Wednesday, July 11, 2018

Ketika Diam Bukan Emas, Catatan Seorang Mahasiswi Menghadapi Pelecehan

squarespace.com
Berdasarkan survei yang dirilis pada April 2013 oleh United Nations Entity for Gender Equality and the Empowerment of Women tentang pelecehan seksual, 99,3 persen wanita di Mesir pernah mengalami pelecehan seksual, 96,5 persen menyebutkan bahwa mereka dilecehkan secara fisik, dan 95,5 persen mengaku dilecehkan secara verbal. 

Hal ini juga dirasakan oleh banyak mahasiswi Indonesia yang menempuh studi di Mesir. Namun saya rasa, belum banyak yang berani berbicara terus terang mengenai masalah ini kepada publik. Mengapa? Karena masalah ini dianggap terlalu tabu untuk dibicarakan, atau dengan alasan menjaga ‘izzah seorang perempuan. Tapi hey, kalau kita tidak berani bersuara, tidak akan ada yang bisa mendengar. Memalukan memang, tapi paling tidak dengan suara kita perempuan lain bisa lebih waspada, pun laki-laki bisa lebih peduli sehingga bisa ikut memberi bantuan jika dibutuhkan. 

Sebagai seorang perempuan yang sudah beberapa tahun belajar di Mesir, saya pun beberapa kali pernah mengalami sexual harassment, baik secara fisik atau verbal. Juga hal yang sama sering saya dengarkan dari kakak-kakak, adik-adik atau teman seperjuangan. Ini bisa terjadi di mana saja, di angkutan umum, di jalan atau di pasar. Hal ini tentu melukai harga diri kita yang datang jauh-jauh dengan niat mulia untuk belajar ilmu agama. Saya takut dan marah ketika hal itu terjadi pada saya atau teman-teman yang lain. 

Meski juga merasa takut, saya tidak mau tinggal diam. Postur mungil ala Indonesia dengan tinggi yang hanya 151 cm dan berat badan hanya 38 kg, tidak menghalangi saya untuk membuat dua pria Mesir terpaksa turun dari bis. Kali pertama seorang pria yang mencolek bahu saya dari bangku belakang, dan kali kedua seorang pria yang dengan sengaja memegang tangan saya saat saya berpegangan di tiang bis karena tidak mendapat tempat duduk. 

Saya juga pernah diikuti seorang laki-laki penjual parfum di pasar Khan Khalili, dia terus menawari saya parfum meski saya tolak berkali-kali, hingga akhirnya dia menggoda saya untuk menikah yang membuat saya meledakkan amukan. Meski dengan rasa takut, malu dan bibir gemetar, saya meneriaki pria itu gila dalam bahasa daerah. Karena menjadi pusat perhatian orang-orang yang sedang berbelanja di pasar tersebut, pria tersebut akhirnya berhenti mengikuti saya. 

gov.uk
Lalu apakah saya mengalami pelecehan karena saya cantik dengan paras ayu nan menawan? Sama sekali tidak. Wajah saya tidak termasuk tipikal cantik yang didengungkan media (you have to love yourself whatever media says, girls!). Sexual harassment ini bisa mengenai perempuan mana saja tak peduli bagaimana parasnya. Bisa jadi saya, Anda, kakak, adik, ibu, teman atau calon istri siapa saja. Tapi satu hal yang masih patut disyukuri, berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, umumnya pria Mesir tidak berani menganggu secara terang-terangan. Mereka juga takut diteriaki dan jadi pusat perhatian. 

Jadi yang perlu kita lakukan cuma bersuara. Jangan takut kita jadi pusat perhatian, kita berada di pihak yang benar, kita mempertahankan harga diri kita. Kalau kita diam saja, siapa yang akan tau dan siapa yang akan menolong kita? Atau kita takut karena tidak lancar berbahasa Arab? Kita tidak perlu bahasa Arab untuk marah. Hardik saja dengan bahasa Indonesia, atau dengan bahasa daerah. Yang penting orang lain bisa tahu bahwa kita marah, dan pelaku juga bisa tau bahwa kita bukan target yang gampang dan lemah. Karena kalau kita hanya diam dan menunjukkan takut, pelaku bisa bertindak lebih jauh, atau besok ia akan mengulang hal yang sama pada gadis-gadis lain. 

Sebagai wanita Indonesia, saya yakin dalam ruh kita mengalir semangat wanita-wanita pejuang seperti Cut Nyak Dhien atau R.A. Kartini. Saya pun yakin, mereka tak bisa memperjuangkan martabat bangsanya tanpa menjaga martabat mereka sendiri. 

Tidak ada maksud lain dari saya menceritakan kisah ini melainkan ingin membangkitkan keberanian kita, para perempuan, untuk bersuara. Jangan biarkan rasa takut membuat orang bisa menodai martabat kita sekecil zarrah-pun. Jika orang berbuat salah saja berani, kita yang mempertahankan kebenaran harus lebih berani. 


Sekali lagi, meski memalukan, bagi saya ini bukan hal yang patut kita diamkan. Saya tidak tau, bisa jadi akan tetap ada orang-orang yang ignorant, yang menganggap perempuan yang menyuarakan tentang pelecehan seksual sebagai perempuan yang tak tau malu atau tidak menjaga ‘izzah sebagai seorang muslimah apalagi Azhariyah. Tapi bagi saya, ini adalah bagian dari saya menyuarakan hak dan martabat saya dan saudari-saudari saya yang ingin saya jaga, tanpa seorangpun berhak mengganggunya. Dan saya berpesan kepada teman-teman mahasiswi, jaga diri baik-baik, dan jangan tunjukkan rasa takut. Semoga Allah selalu menjaga kita semua. 

#metoo. 
Ukhtukum fillah, A.M.

No comments:

Item Reviewed: Ketika Diam Bukan Emas, Catatan Seorang Mahasiswi Menghadapi Pelecehan Rating: 5 Reviewed By: kmamesir