Wednesday, February 7, 2018

Filosofi Sepak Bola (Menjelang Sumatera Cup) Bagian 1



Oleh: Muhammad Mutawalli T. 

Sepak bola merupakan salah satu cabang olahraga terpopuler di dunia hingga abad ke-21 ini, bahkan diprediksi akan terus populer selama kondisi sebagian besar dunia tetap stabil.

Olahraga beregu atau yang lebih populer dengan istilah “kesebelasan” ini sangat menjunjung tinggi kesatuan visi dan misi, sportivitas, dan strategi. Apabila salah satu dari beberapa aspek tersebut tidak dipenuhi, maka suatu tim sepak bola tak akan mencapai tujuannya yaitu kemenangan dan kesuksesan.

“Sepak bola adalah sebuh model masyarakat individualistis. Ia menuntut inisiatif, kompetisi dan konflik. Tapi ia diatur dalam aturan tak tertulis bernama fair play.”

-Antonio Gramsci, Teoritis, Aktivis Politik Italy, (1924-1981)-

“Sepak bola adalah bagian dari diriku ketika aku membangunkan dunia di sekelilingku.”

-Bob Marley, Musisi, (1945 - 1981)-

“Aku jatuh cinta pada sepak bola seperti aku jatuh cinta pada perempuan: begitu tiba-tiba dan tak terjelaskan.”

-Nick Hornby, Penulis (1957)-

Pentingnya memaknai filosofi sepak bola yang baik-baik dan tidak bertentangan dalam agama Islam merupakan satu bentuk praktek mencari kebaikan dan hikmah yang amat dianjurkan dalam agama Islam. Contohnya seperti kesatuan dalam suatu klub, saling kerjasama, sportivitas, Juga mempererat silaturrahmi. 

Islam sangat memprioritaskan penganutnya untuk senantsiasa memiliki filosofi dan tujuan baik dalam hidupnya pribadi maupun untuk orang lain. Seseorang muslim tidak berislam dengan baik sebelum ia menjadi orang yang baik bagi dirinya sendiri dan orang lain.

Dari Anas ra. bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda, “Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam sepak bola, ada beberapa konsep Islam yang tanpa disadari terwujudkan di dalamnya, antara lain:

1. Tidak boleh berpecah-belah dalam suatu kesatuan klub.

ولا تفرقوا 

“Dan janganlah kalian bercerai-berai (berpecah belah)...” (Ali Imran: 102)

2. Melalui pertandingan sepak bola, maka akan terwujud lingkungan saling mengenal, silaturrahmi, dan sportivitas.

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكروأنثى وجعلناكم شعوبا وقباءل لتعارفوا 

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu (semua) saling mengenal ... ” (Qs. Al-Hujurat :13).



Berkaitan dengan filosofi, filosofi tak terlepas dari yang namanya kehidupan. Tentu hidup ini pula tak terlepas dari filosofinya. Banyak sekali filosofi hidup menurut banyak pendapat orang-orang. Tak asing perkataan semisal; hidup itu sekedar singgah minum; hidup itu bagai roda; hidup itu adalah perjuangan; hidup adalah perbuatan, dan masih banyak macam ragam pendapat-pendapat yang lain. 

Tentu semuanya benar, tapi ada satu jawaban yang terdengar sedikit unik, yaitu: “Hidup bagai bermain bola.” Pendapat ini digagaskan oleh seorang penulis bernama Gheeto T. Wicaksono.

Sepak bola adalah tentang hidup kita. Sepak bola bukan sekedar “sepak” (kata kerja) atau “bola” (kata benda), melainkan tentang siapa yang menyepak bola, ke mana arahnya, bagaimana filosofinya, dan dampaknya bagi peradaban manusia. 

Bahkan lebih dari itu, melalui sepak bola kita dapat melihat yang meta (tak terlihat) oleh ribuan penonton di stadion maupun jutaan pasang mata di televisi. 90 menit berlangsungnya permainan sepak bola bagaikan berada dalam kelas ataupun ruang kerja. Jangan sampai durasi 90 menit tersebut atau bahkan lebih banyak terbuang sia-sia dalam irasionalitas fanatisme buta tak terarah, tanpa pernah belajar apapun dari pertandingan sepak bola.

Setidaknya ada 22 pemain, masing-masing dari kedua tim memiliki 11 pemain yang bertarung di lapangan hanya dengan memperebutkan satu bola sampai rela terluka-luka, cedera fisik, bahkan sampai berdarah-darah. 

Tak masuk akal bukan? Apa hebatnya sebuah bola itu sampai ia begitu diperebutkan? Kalau mereka bertarung memperebutkan harta, tahta, wanita mungkin masih bisa dikatakan wajar dalam konteks fitrah manusia. 

Ya, itulah sepak bola terlepas dari apakah itu masuk akal ataupun tidak. Akan tetapi dibalik itu semua sebenarnya sepak bola itu tak lepas dari filosofi hidup. Bahkan para filosuf-filosuf dunia berkomentar tentang sepak bola, salah satunya Che Guevara yang juga sebagai tokoh Revolusi Kuba.

Ia berkata bahwa “Sepak bola bukan sekedar permainan sederhana. Sepak bola adalah senjata revolusi.”

Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: Filosofi Sepak Bola (Menjelang Sumatera Cup) Bagian 1 Rating: 5 Reviewed By: kampoeng iqra