Saturday, April 6, 2019

Isra’ dan Mi’raj Sebagai Perantara Meraih Puncak Keimanan

Oleh: Ali Akbar Alfata*

(Image: pixabay.com)

Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu peristiwa besar dalam Islam. Makna Isra’ sendiri kalau langsung ditinjau ke istilah masyhurnya adalah perjalanan Nabi Muhammad Saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha. Sementara Mi’raj adalah perjalanan beliau dari Masjidil Aqsha ke Sidratil Muntaha, yang ke semua itu dialami oleh baginda Nabi dalam satu malam saja, dan peristiwa itu terjadi pada malam 27 Rajab menurut pendapat yang masyhur. 

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj bukanlah peristiwa yang terjadi begitu saja, terjadi tanpa pesan, maknanya hilang begitu saja atau berakhir begitu saja, tidak. Apa yang baginda Nabi alami malam itu sejatinya adalah sesuatu yang nantinya akan menjadi bangunan yang kokoh bagi umat Islam sampai akhir zaman. Dalam Isra’ dan Mi’raj, Rasulullah menerima sebuah titah yang hal itu menjadi penyelamat umat Islam, hal itu menjadi pembeda antara yang haq dan bathil, titah itu ialah shalat lima waktu sehari dan semalam. 

Isra’ dan Mi’raj hakikatnya merupakan wujud dari kekokohan iman bagi umat Islam. Karena kita sendiri mengetahui secara rasional, tidak mungkin ada seorang manusia yang mampu menempuh perjalanan Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang merupakan kiblat sebelum Ka’bah dan menempuh perjalanan dari Masjidil Aqsha ke Sidratil Muntaha dalam waktu satu malam saja. Tidak ada akal sehat yang mampu mencerna hal itu. 

Tapi apa yang diajarkan peristiwa ini pada kita? Kita belajar bagaimana untuk percaya pada hal-hal yang bersifat ghaib. Percaya kepada sesuatu yang wujudnya tidak pernah mampu kita gapai. Kita diajarkan bagaimana untuk percaya pada hal yang tidak mampu diraih oleh pemikiran rasional. 

Bagaimana dengan teknologi saat itu ada perjalanan singkat dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsha. Belum lagi Mi’raj-nya dari Aqsha ke Sidratil Muntaha yang sampai hari ini pun tidak ada pembuktiannya. Berarti Islam itu tidak masuk akal ya? Mari kita kembali kepada hal-hal kecil yang sering kita lupakan. Dalam surat Al Baqarah ayat 2, Allah memberikan sebuah syarat pertama kekokohan iman. Iman orang-orang yang mendapatkan hidayah dan petunjuk dari Tuhan mereka dan mendapatkan hamparan kasih sayang-Nya;

الذين يؤمنون بالغيب و يقيمون الصلاة و مما رزقناهم ينفقون 

“Mereka adalah orang yang beriman dengan hal-hal yang ghaib dan mendirikan shalat dan mereka berinfaq atas apa yang kami limpahkan rezeki ke atas mereka."

Dengan adanya Isra’ dan Mi’raj, iman inilah yang seharusnya tertanam dalam hati kita setiap kali kita memperingati peristiwa ini. Orang-orang yang menjadikan ilmu pengetahuan hari ini yang syahid (nampak) sebagai tolok ukur atas hal-hal yang ghaib (tidak nampak) adalah sebuah kekeliruan berpikir. Hal ghaib itu sudah berada di luar materi, hal ghaib sudah keluar dari hukum-hukum alam ini. 

Hal ghaib seperti Isra’ dan Mi’raj ini adalah sebuah peristiwa kun fayakun yang Allah berikan pada Nabi sebagai sebuah mukjizat dari-Nya dan menunjukkan pelajaran berharga kepada siapapun yang mengimaninya. 

