Sunday, March 1, 2020

Benarkah Aceh itu Rasis?

Oleh: Muhammad Syukran*
(sumber: Instagram Wisata Aceh)

Saat pertama kali membaca judul tulisan ini, urat leher terasa menguat dan mata terasa lebih fokus. Tulisan ini bukan bertujuan provokatif atau untuk menarik perhatian khalayak. Ini hanya sebuah tulisan ringan yang akan terasa berat jika membacanya dengan nafsu apalagi dengan pemahaman yang belum sepenuhnya sadar. Sebuah peringatan agar sekiranya tulisan ini dicermati dengan baik, bisa jadi terdapat banyak kelemahan karena penulis akan mengupasnya secara objektif. 

Saat pertama kali mendengar kata Aceh terlintas banyak corak dalam pikiran setiap orang. Ada makna kuat yang tersimpan di balik empat huruf tersebut. ‘Apa itu Aceh?’ Jika pertanyaan diajukan pada masyarakat luar daerah Aceh, mayoritas akan menjawab dengan hal-hal positif sesuai yang mereka tahu dan terima dari ragam informasi. Walaupun jawaban akan beragam pula. Namun yang pasti nilai positif adalah hal pertama saat nama Aceh disebut. 
(sumber: Instagram Wisata Aceh)
Aceh adalah kerajaan berdaulat dulunya, Aceh adalah kerajaan Islam pertama di Nusantara, Aceh adalah Serambi Mekkah, Aceh adalah daerah istimewa di mana syariat Islam berlaku disana, Aceh adalah bumi para ulama dan para Aulia, Aceh adalah tempatnya pemuda-pemudi tampan dan cantik. Aceh adalah daerah tropis nan eksotis. Akan sangat banyak lagi pujian yang keluar dari mulut orang-orang, jika ditanya tentangnya. 


Aceh pernah mengalami Tsunami 2004 silam, Aceh adalah bentuk sebuah kesombongan, Aceh daerah pemberontak, Aceh daerah tertinggi tingkat kemiskinan, Penerapan Syariat di Aceh berat sebelah, Aceh daerah tertinggal, Aceh haus akan harta, Aceh daerah intoleransi, Aceh itu kampungan, Aceh itu Rasis! 

Begitu banyak kata-kata tentang Aceh, jika menimbang positif dan negatif terasa keduanya seimbang. Ketika ada yang mengatakan Aceh tidaklah istimewa sama seperti daerah lain. Dengan banyaknya sentimen serta beragam pandangan tentang Aceh terlepas baik-buruknya itu. Lantas dari keduanya melahirkan konklusi bahwa ia adalah suatu yang istimewa, jika tidak mustahil semua yang telah ada menjadi bukti keistimewaannya. Penilaian seseorang terhadap sesuatu adalah bentuk sebuah perhatiannya. 

Terlarut dalam pujian sungguh tidaklah baik, karena dapat melahirkan banyak penyakit. Mulai dari sombong, angkuh dan enggan bermuhasabah. Begitupun sebaliknya, tidak baik pula berlarut-larut dalam kritik dan rasa bersalah. Di samping mampu menyadarkan nafsu bahwa diri ini masih banyak kekurangan, berlarut-larut dalam kritikan dapat membuat semangat berjuang hilang lalu merapuh. 
(sumber: Instagram Wisata Aceh)
Mengangkat isu rasisme di tanah air terhadap Aceh, hal ini juga berdampak di Mesir sendiri. Bukan terhadap masyarakat Mesir akan tetapi mahasiswa Indonesia yang belajar disana. Isu ini mulai mencuat di awal tahun 90-an, saat diberlakukan Daerah Operasi Militer (DOM) bagi Aceh. 

Mengutip kata paling mainstream dari dua dekade terakhir bahwa Aceh itu rasis. Ini merupakan sebuah kekeliruan yang berujung pada fitnah bagi Aceh. Mari kita bedah satu persatu. Sebelum kita bedah tentang Aceh itu sendiri dan sematan rasis padanya, mari kita pahami kembali makna dari kata rasis itu. 

Lebih awalnya kita melihat defenisi rasisme dari Wikipedia “Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.” 


Beberapa penulis menggunakan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu sendiri (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antar ras (miscegenation), dan generalisasi terhadap suatu kelompok orang tertentu (stereotipe). 

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial. 

