesantren ini sudah kami anggap seperti Pesantren tempat kami menimba ilmu. Karena hubungan antar direktur Pesantren ini dengan Pesantren ku di Kota Cane begitu erat. Gedung Indonesia lantai dua, salah satu ruangan gabungan antara guru senior dan guru pengabdian. Penggabungan seperti itu menandakan tidak adanya perbedaan antara guru senior dan junior, senioritas ataupun prioritas. Walaupun kami sebagai guru pengabdian, adab bertamu haruslah tetap kami jaga. Sempat juga pernah merasa jengkel oleh perlakuan Pak Satpam penjaga gerbang masuk, mungkin karena belum kenal siapa kami dan apa kepentingan kami.

Kami sedang asyik-asyiknya membaca materi ujian untuk esok hari, kami duduk di gubuk layaknya santri yang sedang belajar. Sebenarnya kami juga salah, kami belajar di gubuk khusus untuk tamu, walaupun kami juga tamu, tapi Pak Satpam itu tidak tahu bahwa kami adalah tamunya juga. Kami dikira santri kelas lima Kulliyatul Mu'allimin Al-Islamiah (KMI). Kami diusir oleh Pak Satpam, disuruh pindah belajar ditempat lain, “Jangan belajar di gubuk khusus tamu”, teriak Pak Satpam. Meskipun seperti itu, kami bisa memakluminya, sebab kami memang baru datang dan Pak Satpam itu belum mengenal kami. Kami segera bergeser dari tempat itu meskipun kami sedang asyik membaca materi untuk ujian hari esok.

Hal itu masih terus berlanjut, pernah juga hal yang hampir sama terjadi ketika kami bertemu dengan Bu Satpam yang lebih menjengkelkan. Setiap kali kami keluar atau masuk pondok selalu ditanya ada kepentingan apa kami keluar, dan juga kami selalu dipersilahkan untuk mengisi buku tamu terlebih dahulu. Pada suatu waktu, salah satu dari Bu Satpam itu bertanya kepada kami, “Kalian dari mana dik? Ada perlu apa datang kemari?” Tanya Bu Satpam itu. Temanku Haryo yang menjawab,”Kami Guru pengabdian dari Aceh Tenggara Bu, kami mau menginap di Gedung Indonesia. Kami kesini demgam tujuan untuk ikut ujian seleksi calon mahasiswa ke Mesir esok hari”. Mendengar penjelasan Haryo tersebut, Bu Satpam jadi salah tingkah dan kentara ada penyesalan di wajahnya, menyesal atas sikapnya kepada kami beberapa waktu lalu. Segera saja Ia mempersilahkan kami masuk. Selama kurang lebih empat hari kami bermalam disitu, sering keluar-masuk pondok, akhirnya Bu Satpam itu hafal dan mengenali kami.

"Yo... Haryo, bangun cuy" Keempat kalinya kutarik-tarik tanganya. Akhirnya bangun juga. Jam menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh lima menit, Ia bangkit lalu bergas untuk mandi. Aku sudah mandi duluan lima menit yang lalu.

“ Ayo Ud, kita segera makan di luar”. Katanya dengan penuh semangat dan mata berbinar. Tanpa ada sepetah kata pun yang keluar dari mulutku aku segera bangkit berdiri dan keluar melewati pintu gerbang pondok putri. Alasannya karena jika lewat pintu gerbang pondok putra kita harus jalan keliling dahulu dengan jarak yang lebih panjang, tak ada rute lain kecuali harus berjalan memutar. Karena itu kami memilih berjalan melewati pintu gerbang pondok putri karena lebih dekat dengan jajaran warung yang menjajakan berbagai macam menu masakan yang membuat perut selalu meronta-ronta minta segera diisi.

Kali ini ketika kami melewati depan pos satpam tak lagi diinterogasi oleh Bu Satpam seperti kejadian kemarin, malah kami mendapat senyum tulus yang tersungging di bibir beliau. Ketika sampai di luar, Haryo bercerita padaku,…. 

“Sebelumnya ana pernah datang kemari sendiri, saat mengantarkan berkas seminggu yang lalu. Ana makan sekali hanya dua kali, ana ndak makan pagi. Ana makan siang jam dua belas tepat sebelum shalat dzuhur, dan makan malam jam tujuh. Hemat duit Ud” Katanya dengan polos.

“Oke cuy, ana setuju!!”. Kataku dengan penuh semangat tanda aku sependapat dengan Haryo karena menurutku Ia sangat bijaksana. Dan kekagumanku semakin bertambah ketika tahu caranya mengatuur waktu makan, hal itu menurutku patut dicontoh untuk melatih diri menahan lapar dan dahaga. Jujur, memang tidak terasa lapar jika tidak makan pagi dan menahannya hingga siang hari. Hitung-hitung sebagai latihan untuk puasa Bulan Ramadhan nanti.

Sejak saat itu aku belajar hidup sederhana ketika di rantau orang. Mulai hari itu aku sudah tahu persis apa yang nantinya harus aku lakukan ketika memulai perjalanan yang lebih panjang lagi, perjalanan panjang yang mengharuskan aku jauh dari orang tuaku. Aku harus meminimalisir pengeluaran uang agar ketika uang saku ku menipis aku sudah tidak kaget lagi dengan keadaan tersebut. Entah kenapa tiba-tiba fikiran ku melayang jauh, menembus cakrawala dan melintasi dimensi waktu. Aku merasa berada di negeri impianku, Mesir….

“Kalaulah nanti di Mesir aku tak mempunyai uang lebih, maka sudah kuputuskan satu cara yang ampuh, yaitu mengurangi jatah makan. Kalaulah dengan hal itu uangku masih enggan hadir dalam dompet usangku, maka aku akan bekerja disana.” Kataku dengan yakin dan tekad yang bulat, saat itu aku tidak sadar masih berada dalam warung Mie Aceh sembari menunggu terhidangnya pesanan yang telah kami pesan sepuluh menit yang lalu.