Sejatinya manusia itu selalu diikat oleh cara berpikir akalnya yang masuk melalui panca indera. Pemikiran yang dihasilkan manusia pasti mengikuti hal-hal yang sudah pernah dirasakan oleh pancera inderanya. Kapasitas pemikiran manusia sangat terbatas, seperti kaidah terkenal yang sering kita dengar:

الحكم على شيء فرع عن تصوره 

Legalisasi seorang manusia terhadap sesuatu bergantung pada hal yang pernah di tashawwurkan olehnya atau dialami langsung, sementara Isra’ dan Mi’raj adalah sebuah kejaiban atau mukjizat yang berada diluar nalar yang mampu manusia capai, sebab itulah tidak mampu diraih oleh akal sehat kita. 

Hal yang sebenarnya terjadi dalam Isra’ dan Mi’raj merupakan fenomena akal yang mencapai batasan terakhir akal itu. Kecenderungan sains pada pembuktian-pembuktian ilmiah malah membuat mereka diperbudak oleh akal mereka sendiri. 

Mereka yang membaca literatur agama Islam yang notabenenya mengangkat tentang akhlak dan budi pekerti misalnya malah dianggap bodoh. Kita dibodohkan oleh keyakinan katanya, padahal hati mereka yang buta. Literatur Islamlah yang sebenarnya menjelaskan hal-hal yang tertutup oleh pandangan manusia. Dalam memahami Isra’ dan Mi’raj, kita harus merujuk pada tafsir dan hadis untuk paham. Untuk memahami makna dan risalah yang dikandungnya. 

سبحان الذي أسرى بعبده ليلا من المسجد الحرام الى المسجد الأقصى الذي باركنا حوله لنريه من آياتنا إنه هو السميع العليم 

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.،" 

Ayat ini dimulai dengan menyucikan Allah yang Maha Kuasa. Maha suci Allah-lah yang telah menjadi Pencipta sebuah perjalanan suci dari hamba pilihan–Nya Muhammad Saw. Dalam ayat ini juga disebut tentang perjalanan malam hari yang kalau ditinjau dari filosofinya kita mendapati perjalanan yang penuh ketidaktahuan, kebingungan, keanehan, dan lainnya yang merupakan gambaran dari perasaan baginda Nabi sendiri. 

Semua merupakan mekanisme yang Allah atur dan harus disikapi dengan cara yang Allah atur pula, apa itu? Mengimaninya dengan haqqul yaqin. Perjalanan suci ini Allah adakan agar makhluk-Nya melihat kebesaran-Nya. Perjalanan suci ini juga ada untuk mengangkat derajat Nabi pilihan-Nya, menghibur baginda akan sedihnya ditinggal oleh istri tercinta dan paman tersayang yang berpulang ke Rahmat Tuhan-Nya. Ayat ini juga diakhiri dengan “Ia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” yang merupakan sifat-sifat Allah Swt. 

Kalau hendak ditinjau dari sisi lain, Isra’ dan Mi’raj juga ingin memperjelas keagungan Aqsha dalam Islam, tentang kemuliaannya hingga ia menjadi bagian dari perjalanan suci tersebut. 

Memperingati Isra’ dan Mi’raj berarti merupakan pembaharuan kekokohan iman. Menjadi self reflection bagi kita tentang sedang bagaimana keadaan iman kita. Karena iman selalu tidak stabil, perlu adanya sebuah reaksi atau pengaruh eksternal yang menyentuhnya. Dan memperingati Isra’ dan Mi’raj adalah salah satu motivasi yang akan mengisi dan memperbaharui keimanan kita. 

Karena dalam hidup kita mengalami berbagai pasang surut. Usaha, kesabaran dan ketabahan merupakan pelajaran lain yang juga ada dalam Isra’ Mi’raj, dan hendaknya menjadi batu loncatan kita dalam meraih puncak keimanan dan keyakinan.[]

*Penulis adalah Mahasiswa tingkat 1 Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

No comments:

Item Reviewed: Isra’ dan Mi’raj Sebagai Perantara Meraih Puncak Keimanan Rating: 5 Reviewed By: kmamesir