Monday, August 8, 2016

Catatan Perjalanan; Negeri Dua Kudeta



Oleh: Azwir Nazar*

Akhir Juli ini saya berkesempatan mengunjungi Mesir. Tinggal lebih lama dibanding delegasi Persatuan Pelajar Indonesia dari 29 Negara yang menggelar Simposium Internasional di ibukota Kairo pada 24-28 Juli 2016. Alhamdulillah dapat bersilaturrahmi juga dengan mahasiswa Aceh yang juga mengadakan pemilihan pengurus baru Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) pada tanggal 30 Juli 2016. 

Ada tradisi makan gulai kambing, selain rangkaian rapat dan sidang seperti layaknya organisasi dalam pengambilan keputusan tertinggi untuk setahun kedepan. Sekitar 102 warga KMA yang hadir dari sekitar 168 jumlah mahasiswa Aceh di seluruh Mesir. Beberapa yang tidak hadir kata panitia sedang liburan atau berhalangan. Pelajar Indonesia sendiri mencapai 5 ribu orang di Mesir. 

Mesir sendiri sedang musim panas. Suhu berkisar 33-40 derajat. Udara berdebu dan banyak sampah berserakan di jalanan sangat berbeda dengan Turki. Kendaraan umum juga mirip angkot tahun 80-an di Indonesia. Benar-benar negara tertinggal. Lalu lintasnya sangat semrawut, orang-orang awam suka menipu, banyak pula pencopet terutama di malam hari telah menambah pelik wajah Mesir pasca Revolusi kejatuhan Husni Mubarak 2011 lalu. Beberapa warga menginginkan kembali ke rezim Mubarak yang dianggap lebih kondusif. 

Pasca Kudeta
Pasca kudeta terhadap Mursi ekonomi Mesir kian terpuruk. Namun dalam setahun katanya sudah lebih mendingan. Demonstrasi sudah tak ada. Ditandai pula dengan penangkapan besar-besaran pengikut Ikhwanul Muslimin. Wajah Mesir pun kini didominasi militer dan banyak tentara berjaga di jalan. Apalagi bila di perbatasan antar kota. Seorang teman menyatakan justru saat Mursi berkuasa yang menang secara demokratis di Negeri Firaun itu tak dapat menguasai militer dan terlalu ambisius melakukan perubahan. Maka militer mengambil alih kekuasaan untuk menyelamatakan negara. Mursi pun kita ketahui teladigulingkan. 

Dalam setahun terakhir situasi Mesir memang lebih kondusif. Meski demikian Pemerintah Indonesia yang saya dengar dari Prof. Nazaruddin Umar, Imam masjid Istiqlal dan juga mantan Wakil Menteri Agama, mengurangi kuota beasiswa bagi pelajar Indonesia. Pada Jumat (5/7) kemarin, publik tersentak oleh sebuah percobaan pembunuhan terhadap Syekh Ali Jum’ah, mantan mufti dan tokoh nasional Mesir. Hal yang tidak pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. 

Sambil berziarah, seminggu lebih saya mengunjungi banyak sudut kota Kairo. Mulai makan malam sambil mengelilingi sungai Nil yang melegenda, melihat piramid, jejak kisah Firaun, mengikuti pengajian hadis, hingga mengikuti jamaah zikir dan tarekat. Mencoba kendaraan umum mulai bus, hingga keledai. Ada beberapa juga restauran (math'am) Indonesia yang lumayan banyak bersama Thailand dan Malaysia. Di Turki baru satu restauran Indonesia di Istanbul, selebihnya hanya rumah makan Malaysia dan Uighur (China). Saya juga berkesempatan berkunjung dan bertemu dengan komunitas kekeluargaan/Paguyuban Indonesia yang menjamur. Beda sekali dengan Turki yang WNI maupun pelajarnya berpencar di 26 kota. 


