Tuesday, April 23, 2019

Cokelat Terindah

Oleh : Ardani Suburdin Daeman*

Pic Source: bp-guide.id

Malam terasa siang, sebenarnya sedari tadi aku terlampau bingung dengan waktu yang ada di ponsel dan arloji milikku, ketika ku amati arloji jam menunjukkan 07.22 pagi, sedangkan pada layar ponsel terpapar waktu 02.22 dini hari. "Mungkin waktu di ponsel atomatis," ujarku dalam hati.


Tubuh sudah tak terasa tubuh, wajah apalagi. Bros jilbab yang ku kenakan saat berpergiaan tak tahu lagi di mana letaknya, entah jatuh di Jeddah ataupun Malaysia, tepatnya bros itu bukan ketinggalan di Indonesia, tapi ia telah menjelajahi beberapa negara dunia.


Seturunnya dari pesawat, kami langsung berjalan menuju tempat pengambilan koper masing-masing. Aku tak tahu berapa tepatnya jumlah kami serombongan, hanya saja jumlah laki-laki terlihat lebih mencolok daripada wanita. Laki-laki menang telak dari segi jumlah saat ini, tak seperti di dayahku. Di letingku dahulu, jumlah wanita lah yang menang telak hingga saat wisuda kelulusan.


Kami keluar dari bandara dengan mendorong troli masing-masing. Ternyata di luar telah tersedia bus besar dengan muatan yang besar pula. Aku lupa jumlah busnya ada berapa, seingatku aku menaiki bus paling ujung dan duduk di pojok paling belakang. Sebab bagian terdepan telah dihuni oleh jenis insan berkopiah dan bercelana.

Dari sekian banyaknya yang datang menjemput, hanya satu orang yang tak asing di mataku. Iya, itu kakak kelasku selama di dayah. Tampaknya kakak tersebut sedang mengamati adik-adik baru, yang baru saja setengah jam lalu sampai di negeri Nabi Musa ini. Karena yang mayoritas adalah kami anak baru, maka ku terka akan sulit bagi Kakak tersebut untuk menemukanku, lalu tanpa berpikir panjang, ku putuskan untuk mendekatinya. 

"Kak Fan," Sapaku dengan panggilan akrab di dayah.

Spontan karena mendengar suara yang tak asing, Kakak tersebut menoleh ke arahku. 

"Hei... Fha, Ahlan wa sahlan!" Sambutnya dengan bahasa arab yang khas untuk mahasiswa baru sepertiku.

Tak banyak bercerita, semua kami sibuk menaikkan barang ke bus dan bergegas masuk ke dalamnya, menuju tempat yang entah nanti akan terceritakan di sini.

***

"Fha, jangan pilih makanan yang banyak micin Nak." Ucap mamak, sambil menghembuskan napas kesal sebab melihat jajanan pilihanku yang tak sehat.

"Ini enak jadi cemilan di perjalanan Mak." Jawabku dengan sedikit melemparkan senyum yang tak manis. Entah mengapa, senyum kali ini terasa hambar guys, seperti rasa hatiku yang tak enakkan dari kemarin-kemarin. 

"Memang anak zaman sekarang susah dinasehatin, suka dengan kehidupan yang enggak sehat." Celoteh mamak. 

Mamak kemudian mengahadap ayah, menurutku itu sebuah isyarat yang ditujukan mamak untuk ayah. Agar sekarang, ayah lah yang beralih menasehatiku dengan gaya khasnya. 

Tetapi, Ayahku tetaplah berbeda dengan sosok ayah-ayah lainnya, yang sangat paham betul dengan bahasa ribetnya mamak. Ayah hanya melontarkan senyum dan memberi jempol seraya berkata, 

"Gapapa Kak, ambil aja yang banyak, toh nanti Kakak engga bisa beli ini lagi di sana." Beriringan kemudian senyum khas Pepsodent Ayah yang kalah dengan iklan di Tv.

