Saturday, October 7, 2017

Sudah Saatnya Aku Pergi


sumber:google image

Oleh: Muhammad Syukran

Saat itu aku berada dalam sebuah mobil box, mengenang sedikit kejadian pilu dalam hidup, ketika Hagg Fudhail membungkusku dengan plastik putih. Aku melihat alisnya menurun menunjukkan betapa lelahnya hidup, sambil memasukkanku ke dalam kotak besar. Ia mulai mengusap keringat di pelipis menggunakan handuk hijau muda, menatap jauh ke arahku.

Aku menangkap tatapan itu, aku berjanji akan melanjutkan cita-cita Hagg Fudhail, menjadi alat yang berguna bagi manusia. Seketika pintu mobil pun ditutup rapat-rapat.

Beberapa waktu pun berlalu, aku tertidur pulas dalam kotak. Jika ditanya apa saja yang terjadi aku tidak tahu. Teman-teman bernyanyi sepanjang jalan, sedangkan aku menikmati perjalanan sampai lelap.

Diq! Ayo dong ikut kita nyanyi.


Iya, kalian saja, aku tak pintar menyanyi.Begitu terus, perjalanan berjalan damai.

Dum..Dum..Dum... Seseorang menggedor dinding box. Kotak yang sangat pengap membuat kami kepanasan dan bau bensin. Tiba-tiba kunci box berbunyi, pintu belakang mobil terbuka, aku tak dapat menyaksikan apa-apa dari dalam kotak.

Aku hanya mendengar beberapa pria berbicara dan mengeluarkan seluruh kotak dari mobil. Bau asap dan polusi mulai masuk melalui celah-celah kotak, ini bukti kami sudah sampai ke kota. Kotak kemudian bergerak, tercium aroma harum nan sejuk, sepertinya  kami sudah sampai ke toko penjualan.

Setelah diletakkan di atas lantai, sebuah pisau silet menyapa, Hai Pendatang Baru, selamat bergabung. Semoga betah.

Kotak pun terbuka, tampak seorang pegawai berkemeja ungu sambil memegang silet tersenyum lepas. Mostafa Atef tertulis di papan namanya, aku sangat beruntung bisa bertemu penyanyi terkenal itu, lagunya setiap hari diputar di pabrik oleh Hagg Fudhail. Tak lama kemudian dia tertawa terbahak-bahak bersama temannya dengan suara cempreng, sepertinya dia bukan penyanyi yang aku maksud.

Ranin sebuah toko besar dan luas berisi seluruh alat-alat dan keperluan manusia, dari alat dapur elektronik sampai alat kamar mandi. Sudah sebulan aku dipajang di rak bersama: ember, sikat, busa, alat pel, tempat sabun, keranjang, dan alat kamar mandi lainnya. Aku sudah lama naksir dengan Linda, gayung terindah yang pernah kulihat. Dia cantik, baik, lembut, dan perhatian. Aku dan Linda berjarak dua meter, lumayan jauh. Aku berharap suatu saat Aku bisa berada tepat di sampingnya.

Suatu hari seorang balita datang menghampiri Linda, dia ingin mengambilnya. Aku berharap dapat menolong Linda kala itu,  dengan cepat aku sengaja menjatuhkan tubuhku ke lantai dengan ketinggian satu meter. Si balita pun terkejut dan menangis, kemudian ibunya datang sambil menggendongnya agar berhenti menangis. Si Ibu memegang tanganku lalu meletakkan ku di samping Linda, aku tak menyangka kejadian ini akan berbuah manis.

Terimakasih Diq, kamu telah menolongku.

Iya, sama-sama Linda. Aku tersipu malu, sehingga teman-teman yang lain mengoda kami berdua.

Tak lama setelah itu kami pun menikah. Aku merasa Linda adalah jodoh abadiku, kami tak terpisahkan saling melengkapi satu sama lain. Tapi, suatu hari seorang pria muda berkaca mata dan berkulit sawo matang berdiri tepat di depan Linda. Aku merasakan firasat yang sangat tidak enak, seolah badai akan datang.

Bang Farhan, tolong ambilkan dua gayung untuk kamar mandi!

Oke bereh. Sahut orang yang dipanggil.

Dia sibuk membalas pesan di HP-nya, aku memperhatikannya dari ujung kaki hingga kepala. Dia tampak serius tak mau diganggu, sekejap dia memasukkan HP-nya ke saku lalu mengambil Linda dariku, kemudian melangkah pergi.

Bagai petir di siang bolong, kesedihan menyelimutiku kala itu. Tiba-tiba pria itu kembali tanpa membawa Linda bersamanya, aku sangat cemas. Kemudian dia mulai mengayunkan tangannya padaku meraih tanganku lalu ikut pergi bersamanya.

