Manipulasi Sejarah Pembakaran Perpustakaan Alexandria Mesir (Bagian I)

Oleh: Muhammad Mutawalli Taqiyuddin*
(Image: history101.com)
Dalam Bahasa Indonesia, perpustakaan berasal dari kata "Pustaka" yang berarti kitab atau buku. Dalam bahasa asing, ada beberapa istilah yang maknanya sama dengan perpustakaan, antara lain seperti Biblioteca (bahasa Italia), La Bibliotheque (bahasa Perancis), dan Library (bahasa Inggris).


Awal kemunculannya, perpustakaan adalah taman berbagai koleksi buku. Namun, saat ini perpustakaan tidak hanya menampilkan berbagai koleksi buku, tapi juga berbagai benda-benda yang mengandung unsur ataupun nilai ilmu pengetahuan seperti periodik, mikroskop, manekin dan lain sebagainya. 

Di belahan utara Mesir, Iskandariyah atau yang lebih dikenal dengan Alexandria adalah nama salah satu kota yang menjadi saksi akan peradaban ilmu pengetahuan sejak era sebelum masehi. Dikarenakan dulu pernah ada satu perpustakaan yang akrab disebut dengan Perpustakaan Agung Alexandria sekaligus dinobatkan sebagai perpustakaan pertama di dunia. 

Sejarah Pembangunan 

Perpustakaan Agung Alexandria dibangun pada tahun 323 SM oleh Raja Ptolemy Soter sebagai raja pertama Dinasti Diadoch. Kemudian sejak dipimpin oleh para penggantinya seperti Ptolemy Philadelphus (285-247 SM) dan Ptolemy Eurgetes (247-221 SM), perpustakaan ini terus berkembang dan menjadi sangat besar. Perpustakaan ini dibangun oleh Ptolemy I dengan maksud utama mengumpulkan dan memelihara semua karya kesusastraan Yunani. Pentingnya perpustakaan di Mesir pada waktu itu ditandai dengan beberapa ilmuwan besar yang bekerja di temoat tersebut seperti Erastothenes, Aristophanes, Aristarchus, Callimachus, Apollonius dan Zenodotus pada abad tiga atau dua sebelum masehi.

Perpustakaan ini menjadi ikon bahwa pada masa itu, Alexandria menjadi pusat pembelajaran dan ilmu pengetahuan. Di dalamnya mengoleksi antara 40.000 hingga 400.000 gulungan, yang mungkin setara dengan 100.000 buku. Pada puncak kejayaannya, perpustakaan ini mempekerjakan 100 staf ahli. 

Mengapa Alexandria Menjadi Pusat Intelektual pada Masa Itu? 


Alasan mengapa Alexandria dianggap sebagai pusat intelektual pada masa itu dikarenakan keberadaan banyak cendikiawan terkenal yang bekerja di perpustakaan tersebut. Zenodotus dari Efesos yang berupaya menstandarisasi naskah-naskah puisi Homeros, Kalimakos yang menulis Pinakes—yang dianggap sebagai katalog perpustakaan pertama di dunia.



Apollonius dari Rodos yang menyusun puisi Wiracarita Argonautika. Erastothenes dari Kirene yang telah menghitung keliling bumi dengan keakuratan yang hanya meleset sedikit dari angka yang sudah dihitung dengan alat lebih modern. Aristophanes dari Bizantion yang membuat diakritik Yunani, dan juga orang pertama yang membagi naskah-naskah puisi menjadi berbaris-baris. Aristarchus dari Samotrakia yang membuat naskah definitif puisi-puisi Homeros serta menulis komentarnya yang panjang untuk karya puisi-puisi tersebut.

Kemudian beralih pada masa Ptolemy III Euergetes, salah satu cabang perpustakaan didirikan di Serapeum. Serapeum ini pada awalnya adalah nama kuil yang diperuntukkan bagi dewa Mesir-Yunani bernama “Serapis”, yang menggabungkan aspek Osiris dan Apis dalam bentuk manusia yang diterima oleh orang-orang Yunani Ptolemeus di Alexandria.

Semua usaha para cendikiawan tersebut menjadikan Perpustakaan Alexandria sebagai wakil dari kota tersebut akan peradaban ilmu pengetahuan yang sangat gemilang saat itu. Perpustakaan Alexandria menjadi yang terbesar disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktornya adalah karena pada masa kejayaannya, setiap kapal dan penjelajah yang singgah ke Mesir akan digeledah. Setiap buku dan naskah yang ditemukan akan disalin, hasil salinannya akan diberikan kemudian naskah aslinya akan disita oleh pihak perpustakaan. 

