Thursday, May 9, 2019

Pelajaran di Semifinal Liga Champion 2018-2019

Oleh: Haris Akbar Zahari*
Muhammad Salah, pemain Liverpool asal Mesir. (Image: in.com)
Sepak bola adalah kontes panggung terbesar olahraga yang menyajikan seni kekompakan, kecerdasan dan semangat pantang mundur sebelum akhir pertandingan. Lapangan hijau menjadi saksi atas kualitas taktik dan strategi yang dibawa setiap klub, bagai sebuah irama yang senada. Sepak bola menuntut kerja sama dan sama rasa di antara pemainnya. Di media sosial, sepak bola kerap kali menjadi topik yang cukup hangat dan panas, disajikan dengan istimewa berdasarkan fakta di dalam dan luar lapangan. Di dunia nyata, obrolan seputar sepak bola menjadi makanan sehari-hari anak muda dan orang tua, baik di warung-warung hingga ke kampus perkuliahan dan sekolah. 

Beberapa hari yang lalu, sepak bola kembali menunjukkan masa keemasannya sebagai pemuncak olahraga dengan peminat yang meluap,menjadi trending dan beranda di media sosial, majalah, dan surat kabar. Semifinal pentas eropa terbesar liga Champion 2018-2019 menjadi sorotan paling mendunia di lini masa, betapa tidak, berbagai momen tidak terduga dan istimewa membawa penggemar olahraga bola ini jatuh cinta lebih dalam, terlepas dari kemenangan dan kekalahan klub yang mereka favoritkan juara. Sangat ganas dan tangkas, 90 menit di atas lapangan memberi segudang pelajaran untuk kita dan dunia, baik motivasi diri atau tamparan keras. 

Semifinal pertama mempertemukan dua klub raksasa dunia yang datang dari Inggris dan Spanyol: Liverpool dan Barcelona. Para pecinta sepak bola pasti tidak sabaran menunggu perhelatan ajang tersebut untuk menyaksikan seni lebih dari sepak bola itu sendiri, adu taktik, kecerdasan, mentalitas, dan perjuangan menjadi taruhan paling menggempur dalam pertandingan ini. 

Leg pertama, Blaugrana berhasil menumpas habis saingannya The Reds di Camp Nou dengan skor 3-0 tanpa balas. Luis Suarez yang merupakan mantan pemain Liverpool berhasil membawa Barcelona memimpin 1-0. Atmosfer lapangan semakin bergemuruh setelah Lionel Messi mencetak 2 gol ke gawang Alisson. Pertunjukan seni sepak bola Barcelona berhasil mewarnai Eropa, seperti slogan yang dibawa supporternya “Ready to color Europe”, taktik tiki-taka Valverde, pelatih Barcelona berhasil memenangkan hati seluruh pencinta sepak bola, walaupun juga menyakitkan perasaan pendukung Liverpool. Strategi, taktik, semangat, dan kekompakan klub asal Spanyol ini memberi kita pelajaran dalam berkelompok, berpikir cerdas dan saling percaya dalam keadaan apa pun. 

Muhammad Salah, Roberto Firmino dan Naby Keita merupakan sebagian dari pemain inti Liverpool yang mendapat cedera dan tidak bisa memperkuat timnya memukul balik Barcelona. Hanya sedikit yang percaya bahwa Liverpool akan mampu comeback melawan klub sekelas Barcelona. Namun, keajaiban dalam sepak bola kembali mengejutkan dunia. Percaya diri, tidak mudah mundur, dan pantang menyerah yang mengalir dalam darah pemain Liverpool berbuah hasil dan menciptakan sejarah besar sepak bola, terutama sejarah dan keangkeran Anfield, Stadion Liverpool.

Gol yang dicetak oleh Divock Origi dan Wijnaldum membungkam penampilan Barcelona yang dikenal sedang berada di langit lantaran menerkam habis The Reds di Camp Nou. Alisson Becker dan Alexender-Arnold juga menyajikan penampilan terbaik hingga bisa memukul balik atau comeback dengan skor 4-0. Pelatih Liverpool mendapat pujian terhadap penampilan anak asuhnya melawan ketidak mungkinan di Anfield.

Pemain dan official Liverpool menghadap penonton untuk berterima kasih atas dukungan sepanjang laga Liverpool versus Barcelona. (Image: lahanbola.news)
“Ini bukan lagi tentang taktik dan strategi, tapi tentang hati dan jiwa yang Jurgen Klopp ciptakan di antara para pemainnya,” komentar Jose Mourinho atas hasil pertandingan. Sekarang sepak bola bukan hanya tentang skill, taktik, strategi, tetapi juga melibatkan perasaan dan kesatuan para pemain, terutama motivasi dan semangat yang dibentuk oleh pemimpin mereka.

