Friday, March 15, 2019

Asma’ binti Abu Bakar As-Shiddiq, Pemilik Dua Selendang dalam Surga

Oleh: Nada Thursina*

(Image: ewersfuneralhome.com)

“Death with honor was better than a life of peace with dishonor”
Asma’ binti Abu Bakar. 

*** 
Asma’ dilahirkan tepat dua puluh tujuh tahun sebelum hijrahnya Nabi Muhammad Saw. ke Madinah. Ibunya bernama Qutailah binti Abdul Uzza. Ayahnya, Abu Bakar yang merupakan sahabat terdekat Nabi, menikahi ibunya sebelum datangnya ajaran Islam. Pada awalnya, untuk waktu yang lama ibunya Asma’, Qutailah, tidak mau menerima ajaran Islam. Namun, setelah terjadinya Fathu Makkah (Pembebasan kota Makkah), Qutailah pun akhirnya turut mengikrarkan keislamannya di hadapan Rasulullah Saw. Asma’ lahir ke dunia saat Abu Bakar masih berusia 21 tahun. 

Asma’ termasuk ke dalam golongan Assabiqunal Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Ia merupakan saudara seayah dengan Ummul Mukminin, Aisyah RA yang merupakan istri Nabi, dan terpaut usia sepuluh tahun di bawahnya. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa hubungan Asma’ dengan Rasulullah Saw. merupakan tersambung melalui ikatan ipar. Asma' diketahui pernah meriwayatkan 58 hadis dari Rasulullah Saw. 

Asma’ sangat masyhur dengan julukan Dzatun Nithaaqain (wanita pemilik dua selendang). Ada kisah menarik di balik julukan ini. Saat itu, sebelum Nabi dan ayahnya Abu Bakar ingin melarikan diri dari Makkah karena diincar oleh kafir Quraisy untuk dibunuh, Asma’ dengan sigap menyiapkan bekal untuk keduanya agar bisa dimakan untuk beberapa hari perjalanan. Namun, setelah bekal-bekal tersebut siap, Asma’ tak menemukan tali untuk mengikat tempat-tempat makanan tersebut agar tertutup dan mudah saat dibawa. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung merobek selendangnya menjadi dua bagian; satu disematkan kembali di pinggangnya, dan satu bagian lagi digunakan untuk mengikat tempat-tempat makanan tadi agar tidak tumpah. Melihat kejadian tersebut, Rasulullah Saw. langsung mendoakannya dan berkata bahwasanya di dalam surga kelak ia akan memperoleh dua selendang yang tentunya beribu-ribu kali lebih bagus dari selendangnya di dunia. Masyaallah. 

Salehah, bijak, cerdas, berani, dan berintegritas merupakan kata-kata yang paling cocok disematkan kepada sosok Asma’. Bagaimana tidak, ketika Nabi Muhammad dan ayahnya Abu bakar, bersembunyi di gua Tsur demi menghindar dari kejaran sekelompok pemuda dari kafir Quraisy yang ingin membunuh Nabi. Asma’ lah orang yang secara diam-diam selalu rutin mengirimkan makanan untuk mereka berdua.

Belum cukup sampai di situ, Asma’ juga sempat ditampar Abu Jahl, karena ia tak ingin memberitahu di mana tempat persembunyian keduanya. Dan tetap bersikukuh untuk tidak memberitahukannya, sekalipun diancam akan dianiaya. Merasa usahanya dalam mengancam Asma’ berakhir dengan sia-sia, Abu Jahl pun kemudian memblokade semua jalan keluar dari kota Mekkah, agar tak satu orang pun dapat keluar dari kota tersebut. Begitulah kira-kira gambaran awal dari keberanian sosok Asma’ yang tak gentar dalam membela agama dan Rasul Allah. 

Menyadari kepergian Abu Bakar bersama Rasul, Abu Quhafah yang merupakan kakek dari Asma’ yang buta, datang bertandang ke rumahnya Asma’ dan menanyakan apakah ayahnya ada meninggalkan beberapa dinar uang untuk kehidupan makan mereka sehari-hari. Dengan hati yang ikhlas dan mimik suara yang bahagia ia mengatakan bahwa ayahnya telah meninggalkan harta yang cukup untuknya dan saudara-saudaranya. Mendengar hal tersebut, Abu Quhafah lantas tak langsung percaya. Tidak kehabisan akal, Asma’ pun mengambil sejumlah batu-batuan di luar rumah, kemudian membungkus dan mengikatnya di dalam sebuah kain yang agak tebal. Kemudian ia rabakan permukaan bawah bungkusan batu tersebut di tangan kakeknya Abu Quhafah yang buta tersebut, sambil berkata: 

“Lihatlah Kek, tak usahlah kau risau dan bersedih hati. Ayahku, Abu Bakar, telah meninggalkan kepada kami harta yang lebih dari cukup.” 

