Saturday, February 22, 2020

Tiga Jengkal Mengenal Aceh Lebih Dekat

Penulis: Annas Muttaqin*

Gunung Burni Telong, Aceh Tengah. (@wisataaceh)

Masih menjadi misteri hingga sekarang jika membahas asal-usul nama Aceh. Sebagian sejarawan mengatakan, nama Aceh diambil dari empat nama yaitu Arab, China, Eropa, dan Hindia. Kemudian disingkat menjadi Aceh atau bagi sebagian jika ingin mencocokkan dengan ejaan lama (Atjeh) maka ejaan Chinanya tinggal diganti “Tjina”. Maka dari itu katanya, rupa orang Aceh terdiri dari negara-negara yang disebutkan tadi, tapi ada juga sebagian lain yang berwajah baina-baina artinya wajah campuran. Misalnya rambut keriting, mata sipit, kulit sawo, ataupun rambut keriting, kulit putih, mata tidak sipit-sipit amat ataupun rambut lurus, kulit sawo mata sipit.

Ada juga yang mengatakan bahwa asal-usul kata Aceh berawal dari kisah orang-orang Budha yang berasal dari China. Ketika berlayar di Aceh mereka melihat ada cahaya di puncak Gunung Seulawah seraya  berkata “Aceehera vata bhoo” yang berarti alangkah indahnya, kemudian dari kata itu lahirlah nama Aceh. Yang lain ada juga yang mengaitkan asal-usul nama Aceh dengan nama-nama suku yang pertama menempati kawasan Aceh. Pun, ada yang mengatakan Aceh berasal dari bahasa Arab, “Asyhadu” artinya aku bersaksi. Dilansir dari halaman kompasiana salah satu pakar sejarah Aceh A. Rahman Kaoy yang  merupakan wakil ketua MAA (Majlis Adat Aceh) pada tahun 2015 mengatakan bahwa dirinya lebih setuju jika Aceh merupakan gabungan dari Arab, China, Eropa dan Hindia.

Terlepas dari berbagai teori dan cocoklogi yang muncul yang jelas kata Aceh masih diperdebatkan asal muasalnya serta masih menjadi misteri hingga sekarang. Anda boleh saja percaya dan boleh tidak terhadap berbagai macam teori tersebut. Namun hal yang lebih penting di balik asal-muasal Aceh tersebut adalah menjaga persatuan, kesatuan, budaya serta Adat Aceh itu sendiri. Selain merupakan salah satu provinsi dengan kekayaan alam melimpah Aceh juga kaya akan adat, suku dan budaya. Tercatat hingga 2019 kemarin Aceh memiliki 23 kabupaten, 13 suku dan 11 bahasa daerah, mulai dari bahasa Gayo, Alas, Kluet, Tamiang, Pak-pak, hingga bahasa Nias. Semua bahasa tersebut termasuk dalam bahasa Aceh.


Kota Banda Aceh yang Indah. (@wisataaceh)

Jika kalian berkunjung ke Aceh pada waktu-waktu tertentu kalian akan menemukan beberapa adat istiadat yang masih sangat kental di antara masyarakat Aceh, terlebih jika berkunjung ke desa-desa kecil pedalaman. Pada bulan kelahiran nabi misalnya. Perayaan Maulid Nabi di Aceh terbilang unik walaupun setiap daerah memiliki keunikan tersendiri dalam perayaannya. Selain acara makan bersama dan ceramah, acara tersebut juga turut menggelar “like/dike” yang dilakukan oleh kelompok khusus dan terlatih diiringi gerakan khas sambil melantunkan syair-syair dan shalawat kepada baginda besar Nabi Muhammad Saw. masakannyapun dikemas dengan unik. Sebahagian desa ada yang menyebutnya “Bu Kulah”. Jika diartikan secara bahasa mengandung arti kolam ataupun nasi bak namun jika dilihat lagi “Bu Kulah” merupakan nasi yang dimasak secara tradisional beramai-ramai kemudian dibungkus dalam daun pisang hingga berbentuk piramida. Masyarakat yang hadirpun menikmati hidangan sambil menyaksikan lantunan syair dan gerakan-gerakan tersebut, ada juga yang membawa pulang.

Selain itu, jika anda berkunjung tiga hari sebelum memasuki bulan Ramadhan dan hari raya Islam anda juga dapat menyaksikan gelonggongan-gelonggongan daging sapi bergantung di balai-balai kecil di pinggir jalan untuk dijual. Biasanya pemandangan seperti ini hanya dapat ditemukan setahun tiga kali. Hal ini sudah menjadi tradisi bagi orang Aceh sebagai bentuk penghormat memasuki bulan yang penuh keberkahan dan kemenangan bagi umat Islam.

Dalam pranata sosialnya Aceh dikenal sebagai suatu masyarakat yang kental dengan syariat Islam dan menjunjung tinggi norma-norma agama Islam. Penetapan hukuman cambuk  merupakan bentuk nyata dari praktik penegakan syariat Islam di Aceh. Juga tercatat hingga saat ini Aceh merupakan penduduk dengan tingkat presentase mayoritas muslim terbanyak di Indonesia. Kendati demikian, kita juga tidak menafikan pelanggar-pelanggar syariahnya.

