Friday, August 30, 2019

Buku Panduan Tak Selamanya Memandu

Oleh: Muhammad Syukran*
(dok. pribadi)
Ada kebiasaan baik di kalangan kita akhir-akhir ini. Ini disebabkan peradaban manusia yang semakin cerdas. Juga pola pikir yang semakin sistematis. Di saat manusia dahulu takut dan sungkan untuk bergerak lebih maju kini semua orang berlomba-lomba agar digelari sudah maju dan beradab. Dengan kata lain bisa diartikan jika masyarakat sekarang sudah semakin pintar mampu memilah dan memilih mana yang terbaik untuk pilihan hidup. 


Zaman dulu saat seseorang ingin bepergian jauh dari rumah, pasti akan bertanya kepada orang yang punya pengalaman. Terlepas tujuan yang sama, bisa jadi dari persiapan dan bekal atau hanya sekadar nasehat-nasehat kecil di jalan. Contoh lain saat ingin berhaji di zaman dulu. Setiap orang pasti akan meminta wejangan kepada orang tua yang sudah pernah ke sana. Pasti akan ada cerita-cerita unik kemudian dilanjuti bimbingan khusus agar selamat sampai tujuan. 

Beda dengan sekarang. Orang sudah mampu bepergian jauh tanpa ditemani seorang teman pun. Dengan alasan jarak tempuh yang jauh sudah lebih dekat jika naik pesawat, tak perlu menghabiskan waktu berbulan-bulan. Hanya saja uang di saku harus lebih dari cukup. Biasa orang sering membayar sebuah liburan atau traveling berikut dengan pemandunya. Karena belum pernah ke sana. 

Beberapa tahun terakhir muncul inisiatif dari beberapa orang yang dirasa mampu meminimalisir pengeluaran saat perjalanan. Tanpa harus membayar pemandu untuk keluar negeri. Yaitu dengan membaca buku panduan traveling dengan pilihan tempat tujuan masing-masing. Hampir setiap tempat di seluruh belahan dunia sudah ada panduannya. Ide cemerlang ini muncul dari catatan perjalanan sebagian orang yang kemudian dijadikan buku agar dapat memandu orang lain. Selain sebagai informasi destinasi, buku-buku tersebut juga mampu menambah wawasan pembaca. 

(dok. pribadi)
Sekarang orang tak perlu naik kapal laut, kuda dan unta bahkan keluar hotel memanggil taksi untuk bepergian jauh. Cukup membuka handphone dan memesan kendaraan yang diperlukan lewat aplikasi tertentu. Itu semua adalah bentuk inovasi demi kemudahan manusia di zaman serba ada ini. Bayangkan saja jika kita terus mewarisi tradisi orang tua dahulu bepergian harus seperti mereka lakukan, sungguh sangat repot. 

Saat pertama kali tiba di Mesir, saya sering tidak berada di rumah. Menghabiskan banyak waktu di luar, melewati bangunan kota tempat saya tinggal. Saya mampu mengingat semua tempat yang saya lewati. Dan tak akan tersesat jika diajak ke sana lagi. Menyusuri setiap jalanan dan bangunan guna memudahkan aktivitas sehari-hari. Naik transportasi umum dan taksi yang ada. Kadang saya tak segan-segan menumpang mobil bak terbuka agar mengefektifkan waktu dan uang jajan. Begitulah nasib perantau yang tak tahu malu ini. 

Hampir setengah bagian negara Mesir sudah saya kunjungi. Walaupun begitu ada hal yang kurang dan ganjal di benak saya. Itu terjadi setelah saya gabung dengan komunitas sejarah Kupretist du Caire. Di sana saya mendapat banyak wawasan tentang tempat-tempat di Mesir. Dari nilai sejarah dan arti dari tempat tersebut. Sebuah kode etik yang berlaku sebelum pergi ke suatu tempat, yaitu terlebih dahulu harus membaca sebuah tulisan atau buku yang menulis tentang tempat tersebut. 

Hingga kemudian saya tahu kalau di tempat komunitas saya bernaung ada sebuah “guide book” bagus. Yaitu buku panduan tentang Mesir, sangat lengkap bagi siapapun yang hendak berjalan-jalan atau mempelajari Mesir lewat sebuah tulisan. Buku “Long Journey to Egypt” adalah buku panduan ke Mesir dan Al-Azhar terlengkap. Berbahasa Indonesia dan sangat praktis bisa membantu Anda mengelilingi negara Mesir dengan mudah tanpa harus tersesat. 