Ayahku unik, tak seunik ulat bulu juga sih. Ayah suka berkata lelucon. Katanya, dulu ia pernah jadi murid tauladan dalam menebar senyum di sekolahan, entah itu benar adanya. tapi yang lebih unik lagi, ayah menunjukkan sertifikat dalam menjuarai ketauladanan tersebut, sehingga membuatku percaya, bahwa apa yang dikatakanya bukanlah sebuah lelucon belaka.

''Benar juga sih, apa yang dikatakan Ayah." Batinku. Ku tambahkan lagi varian rasa makanan ringan yang banyak micin tersebut ke dalam keranjang jajananku.

Mobil berlaju sederhana, tak cepat ataupun lambat. Jalan menuju kepenginapan rasanya tentram, tak banyak kata yang keluar dari masing-masing penghuni mobil, bisa jadi sebab kelelahan setelah seharian jalan-jalan.

Oh iya, lupa ku ceritakan. Saat ini, aku dan sekeluarga sedang berada di Medan untuk menunggu jadwal keberangakatanku esok hari dari bandara Kuala Namu. 

Sebenarnya mamak tak setuju dengan permintaanku jalan-jalan seharian hari ini, menimbang akan lelah yang dirasakan dengan butuhnya tenaga flight esok hari. Tapi karena pasukkan perang mendukung, akhirnya terlaksana sudah dan telah berlalu.

***

Sungguh waktu tidur sangat berharga saat ini, bayangkan saja guys! Kami tiba di penginapan sekitar jam 22.40, dan aku baru bisa memejamkan mata pukul 00.00. 

Bukan karena mengurus barang untuk besok, beda lagi. Kali ini banyak teman sedayahku yang datang jauh-jauh dari tempat kontrakkannya di Medan untuk memberi ucapan selamat menempuh perjalanan baru. Sedikit ku artikan kata 'menempuh perjalanan baru' di sini terlihat seperti ungkapan yang tepat untuk orang yang akan menikah, tapi aku bukan pergi untuk menikah, serius.


Ku tahan kantuk yang terasa di ujung bulu mata, seakan-akan bulu mataku selayaknya magnet yang ingin menyatu satu sama lain, saking berat dan inginnya terpejam.
Aku teringat kata mamak, "menghargai orang lain itu lebih penting dari kebutuhan diri sendiri, buang ego ke tong sampah dan jangan dicari-cari lagi, apalagi dipelihara." 

Pelajaran yang dapat ku tangkap dari kata-kata mamak, muliakanlah semua orang, apalagi orang yang memuliakan kita, harus kita muliakan lebih mulia. Maaf untuk kebanyakan kata mulianya, karena aku termasuk orang kurang kosa kata dalam berbahasa.

"Fha ini untukmu." Tia menyodorkan sebuah plastik yang ku tak tahu apa isinya.

"Ini apa Tia?" Tanyaku dengan nada penasaran.

"Ini hadiahku untukmu, semoga bermanfaat. Kami pulang dulu ya Fha, jaga diri baik-baik"

Tak lama setelahnya, mereka berlalu untuk pulang. Sungguh teringat aku, bahwa Tia yang merupakan sahabat baikku itu, juga pernah bercita-cita belajar bersamaku di negeri para anbia, tapi apa hendak dikata, takdir berkata lain. Izin orang tua lah penyebab terhambatnya cita-cita Tia.

***

Sebelum subuh kami sudah jalan menuju bandara, tak lupa mamak meminta ayah singgah di rumah makan. Ku rasa ini adalah jam makan sahur bukan sarapan pagi, tapi terlampau masuk imsak jika ini bulan puasa.

