Tuesday, December 11, 2018

Intoleransi dalam Perayaan Maulid Nabi

Oleh: Thamra Helwah a.k.a Sultan Nul Arifin*
Masyarakat Aceh memadati Mesjid Raya Baiturrahman untuk mendengar ceramah agama. (Foto: aceh.tribunnews.com)
Lantunan shalawat bergema di penjuru masjid dan balai-balai kampung. Bulan yang mulia akhirnya tiba. Indonesia atau lebih khususnya lagi umat Islam kembali bergelut menghadapi dua bencana super serius, bencana alam dan bencana sosial. Bencana alam dengan gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada beberapa bulan terakhir, di sejumlah kawasan Indonesia merenggut senyum umat Islam. 

Bencana alam bertubi-tubi mengguncang kehidupan umat Islam khususnya, dari gempa Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Palu-Donggala di Sulawesi Tengah. Umat Islam berduka dengan ribuan warga yang kehilangan nyawa, rusaknya tempat tinggal dan raibnya sanak-saudara. 

Sementara, bencana sosial terus berangsur menghajar kaum muslim, dengan perdebatan tanpa henti, beserta hasutan dan kebencian yang membakar nyali. 

Hei, kita hidup di negeri yang dianugrahi kesuburan tanah. Namun, diintai oleh bencana-bencana dari siklus bumi, lebih tepatnya seperti berada di ring of fire. Kita diguyur kenikmatan sebagai umat yang kreatif dengan semangat gotong royong, tapi dipecah belah oleh ajaran sesat, hoaks dan api kebencian yang disulut di media sosial, terlebih pada momentum perayaan maulid Nabi yang mulia ini. 

Bencana alam membuat umat Islam menangis, tapi alam memiliki siklusnya. Pelajaran penting untuk mengais jejak pengetahuan dari tanda-tanda dan ilmu yang telah dikaji nenek moyang kita. 

Umat Islam seolah terputus dari sejarah pengetahuan dan kearifan kebiasaan baik yang harus dilakukannya. Cara kita menghargai alam, tergeser oleh kerakusan mengeksploitasi, sembari kita seolah melupakan peghormatan sekaligus kecintaan merawat alam, merawat tempat tinggal kita. 

Di sisi lain, bencana sosial yang merembet dari perdebatan di media sosial hingga interaksi antar-personal dalam kehidupan nyata, menggeser nilai-nilai kearifan kita. Dalam kerumunan perdebatan, yang muncul hanyalah narasi kebencian dan saling menyalahkan. 

Kita sebagai umat beragama berdebat tanpa ujung, dari satu isu ke isu lain dengan napas tersengal-sengal. Seolah kita telah kehabisan oksigen pengetahuan dan kesabaran merenungi kehidupan. Inikah wajah umat Islam sekarang? 

Boleh atau tidak? 

Pertanyaan yang sebenarnya muncul adalah tentang boleh atau tidaknya merayakan maulid nabi? Simple question but complicated to answer, apalagi dalam momentum yang akan kita hadapi sekarang. Momentum yang penuh dengan kemuliaan, perayaan maulid Nabi Muhammad Saw. Di bulan Rabiul Awal, salah satu bulan yang mempunyai banyak kelebihan. Bulan ini adalah bulan kelahiran baginda nabi Muhammad Saw. Kita akan melihat perayaan maulid dimana-mana. 

Mirisnya tetap ada saja problema dan kontroversi seputaran maulid nabi, hal ini bukanlah wacana yang baru. Bahkan wacana ini telah lahir puluhan tahun yang lalu. Ketika kita belum merasakan bagaimana rasanya menginjak tanah. 

Perdebatan sebenarnya hanya pada level luar dan metodenya. Bukan pada problema esensial terhadap spiritualitas nilai sejarah dan pengkajian ulang sosok ketokahan beliau yang direalisasikan lewat tradisi maulid tersebut. 

Pendek kata, sejatinya permasalahan ini tidak perlu diperdebatkan panjang lebar dan dibuat menjadi sangat rumit untuk dicerna. Apalagi sampai ada upaya pengkafiran dan sejenisnya. Dengan bahasa yang sederhana, kita bisa menyebutkan bahwa merayakan maulid nabi berarti berusaha menghadirkan kembali sosok ketokahan beliau dalam pribadi kita masing-masing. 