Sungguh hatiku tak tega jika harus bergantung pada kiriman uang dari orang tuaku. Di waktu aku masih di Pesantren uang bulanan dari orang tuaku tak pernah absen tiap bulannya.Tetapi keadaan perekonomian orang tuaku sangat pas-pasan, untuk belanja kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah adik-adikku saja pun hampir tidak cukup, kok teganya aku sebagai anak lelaki keluarga ini menambah beban orang tuaku dengan meminta biaya hidup ketika di luar negeri. Kok seenak udel ku saja berkeinginan untuk kuliah di luar negeri, tanpa memikirkan betapa susahnya orang tuaku mendapatkan sepeser demi sepeser uang untuk membiayai anak-anaknya, tanpa memikirkan adik-adikku juga harus bersekolah dan itupun butuh biaya yang tidak sedikit.

Akan tetapi, aku tak rela mengubur begitu saja mimpi yang telah lama ingin aku gapai. Aku mencoba meyakinkan kedua orang tuaku bahwa aku mampu dan pasti bisa kuliah di luar negeri dengan mendapatkan beasiswa. Karena kegigihanku, saat itu keyakinan Ayah dan Ibuku mulai tumbuh dan mendoakan anak lelakinya agar segera dapat meraih cita-citanya. Walaupun sempat Ibuku sedikit ragu dan melarangku untuk bermimpi kuliah di luar negeri karena alasan materiil yang tidak mendukung. Beliau merasa tak mampu jika harus mengirimkan uang saku pada ku setiap bulannya, seperti dulu ketika aku masih di Pesantren. Aku meyakinkan keduanya tentang keputusanku untuk menggapai cita-citaku yang satu ini tanpa merepotkan keduanya. Aku sangat yakin bahwa di Mesir nantinya ada tempat untukku mendapatkan Beasiswa tanpa harus meminta kiriman uang dari orang tuaku lagi. Masalah biaya hidup, aku akan mencari kerja di sana nantinya. Dengan tangan yang ku kepalkan di depan dada dan mengucap Basmalah aku memulai langkahku untuk mewujudkan cita-citaku.

***

"Daud..Daud..Buet!!!. Jak akhi luhukh nggo nde, ndak ko me Markas Darul Lughoh wakhi nde kin?". Suara salah satu kakak senior membangunkanku. (Daud..Daud.. Bangun!!!. Bentar lagi mau dzuhur ini, kamu nggak ke Markas Bahasa hari ini?".

Tanpa berkomentar sedikitpun, aku langsung bangkit dari kasurku sembari mengambil handphone yang terletak di meja sebelah kasur ku. Kulihat jam di layar telah menunjukkan pukul sebelas tiga puluh siang. Hari ini hari Ahad, pastinya bukan hari libur alias hari efektif masuk kelas. Berbeda sekali dengan yang diberlakukan di Tanah Airku yang waktu liburnya hari minggu. Terkadang terlintas berbagai tanya di benakku, mengapa Negeriku tidak menjadikan hari Jum'at sebagai hari libur? kenapa mesti hari minggu?. Hari jum'at adalah hari besar dalam islam, ibunya dari hari-hari yang lain dan termasuk hari raya kaum muslimin.

Kita memandang dari segi runtinitas, yang mana hari jum'at ialah hari dimana sholat jum'at dilaksankan, sedangkan hari minggu ialah harinya para non muslim untuk melakukan ibadah. Kenapa malah hari jumat kita disibukkan dengan urusan-urusan duniawi, kenapa tidak di hari minggu misalkan, kenapa tidak hari kamis ataupun hari-haru yang lainnya.

Andaikan saja Negeriku hari libur Nasionalnya adalah hari jumat. Subhanallah, pastilah Negeriku menjadi pencetus libur di hari jumat pertama di Benua Asia, kecuali selain Negeri Arab yang memang telah menggunakan kebijakan tersebut dari dahulu. Masya Allah. Bukan malah libur di hari minggu dan disibukkan dengan urusan duniawi di hari jumat. Ahh sudahlah, makin ngelantur saja diriku, biarlah hal ini menjadi urusan orang-orang besar di Negeriku.

Musim di Negeri yang berpasir ini masih belum stabil, terkadang panas, dingin, sangat dingin, bahkan terkadang juga gerimis.Walaupun bumi Kinanah ini merupakan salah satu negeri yang sangat jarang sekali bisa dijumpai rintik air hujan. Aku juga tak tahu apa penyebabnya, tiba-tiba bumi Kinanah ini diguyur gerimis meskipun sebentar. Meskipun hanya sebentar air hujan itu telah membahasahi bangunan yang mayoritas berbentuk kubus di sekelilingku, padahal seharusnya gerimis tak mampir di sini karena baru bulan kemarin turun hujan sedikit lebat yang menandakan pergantian panas ke musim dingin. Hal itulah yang membuat langkah kakiku terhenti sebentar, rasa malas pergi ke Markas Bahasa mulai menghampiriku. Karena melihat cuaca yang tak menentu dan cepat sekali berubah, panas berubah jadi dingin, atau panas tapi tiba-tiba gerimis, suasana yang sangat tepat sekali untuk merebahkan badan dan memejamkan mata diatas kasur yang empuk. Bisa jadi alasan yang tepat untuk tidak pergi ke Markas bahasa. Namun…

Aku segera melangkahkan kaki ku ke kamar mandi di pojok ruangan, mengambil air wudhu dan kemudian shalat Dhuhur di sebelah kasurku. Aku tidak mau kalah dengan rayuan setan yang terkutuk, aku tidak mau pelajaranku berlalu begitu saja karena ketidak hadiranku. Durhaka rasanya diriku kepada kedua orangtuaku jika aku tak hadir di Markas Bahasa hari ini. Sedangkan orang tuaku di belahan bumi yang lain telah mengorbankan waktu dan tenaga yang begitu banyak untuk membiayai kehidupanku. Tidaklah layak diriku disebut sebagai penuntut ilmu, jikalau tak hadir ke Markas hari ini hanya karena alasan malas keluar rumah, sedangkan Dosenku tak pernah datang terlambat bahkan bisa dibilang tak pernah absen di setiap pertemuan.

