Sunday, May 5, 2019

Agamaku adalah Damai

Oleh : Ali Akbar Al-Fata*

Image Source: Theworldnews.net

kring … kring …” 

Seperti biasa, setiap pagi Jumat Mark selalu mengantar surat kabar langgananku ke rumah-rumah di daerah blok tempatku tinggal. Menggunakan sepeda jadulnya, ia mengayuh menembus jalanan, mengantar surat kabar ke setiap rumah. Aku pun membuka pintu sedikit, hanya sekedar agar tanganku muat mengambil surat kabar tersebut. Aku sungguh tak tahan dengan suhu udara pagi hari, bisa dibilang itu adalah musuh terbesarku.


Setelah menyiapkan sereal cokelat favoritku, aku duduk di depan televisi menonton berita cuaca terkini di kota Christchurch, kota yang telah menjadi tempat tinggalku selama dua tahun belakangan ini. Hari ini aku sedang badmood kuliah. Yah, aku bukan mahasiswa yang patut dicontoh. Sebagai salah seorang mahasiswa di universitas ternama sekelas Canterbury, aku terbilang malas. Padahal aku mengambil jurusan teknik mesin di universitas tersebut. Bukannya sombong ya, tapi sebenarnya aku kebetulan saja dapat kuliah di sini, di Christchurch, Selandia Baru. Sedari dulu, tak ada niat khusus untuk ke sini. Tapi, ya aku sudah disini, mau apalagi kalau bukan berjuang? Haha. 

Setelah menyantap serealku sampai habis, aku menyuci mangkok dan kembali duduk di depan televisi. Pastinya setelah makan, paling nikmat rasanya membuka smartphone kesayangan. Namun, menelusuri beranda facebook di pagi hari tampaknya bukan hal yang bagus. Melihat berita dari tanah air saja sudah menyayat hatiku, mulai dari permasalahan agama, hingga ke grebek-grebek rumah artis. Semuanya membuat otakku mau meledak saja rasanya. Akhirnya ku putuskan untuk menutup smartphone-ku. 



Tak terasa setelah melihat bualan di media sosial, jam sudah menunjukkan pukul 10.30, waktu Christchurch. Hari ini Jumat dan aku harus segera ke masjid. Hidup di Negara minoritas muslim tidak menghalangiku ke masjid. Ya, setidaknya seminggu sekali pada hari jumat saja. Hanya 1% saja penduduk Selandia Baru yang beragama Islam. Namun lagi, hal ini sedikitpun tidak menghalangi semangat muslim di sini untuk menjalankan aktivitas Islam sehari-hari. Aku langsung bergegas mandi, dan siap-siap untuk ke masjid. 



Aku tinggal di daerah Riccarton, namun aku berencana untuk shalat ke masjid di daerah Canterbury, yang dapat ditempuh dengan menggunakan bus. Sesampai di masjid, seperti biasa aku langsung shalat tahiyyatul masjid. Meskipun sepele, tapi aku sangat bersyukur dengan keberadaan masjid di Christchurch. Khususnya di daerah Canterbury, dekat dengan tempat tinggalku. Keberadaan mesjid ini menandakan hidupnya Islam, walaupun hanya layaknya secercah cahaya dalam gelap, aku tetap melaksanakan shalat tahiyyatul masjid sebagai rasa syukurku. 


Azan berkumandang dengan merdunya, walaupun pengeras suara belum boleh diarahkan keluar, namun lantunan azan di dalam mesjid saja sudah sangat indah. Syekh Bahadir sebagai khatib pun menaiki mimbar. Imigran asal Turki ini menyerukan perdamaian dalam ceramahnya, karena itulah hakikat Islam; tidak mengenal kekerasan. Di dalamnya hanya ada kata “damai”. Syekh Bahadir pun mengimami kami shalat Jumat setelah khutbah. 

Setelah shalat, aku jarang langsung keluar. Bukannya untuk berzikir atau apa. Hanya saja, biasanya di masjid ini dibagikan makanan gratis. Mahasiswa mana yang tidak mau makan gratis? Aku juga sering bercengkrama dengan sahabat muslim lainnya selesai shalat Jumat, karena dekapan ukhuwah begitu terasa di negeri rantau ini. Sembari duduk, aku melihat kerumunan orang di depan pintu masjid. 

Oh my God! ini tidak mungkin terjadi ....” Pekik seorang lelaki paruh baya diantara kerumunan tersebut. 

“Allahu Akbar ….” Teriak yang lain. 

Aku mendekati mereka dengan rasa penasaran yang tak terbendung lagi. 

Excuse me ... apa yang terjadi?” Tanyaku dengan nada penasaran. 

Don’t you know?! kamu tau masjid An-Noor?"

Aku mengangguk.

"Saat sedang shalat Jumat, jamaah masjid tersebut ditembak secara membabi buta oleh seseorang. Dan ia dengan sengaja melakukan live streaming di akun facebook-nya ketika melakukan hal itu! He’s sick, he's really sick!” Pekik seorang pemuda. 

“Begitu pula mesjid Lindswood!” Tambah pemuda lain. 


Whaat? ditembak?” Tanyaku lagi, masih tak percaya. 



Dia pun menjawab, “cek saja smartphone-mu, pasti sudah viral” 


Benar saja, berita ini benar adanya dan sudah jadi top trending topic. Aku benar-benar terdiam. Kemanusiaanku mengamuk, otakku kepanasan, darahku mendidih, dan perasaan-perasaan lain mulai sesak memenuhi diriku. Namun pada akhirnya, semua hanya terekspresi pada satu hal, yaitu air mata yang menetes membasahi wajah. Ya, air mata atas kesedihan dan kemarahanku. 