Aku tak tahu mau dibawa kemana. Dari kejauhan aku melihat Linda sedang berdiri di atas meja kasir menunggu giliran.

Hai Sayang, akhirnya kita bersama lagi. Aku sangat rindu padamu.” Ucapku.

Alasan, padahal baru sebentar berpisah.

Giliran kami pun tiba, aku dan Linda di bungkus ke dalam kantong plastik putih. Aku masih merasakan firasat buruk itu.

Linda, mungkin ini sudah menjadi takdir kita. Jika nanti terjadi sesuatu kamu harus tabah menerima apapun yang terjadi.

Kamu kenapa bicara begitu?

Tidak, aku merasa kebersamaan kita tidak akan lama. Takdir kita sudah ditentukan apapun yang terjadi kamu harus kuat. Kita akan bertemu di tempat lain jika memang berjodoh.”

Aku dan Linda pun tiba di sebuah rumah luas. Pria tadi mengeluarkanku dan Linda dari kantong plastik.

Yang warna pink ke kamar mandi ikhwan dan yang satu lagi ke kamar mandi akhwat. Katanya pada seseorang.

Jaga dirimu baik-baik suamiku, pesan Linda. Mataku mulai berbintang menggenang air mata. Itu terakhir kalinya aku bertemu Linda.

Sudah lima tahun berlalu. Aku ditemani Pak Ember yang sudah tua, Westafel, Kaca, Penyumbat Wc, Sikat Baju, Kloset, Tuan Kran, Sabun dan keluarga besar Sikat Gigi. Tiap hari aku menghabiskan umurku di dalam ember tua ini. Terkadang aku iba melihatnya tapi kadang kala juga menjengjelkan, namanya juga orang tua.

Sudah sangat banyak pengalaman yang aku dapatkan dengan manusia, suka dan duka. Awalnya Aku menganggap mereka semuanya sama, ternyata berbeda dari anggapanku. Aku sering memperhatikan siapa saja yang masuk ke kamar mandi, ada orang yang mandi dengan cepat, ada juga sebaliknya. Terkadang aku dijadikan alat musik dipukul-pukul ke westafle, aku menganggap biasa saja walau kadang terasa sakit, aku malah menikmati alunan musiknya.

Di sisi lain Pak Ember dan teman-teman menegurku.

Hei, Gayung! Apa kamu gak capek di siksa melulu? Mengapa kamu gak pura-pura sakit atau bunuh diri saja. Jika aku jadi dirimu aku lebih memilih mati ketimbang menjadi bahan siksaan manusia.

Sudahlah Pak, tidak apa-apa. Selagi aku mampu itu tidak jadi masalah. Toh aku ini dibuat memang untuk dipergunakan manusia.”

Iya aku ngerti, tapi gak harus dirusak toh! Ucap Sikat. Aku yakin jika kamu terus digituin umurmu tidak akan lama.

Huss jangan ngomong gitu, sahut Tuan Kran.

Waktu pun berlalu. Suatu hari seorang pria masuk ke kamar mandi. Dia membawa aroma ketakutan bagi seluruh penghuni, Pak Ember saja tak berani menatapnya. Dia tampak kesal, membuka bajunya sambil mengumpat, dia lalu mengambilku mengisi air penuh kemudian menuangkan ke atas rambutnya. Setelah tuangan pertama dia menatap ke arah kaca, matanya memendam amarah. Aku yakin dia sedang punya masalah.

Tiba-tiba dia memukulkanku ke wajah Westafle. Aku merintih kesakitan, perutku mulai sakit. Ternyata bagian lambungku pecah, aku merasakan sakit yang teramat dan tak mampu menjerit. Ini sebuah peristiwa aneh, kemudian dia mengeringkan rambutnya lalu pergi keluar. Aku memendam benci padanya, tapi apa boleh buat. Aku tak punya daya.
Di saat ini aku berharap dapat bertemu Linda di sisa-sisa hidupku. Tapi sudah bertahun-tahun aku menampung air dengan lambung yang bocor, aku tak berguna lagi di KMA. 

Mungkin sudah saatnya aku pergi memohon maaf pada mereka yang selama ini masih percaya padaku. Luka di lambungku kian hari makin bertambah. Aku berpesan agar sebaiknya mencari pengganti yang baru. Aku sudah tidak becus lagi, tidak berguna bagi manusia. 

Aku berharap agar penghuni rumah ini membelikan gayung mandi yang baru untuk menggantikan tugasku, dan menjualku ke penjual barang bekas. Agar Aku dapat diaur ulang dan bertemu Linda kembali.

*Penulis adalah mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo-Mesir

No comments:

Item Reviewed: Sudah Saatnya Aku Pergi Rating: 5 Reviewed By: KMA Mesir