Di penghujung shalat dzuhur ku kali ini aku bermunajat kepada_Nya."Rabbanaa Aatinaa Fiddunyaa Hasanah wafil A-akhiroti hasanah waqinaa 'adzaabannaar". Diakhir do'aku, lalu kututup dengan membaca....

"Alhamdulillahi Robbil 'aalamiin" setelah besholawat kepada Nabi Muhammad SAW dan bertahmid kepada Allah SWT.

Segera kukenakan kemeja merahku, lalu kugendong tas renselku. Aku pun pamit ke kakak senior yang ada didalam Rumah....

"Hano be kekhine Bang, laus be aku nde... Assalaamu'alaikum…" Kataku penuh semangat.

(Tinggal dulu ya Bang, aku pergi dulu nih...Assalaamu'alaikum…”).

"Wa'alaikum salam…” ngidah ngidah ni dalan Daud!." jawab mereka serempak. (“Wa’alaikumsalam…hati-hati di jalan Daud!”). 

Satu menit lebih dua belas detik aku sampai di pintu gerbang lantai bawah. Biasanya kalau saja bukan hari yang mengharuskan ku masuk kelas atau pulang setelah kelas, aku butuh sekiranya dua menit untuk menuruni tangga, apalagi menaikinya pasti sampai tiga menit. Karena kakiku pasti terasa lelah dan berat.

Tapi kali ini terasa berbeda dengan sebelumnya, kakiku terasa enteng, aku merasa lebih mantab dan yakin menjalani hari ini. Setelah tiga menit menjejakkan kaki di jalanan Egypt ini aku telah bertemu dengan jalan cabang tiga setelah jalan lurus dari rumah yang ku tempati, ada tiga jalan yang sekarang berada di depanku. Jalan kedepan, belokan kekanan dan belokan kekiri. Walaupun aku sering melewati jalan ini, terkadang langkahku sempat terhenti sejenak untuk berpikir dan memilih. Kalau aku berbelok ke arah kanan, aku akan menjumpai warung sepanjang pinggir jalan raya, kalau aku berbelok ke sebelah kiri, aku akan melewati tempat parkir umum dan tidak ada warung yang menjajakan berbagai makanan kecuali di simpang tiga jalan besar sana. Akhirnya aku memilih jalan tengah, karena didepan mataku sudah berdiri warung Kusyari yang membuatku sedikit menelan ludah dan berfikir sangat sayang untuk melewatkannya.

Kusyari adalah salah satu makanan khas warga Mesir, namun bukan makanan pokok bagi penduduknya. Makanan pokok penduduk mesir adalah gandum yang sudah diolah menjadi makanan serupa roti yang biasa disebut ‘isy. Dalam kusyari terdiri dari nasi, kacang hijau, sambal dan bumbu-bumbu lain khas Mesir. Rasanya yang sangat susah dilupakan membuat semua orang yang pernah mencicipi makanan ini pasti akan ketagihan dan ingin mencobanya lagi dan lagi. Masih banyak makanan penduduk Mesir yang memiliki cita rasa yang tinggi, seperti Kibdah yang di dalamnya dapat kita jumpai hati unta, sapi, kambing, dan ayam kemudian dibubuhi sambal dan dibalut menggunakan ‘isy (roti gandum). 

Kuftah, berupa daging yang sudah digiling halus dan dibalut dengan 'isy. Selanjutnya ada Ruj bil bashol, yaitu nasi yang dimasak dengan susu, dikatakan ruj bil bashol yang berarti nasi dengan susu. Ada juga Tho'miyyah bil bidh, yaitu sejenis sayuran yang digiling halus, dicampur tepung plus bumbu-bumbu laniya yang digoreng, kemudian dibalut dengan 'isy dan diberi telur ayam yang sudah matang. Dan masih banyak lagi makanan orang Mesir yang enak-enak yang memanjakan lidah penikmatnya, dan dijamin semua akan ketagihan, dan yang menakjubkan ialah, para penjaga dan koki yang mengolah makanan tersebut adalah kaum laki-laki, ini menjadi salah satu bukti bahwa orang Mesir sangat menghormati dan menyayangi kaum hawa.

Tak lupa juga, warung makan yang ada di Mesir sangat jauh berbeda dengan warung yang ada di Indonesia. Bedanya jika disini penjual adalah raja, bukan pembeli yang 

menjadi raja. Di Indonesia, harga pesanan ialah sudah termasuk dengan harga tempat. Maksudnya disini adalah jika makan di warung yang ada di Indonesia, ketika misalkan memesan nasi dengan harga delapan ribu rupiah terserah pembeli mau di makan di tempat atau di bungkus harganya tetap sama. Berbeda jauh dengan di Mesir, harga pesanan berbeda dengan harga tempat. Misalkan kita memesan Kusyari seharga tiga Pound Egypt, kalau hanya punya uang pas jangan coba-coba untuk makan di tempat, karena harga beli yang awalnya hanya tiga pound bisa menjadi tiga pound setengah.

"Ya Shodiiq emileih, enta kuweys?" tanyaku kepada penjaganya dengan bahasa arab 'ammiyahnya orang Mesir. Penjaga yang sudah tak asing lagi dengan kehadiranku menyambut kedatanganku dengan ramah. (Wahai Sobat,apa kabar? Kamu okey?). Dia tersenyum dan menjawab...

"Alhamdulillah ana kuweys ya shodiiqii…" Jawabnya gembira. (Alhamdulillah, aku oke).