Eza adikku tertidur dalam mobil menuju bandara, biasanya jam segini dia masih tidur pulas di atas kasur, berpelukkan dengan guling imut miliknya. Adikku telah dewasa, tahun ini dia telah menjadi Maha Santri di dayahku dulu. Sebenarnya mamak sedih memasukkan nya ke dayah, karena sekilas dari penampilan luar ia terlihat seperti anak yang kekurangan gizi. Padahal faktanya, ia adalah anak yang selalu rusuh denganku dalam hal makanan, mungkin karena tak ada satupun antara kami yang mau mengalah.

Ayah adalah seorang laki-laki yang sangat sweet bagi kami. Sepulang dari kerja, ayah selalu membeli makanan. Entah itu mie spesial, sate madura, KFC, kolding, ataupun cokelat kesukaan kami. Awalnya masing-masing punya bagian tersendiri, tapi kadang kalau bukan aku yang mulai rusuh mengambil bagian Adik, Adik lah yang mulai melarikan bagianku, entahkah itu setusuk sate, ataupun sepotong cokelat.

"Kak, itu teman kakak bukan?" Tanya ayah sambil menunjuk ke arah ujung jalan.

"Iya Yah, itu Amah."

Bandara tempat suka dan duka bertemu, ada yang berpisah ada juga yang kembali. Kau tau? aku suka pertemuan dan perpisahan, itu sebabnya ku putuskan pisah dahulu agar nanti akan bertemu kembali.

Jauh sebelum hari keberangkatan, aku pernah bertanya pada mamak, "Mak, nanti kalau Kakak pergi, kayaknya Mamak engga sedih ya, soalnya teman kakak semua curhat ke kakak, kata nya Mamaknya sudah nangis-nangis jauh-jauh hari sebelum kami berangkat."

Seketika mata mamak berkaca-kaca, lalu berkata "Kak, Mamak engga mau lah nangis depan Kakak, Mamak selalu suruh kakak untuk kuat, tapi Mamak lemah, kan engga keren kali." Jawab mamak dengan nada sedikit parau karena sedang menahan tangis.

Itulah sebabnya dari awal kelulusanku hingga kini, tak ku dapati sedikit pun kata sedih terlontar dari mulut mamak. Belum tahu dengan hari ini.

Singkat cerita, kami flight.

Aku tak perlu menceritakan kisah perpisahanku di bandara, kau tahu mengapa? Aku takut kau akan sangat terharu dan alergi untuk merantau.

***

"Fha, ada pegang minyak angin?" Ammah meminta minyak angin, tampaknya Ammah pusing setelah berjam-jam di dalam pesawat.

"Ada Mah, tunggu aku ambil di tas dulu ya."

Tas besar dan tas samping milikku ku pangku sendiri, sebab di dalam bus kami duduk berdempetan tak ada lagi tempat untukku meletakkan tas besar. Kucari minyak kayu putih yang kumasukkan tadi di bandara, puasku mencari tak kunjung ku temui. Ku masukkan tangan ke dalam tas meraba-raba. 

“Hah, apa ini? Seperti cokelat yang biasa ayah beli, tapi aku engga beli cokelat sama sekali.” Batinku. 

Ku keluarkan benda yang menurutku mirip cokelat tersebut. Aku tersentak, haru, kaget, kagum, menjadi satu dengan tetesan air mata. Ternyata itu adalah cokelat dari Eza adikku. Tertulis di bungkusan luar cokelat tersebut sebuah tulisan, 

"Kak, ini untuk Kakak, dan cokelat ini tak akan kita rebutkan lagi."

Ah, sungguh aku terhenyak. Kini baru kurasakan, bahwa adegan rebut- rebutan makanan yang kerap terjadi di rumahku dahulu, terasa layaknya surga dunia bagiku saat ini.

Maka Sobat… Pesanku, Hargailah dia yang saat ini bersamamu, sebab jika telah berpisah kau akan rindu dengan kehadirannya. Jangan sepertiku![]



*Mahasiswa Al-Azhar tingkat 1 jurusan Lughah Arabiah 















No comments:

Item Reviewed: Cokelat Terindah Rating: 5 Reviewed By: kmamesir