Mendengar hal tersebut Abu Quhafah pun merasa lega dan berkata, 

“Alhamdulillah kalau begitu harta, ini sudah lebih dari cukup untuk Kalian,” ucapnya setelah meraba bungkusan kain, yang padahal berisi batu tersebut. 

Begitulah bentuk kemurahan serta kelapangan hati seorang Asma’ yang walaupun pada kenyataannya, ia tak memiliki sedikit pun uang, bahkan untuk makan esok hari. Karena uang sebesar lima ribu dinar yang mereka miliki, telah ia ikhlaskan untuk ayahnya, Abu Bakar, untuk ongkos selama di perjalanan bersama Rasul. Demikianlah kira-kira sebab musabbab mengapa Asma’ dinobatkan salah satu dari dua orang shahabiyyat paling dermawan setelah Aisyah Ra. Perbedaan antara keduanya adalah, Aisyah mengumpulkan terlebih dahulu hartanya, lalu ditukarkan ke barang yang berharga kemudian baru di sedekahkan. Jika Asma’ langsung saja mensedekahkan seluruh hartanya, tanpa peduli esok hari akan makan apa.

*** 
Asma’ menikah dengan Zubair bin Awwam yang merupakan putra dari bibinya Nabi Muhammad Saw, Shafiyyah binti Abdul Muthallib. Zubair merupakan salah seorang sahabat yang sudah dijamin masuk surga. Ia merupakan pendamping Rasulullah Saw dan juga termasuk ke dalam golongan Assabiqunal Awwalun. Zubair merupakan teman sepermainan Asma’ semenjak kecil, bersama dengan Ruqaiyyah binti Muhammad dan Thalhah bin Ubaidillah. Sama-sama tumbuh dengan keistimewaannya masing-masing, membuat mereka akhirnya saling mempunyai ketertarikan satu sama lain, dan akhirnya memutuskan untuk menikah setelah kepulangan Zubair dari Habasiyah. 

Kehidupan pernikahan mereka yang berlangsung selama 28 tahun tersebut berlangsung sangat harmonis. Asma’ merupakan seorang istri yang taat kepada suaminya bahkan ia paham betul akan sifat suaminya yang pencemburu. Pernah suatu ketika, ketika sedang berjalan kaki dan membawa berkilo-kilo kurma di atas kepala dari kebun kurma milik suaminya. Tiba-tiba saja rombongan unta Nabi Muhammad Saw. dan sahabatnya melewati Asma’ yang sedang berjalan. Dengan sigap Rasulullah Saw. menyuruh untanya untuk duduk, agar dapat mempersilakan Asma’ untuk naik. Namun, karena teringat akan suaminya yang pencemburu dan demi menjaga perasaan suaminya juga, ia menahan diri untuk tidak ikut pulang bersama rombongan Rasulullah, padahal berkilo-kilo kurma ada di atas kepalanya. 

Sepulang dari perjalanan tersebut, Asma’ menceritakan kejadian tersebut kepada Zubair, lalu Zubair pun berkata, “Demi Allah wahai istriku, padahal aku lebih senang jika Engkau menerima tawaran Rasulullah tersebut daripada harus bersusah payah memikul kurma-kurma tersebut di atas kepalamu sepanjang jalan pulang.” 

Dari pernikahannya ini mereka berdua dikaruniai delapan orang anak: Abdullah, Urwah, Muhajir, Khadijah, Aisha, Assem, Munzir dan Ummul Hasan. Anak pertamanya Abdullah bin Zubair yang merupakan calon orang besar tersebut, berada di dalam kandungan semasa hijrahnya dari kota Mekkah ke Madinah. Dan kelahiran bayi laki-laki tersebut merupakan berita gembira yang amat sangat dinanti-nantikan kaum muslimin pada saat itu. 