Tgk. Azwir bersama mahasiswa KMA Mesir yang sedang mengolah santapan khas aneuk nanggroe

Namun, saya tetap sabar sambil menikmati hawa Kairo yang sangat panas dan padat. Saya mulai bertanya dan mencari sebenarnya apa yang menarik dari Mesir. Ada banyak sekali Pelajar Aceh bahkan Indonesia yang tinggal cukup lama di Mesir. Saya akui secara biaya memang sangat murah di banding Turki. Katanya bila masih bujang cukup 1-2 juta sebulan lengkap dengan rumah dan makan. Walau satu rumah meski patungan 1-4 orang. Bila Turki tentu lebih dua kali lipat.

Jumat pertama (29/7) saat shalat di Masjid Al-Azhar, saya melihat orang-orang menjaga dengan cermat sepatu dan sandalnya supaya tak hilang. Hal demikian saya alami hampir di sepuluh masjid yang sempat saya kunjungi untuk shalat. Bahkan seorang teman sempat memperingati saya karena tak hati-hati. Di dalam masjid terlihat banyak kipas angin dan orang tidur beristirahat terutama saat siang. Sedangkan di Turki, selesai pelaksanaan shalat masjid langsung ditutup dan tidak diperbolehkan tidur di dalam. 

Namun dalam masjid Al-Azhar saya terkesima melihat tiang-tiang kayu yang sudah sangat tua. Saya mendengar khutbah dari masyayikh yang sangat menyejukkan. Seperti saat Januari lalu saya dengar khutbah seorang Syekh di Masjid Raja Jordania di Amman, atau nasihat-nasihat tarawih yang disampaikan saat saya iktikaf di masjid Fatih di Istanbul awal Ramadhan kemarin. Pesan taqwa, pemuda muslim dan solidaritas umat sepertinya menjadi topik yang selalu menyentuh. Tapi kalau melihat polisi di jalan atau melewati kantor polisi, memori saya langsung terbayang serdadu Israel yang saya temui di jalan-jalan dan otoritas tanah Palestina mulai Jabal Zaytun hingga Jerussalem Timur. 

Usai shalat Jumat, saya melihat begitu banyak penuntut ilmu mengelilingi Syekh untuk mengaji. Syeh membacakan kitab, para hadirin khusyuk mendengarkannya. Pelajar-pelajar kita mengepal kitab duduk bersila, tak beranjak sedikitpun. Ternyata suasana keilmuan demikian terjadi di banyak masjid. Bukan saja di Al-Azhar, tapi juga di masjid Husein yang terletak tak seberapa jauh di sebelah Al-Azhar. Di dalam masjid Husein ini juga terdapat makam cucu yang paling disayang Nabi Muhammad. Konon hanya kepalanya saja, sebab badannya dikuburkan di Iran (baca: Karbala). 

Di sebelah masjid ada pasar Khan Khalili, tempat belanja souvenir, selain pasar tradisional dan rumah-rumah tinggal mahasiswa atau ma'had yang dipakai untuk belajar. Rasa penasaran saya terhadap Mesir sedikit terjawab. Jawabannya tentu bukan di Mall yang jauh kalah dari Ankara, tempat saya tinggal. Atau kapal di Nile River yang jauh dari Bosporus yang membentang di ujung Asia Eropa.

Kehidupan di Kairo sepertinya berjalan sangat lambat. Saya melihat banyak sekali orang hidup very slowly. Tradisi tidur pagi memang ada juga di Turki. Tapi umumnya sampai jam delapan, sebab biasanya pukul 09.00 pagi harus sudah masuk kantor. Kelihatan Kairo baru ada aktivitas di atas jam 09.00 pagi. 

Saat saya menginap di rumah seorang adik angkatan sekolah di Aceh yang mengambil Master di Universitas Duwal Arabiyah, pada malam hari anak-anak tetangga asik bermain, berlompat-lompat di halaman hingga menjelang Shubuh. Di Turki, meski tidur pagi tapi setelah bangun masyarakatnya sangat gigih bekerja. Para pemuda walaupun di usia muda banyak yang ubanan. Hampir tiap 2 minggu sekali diadakan ujian di kampusnya. Malah ada kampus yang sengaja mengadakan ujian pas ketika weekend. Gila! Kata seorang teman saya di Middle East University di Ankara.