Memoar Sejarah Terbakarnya Perpustakaan Alexandria

Berbicara mengenai sejarah Perpustakaan Alexandria selain kejayaannya pada masa Mesir-Yunani Kuno, kemundurannya juga menjadi topik yang selalu panas dibicarakan, karena para pemalsu sejarah selalu mengulang-ulang keterkaitan muslim dengan keruntuhan perpustakaan. Mereka mendoktrin bahwa yang meruntuhkan perpustakaan tersebut adalah Arab muslim saat penaklukan Mesir dan Iskandariyah yang dipimpin oleh Amr bin ‘Ash atas perintah Khalifah Umar bin Khaththab. 

Pembakaran Perpustakaan Agung Alexandria oleh umat muslim adalah salah satu pemalsuan sejarah yang dimaksudkan agar mendoktrin dunia bahwa agama Islam adalah agama anti ilmu pengetahuan. 

Tuduhan terhadap Amirul Mukminin

Sigrid Hunke (w. 1999) seorang penulis berkebangsaan Jerman menuliskan sebuah buku berjudul “Allah ist ganz anders – von 1001 Vorurteilen uber die Araber” membahas mengenai apa yang telah dipalsukan dalam catatan sejarah kehancuran salah satu pusat peradaban ilmu pengetahuan tersebut. 

Ia menuliskan dalam bukunya bahwa memoar pembakaran perpustakaan ini adalah pemalsuan sejarah yang tidak ingin dihapus, meskipun sudah berulang kali ditegaskan kepalsuan sejarahnya. Sebuah koran harian Jerman terkenal kembali menyebarkan berita tersebut. Dalam koran itu dikatakan:

“Ketika pasukan tentara yang membawa panji akidah menyerang dalam serbuan penjajahan yang dipimpin oleh Amru bin ‘Ash ke Mesir, sampai Mesir akhirnya terjajah dan Alexandria ditaklukkan, ia memerintahkan agar perpustakaan kuno di sana dibakar (Perpustakaan Mouseion) yang didalamnya ada sekitar 700 ribu manuskrip, dengan mengambil bahan bakar di tempat-tempat pemandian, yang dengan itu musnahlah peninggalan kuno umat manusia yang diwariskan oleh bangsa Yunani. Dikatakan bahwa ketika itu dia hanya mengikuti perintah Khalifah Umar dengan ucapannya yang kosong dan pemikirannya yang sempit mengatakan:

"Apa yang ada dalam manuskrip-manuskrip itu bisa jadi ilmu yang sesuai dengan apa yang ada dalam Kitab yang tidak ada lagi kitab selain Al-Quran maka ilmu tersebut tidak lagi dibutuhkan dan tidak perlu untuk dipertahankan. Atau bisa jadi apa yang ditulis di dalamnya bertentangan dengan Al-Quran maka dia haruslah dibakar, karena Islam tidak mengizinkan kecuali hanya satu kitab saja yang disusun, kitab segala kitab yaitu Kitab Allah, yang tak lain dan tak bukan adalah Al-Quran."

Ilustrasi tragedi dan pembakaran perpustakaan Alexandria. (Image: historyconflicts.com)
Bagaimana bisa Arab melakukan pemusnahan biadab ini kepada ilmu pengetahuan yang tidak akan ada lagi penggantinya? Mengapa mereka melakukan penghancuran sedangkan orang-orang di sini hingga sekarang masih meluapkan kemarahan dan cecaran terhadap orang-orang kasar yang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan mulia itu? ”

Maka berdasarkan tuduhan yang dilemparkan melalui media koran di Jerman tersebut, Sigrid Hunke melanjutkan penjelasan dengan mengangkat atau mengungkap fakta sebenarnya dan tak terbantahkan sampai saat ini sebagai balasan untuk menjawab tuduhan-tuduhan ini.

Fakta Museion

Faktanya bahwa Museion (Institution of The Muses) Alexandria adalah sebuah rumah musik atau puisi, sekolah filsafat dan perpustakaan seperti Akademi Plato dan juga gudang teks. Ia merupakan sebuah institusi yang dapat mempertemukan beberapa ilmuwan terbaik dunia Helenistik yang setara dengan universitas modern. Didirikan oleh Ptolemy I Soter atau mungkin oleh anaknya Ptolemy II Philadelphus. 