Masalahnya adalah tidak semua perkara dapat dijelaskan dengan bahasa yang sederhana. Apalagi ketika kita dilontarkan pertanyaan seperti yang di atas. Kita perlu orang yang memang ahli membuat orang lain paham dan toleran akan permasalahan tersebut. Dan saya bukan termasuk dalam golongan tersebut, tapi saya akan berusaha memcahkan masalah yang lumayan rumit ini. Tidak tahu apakah ini akan sesempurna tokoh Sherlock Holmes dalam memecahkan kasus atau secerdas ilmuwan Albert Einstein dalam merumuskan fisika, tapi saya akan mencoba. 

Keraguan dalam hati membuat indra yang lain ikut ragu. Ketika tiang keyakinan itu goyah dan tidak mampu menahan beban maka hanya soal waktu tiang-tiang itu akan roboh. Dan yang lebih rumit lagi ketika sudah roboh maka akan susah membangun kembali. 

Begitulah keadaan kita sekarang, umat Islam yang baru saja masuk agama yang penuh rahmat ini didatangkan dengan argumen-argumen berat yang bahkan belum siap diterima. Ketika mereka baru saja membangun tiang, membentuk keyakinan, datanglah argumen tersebut. Apakah yang akan terjadi? Tentu akan roboh. 

Dalam permasalahan maulid kita melihat adanya perbebatan tanpa ujung. Membuat umat yang lain harus masuk ke dalam salah satu kubu yang sedang berdebat. Padahal yang berdebat kebanyakan adalah orang-orang yang belum cukup ilmunya dan ada beberapa juga yang sudah memumpuni. 

Mereka hanya memperdebatkan boleh dan tidaknya. Sebagian kelompok mengatakan bahwanya itu boleh, dengan mendatangkan dalil sebabnya puasa nabi pada hari senin. Sebagian lagi mengatakan tidak boleh karena nabi tidak pernah melakukan perayaan tersebut. 

Perlu digaris bawahi, perayaan yang saya maksud adalah perayaan dengan cara yang memang sesuai syariat. Misalnya dengan mengadakan zikir bersama dan sebagainya. Bukan merayakan dengan menghabiskan uang untuk hal-hal yang bersifat duniawi dalam artian berfoya-foya. 

Intoleransi dalam perayaan maulid ini memang sangat susah dicegah. Walaupun kita semua disiram agama yang sama yaitu Islam, tapi kita memiliki output yang beda. Entah penyebabnya adalah latar belakang sosialnya yang berbeda atau latar belakang pendidikannya. Tapi ketika terjadi perdebatan panjang adakalanya kita selalu mengambil jalan tengah yang menguntungkan dua belah pihak. 

Maka oleh karena itu, saya mengambil jalan tengah. Saya setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa maulid itu boleh. Kata “boleh” perlu digaris bawahi. Dalam artian saya setuju dengan perayaan maulid dan tidak mengecam orang-orang yang tidak merayakannya, apalagi mengkafirkan. Menurut saya itu adalah salah satu dari ribuan cara mencintai nabi. 

Dan kepada kalian yang tidak setuju, kita tidak berhak mengatakan kalau perayaan tersebut haram, kecuali memang keluar dari syariat. Bagaimana mengharamkan apa yang tidak pernah diharamkan oleh nabi. Memang itu perkara baru atau lebih familiar dengan sebutan “bid’ah”, tapi adakah kebathilan di sana? Sekalipun ada kebathilan, maka maulid tidak pernah disalahkan, tapi teknis dan metode yang digunakanlah yang patut disalahkan.


Dan sebaliknya kepada yang mengatakan boleh, tidak berhak bagi mereka mengklaim golongan yang tidak merayakan bahwa mereka berdosa. Bagaimana perkara itu berdosa sedangkan dalam Al-Quran dan hadis tidak pernah disebutkan kewajibannya? 

Kita sebagai penerus generasi Islam juga harus turut prihatin dengan intoleransi ini. Adakalanya kita mengubah cara berdakwah. Tidak bersikap kasar, tidak keras terhadap suatu permasalahan dan tidak provokatif dalam menyampaikan. Namun, di atas semua itu yang paling penting adalah kita harus mempunyai pendirian teguh, walaupun dihempas badai dan diterjang ombak, bangunan tersebut masih kokoh tanpa cacat. 

*Mahasiswa tingkat satu Jurusan Syariah Universitas Al-Azhar Kairo.

No comments:

Item Reviewed: Intoleransi dalam Perayaan Maulid Nabi Rating: 5 Reviewed By: kmamesir