Bagaimana tidak? Pasalnya setelah kaum muslimin (Muhajirin) hijrah dari Mekkah ke Madinah, kaum Yahudi yang berada di Madinah pada saat itu tidak suka dengan kedatangan kaum Muhajirin, dan menyebarkan rumor bahwa dukun-dukun mereka telah menyihir kaum Muhajirin dengan kemandulan. Namun kabar ini, menjadi isu hoaks semata dan seketika dapat ditepis setelah lahirnya anak laki-laki pertama setelah hijrahnya kaum muslimin ke Madinah dari rahim Asma’. Betapa bahagia dan hebohnya kaum muslimin baik Muhajirin dan Anshar pada saat itu. Dengan gegap-gempita Mereka langsung memboyong bayi yang masih merah tersebut berkeliling kampung-kampung para Yahudi. Untuk membuktikan bahwa dukun-dukun sihir mereka telah berbohong, dan sama sekali tak ada gunanya. 

Sebelum disusui untuk pertama kali, Abdullah dibawa kepada Rasulullah Saw. untuk di-tahniq (dikunyahkan secuil kurma sampai halus lalu memasukkannya ke dalam mulut bayi) dan kemudian didoakan. Ketika Rasul melihatnya untuk pertama kali, beliau langsung bersabda, “Bahwa dia (Abdullah) laksana domba, yang dikelilingi oleh harimau yang berbulu domba.” Perkataan Rasul tersebut menjadi sebuah isyarat jejak kehidupannya di masa depan. 

Begitulah setelahnya, Asma’ yang merupakan sosok mujahidah tangguh tersebut mendidik Abdullah dengan selalu menanankan rasa keberanian dan ketaatan kepada Allah Swt. Asma’ selalu mendukung setiap langkah yang diputuskan anaknya Abdullah, termasuk ikut hijrah dan menemani putranya tersebut untuk kembali ke Makkah. Asma’ selalu berpesan kepada putranya, untuk selalu berpegang teguh atas apa yang diyakininya merupakan sebuah kebenaran. Dan begitu pun ia harus mengakui dan meninggalkan apa yang diyakininya salah. 

Abdullah pun akhirnya tumbuh menjadi lelaki yang pemberani, shalih dan taat beragama. Setelah peristiwa Karbala dan Hurrah di Madinah, yang kemudain disusul dengan kematian Yazid Bin Mu’awiyah. Masyarakat Hijaz pada saat itu membaiat Abdullah sebagai khalifah di kota Mekkah. Seusai dilantiknya Abdullah, kota Hijaz menjadi semakin kuat. Ia berhasil mengamankan wilayah Irak dan Iran yang sempat dicemari aliran Syiah yang menyesatkan. Ia juga menempatkan adik kandungnya Mush’ab Bin Zubair sebagai gubernur di wilayah tersebut. 

Sementara di Syams, Bani Umayyah barus saja mengangkat Abdul Malik Bin Marwan sebagai khalifah yang mana merupakan putra Khalifah sebelumnya, yakni Marwan bin Hakam. Melihat wilayah Hijaz yang dipimpin oleh Abdullah meresat kuat, Abdul Malik tidak ingin hanya tinggal diam. Ia pun kemudian mempersiapkan berbagai cara untuk menundukkan kekuasaan Abdullah bin Zubair. Untuk mengawali rencananya, Abdul Malik tak langsung menyerang Hijaz. Ia terlebih dahulu menaklukkan wilayah Irak, Iran, Khurasan, dan Bukhara yang merupakan sumber penghasilan untuk wilayah Abdullah bin Zubair. 

Setelah berhasil menundukkan kota Irak dan sekitarnya, Abdul Malik membentuk pasukan besar yang berasal dari Syiria. Dengan Berkekuatan 40.000 pasukan dan menunjuk seorang komandan perang yang dikenal sangat bengis, dan kejam: Hajjaj Bin Yusuf. Abdul Muluk memerintahkan seluruh pasukannya untuk mengepung kota Mekkah dari segala penjuru dan ingin membunuh khalifah kota Makkah, Abdullah bin Zubair. 

Pasukan Syams ini kemudian melakukan pengepungan selama berbulan-bulan sambil terus menyerang kota Mekkah dengan ketapel besar yang berisi batu-batu yang berapi. Sungguh tak dapat dibayangkan keadaan kota Makkah yang porak poranda pada saat itu. Bahkan Masjidil Haram dan Ka’bah pun memiliki kerusakan yang lumayan serius. 