Setelah itu, sehari penuh aku terdiam seribu bahasa. Bukan karena ketakutan, sedikitpun tidak ada rasa takut. Aku mengerti tujuan dari aksi terror ini adalah untuk menyebarkan ketakutan. Dan maaf saja Bung! Hal itu sama sekali tidak berpengaruh padaku. Yang ada hanya kemarahan yang berapi-api pada sang penembak. Hufttt...

Keesokan harinya, tiba-tiba aku ingin kuliah. Mungkin karena kejadian kemarin, aku terdorong untuk lebih maju. Perjalanan ke Universitas Canterbury ditempuh dengan bus selama 15 menit saja. Sesampai di kampus, aku duduk seperti biasa. Mendengarkan mata kuliah Termodinamika yang merupakan hal paling menjijikkan bagi mahasiswa teknik mesin. Namun, aku mendengar dengan seksama. 



Mata kuliah Termodinamika selesai. Rasanya seperti melepas helm yang dipakai berjam-jam, lega sekali. Tiba-tiba aku didatangi temanku Dominic. 



“Hey Akbar… I’m so sorry for that tragedy. Itu benar-benar kriminalitas, saya turut berbela sungkawa.” Ujarnya. 


“Yeah... Thanks Dominic.” Jawabku dengan nada agak sedih. 

“Siapapun di dunia ini tidak boleh diperlakukan seperti itu, apapun agama dan rasnya. Karena ini adalah masalah kemanusiaan, kamu hanya perlu menjadi manusia untuk paham bahwa hal itu sangat menjijikan, shit!” Dominic berkoar dengan hebatnya, sampai seisi kelas melihat. Aku? Seperti biasa, hanya diam saja. 

“That’s bullshit...!" Teriak suara lain dari sisi kanan kelas. Dan iya, itu adalah Timothy, seorang idealis yang sekelas denganku. 

“Yang dilakukan penembak itu tidak sepenuhnya salah! Pada satu sisi, itu adalah kesalahan imigran muslim sendiri. Mereka hidup di Negara orang lain, dan datang berbondong-bondong. Hanya merugikan saja! Lagipula mereka kan minoritas, wajar saja diperlakukan seperti itu. Kalau mau nyaman, ya ... silahkan meninggalkan Negara ini!” Jelasnya. 

Orang seperti ini bagusnya ditanggapi dengan kepala dingin, karena kalau ditanggapi dengan kemarahan, maka dia akan lebih menjadi-jadi. 

“Oh, Dear Timothy... My beloved brother. Listen, kamu tidak tahu bahwa teroris itu adalah seorang supremasis kulit putih dan anti dengan imigran club. Dan pemikiranmu tadi, persis seperti apa yang dipikirkan para teroris pada umumnya. Apakah kau seorang supremasis kulit putih juga? Dan lagi, perdana menteri Selandia Baru, juga mengecam kejadian ini dan mengkategorikan ini sebagai bentuk terorisme. Lantas apa hakmu membenarkan kejadian ini, sementara pemimpinmu saja berkata lain?” Timpalku dengan tukas. 

Lagi-lagi dengan wajah sombongnya Dia berpendapat, “Akbar… kamu tidak mengerti betapa banyak pengaruh imigran di negeri ini, yang berujung pada kerugian ekonomi negara!” 



“Kalau memang berdampak negatif, tentu saja pemerintah akan bertindak, dengan mengeluarkan dekret khusus untuk hal itu. Seperti yang dilakukan negara-negara Eropa Timur lainnya, ketika menolak kuota wajib imigran Suriah beberapa tahun yang lalu. Dan lagi pula, siapa pria yang entah dari mana tiba-tiba membasmi imigran itu, what's his business for this?!” 


“Sudah-sudah, ini tidak akan ada habisnya!” Dominic mencoba melerai. Aku pun pergi setelah merasa sedap-sedap keren setelah mengatakan hal-hal tadi. 



Dalam perjalanan pulang, aku berpikir panjang. Islam adalah agama damai. Perdamian adalah salah satu asasnya, tidak pernah ada paksaan untuk memeluknya. Mereka yang hidup di negaranya, hidup aman tentram dengan syarat dan ketentuan sesuai dengan hukum Islam itu sendiri. Namun untuk kasus ini, aku merasa mereka yang benar-benar manusia pasti kemanusiaannya bergejolak juga. Karena hakikatnya manusia harus hidup dalam damai. 

Selain itu, hal yang mengganggu pikiranku adalah cara orang-orang memperlakukan minoritas. Bahkan dalam lingkungan Muslim sendiri, minoritas seringkali diperlakukan tidak adil. Peristiwa penembakan tempo hari itu, tentu saja membuatku kepanasan. Namun, aku sangat berharap semua orang dapat mengambil pelajaran.

Ketika kita melihat saudara muslim kita di Christchurch diperlakukan seperti ini, hendaknya kita mengimplementasikan kemarahan kita ke dalam perlakuan baik kepada minoritas di negeri kita tercinta. And the last, my very reliable quote for you, all my dear Muslim Brothers, “Balaslah air tuba dengan air susu”.[]

*Penulis adalah Mahasiswa tingkat 1 Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar.





No comments:

Item Reviewed: Agamaku adalah Damai Rating: 5 Reviewed By: kmamesir