Tapi kata teman saya yang lain, bukan Mesir namanya kalau tak unik begini. Bila Turki banyak anak gadis yang tidak mandi pas kuliah, tapi pakai parfum banyak, pun di Mesir banyak wanita bergigi 'emas' alias tak sikat gigi. HP-pun baru masuk sekitar tahun 2009, katanya. Di Mesir punya kisah sangat aib bila menemukan istri berbadan kurus. Artinya istri-istri di Mesir kelihatan lebih 'sehat'. Tapi positifnya, di Mesir angka perceraian lumayan rendah. Beda sekali dengan Turki yang angka perceraian lumayan tinggi. Lain lagi dengan Sudan, negara yang bisa ditempuh via darat dari Mesir ini justru tabu jika hanya memiliki satu istri. 

Teladan Dua Negara
Tgk. Azwir di pelataran Piramida Mesir
Waktu seminggu memang tak cukup untuk membandingkan Mesir dan Turki. Walau dari sisi karakter ada beberapa kesamaan antara keduanya. Terutama dalam hal ta'assub (fanatik/bangga diri)-nya yang begitu besar. Orang Mesir merasa apa yang mereka alami dan lakukan selama ini sudah sangat hebat. Barometernya adalah banyak orang dari seluruh dunia belajar ke Al-Azhar. Jadi artinya orang negara lain saja belajar ke Mesir. Baru setelah revolusi, matanya lebih terbuka. Sementara Turki selalu masih merasa bangsa terbaik di dunia, baik dari segi pemimpin, khilafah dan seterusnya. 

Dari segi makanan, masyarakat Mesir mengkonsumsi 'Aish (roti gandum). Sedangkan di Turki juga ada, walaupun ukurannya lebih besar. Keren sekali melewati jalanan Mesir yang banyak dijumpai penjual sari tebu (Ashab), langsung teringat suasana kampung. Kalau di Turki ada jus jeruk (portakal) atau wortel yang diperah di samping jalan dengan mesin. Cocok sekali menikmatinya ketika kepanasan selepas pulang main Futsal. 

Transportasi yang aktif 24 jam adalah keunggulan Kairo dibanding Ankara yang hanya beroperasi sampai pukul 23.00. Warga Turki fanatiknya sama dengan Mesir sepertinya. Tapi di Turki kalau berantem sampai berdarah dulu, baru datang polisi. Tak ada yang berani melerai. Di Mesir mereka melerainya dan menyeru “Shallu 'alan nabiyy!” 

Di antara penduduk Mesir yang berjumlah sekitar 90 juta-an jiwa, terdapat lebih 20.000 WNA yang belajar di Al-Azhar. Biayanya juga sangat murah kalau tak mau dikatakan gratis. Salah satu kampus terbaik di dunia itu telah menjadi mercusuar dunia yang melahirkan banyak ilmuwan, ulama, dan tokoh-tokoh dunia. 

Lalu jika kita bergeser sedikit dari Kairo berkunjung ke provinsi lain, maka akan kita temukan kehidupan pedesaan yang sungguh berbeda. Mulai dari masyarakat yang lebih ramah, santun, dan suka tolong menolong, walaupun kehidupan dan rumah mereka menyedihkan. Sangat Sangat Sederhana (SSS). Tapi nilai-nilai kebersamaan dan kesetiaan sangat kental terlihat di tengah masyarakat. Gurun pasir yang membentang di Mesir dan Jazirah arab mendidik mereka menjadi teguh pendirian dan pantang menyerah. Saat saya mengunjungi Matruh dan Siwa, provinsi yang berbatasan langsung dengan Libya, kami melewati perjalanan yang sangat melelahkan di gurun pasir nan panas menghanguskan. Atau ke Provinsi Giza melihat Piramid, saya bertemu seorang wisatawan Korea, Mine Su (28). Dia hampir pingsan dan muntah saat antri tiket menuju Luxor. Padahal dirinya sudah melancong lebih 30 negara. Kami terlibat diskusi panjang dalam metro angkot ala Mesir, kebetulan saya juga pernah mengunjungi Seoul, Mei 2006 lalu.