Buku ini merupakan karya anak bangsa di bawah komunitas besar, Keluarga Mahasiswa Aceh  (KMA) di Mesir. Cetakan pertama buku ini di tahun 1995 dan masih berlanjut hingga sekarang. Buku ini sudah ribuan copy beredar di Mesir dan tanah air. Sudah cetakan ketujuh, dengan beberapa kali revisi di setiap edisinya. Sehingga betul-betul update dan tidak tua seperti umurnya. Bahkan terdapat destinasi baru Mesir yang mungkin belum ditulis di buku lain. 
(sumber: Tim Buku “Long Journey to Egypt”)
Seperti buku panduan perjalanan lainnya. Semisal Haji Backpacker, Perjalanan ke Atap Dunia, The Jilbab Traveler, The Journeys, Kedai 1001 Mimpi, dan 5 cm. Buku ini tak hanya memandu seseorang berjalan dengan bebas tapi juga mampu mengaktualkan para pembaca. Sehingga tempat-tempat bernilai sejarah tak hanya dilalui dengan berfoto selfie ria. Di dalamnya terdapat gambar tiap tempat yang mampu menghadirkan para pembaca seolah sedang berada di tempat tersebut, foto-foto tersebut dari hasil jepretan pribadi penyusun. 

Buku ini sudah menjadi rujukan utama bagi turis Asia seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan negara serumpun melayu. Buku tebal 440 halaman ini dapat ditemukan di toko buku tanah air. Jika tidak dapat, anda boleh memesan di Instagram dan Facebook Keluarga Mahasiswa Aceh Mesir. Harganya terjangkau dan ringan saat dibawa ke mana-mana. Karena menggunakan kertas berbahan ringan dari sebelumnya. 

Buku ini bukan saja membahas tentang destinasi wisata tapi juga studi di Al-Azhar dengan lengkap. Bisa dibayangkan untuk kuliah di Al-Azhar Universitas tertua di dunia itu, Anda hanya cukup membaca buku ini sebagai pengenalan. Itu sangat membantu Anda mengetahui informasi secara praktis, akurat, valid dan terkini bagi calon mahasiswa Indonesia yang hendak belajar di Mesir. 

Kembali seperti yang saya katakan di awal, bahwa tidak selamanya buku panduan dapat memandu seseorang bepergian jika saja buku itu tidak disentuh lalu dibaca. Seperti buku panduan untuk menerbangkan pesawat, Anda bisa mempelajari teori-teorinya tapi belum tentu bisa menerbangkan sebelum mempraktekkannya. Begitu juga buku panduan ini hanya menjelaskan bagaimana tempat dan suasana di Mesir tapi kalau Anda tidak mengunjunginya juga tidak akan tahu esensi dari tempat tersebut. Sama persis seperti Al-Quran yang tak mampu memberi hidayah bagi manusia yang tak membacanya dan dibacakan kepadanya.

Terakhir sedikit penilaian penulis tentang buku ini. Selain sangat bagus, belum penulis temui buku yang dapat menyamainya. Bahkan ada yang menjadikan buku ini sebagai referensi kepenulisan. Dengan adanya edisi terbaru ini semoga mampu mempermudah jalan menuju Mesir serta mampu mengatasi rasa malas membaca di kalangan kita, terlebih bukunya sudah sangat ringan untuk dijinjing dan dibawa ke mana-mana.

Bagi yang ingin membeli, Segera Hubungi Tim Buku “Long Journey to Egypt”. Harga yang ditawarkan sangat bersahabat.

👉 HANYA : 120 Le
👉RESELLER/AMBIL BANYAK : HARGA SPESIAL

Via Call/ Whatsapp:
Ahmad Yani (+20 114 188 1003)
Mukhlis Hasballah (+20 109 509 9212)
A'maril Basyiriy ( +20 101 763 5737)
Zulfahmi (+20 155 804 4860)
Ari Adliansyah (+20 101 621 3757)


*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar Kairo Mesir.

No comments:

Item Reviewed: Buku Panduan Tak Selamanya Memandu Rating: 5 Reviewed By: kmamesir