"Mumkin bi istnain geneih?" tanyaku kembali. (Mungkin dua pound?). Aku hanya memesan dua pound saja, dengan ukuran mangkok yang sedang dan Alhamdulilah bisa mengenyangkan dan dapat mengobati rasa lapar yang mencubiti perutku.

"Ayyuwamumkin ya Shodiiqii" jawabnya. (Ya Mungkin saja wahai saudaraku).

ada banyak alasan mengapa aku memilih warung ini sebagai tempat mengisi kekosongan perut ku. Pertama karena harga tempat di sini tidak dihitung, jadi menjadikan diriku lebih memilih untuk makan di tempat. Kedua karena suasana di sini serta terhitung sepi dari pengunjung, berbeda dengan yang ada di pinggir jalan raya. Di sana selalu saja sesak oleh pembeli, sehingga jika menginginkan membeli di sana harus rela sabar dan antri dengan tertib. Yang ketiga karena sambutan hangat dari sang juru masak, aku telah dianggap seperti sahabat dekatnya. Berbeda dengan warung lainnya yang kebanyakan sang juru masak terkesan cuek dan bersifat dingin dengan pelanggannya. 

Pukul dua belas lewat tiga puluh tiga menit, aku sudah berdiri tegak di jalan raya simpang tiga arah stasiun Darrosah dengan perasaan lega karena kebutuhan perutku telah terisi dengan Kusyari senilai dua pound tadi.

Satu menit aku masih tetap berdiri menunggu tumpangan yang mengantarkanku ke tempat tujuan, menit kedua akhirnya Bus Delapan Puluh Coret pun datang.Terkadang aku merasa heran, tak seperti biasanya Bus yang berwarna cabe merah ini datang tepat waktu. Bus ini biasa kami sebut kaleng sarden karena di dalamnya terdapat banyak penumpang, dan warna bus yang berwarna merah cabe, sesuai dengan bungkus sarden. Cocoklah sebutan yang telah biasa kami pakai tersebut.

Bus Delapan Puluh Coret bersimbolkan angka delapan dan titik satu di sampingnya dan ditulis menggunakan tulisan arab dengan garis miring di tengah-tengahnya. Bus ini menjadi alat transportasi paling diminati oleh kalangan mahasiswa Al-Azhar, khususnya yang bertempat tinggal di Hay ‘Asyir dan sekitarnya karena harganya yang sangat terjangkau oleh kami, kalangan mahasiswa Bumi Kinanah. Berbeda dengan bus yang lain, misalkan Bus Dua Puluh Empat Jim yang mengharuskan kami untuk dua kali ganti bus dan menghabiskan dua pound untuk sekali jalan. Sedangkan untuk Bus Dua Puluh Empat Coret tidak perlu dua kali ganti bus, karena stasiun pemberhentiannya dekat dengan tempat kuliah kami, yaitu kampus Al-Azhar. Keistimewaan lainnya yaitu, kami hanya perlu mengeluarkan ongkos satu pound saja untuk membayar tadzkiroh (tiket) menuju tempat kuliah kami.

Aku segera masuk kedalam bus kaleng sarden itu, meloncat dengan gesit kedalam seakan-akan ada turnamen yang diadakan di dalam Bus warna cabe merah ini. Begitulah supir bus yang mengabdikan dirinya di Bumi Kinanah ini, mereka tidak akan berhenti lama dan tidak menuruti penumpang yang geraknya lambat masuk kedalam bus, pasti mereka tinggal. Misalnya, kita tidak menunggu di halte bus, kemudian kita stop untuk berhenti, kalaulah busnya berhenti lima meter dari kita, maka kita harus berlari secepat mungkin untuk bisa naik ke dalam bus. Anggap saja kita sedang mengikuti perlombaan lari estafet. Kalu tidak lari atau hanya berjalan santai, ya wassalam kita akan ditinggal oleh rombongan bungkus sarden itu.

"Alhamdulillah, Busnya masih sepi." gumamku dalam hati seraya mengelus dada. Mendapatkan tempat duduk didalam bis adalah suatu kenikmatan yang harus disyukuri.

Kita bisa mendapatkan tempat duduk itu kalaulah kita menunggu di stasiun pemberangkatan pertama, seperti Mahattoh Darrosah (Stasiun Darrosah). Kalau menunggu di sekitar pelataran parker bus, kita akan mendapatkan tempat duduk, karena bisnya masih parkir ditempat dan menunggu penumpang. Atau juga menunggu ditempat yang tidak terlalu jauh dari Mahattoh. Aku lebih menunggu ditempat yang tidak terlalu jauh dari Mahattoh. Aku menunggu di simpang tiga sebelah kanan yang mengarah ke Madiinatul Bu'uts. (Asrama Mahasiswa Asing) atau juga disebut waafidiin.

Baru saja lima menit Bus delapan puluh coret melaju melewati Madinatul Bu'uts (Asrama bagi Mahasiswa Asing), dan bus delapan puluh coret pun berhenti tepat didepan jawazat, dekat dengan Ma'had Al-Azhar. Jawazat adalah tempat perpanjangan Pasport maupun Visa bagi Mahasiswa ataupun non Mahasiswa Asing yang tinggal di Mesir. Sehingga bus delapan puluh coret pun kini sudah dipenuhi dengan penumpang yang baru masuk, mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, anak sekolah, Mahasiswa maupun Mahasiswi, dan suasana ribut, sesak, pengap dan suara nyaring sang kernet mulai terdengar nyaring sebagai tanda bahwa Ia sedang meminta ongkos pada para penumpung. Kukeluarkan satu pound dari saku kemeja merahku yang sudah aku persiapkan sejak di rumah tadi.