Menyikapi para pelanggar ini, Aceh memiliki lembaga khusus yang mengawasi terlaksananya Syariat yang dikenal dengan sebutan Wilayatul Hisbah (WH) atau Polisi Syariah Islam yang berkerja sama dengan Satuan Polisi Pamong Praja dalam penegakan syariat, dimana WH hanya berperan sebagai penyidik dan Satpol PP sebagai lembaga yang mempunyai wewenang untuk menangkap tangan.


Danau Laut Tawar, Takengon. (@wisataaceh)

Terbentuknya lembaga ini merupakan implementasi dari otonomi khusus yang diberikan Indonesia kepada provinsi Aceh dalam mengatur berjalannya Syariat Islam serta upaya untuk tetap menjaga nama baik Aceh yang terkenal dengan Serambi Mekah. Hal itu pun diikuti dengan adanya Qanun Aceh yaitu peraturan perundang-undangan sejenis perda yang mengatur pelaksanaan syariat di Aceh.

Namun jangan salah sangka, meskipun di Aceh kental akan pelaksanaan Syariat Islam, Aceh juga termasuk masyarakan yang menjaga nilai toleransi yang tinggi. Peunayong contohnya, salah satu kawasan di Banda Aceh yang banyak diduduki oleh Etnis China. Disana masyarakat China hidup tentram dan damai berdampingan dengan masyarakat Aceh lainnya selama mereka menghormati norma-norma masyarakat. Merekapun bebas beribadah di wihara-wihara dan gereja yang terdapat disana. Bahkan kebanyakan mereka melakukan bisnis dagang bersama dengan masyarakat Aceh.

Jika mengenai jeratan cambuk, sebahagian mungkin berpikir terlalu ekstrem mengenai hukuman tersebut. Kenyataannya tentu tidak. Hukuman-hukuman tersebut hanya akan dijatuhkan jika memang memenuhi syarat-syarat tertentu. Bukan gampang menjatuhkan hukuman cambuk bagi seseorang. Harus melalui bukti dan mekanisme-mekanisme berat sehingga orang dapat dihukumi bersalah.

Namun mengenai busana jangan heran jika anda berbusana terbuka dipandang aneh oleh masyarakat Aceh. Hampir seluruh penduduk di Aceh berbusana tertutup dan berbusana terbuka adalah melawan mayoritas busana disana. Hal tersebut wajar dipandang aneh. Bahkan jika anda berbusana tertutup di suatu tempat dan mayoritas masyarakat disana berbusana terbuka andapun akan dipandang aneh.


Di suatu Tempat di Aceh. (@wisataaceh)
Hal lain yang sering menjadi perbincangan publik mengenai Aceh adalah karakteristik orang Aceh yang dianggap teguh memengang prinsip atau beberapa orang bahkan mengatakan keras kepala. Jika berpijak pada landasan sejarah, Aceh termasuk daerah yang sering dilanda konflik fisik dibandingkan provinsi-provinsi lain. Mulai dari konflik pada masa kerajaan, kemudian dilanjutkan penjajahan, hingga konflik terakhir yang sangat kontroversial adalah pada masa ditetapkannya Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM).

Pada masa penjajahan, Aceh memang dikenal wilayah yang sulit untuk ditaklukkan. Butuh waktu berpuluh-puluh tahun lebih untuk Belanda menguasai Aceh dengan segala senjata dan kecanggihannya. Bahkan tercatat beberapa jenderal Belanda terbunuh dalam beberapa konflik di Aceh. Sulitnya para penjajah dan beberapa oknum menguasai Aceh bukan tanpa sebab. Kepercayaan yang kuat masyarakat Aceh terhadap landasan-landasan Islam dan ulama-ulamanya menjadi pilar penting dalam membangun semangat perjuangan. Alhasil tak ada kata lain selain berjuang membela diri dan negeri melawan penjajahan, dan jikapun kelak akan meninggal maka syahid menjadi gelar. Mungkin sejarah yang beragam, menjaga prinsip dan konflik ini yang membuat orang Aceh terlihat keras kepala. Ya walaupun memang kadang benar, namun itu kembali pada cara masing-masing berpikir dan pengaruh apa yang dirasakan orang tersebut.

Selain beberapa hal di atas Aceh juga memiliki destinasi wisata yang tak kalah anggun dan menarik dari provinsi lain, mungkin untuk sekte ini saya akan mengulasnya di lain waktu. Oleh karena itu jangan segan-segan untuk berkunjung ke Aceh kemudian mengenal lebih dalam mengenai masyarakat Aceh.

Oke guys, sekian dulu pembahasan kita mengenai Aceh. Semoga Bermanfaat.


*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Al-Azhar Kairo.




No comments:

Item Reviewed: Tiga Jengkal Mengenal Aceh Lebih Dekat Rating: 5 Reviewed By: kmamesir