Tuesday, October 6, 2015

Dilema Cinta

Foto: Ilustrasi (Google Image)

Oleh: Muliadi Selian*

Cinta? Huh… itu lagi. “Pusing deh kepala Barbie!” Ups.

Pembahasan cinta dalam beberapa minggu ini kerap mendadak ‘naik daun’. Walaupun sebenarnya daun itu tidak bisa dinaiki. Seakan tiada henti, pembahasan tentang cinta selalu menghantui halaman-halaman media sosial. Terutama dinding sosial-ku.

Pernah gak sih merasakan cinta? Cinta itu kasih sayang, loh! So, kenapa bersusah payah mencari cinta, toh, selama ini ada kok yang mencintaimu setulus hati, siapa lagi kalau bukan ke dua orang tuamu sendiri.

Cinta itu anugerah?

Iya. Betul sekali! Tapi cara orang-orang mencari dan mendapatkannya saat ini jauh terbalik. Terbalik? Tentu, terbalik dari ajaran agama Islam. Coba kita lihat, seorang pencari cinta di Facebook, pasti mendapatkan cintanya di Facebook juga. Lalu nanti punya anak, coba tebak, sukanya main ‘Facebook’ atau hobi baca ‘book’?

Ada lagi kasus lain. Cari cinta di jalanan. Pakai kendaraan, rayu cewek anak kostan. Setelah jadian—hamil dua bulan. Nanti punya anak, bejatnya gak karuan. Lha, yang begini cinta apa namanya? Huh… gak usah dilanjutin ya.


Contohlah baginda Rasulullah. Mencintai seseorang karena Allah. Punya keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Hidup terarah. Tegar memegang amanah. Surga pun dijanjikan oleh Allah. Ini baru Rasulullah!

Pria, kalau mencitai seorang wanita jangan tanggung-tanggung. Jika merasa sudah mapan (modal secukupnya, tapi kesiapan aman) segerakanlah meng-khitbah si wanita. Jangan sampai di lain hari menyesal. Melihat si calon bidadari duluan dipinang oleh orang tak dikenal. Wah, kasihan tuh cintanya dibegal.

Wanita juga. Jangan terlalu galau kalau belum ada pendamping hidup. ‘Kan masih ada ibu, ayah dan adik-adik di rumah. Bersabarlah.

Namun terkadang, wanita kudu memerhatikan pula tanda-tanda kiamat, salah-satunya bertambah banyak jumlah wanita dan semakin mengurang jumlah pria. Oleh karena itu, disunahkan bagi wanita cepat menikah. Demi menyempurnakan separuh iman yang telah diberikan Allah.

Survei menyatakan, wanita shalihah itu lebih nyaman ditemani sama sang mahram, ketimbang ditemani orang lain. Betul gak?

Tapi itulah, terkadang wanita sekarang terlalu umbar aib. Kalau ditanya, "Mau cari calon imam," katanya. Padahal memilih busana saja masih belum tepat. Kerudung pendek, berbaju ketat. Dilapisi celana, seharusnya nutupi aurat, eh… malah tambah dosa maksiat. Yang begini, diharapkan segera taubat!

Balik ke pembahasan kita di atas tadi.

Memang, cinta adalah multivitamin buat diri. Dalam artian, dengan cinta-kita bisa tumbuh menjadi kuat/pribadi yang hebat. Juga dengan cinta bisa melemahkan hati/jiwa yang sehat. Coba lihat wanita kalau lagi galau, kebanyakan pasti karena cinta.

Mestinya diingatin tuh. Sesuai hadis, “Perempuan adalah tiang negara. Kalau baik perempuan, baik negara. Tapi kalau rusak perempuan, hancur negara.” Pria kalau lagi galau sama saja. Intinya saling berbenah diri dah!

Generasi islami anak bangsa bisa hancur cuma karena cinta. Orang pacaran banyak di mana-mana. Umbar aurat tampak jelas. Suruh beribadah sangat malas. Ini bertanda, generasi anak bangsa akan kandas!

Belum tahu apa, syarat halal untuk pacaran haruslah setelah melaksanakan ijab kabul. Bukan berpacaran seperti yang diinginkan oleh anak remaja sekarang ini. Belum tentu dapat faedah, yang ada maksiat bertambah.

Maka saya himbau dari lembar dakwah ini, marilah sesama kita saling menjaga diri, demi menjadi manusia bersyariatkan islam sejati. Aamiin.

Ufuk Senja, 28 September 2015


*Penulis adalah mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir.
Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: Dilema Cinta Rating: 5 Reviewed By: kmamesir