Orang-orang yang tadinya duduk didepan, khususnya laki-laki dengan penuh keikhlasan mempersilahkan penumpang ibu-ibu yang sudah tua untuk duduk di tempat yang semula mereka gunakan untuk duduk bersandar.Yang muda mempersilahkan yang tua. Dan ada juga Mahasiswa mempersilahkan Mahasiswi yang masih berdiri untuk duduk di bangku yang telah mereka tempati. Begitulah adab dan kebiasaan penumpang bus di Negeri Pasir ini. Meskipun sebenarnya banyak yang ingin duduk di bangku paling belakang untuk menghindari agar tidak berdiri dan agar masih bisa tetap dengan posisi duduk dari awal masuk hingga nanti sampai tujuan yang diinginkan. Namun bangku paling belakang dengan bentuk memanjang itu hanya bisa memuat lima orang saja. Dan seperti hari-hari sebelumnya, aku juga termasuk dalam penumpang bus yang menginginkan duduk di kursi paling belakang itu, karena aku mulai naik bus di tempat yang tidak jauh dari Mahattoh (Stasiun). Setelah aku mendapatkan tempat duduk yang menurutku paling nyaman, aku memandang ke luar jendela dengan bus yang masih terus melaju dengan kecepatan standar.

Pada beberapa hari sebelumnya kedua mataku menangkap bayangan sosok orang yang menangis hampir meraung di bus yang aku naiki ini. Dan ternyata tangisan itu berasal dari seorang ibu-ibu tua yang membawa berlembar-lembar kertas yang dibagikan kepada para penumpang Bus Delapan Puluh Coret. Ibu itu menangis dan berharap ada orang yang merasa iba kepadanya dan menolong dirinya.

Baru hari kemarin aku dapat mengetahui isi dari lembaran yang dibagikan oleh ibu tua itu, karena baru kali itu lembaranya sampai di tanganku. Disana tertulis dengan huruf arab yang isinya sepenggalan hadist, dan juga kata-kata permohonan dan pemberitahuan bahwa ia sedang membutuhkan uang. Hadits itu berisi tentang keutamaan orang bersedekah. Di paragraf kedua tertulis bahwa ia membutuhkan uang untuk biaya suaminya yang sedang sakit parah, tapi tidak dijelaskan sakitnya apa. Batinku sempat menangis melihat ibu itu menangis, kulihat ia mengambil kembali kertas yang telah ia bagikan tadi, namun hanya ada beberapa orang yang bisa memberinya uang, kebanyakan tidak dapat memberinya uang. Demikian juga diriku yang tak bisa memberinya uang,karena uang disakuku sisa satu pound lagi untuk ongkosku pulang kerumah nanti.

Mataku sibuk mencari, telingaku mencoba untuk menyimak dengan seksama suara tangisan didalam Bus yang kudengar beberapa hari kemarin, aku ingin mendengarnya hari ini, tetapi aku tidak melihat dan tidak mendengar tangisan itu. Aku hanya mendengar suara kernet bus yang sedang meminta ongkos pada para penumpang. Kuniatkan dari rumah untuk bersedekah kepadanya, tetapi aku tidak menemukanya. Aku hanya melihat para penumpang yang sedang asyik dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang membaca Al-Qur'an, diktat kuliah, koran dan ada juga yang mendengarkan mp3 Al-Qur'an untuk mengulang hafalan, yaitu Mahasiswa berwajah Afrika yang berasal dari Negeria yang sedang duduk disamping kiriku.

Sementara Aku sedang membaca tempelan-tempelan kertas yang betuliskan berbagai ayat pilihan dan hadits-hadits pilihan serta kata-kata mutiara untuk mengingat dan lebih mendekatkan diri dengan Allah SWT dan bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Melihat suasana yang sedang dan akan selalu berlangsung di sini aku merasa senang, takjub, tentram dan menenangkan kalbu. Bukan hanya didalam Bus kita akan dapat menjumpai suasana seperti itu. Ada juga ketika ada antrean yang panjang, maka disana akan terlihat ialah barisan orang-orang yang membaca. Bukan hanya didalam Bus saja kita bisa melihat dan membaca tulisan yang ditempel itu, akan tetapi juga ada di toko-toko, rumah makan, didepan rumah, taksi, gedung-gedung sekolah, tembo-tembok dipinggir jalan dan di Mall sekalipun tulisan seperti itu akan dapat kita jumpai.

Ada beberapa tulisan yang sering kulihat dan kubaca, yaitu, "Udzkurillah".Kata perintah untuk individual yang membacanya, yang artinya, "Ingatlah Allah". Ada juga, "Hal Shollaita 'alannabiyyi shollallahu 'alaihi wasallama alyauma??", kata tanya, yang artinya, "Sudahkan Kamu bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW hari ini??". Dan masih banyak lagi kata kata-kata ingatan dan bermanfaat lainya yang akan kita lihat. Sehingga aku pun mengatakan dan menamakan bahwa tulisan itu adalah penenang jiwa dan pengobat hati.

"Hayyussaadis...,hayyussaadis....Yallaa Ukhruj!." Suara kernet bus yang mengagetken ku dan para penumpang lain. Suara nyaringnya itu terkadang meelahirkan sebuah canda. Dan ia suka bergurau dengan Mahasiswa asal Asia, terutama Indonesia. Katanya Orang Indonesia itu murah senyum. Pernah kukatakan padanya bahwa orang Indonesia memang murah senyum, tapi kalau terlanjur sakit hati, maka akibatnya akan fatal. Orang Indonesia terlalu larut dengan perasaan, bisa dikatakan sensitif. Kalau marah maka sampai berhari-hari tidak mau saling menyapa dan saling tidak memaafkan. Begitu kujelaskan padanya. Diapun menimpal dengan penjelasanya.

"Kenapa seperti itu?!, sungguh itu tidak baik. Kita ini orang Muslim yang bersaudara, tidak ada permusuhan dan dendam!", jelasnya, beserta dibacakanya penggalan ayat Al-Quran yang menganjurkan untuk bersilaturrahmi dan hadist tentang larangan memendam dendam. Akupun kagum padanya yang banyak tau hadist dan ia juga hafal Al-Qur'an. Begitulah Orang Mesir, kernet Bus sajapun hafal Al-Qur'an. Memang benar katanya, orang Mesir tidaklah pendendam. Aku sering melihat kejadian yang membuatku kagum.

