Saturday, September 28, 2019

Mana Lebih Baik? Musik atau al-Quran


 Oleh: Setia Farah Dhiba*


Solusi dan masalah, tak ayal dua kata ini pasti ada dalam kehidupan kita sebagai manusia. Entah solusi yang hadir sebelum masalah datang, dicari ketika masalah datang, bahkan masalah kadang kala bisa menjadi solusi untuk masalah yang lain. Namun masalah atau perihal sesuatu yang ada di tulisan ini tidak mengenai keduanya, di kesempatan ini kami ingin mengajak pembaca untuk memberi sedikit fokusnya tentang sedikit pemaparan dari pengaruh stimulasi al-Quran dan musik pada otak.

Mengapa al-Quran dan musik? Menurut hemat kami, dari kedua hal ini menjadi tempat larinya seseorang yang mempunyai masalah atau saat mencari solusi. Juga pada bahasan kali ini bukanlah mengenai halal haram musik, akan tetapi lebih kepada pengaruh saat mendengar kedua hal tersebut. Mana yang menurut anda lebih baik? InshaAllah akan anda temukan solusinya jika anda membaca sedikit jawaban dari suatu permasalahan ini.

Pada usia dewasa muda yang berkisar antara 20-29 merupakan usia produktif seseorang dalam mengejar suatu impian, menghadapi persoalan baru, dan rasa ingin tahu yang besar akan suatu hal. Maka dalam masa ini lumrah jika kita melihat teman, keluarga bahkan diri kita sendiri mengalami suatu tekanan berlebih atau bisa disebut stres. Terlebih persoalan memenuhi semua tuntutan hidup hingga layak disebut orang sukses atau dalam hal mencari pendamping hidup.

Dari kondisi stres ini dapat menimbulkan efek buruk pada tubuh dengan dikeluarkan hormon-hormon stres seperti Katekolamin dan Glukokortikoid yang dapat menimbulkan kerusakan pada sel-sel saraf. Stres sendiri bisa muncul dengan dua gejala baik psikologis maupun fisik. Respon stres secara fisik dapat berupa peningkatan tekanan darah, denyut nadi dan nafas, sementara dari gejala psikologis meliputi sensitif, kecemasan, mudah marah, bingung, ketegangan dan respon buruk lainnya.

Kemudian beranjak dari permasalahan ini ditemukan dalam beberapa penelitian bahwasannya mendengarkan muratal al-Quran dapat menstimulus atau merangsang pengeluaran serotonin sebagai hormon relaksasi berupa ketenangan pada responden. Bagi penderita stres melalui terapi musik juga merupakan salah satu cara menghasilkan efek relaksasi dengan respon fisiologis berupa penurunan ketegangan emosional. Scott pada penelitiannya di tahun 2011 mengatakan musik dengan tempo yang lambat dapat meningkatkan ketenangan dan menciptakan kondisi meditasi pada gelombang otak, respon relaksasi pada pernafasan, dan pada pikiran dapat menyebabkan berpikir positif sehingga mencegah respon stres.

Www.nationalgeographic.grid.id


Bagaimana kemudian dengan  mendengarkan al-Quran?

Tahun 2008 oleh seorang peniliti menunjukkan mendengarkan al-Quran daripada musik berefek lebih baik karena unsur kandungan spiritualitas dalam bacaannya. Aktifitas gelombang delta yang berdominasi di area frontal dan sentral mengartikan bahwa otak berada dalam kondisi sangat tenang, nyaman, tentram sehingga dapat mencegah adanya penyempitan pembuluh darah. Irama dari murattal al-Quran yang konstan, teratur, dan tidak mengalami perubahan tempo secara mendadak mempunyai efek relaksasi yang bisa menurunkan tingkat kecemasan.

Oleh seorang dokter bernama Al-Qadhi di Florida Amerika serikat menyimpulkan hampir 97% hanya dengan mendengarkan ayat-ayat al-Quran, baik mereka yang berbahasa arab atau tidak dapat mendatangkan ketentraman jiwa, menyembuhkan berbagai penyakit juga meningkatkan daya ingat seseorang. Jika lewat musik klasik dapat meningkatkan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), maka dengan bacaan al-Quran para pendengarnya mendapatkan yang ketiga yaitu kecerdasan spiritual (SQ).

Al-Quran jelas memberikan efek ketenangan bagi pendengarnya lewat kandungan ayat yang luar biasa bermakna dibanding hanya sekedar mendengar musik. Tidak hanya otak, tubuh pun mendapat respon yang luar biasa dari mendengarkan ayat-ayat al-Quran; karena dapat menstabilkan tekanan darah dan detak jantung, memusnahkan sel-sel kanker, meningkatkan fokus dan konsentrasi. Juga perlu diketahui bersama adalah nutrisi terbaik bagi otak manusia dengan mendengarkan, memahami serta mempelajari ayat-ayat al-Quran.

Namun tahukah kamu bagaimana efek lain yang diberikan lewat stimulus musik pada otak? Berdasarkan rangkaian nada baru yang kita dengar lewat musik maka otak membentuk suatu struktur kecil baru dan membawa pendengar untuk menghasilkan cara berpikir yang baru, meningkatkan kreatifitas, dan mendorong otak memahami hal baru. Mendengar musik, juga dapat membantu pendengarnya memahami bahasa baru lewat rangkaian nada yang membuat otak cepat merekam dan membaca struktur bahasa berdasar lirik-lirik dalam lagu. Dengan itu bahasa secara bersama diproses dan diingat bersamaan dengan nada yang disimpan pada amygdalla atau bagian otak besar, bukan di bagian lobus frontal tempat mengingat dan menghafal.

Juga mendengarkan musik dapat memunculkan efek distraksi yaitu ketika otak tidak menerima suatu stimulus (ransangan) secara normal. Contohnya ketika melakukan olahraga ringan sambil mendengarkan musik, stimulus berupa rasa lelah yang dikirim ke otak tidak akan terbaca akibat aktifitas otak yang lebih banyak memproses suara yang didengar dibandingkan fokus pada rasa lelah tersebut. Terakhir, mendengarkan musik bisa membuat seseorang mengingat kembali kejadian lama dengan persepsi memunculkan gambar atau emosi dari lagu yang ia dengar.

Nah, berdasar beberapa pengaruh dari mendengarkan al-Quran atau musik, sekarang berpulanglah keputusan pada diri pembaca. Cause life it’s  just about choice . kami mencoba mengingat pesan yang dapat kita terapkan dari salah satu surah dalam al-Quran yaitu surah An-Nahl (lebah), hiduplah seperti lebah yang hanya memasukkan hal yang baik-baik agar juga menghasilkan sesuatu yang baik. Sekian, wassalam.


*Penulis adalah Mahasiswi Tingkat 2 Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Kairo

No comments:

Item Reviewed: Mana Lebih Baik? Musik atau al-Quran Rating: 5 Reviewed By: kmamesir