Akibat dari penyerangan dan pengepungan yang berbulan-bulan ini, banyak pasukan yang berasal dari Abdullah Bin Zubair mulai gentar, dan mundur sebelum peperangan dimulai. Ada yang malah tiba-tiba berpihak kepada pasukan Hajjaj, karena diiming-imingi kenikmatan duniawi olehnya. 

Melihat kenyataan ini, Abdullah tetap tak gentar. Ia tetap masih kukuh dengan pendirian yang telah ia genggam. Di ambang persimpangan pecahnya peperangan tersebut, Abdullah datang menjumpai ibu yang sangat ia cintai, Asma’ guna meminta semangat. Sekaligus pamit untuk yang terakhir kali jika memang dalam medan perang nanti ia akan syahid. 

Abdullah kemudian menghampiri Asma’ ibunya di rumah, yang saat itu sudah berusia sekitar 99 tahun dan sudah tidak dapat melihat lagi karena faktor usia. Ia luahkan segala keresahan hati yang menimpa jiwanya, pada Ibu yang amat ia sayangi tersebut. Ia ceritakan semua kenyataan pahit, bahwa pasukannya melemah dan kekalahan sudah hampir di ambang pintu. Sementara Hajjaj sangat mengincar kepalanya untuk dijadikan persembahan atas kemenangan negeri Syam kepada khalifah Abdul Malik. Ketika mendengar hal tersebut, Asma’ langsung teringat akan ramalan Nabi Muhammad atas putranya dahulu ketika baru dilahirkan. Dan kini Asma’ sadar bahwa ia juga ditakdirkan untuk semasa dengan kejadian tragis tersebut. 

Sebagai Ibu yang kuat dan selalu menjunjung tinggi akan kebenaran. Asma’ langsung berkata kepada putranya tersebut : 

“Wahai Anakku, demi Allah! Engkau lebih tahu tentang dirimu. Jika Kau berada di jalan kebenaran, dan Engkau sedang menegakkan kebenaran tersebut, maka teruskanlah perjuanganmu. Tidakkah Kau ingat betapa banyak sahabat yang berguguran dengan bergelimangan darah demi menegakkan kebenaran yang sama dengan yang Kau tempuh saat ini? Janganlah pernah Kau mau diperbudak oleh pasukan-pasukan Bani Umayyah itu. Namun sebaliknya, jika yang Kau ingini adalah dunia, Engkau adalah seburuk-buruknya orang yang telah mencela dirimu sendiri dan orang-orang yang telah berjihad bersamamu.” 

“Namun Bu… Menurut kabar yang tersebar, Hujjaj telah bersumpah jika ia berhasil membunuhku, ia akan memutilasi semua bagian tubuhku,” timpal Abdullah. 

“Wahai anakku… Janganlah gentar! Sesungguhnya kambing itu sama sekali tidak merasakan sakit ketika dikuliti setelah ia disembelih. Teruslah melangkah! dan teruslah minta petunjuk dan pertolongan Allah. Demi Allah! aku telah ikhlas atas qadarullah apa pun yang dikehendaki untuk dirimu. Aku akan menerimanya dengan sabar jikalau Engkau ditakdirkan untuk syahid, dan juga sangat bahagia jika Engkau ditakdirkan untuk memenangkan pertarungan ini. Mati dalam keadaan terhormat jauh lebih baik Nak, dibanding hidup dengan damai namun tak mempunyai kerhormatan!” 

Seketika tubuh Abdullah memeluk Ibunya tersebut sambil menyucurkan air mata bahagia. 

“Demi Allah! Sesungguhnya inilah yang benar-benar ingin kudengar dari mulutmu wahai Ibu. Sesungguhnya kedatanganku kemari bukan sama sekali untuk menunjukkan kelemahan dan keresahanku, apalagi untuk mundur dalam medan perang. Tidak! Tidak sama sekali Ibu. Aku hanya khawatir akan dirimu. Aku ingin menenangkan hatiku dengan melihat langsung responmu sebagai seorang ibu, jikalau mendengar anak yang amat ia sayangi, sebentar lagi akan pergi untuk meninggalkannya selama-lamanya. Baiklah Bu… Tekadku sudah semakin kuat. Aku akan segera menyelesaikan pertarungan ini!” ucap Abdullah, Sambil mendekap Ibunya erat. 