Mengingatkan aku pada suatu malam didepan rumah kami, terjadi perkelahian antar anak muda. Mereka berduel dengan menggunakan botol soda, salah satu dari mereka ada yang terkena pukulan botol soda itu, botol soda itu dipukulkan dikepala lawanya, sehingga botol itupun pecah. Kemudian tak lama mereka selesai adu hantam, mereka dipisahkan dan disuruh duduk berjauhan. Kira-kira sepuluh menit setelah kejadian, mereka yang berkelahi tadi duduk dan minum kopi bersama.

"Wah...! Kok bisa ya?" gumamku didalam hati. Dulu pertama kali melihat kejadian seperti itu, aku tidak percaya bahwa mereka benar-benar telah berdamai, menurutku mereka pura-pura akur. Akan tetapi, setelah beberapa kali aku melihat kejadian seperti itu, aku baru percaya bahwa orang Mesir itu tidak pedendam.

Aku segera turun dari Bus, lalu bergegas pergi menuju gerbang utama Markas Darul Lughoh (Markas Bahasa).




Bus itu tidak berhenti didepan gerbang Markas Bahasa, karena Jalurnya berbeda. Kecuali Bus itu dari Hayyu 'aasyir, maka kemungkinan besar ia akan berhenti dan menunggu didepan gerbang.Tiga menit berjalan, aku sampai didepan gerbang.Tas ransel yang selalu setia menemaniku aku lepaskan dari gendonganku, dan diperiksa oleh penjaga gerbang masuk. Pak satpam. Penjagaan yang begitu ketat, tujuannya untuk menghindari bahaya yang bisa-bisa berakibat fatal, dan dikhawatirkan dibawa didalam tas. Karena sudah pernah terjadi ledakkan di pintu gerbang masuk, dan Oknumnya tidak diketahui.

Tepat pada pukul 13.00 waktu kota Cairo, aku sudah tiba didalam kelas. Kusalami beberapa teman yang sudah hadir terlebih dahulu. Begitulah kebiasaan kami, siapa yang baru tiba didalam kelas, dia akan menyalami yang sudah hadir terlebih dahulu darinya, begitu juga saat pulang. Hal itu tidak diwajibkan oleh dosen, akan tetapi begitulah kebiasaan kami sebagai yang menimba ilmu agama. Sepuluh menit lagi pelajaran akan dimulai, biasanya Dosen akan datang lima menit sebelum pelajaran dimulai. Hari ini aku datang sedikit terlambat karena macet, kalaulah aku datang setelah dosen, aku pasti sudah tercatat tidak hadir walaupun wujudku ada didalam kelas. Adanya aku dianggap tidak ada, karena terlambat. Kami pun sangat menghindari hal itu. Kalaulah bukan karena macet, aku akan tiba di Markas Bahasa lima belas menit sebelum pelajaran dimulai, bahkan harus menunggu didepan pintu masuk, karena kelas tidak akan dibuka kecuali pada waktu yang telah ditentukan.

"Assalaamu'alaikum warohmatullaahi wabarokatuh." suara Ustadz Ahmad Ibrohim dengan penuh semangat.

"Wa'alaikum Salaam warohmatullahi wabarokatuh." sahut kami dengan lebih semangat lagi.

"Kaifa Haalukum ya Syabaab?" lanjut beliau. (Apa kabar kalian wahai pemuda?).

"Alhamdulillah, Inna bilkhoir ya Ustadz..." Wa kaifa Antum ya Ustadzunaa?" Tanya kami kembali. Kami memanggil beliau dengan sebutan Ustaadz. (Alhamdulillah, kami kabar baik ya Ustaadz, dan bagaimana dengan engkau wahai Ustadz kami?).

"Alhamdulillah, Ana bilkhoir Aidhon ya Abnaa'i." jawab beliau.

(Alhamdulillah, Saya juga kabar baik wahai Anak-anakku). Kemudian beliau memulai pelajaran dengan membaca basmalah lalu membaca do'a dan bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Seraya suara kami yang mengikuti dengan nyaring. Begitulah kebiasaan beliau dalam mengajar, baik memulai pelajaran maupun mengakhirinya.

Didalam kelas kami yang berjumlah tiga puluh satu orang. Kami dari Indonesia yang jumlahnya lebih banyak dibanding yang lain, ada yang berasal dari Negeria (Negro), Rusia, India, Afganistan, Pakistan, Turkey, Suria, Brunei Darussalam, Kamboja, Thailand dan Malaysia.

Mahasiswa dari kelas kami berasal dari berbagai Negara. Ruangan yang bernomerkan empat belas, bisa dilihat dari kertas yang tertempel didepan pintu juga angka empat belas yang bertuliskan dalam versi arab. Berbagai macam ragam Negara, bahasa, suku, ras dan watak berkumpul di Negeri Para Ulama ini.Walaupun berbagai suku, tapi kalau didalam kelas kami berbahasa satu yaitu bahasa Arab Fushah, tidak diperbolehkan bahasa arab ‘Ammyyah, apalagi berbicara dengan bahasa Daerah masing-masing. Itu pada saat didalam ruangan kelas saja, kalau sudah diluar kelas, berbicara menurut bahasa masing-masing diperbolehkan.