Bisa dibayangkan bagaimana mereka yang tinggal di pedesaan menjalani kehidupan. Walau demikian khazanah perdaban dan pariwisata melimpah ruah disana, ada telaga di tengah padang sahara, atau danau ajaib tujuh warna, kota jin, kisah Alexander Agung, para dewa Romawi, danau garam, gunung kuburan, Cleopatra, istana semut (Shali), atau sudut Mesir lain yang tak kalah menarik dibanding Turki. Sebut saja puncak Sinai tempat Nabi Musa menerima wahyu, makam Nabi Shaleh As dan juga Nabi Harun As. Semua itu ada di Negeri Kinanah.

Termasuk Kisah Fir'aun yang melegenda sebagai simbol manusia angkuh dan sombong yang dibinasakan. Kisahnya tertulis benderang dalam Al-Quran. Sedangkan di Turki ada kisah raja Namrud di Sanli Urfa yang membakar Nabi Ibrahim As. 

Mesir Sebagai Mercusuar Khazanah Islam
Mesir memang menjadi istimewa karena disebut dalam Al-Quran. Termasuk para penuntut ilmu di Mesir dihadapkan pula pada pilihan, mengikuti mulianya menjadi pengikut Musa As atau mengikuti keledai yang sering dipukul atau tercebur ke jurang yang sama. Saya sedih melihat keledai itu dipaksa mengangkut beban atau mendaki gunung dalam panas membakar. Sama yang saya saksikan ketika naik keledai menyisir Petra di Yordania awal tahun lalu. Sungguh malang nasib keledai itu. 


Tgk. Azwir bersama warga Aceh di Mesir setelah acara bincang-bincang dan temu ramah di Meuligoe KMA Mesir

Akan tetapi, di tengah kota Kairo yang semrawut, sampah berserakan, kehidupan yang keras, panas, penuh debu, lalu lintas yang kacau, saya takjub melihat pesona para ulama Al-Azhar yang tulus mengajarkan ilmu. Majelis-majelis ilmu telah membuat saya jatuh cinta pertama sekali di Mesir. Banyak teman mengikuti talaqqi (belajar agama dengan guru) di masjid-masjid, para syekh, ilmuwan, ulama hingga tokoh-tokoh dunia juga hadir dan lahir disini. Penuntut ilmu menghafal Al-Quran dan hadis, menguasai 4 madzhab dan para syekh yang sangat bijaksana dan lembut. 

Cahaya ilmu Islam masih hidup di Mesir dalam ketulusan para pewaris Nabi itu. Hal demikianlah mungkin yang menyebabkan Mesir sebagai negeri pasca kudeta yang masih bisa bertahan dalam berkah-berkah peradaban yang ditinggikan derajatnya pada para penuntut ilmu serta diberi keamanan bagi mereka yang datang padanya.

Bila demikian adanya, maka tentu kita pantas senantiasa berdoa supaya kisah Mesir dan Turki sebagai dua negeri dua kudeta ini mesti terus memberi warna bagi peradaban dunia. Terutama bagi cahaya Islam yang ingin dipadamkan atau dikonotasikan sebagai agama teror. 

Bagaimanapun Turki telah bergerak mempromosikan modernitas Islam pasca keruntuhan rezim sekuler, dan Mesir memiliki banyak bahan baku sebagai basis keilmuan dan kajian keislaman dengan Al-Azhar sebagai ujung tombaknya. Maka mengawinkan keduanya akan melahirkan wajah Islam yang lebih sejuk dan dialogis termasuk model serta referensi bagi Indonesia dan Aceh sebagai daerah syariah di masa depan. 





Siwa-Cairo, 8-8-2016

*Ketua PPI Turki, tinggal di Ankara.

No comments:

Item Reviewed: Catatan Perjalanan; Negeri Dua Kudeta Rating: 5 Reviewed By: kmamesir