Asma’ yang saat itu sudah tak dapat melihat, tapi masih dapat merasa, mendapati tubuh Abdullah yang berada dalam pelukannya sudah siap dengan baju perang yang terbuat dari baja. 

“Apa ini wahai anakku?” Sambil meraba-raba pakaian perang milik Abdullah. “Tanggalkan ia segera! Seorang syahid tak butuh ini, untuk mencapai kesyahidannya…” ucap Asma’ dengan tegas dan tegar. 

Begitulah tak lama setelahnya, Asma’ mendengar kesyahidan Abdullah beserta para pasukannya pada Jumadil Awwal 73 H, setelah 9 tahun masa kepemerintahannya. Dan persis seperti apa yang telah diperkirakan sebelumnya. Setelah dibunuh, tubuh Abdullah benar-benar disayat-sayat dan kemudian digantung di tiang salib selama tiga hari. Di hari ketiga tersebut, Asma’ datang untuk menjumpai jasad putranya tersebut. Matanya memang tak dapat melihat, tapi hatinya dapat merasakan segala kepedihan yang terjadi di tempat tersebut. 

Oleh Abdul Malik bin Marwan, Hajjaj diperintahkan untuk memberikan sedikit hadiah untuk Asma’ sebagai ucapan belaungkawa atas meninggalnya Abdullah. Ketika Hajjaj menyaksikan dari kejauhan bahwa sang ibu sedang melihat anaknya dari jarak yang dekat, Hajjaj memerintahkan pengawalnya untuk membawa Asma’ ke hadapannya. Namun hal ini, tentu ditolak mentah-mentah oleh Asma’. Dengan penuh kebencian ia berkata: “Demi Allah aku tidak akan pernah mau menjumpai seseorang yang telah membunuh anakku”. 

Ketika Hajjaj mendengar hal tersebut melalui perantaranya, ia menjadi sangat marah. Lalu Hajjaj lantas mengancam akan memperlakukan tubuh Abdullah lebih rusak dari yang pernah ia bayangkan jika Asma’ masih saja bersikukuh untuk tidak menjumpainya. 

Kemudian dengan lantang Asma’ menjawab, “Dia (Hujjaj) mungkin memang telah merusak hidup putraku di dunia. Namun, putraku Abdullah telah merusak hidupnya (Hujjaj) di alam kekekalan kelak! Aku hanya ingin menyampaikan satu ucapan Rasulullah, bahwa suatu ketika ia pernah bersabda: suatu hari akan muncul dari Bani Tsaqif dua jenis orang, satu seorang pembohong dan seorang lagi merupakan seorang yang kejam nan bengis. Seiring berjalannya waktu, kini telah kita ketahui bahwa jenis pertama adalah Mukhtar Bin Abi Ubaid (yang merupakan Nabi palsu) sedangkan seorang yang bengis nan kejam itu adalah engkau wahai Hujjaj!” 

Mendegar hal tersebut, Hujjaj hanya bisa terdiam dan langsung minggat dari tempat tersebut. Sedang Asma’ memerintahkan seseorang untuk menurunkan putranya dari tiang tersebut, dan menguburnya dengan layak. Namun, pada beberapa riwayat pernah disebutkan bahwa Hajjaj sempat terlebih dahulu memenggal kepala Abdullah untuk dipersembahkan kepada Khalifah Abdul Malik Bin Marwan di Syam. 

Asma’ binti Abu Bakar wafat beberapa hari setelah kesyahidan putranya, yaitu pada tanggal 17 Jumadil Awwal, tahun 73 Hijriah. Ia meninggal di usia hampir mencapai 100 tahun, dengan badan dan gigi yang masih kuat. Juga dengan memori ingatan yang masih sangat tajam. Wallahu a’lam.[] 

Disarikan dari Buku “Great Woman of Islam, who were given the good news of paradise” yang merupakan versi terjemahan Bahasa Inggris dari kitab Assahabiyyat Al-Jalilat karya Mahmud Ahmad Ghadanfar, cetakan Darussalam.

*Penulis adalah mahasiswi Al-Azhar Jurusan Bahasa dan Sastra Arab.

No comments:

Item Reviewed: Asma’ binti Abu Bakar As-Shiddiq, Pemilik Dua Selendang dalam Surga Rating: 5 Reviewed By: kmamesir