Tidak jarang Dosen memuji dan mengacungkan jempol untuk Mahasiswa Indonesia yang ada diruang empat belas karena akhlak yang santun dan murah senyum. Maaf jika berlebihan, tapi begitulah kenyataanya. Dan juga pernah beberapa hari yang lalu, Dosen kelas sebelah masuk kedalam ruangan kami, nama beliau ustadz Muhammad Humaida. Beliau melihat dan memperhatikan bahwa, hanya orang-orang Negeria yang sering menjawab pertanyaan dari Dosen kami. Ustadz Ahmad Ibrohim. Lalu beliau berkata, "Wahai orang indonesia, kenapa kalian diam saja? kenapa hanya orang Negeria saja yang menjawab?". Kemudian Ustadz Ahmad Ibrohim menyangkal beliau, "Wahai Saudaraku, mereka memang jarang menjawab, akan tetapi ketahuilah bahwa, diantara mereka ada Syaikh Al-Azhar."Beliau menunjuk salah satu temanku yang penampilanya seperti seorang syaik, berjubah putih dan memakai kopiah Azhary, dan ia memang hafal tiga puluh Juz, dia berasal dari Aceh. Namanya Muhammad Rofi'. Setelah mendengar penjelasan ustadz Ahmad Ibrohim, beliau kelihatan senyum dan mengacungkan jempol. Lalu segera melangkahkan kaki keluar meninggalkan kelas kami setelah memberi salam dan berpamitan.

Begitu juga dengan Mahasiswa yang berasal dari Negeria. Dosen kami tidak bosan mengangkat jempol kanan beliau karena kecerdasan dan kebijaksanaan mereka ketika menjawab pertanyaan. Dan secara keseluruhan, beliau beri jempol karena ruangan kami yang selalu ceria, tidak ada terlihat sedikitpun dari beliau memilah diantara kami, semuanya beliau anggap seperti anak kandung beliau sendiri.

Dua jam tak terasa telah berlalu, kini adzan ashar pun dikumandangkan dari Masjid Az-Zahra, salah satu masjid yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kelas kami.

Kalau suara adzan dari masjid telah terdengar, maka Dosen juga menyuruh salah satu mahasiswa untuk mengumandangkan adzan didepan pintu. Lagi-lagi Mahasiswa Indonesia yang disuruh untuk mengumandangkan adzaan didepan pintu. Setiap kelas pasti ada satu orang yang berdiri didepan pintu untuk mengumandangkan adzan.Setelah adzan dikumandangkan, 

semua Mahasiswa keluar dari kelas untuk menunaikan ibadah sholat Ashar.

Ada yang sholat di Masjid Az-Zahra dan ada juga yang sholat dibawah tangga, dibawah tangga lantai pertama yang sudah terbentang dua sajadah panjang.

Lima belas menit pun berlalu, semua Mahasiswa kembali lagi kedalam kelas untuk mengikuti satu jam pelajaran selanjutnya.

"Have You prayer..? Where you prayer before?" tanyaku pada salah satu temanku yang berasal dari Negeria, namanya Adam Isah yang telah masuk lebih awal dariku. (Sudahkah kamu menunaikan shalat..? Dimana kamu shalat sebelumnya?)

"Yes I have prayer, and Me prayer in the Mosque." jawabnya sambil mengeluarkan handphonenya. (Ya, aku sudah sholat, dan aku sholat di Masjid). Aku sengaja bicara denganya menggunakan bahasa inggris. Karena didalam kelas, aku berbicara pelan, untuk menghargai teman yang lain. Aku ingin melatih kemampuan berbahasaku agar menjadi lebih baik, baik itu arab maupun inggris. Aku memilih teman Negeria yang mau kuajak berbicara bahasa inggris, adapun bahasa arab, sangat banyak lawan bicara yang bisa kuajak bicara, terutama orang Arab Mesir.

Orang Negeria, selain mereka pintar dan fasih berbahasa arab, mereka juga pintar dan fasih berbahasa inggris. Aku memilih yang namanya Adam isah, karena ia duduk disampingku. Aku tidak akan berbincang denganya kecuali dengan bahasa inggris, tapi jika didalam kelas kami tetap berbahasa arab. Kalaupun bicara menggunakan bahasa inggris, kami akan bicara pelan agar tidak mengganggu teman yang lain. Aku banyak belajar darinya.

Setelah pembacaan Absensi kehadiran, pelajaran pun ditutup dengan membaca hamdalah, kemudian do'a.Sama seperti saat mengawali pelajaran. Jarum jam telah menunjukkan tujuh belas lewat seperempat, menandakan berakhirnya kelas hari ini. Seluruh Mahasiswa keluar dari dalam kelas dan kemudian menuju gerbang utama. Ada yang dijemput dengan Bus khusus. Ada yang lari-lari kecil demi mendapatkan Bus dan ada juga yang berjalan layaknya bebek angsa berjalan dengan anak-anaknya.

Aku dan temanku Adam serta beberapa orang didepan kami yang berjalan santai seakan menikmati perjalanan menuju gerbang, mungkin sedikit mengalahkan pelanya bebek angsa berjalan ketika sedang dengan anak-anaknya. Jarak dari kelas ke gerbang utama memakan waktu sekitar lima menit, itupun kalau jalanya cepat. Kali ini kami menghabiskan sepuluh menit untuk berjalan sambil ngobrol dan penuh canda tawa.

Kami sengaja tidak lari untuk ikut mengejar Bus dencis sarden merah yang biasanya sudah banyak yang parkir didepan gerbang. Kesengajaan kami berjalan santai karena kami tidak mau berebut untuk bersempit-sempit didalam bus. Selain tidak mau berdesak-desakan, kami juga berniat ingin menikmati betapa indahnya pemandangan dari jendela kaca Bus disaat matahari akan terbenam, keindahan yang dapat menenagkan jiwa dan berimajinasi untuk melukiskanya. Lalu-lalang mobil itu terlihat begitu rapi, damai dan teratur.Tidak seperti siang harinya, yang penuh dengan macet. Burung-burung merpati yang berbaris diatas bangunan-bangunan rumah, jembatan dan pinggiran jalan tol. Sinar mentari yang menyihir seperti disulap menimbulkan keindahan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Tidak terasa, kami sudah tiba didepan gerbang utama. Kami hanya mendapati satu bus lagi yang parkir di pinggir jalan, kami pun segera masuk. Aku duduk ditengah, karena bangkunya kosong, belum ada yang menempati. Mungkin hanya belasan orang yang didalam Bus kaleng sarden itu. Aku memilih tidur, aku sudah tak kuasa menahan letih dan perutku sudah keroncongan. Aku belum makan pagi dan siangnya hanya makan Kusyari seharga dua pound, yang hanya dapat mengganjal perut untuk sebentar saja.