Terlepas dari kekalahan yang menyesakkan dada penggemar Barcelona atau kemenangan yang mengharukan hati kubu Liverpool, kita mengambil pelajaran penting untuk tidak merasa berada di atas langit, karena sejatinya apa yang baru saja berakhir akan menciptakan awal yang baru, tidak menutup halaman begitu saja. Sama rasa, satu hati dan saling mendukung bisa membuat keajaiban besar dalam sejarah, menolak untuk percaya pada ketidak mungkinan, padahal masih memiliki harapan, walaupun hanya 1 persen. 

Semifinal kedua, Liga Champion memiliki tamu istimewa yang sama-sama diragukan dan minim penggemar dalam ajang terbesar Eropa tersebut, yaitu Tottenham Hotspur dan Ajax Amsterdam. Sebelum jauh kita menilik, pelajaran pertama yang kita dapat adalah jangan meragukan kualitas diri sendiri, meskipun kuantitas orang yang meragukan kita lebih banyak dari kualitas itu sendiri. 

Ajax mampu mempermalukan Tottenham di leg pertama yang berlangsung di hadapan pendukungnya sendiri dengan hasil 1-0. Atmosfer stadion milik The Spurs dan penampilan sepenuh tenaga yang ditampilkan pemain Tottenham tidak cukup membendung teror serangan yang diluncurkan kubu Ajax, klub yang dihuni oleh pemain-pemain muda ini bahkan sudah memupuskan harapan milik Real Madrid, peraih juara Champion tiga kali berturut-turut, dan juga salah satu favorit juara, Juventus yang diperkuat Cristiano Ronaldo.

Satu-satunya gol Van De Beek membuat Ajax cukup tenang untuk pertandingan selanjutnya di Amsterdam Arena. Pemain-pemain Ajax membuktikan kepada kita bahwa kemenangan dan kesuksesan selalu datang untuk mereka yang mau memperjuangkannya, terlepas dari minimnya pengalaman para pemain, bahkan mereka sendiri yang membuat kita untuk bangun menciptakan pengalaman dan peluang. 

Pada leg kedua di Belanda, Ajax merajalela dan mencukur habis Tottenham di Amsterdam Arena saat paruh waktu pertama. De Light dan Ziyech membuka keunggulan babak pertama dan berhasil membangun percaya diri rekannya untuk memenangkan laga, sekaligus membuat semangat dan harapan Tottenham pupus. Lagi-lagi keajaiban sepak bola dan sejarah olahraga kembali diukir Tottenham Hotspur lewat kaki Lucas Moura yang mencetak hattrick (3 gol) di kandang Ajax.

Penggemar sepak bola tentu jatuh hati pada semangat yang tidak lekang dari klub asal Inggris ini, dunia melihat sendiri drama sepak bola yang tidak pernah diatur sutradara berakhir dengan tragis dan dramatis. Tekanan, atmosfer, dorongan, dan saling dukung terjadi di Amsterdam. Hanya butuh 45 menit waktu normal, Tottenham membalikkan kemenangan yang sudah berada di pelupuk mata Ajax Amsterdam. Lagi-lagi berada di atas angin memakan korban yang lainnya. Semangat, durasi waktu, ruang peluang, dan berjuang sampai akhir adalah pelajaran paling penting yang bisa kita panen di Belanda. 

Sebagai olahraga dan permainan tim, sepakbola telah menawarkan lebih dari kemenangan dan kekalahan, perjalanan yang baru saja berakhir di semifinal liga Champion membuka mata kita untuk menyelam dalam hasil pertandingan dan mengambil mutiara pelajaran yang berharga. 

Pada akhirnya, selamat kepada pemenang dan semangat kepada yang kalah. Pertunjukan sepak bola kemarin masih menyisakan kegembiraan bagi seluruh dunia yang mendukung dan beberapa bekas luka bagi yang kurang beruntung.Tetap ada dan suka pada klub masing-masing karena sudah berjuang semampunya. 

Terima kasih sepak bola atas beberapa kegembiraan dan kesedihan, terutama pada segudang pelajaran yang ditawarkan di setiap pertandingan. Kami masih menunggu sejarah dan keajaiban, seperti yang baru saja terjadi di Anfield dan Amsterdam Arena. Selamat berjuang All England Final, Liverpool vs Tottenham Hotspur di Wanda Metropolitano, Madrid.[] 

*Penulis adalah mahasiswa Darul Lughah Universitas Al-Azhar, Kairo.

No comments:

Item Reviewed: Pelajaran di Semifinal Liga Champion 2018-2019 Rating: 5 Reviewed By: kmamesir