Museion Alexandria yang dibangun oleh Raja Ptolemy I Soter pada tahun 300 M adalah sumber penyebararluasan ilmu pengetahuan Yunani Helenistik, dengan besarnya perpustakaan yang menghimpun hampir satu juta manuskrip. Dikatakan bahwa perpustakaan itu mengumpulkan semua tulisan yang ditulis dengan bahasa Yunani.

Museion ini mencakup semua jenis sains dan pengetahuan yang ada pada saat itu, kemudian barulah perpustakaan ini terbakar pada tahun 47 SM selama pengepungan terhadap Kaisar Alexandria. Kemudian Cleopatra membangun kembali perpustakaan tersebut dan menambahkan manuskrip baru dengan jumlah yang tidak bisa diremehkan, itu semua diambil dari Perpustakaan Pergamum.


Pergamum adalah salah satu kota Yunani Kuno di Mysia, sebelah barat laut Antolia, terletak di ujung sisi utara Sungai Caicus, 16 mil dari Laut Aegea. Saat peradaban Yunani Kuno, Kota Pergamum memilki perpustakaan terbaik setelah Perpustkaan Agung Alexandria. 

Sigrid Hunke melanjutkan bahwa tepat pada abad ketiga menjadi awal penghancuran terencana, buktinya antara lain:

- Kaisar Caracalla menghapuskan Akademi tersebut kemudian dibubarkan, membunuh para ilmuwannya dalam pembantaian yang sangat keji dan begitu mengerikan.

- Patriark Kristen pada tahun 272 Masehi menutup Perpustakaan tersebut dan memaksa para ilmuwannya membakar “tulisan-tulisan kafir”, sehingga dihancurkan oleh orang-orang kristen fanatik.

- Pada tahun 366 M, Kaisar Valens mengubah Museum Caesareum menjadi sebuah gereja, menjarah perpustakaannya, membakar buku-bukunya, menyiksa para filsufnya serta menuduh mereka melakukan praktik sihir dan tenung.

- Pada tahun 391 M, tindakan pembasmian orang-orang kafir (nonkristen) terus berlanjut. Patriark Theophilos berhasil mendapatkan izin dari Kaisar Theodosius untuk menghancurkan Serapeum sebagai pusat akademi terbesar dan terakhir bagi tempat perlindungan pengetahuan masa lalu, kiblat terkenal yang dituju oleh para penuntut ilmu dari segala penjuru, menjadikan perpustakaannya yang menyimpan 300 ribu manuskrip ini sebagai santapan lidah si jago merah, kemudian membangun biara dan gereja di atas bekas reruntuhannya. 

- Tentang apa dan siapa saja yang selamat, maka itu akan segera menjadi target dari kelompok ekstremis Kristen yang tersebar di Alexandria tepatnya pada abad kelima masehi, di mana mereka terus melakukan pemusnahan ilmu pengetahuan serta tak segan-segan lagi meruntuhkan pusat-pusat budaya, monumen dan perpustakaan mereka dan menyerang para ilmuwan mereka. Itu semua sebagaimana pengakuan dari Severus Antokia yang penuh kesombongan dan tanpa sedikit pun rasa malu, di mana pada kemudian harinya ia menjadi Patriark Koptik beserta beberapa teman-temannya. 

Demikianlah beberapa bukti fakta yang dapat terjawab secara jelas siapa sebenarnya yang meruntuhkan serta merusak seluruh jejak-jejak peradaban ilmu pengetahuan di Alexandria dulunya. Kita lihat bahwa semua perpustakaan-perpustakaan kuno di Mesir sudah tidak ada lagi ketika Arab memasuki bumi Afrika yaitu dari Alexandria, Mesir pada tahun 642 M, atau lebih tepatnya lagi bertepatan pada tahun ke-8 Umar bin Khaththab sebagai Khalifah Ar-Rasyidin.

Referensi : 
-Hunke, Sigrid, “Allah ist ganz anderz – Enthullung von 1001 Vorurteilen uber die Araber;(Allah Tiada yang Menyerupai-Nya)”, Pusat Terjemah Al-Azhar, Cairo: 2018.
-Bagir, Haidar, "Buku Saku Filsafat Islam", Mizan Digital Publishing, Bandung: 2006
-Soleh, M. Ag, Dr. H. A. Khudori, "Filsafat Islam: Dari Klasik Hingga Kontemporer", Ar-Ruzz Media, Jogjakarta: 2016
-“Alexandria, Perpustakaan Pertama di Dunia”, primaindisoft.com.[]

*Penulis adalah Mahasiswa tingkat I Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top