Aku tidak makan pagi karena memang seperti itu sudah menjadi hal yang biasa bagi kami, para mahasiswa Masisir pada umumnya, terkhusus dirumah kami yang jadwal masak hanya dua kali sehari. Aku juga tidak makan siang karena piket masak belum menanak nasi. Biasanya yang piket akan memulai masak setelah sholat dzuhur, kemungkinan akan selesai satu setengah jam. Pernah aku mengusulkan ke kakak senior untuk mempercepat waktu masak, dengan menjelaskan bahwa aku masuk kelas pada siang harinya dan mereka juga sebenarnya tahu dan memahaminya. Paginya ku usulkan, malamnya langsung diadakan rapat keluarga, keluarga kecil kami. Keluarga yang hidup penuh dengan keharmonisan. Walaupun hanya tujuh orang jumlah kami satu rumah, hal penting sekecil apapun akan dimusyawarahkan, karena musyawarah adalah cara yang terbaik untuk menyelesaikan suatu agenda, pekerjaan, keluhan ataupun permasalahan. Alhamdulillah, semua setuju dengan usulanku tentang dimajukannya waktu memasak, yaitu pada pukul sepuluh pagi dan berjalan selama satu minggu. Namun satu minggu berikutnya, kembali lagi seperti biasa. Ada yang sibuk di pengajian, ada yang kuliah pagi, ada yang aktif dikaligrafi, ada yang aktif organisasi dan lain sebagainya. Sehingga tidak sempat untuk masak lebih cepat aku pun memaklumi itu.

Aku tidak menyangka bahwa, impianku setahun yang lalu pada saat makan siang bersama temanku Haryo. Serta kebiasaan yang Haryo dan Aku lakukan kini terjadi lagi dibumi Kinanah ini. Aku harus menahan diri untuk tidak makan pagi dan akan makan pada siang harinya bahkan terkadang makannya setelah pulang kuliah, yaitu pada sore harinya.

Makan siang di warung nasi Indonesia bersama Haryo setahun yang lalu, kini digantikan makan siang diwarung Kusyari di Negeri para Nabi. Aku tersenyum mengingat kejadian setahun yang lalu, karena tak meyangkaa bahwa lamunanku dulu, dan kini benar terjadi disini, hanya saja aku belum berani memulai kerja, karena diriku masih terhitung baru di Negeri ini. Aku tetap bersyukur bahwa aku bisa menuntut ilmu di Negeri Nabi Musa ini.

Alhamdulillah, aku sudah mengejar Negeri impianku, kini saatnya aku harus mewujudkan mimpiku dengan rajin belajar dan tetap berusaha semaksimal mungkin.

"Darrosah...darrosah...darrosah." suara kernet bus membangunkanku, menandakan bahwa sudah sampai di staiun Darrosah.

Aku melihat kiri dan kananku, tak kutemukan wajah Adam, ternyata dia sudah turun duluan di simpang tiga yang mengarah ke Asrama Mahasiswa Asing, yaitu MAdiinatul Bu’uts. Dari stasiun Darrosah tidak jauh lagi menuju rumah tempat tinggalku.

Hari sudah semakin sore dan musim sudah mulai memanas.Suasana lampu yang warna -warni menyinari gelapnya malam di musim panas ini begitu indah, apalagi dipandang dari atas genteng rumah kami.Subhaanallah, sungguh indah ciptaan-Nya.

"Tok, tok, tok.. Assalaamu'alaikum...Iftahil baab..!" suaraku mengetuk pintu sembari memberi salam pada yang berada dalam rumah. (Assalaamu'alaikum, buka pintunya..!). Aku tahu mereka ada didalam, sepatu dan sandal mereka ada didepan pintu. Itu tandanya mereka sudah menarik diri dari kesibukkan masing-masing hari ini, bagi yang pergi tadi pagi, adapun yang dirumah, berarti tidak pergi kemanapun hari ini.

"Wa'alaikum salaam...Tafaddhol ya Akhii". Jawab salah satu kakak senior sambil memutar kunci dan membukakan pintu untukku. (Wa'alaikum salam...Silahkan wahai saudaraku). Kakak senior itu senyum dan bahagia melihatku, menyambut kedatanganku yang seakan sudah lama tidak berjumpa. Begitulah kebiasaan yang saling kami lakukan sesama penghuni satu rumah. Kebiasaan yang sudah tak jarang lagi kita temui, walaupun berkunjung ke rumah Masisir yang lainya. Pasti mereka sambut dengan penuh khidmat.

Aku salami mereka semua yang ada didalam rumah. Ingin rasanya langsung merebahkan diri diatas kasur, karena betapa lelah dan lapar yang kurasa. Namun perutku yang sudah lama kerocongan mengingatkanku bahwa aku butuh asupan karbohidrat.

Alhamdulillah, akhirnya makan siang juga, walaupun waktunya berbeda. Ternyata masakan yang piket hari ini jauh lebih enak dari Kusyari yang sempat ku beli siang tadi, mungkin karena lidahku masih terbiasa dengan lidah Indonesia alias belum terbiasa makan masakkan orang Mesir. Harus banyak sabar dan bersyukur, walaupun harus menahan lapar hingga sore hari dan siangya hanya makan Kusyari. Keep enjoy and happy.

"Laayukalli fullahu Nafsan illa Wus'ahaa".

{Allah tidak membebani seseorang melainkan kesanggupanya, Al-Baqarah:286}.

Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: KUSYARI Rating: 5 Reviewed By: Unknown