Ini adalah paham terbanyak yang dianut kebanyakan kita. Adapun tuduhan rasis terhadap Aceh bermula saat perang antara TNI dan GAM memecah, mayoritas TNI saat itu berasal dari pulau Jawa. Petinggi GAM saat itu tidak pernah menyatakan perang melawan suku Jawa atau suatu suku, bahkan diantara banyaknya TNI juga ada yang berasal dari tanah Sumatera. Tidak ada istilah atau motivasi tentara GAM berperang untuk memusnahkan suku Jawa yang datang ke Aceh untuk berperang. 
(sumber: Instagram Wisata Aceh)
Walaupun banyaknya suku yang datang ke Aceh untuk berperang, tapi yang paling berbekas di benak rakyat Aceh adalah suku Jawa. Ini dikarenakan dua faktor utama setelah penulis pahami dari beberapa sumber, alih-alih itu menjadi kesan yang sulit dihapus dari ingatan masyarakat. Pertama, dominasi tentara yang berasal dari Jawa membuat masyarakat lebih mudah menandai. Kedua, karena kekecewaan rakyat Aceh terhadap Ir. Soekarno yang tak menepati janji. 

Jika kita menelisik kembali asal usul namanya Aceh juga akan kita dapati bahwa ia gabungan dari berbagai bangsa, yang bangsa tersebut mewakili ras dan suku di dunia. Huruf A yaitu Arab karena dulu berdatang Ulama dan pedagang dari semenanjung Arab. Huruf C yaitu Cina juga terdapat pedagang dari sana yang berdagang. Huruf E yaitu bangsawan Eropa yang singgah dan menetap di Aceh. Adapun H adalah Hindia (India) yang juga ikut mewarnai festival dagang di wilayah Aceh masa itu. Mereka mampu hidup berdampingan dengan masyarakat lokal tanpa ada intimidasi sedikitpun, maka wajar terdapat banyak pamuda-pemudi Aceh yang berwajah Asing seperti Arab, Cina, Eropa dan India karena efek kemajemukan. 


Ini bukti bahwa Aceh tak pernah membenci suku atau ras di sekitarnya, bahkan Jepang atau Belanda sekalipun. Yang menjadi musuh rakyat Aceh adalah segala bentuk kezaliman yang ada di muka bumi. Bisa saja Belanda dan Jepang dibantai dan diratakan dengan tanah saat berulang kali meminta damai dengan kerajaan Aceh dulu. Namun tidak, kebijaksanaan lah yang membuat sebuah bangsa itu berdaulat. Ini bukan sedang bernostalgia dengan masa lalu, tapi perlu diungkit sejarah untuk mengingat kembali kisah untuk modal semangat di masa depan. 

Di kalangan Masisir sendiri ada yang menganggap Aceh itu eksklusif tertutup suka membangga-banggakan diri, suka mempromosikan daerah sendiri dan mendoktrin. Terkadang saat di angkutan umum ketika bersamaan dengan mahasiswa Indonesia lain, mahasiswa Aceh lebih memilih berbahasa Aceh ketimbang bahasa Indonesia. 
(sumber: Instagram Wisata Aceh)
Pandangan Eksklusif terhadap mahasiswa Aceh merupakan hal lumrah dan wajar, dari teritorialnya saja sudah tersudutkan. Untuk melebur dengan cara sosial Ibu Kota memerlukan waktu yang sangat lama, bahkan sulit untuk diterima karena setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Adapun tentang membanggakan diri ini adalah kata yang keliru, mahasiswa Aceh tidak pernah membanggakan diri tapi bangga terhadap tanah dan daerah mereka tinggal, sama seperti daerah-daerah lain yang cinta terhadap tempat tinggalnya. 

Mempromosikan daerah sendiri adalah tugas dan tanggungjawab masyarakat yang tinggal disana. Jika dilihat-lihat mempromosikan daerah adalah bagian dari program pemerintah Indonesia untuk mengiklankan pariwisata di Indonesia. Doktrin-doktrin yang beredar di KMA bukanlah doktrin yang provokatif bersifat rasis atau diskriminatif terhadap sebuah kelompok. Akan tetapi lebih tepatnya adalah bersifat cinta tanah air, melestarikan budaya dan adat luhur yang telah lama diajarkan di Aceh. 


Sama halnya seperti daerah lain, yang mengajak mahasiswanya untuk cinta daerah masing-masing. Berbicara dan bersosial seperti di daerahnya agar nanti saat kembalinya ke daerahnya mampu beradaptasi dengan masyarakat sekitar tanpa kewalahan. Jika masih mempertanyakan bahasa yang sering menyinggung kalangan Masisir, setiap Masisir punya bahasa daerah masing-masing yang patut dijaga agar tidak kaku dan lupa. 

Dari banyak asumsi di atas bisa disimpulkan bahwa Aceh tidak rasis, jika anda masih bersikeras berarti dapat dipastikan anda yang mengidap penyakit tersebut. Bisa jadi pernah patah hati atau belum tahu banyak tentang Aceh. Saran dari penulis cobalah sesekali berlibur ke Aceh, maka anda akan tahu suasana disana bagaimana dan seperti apa. Terkadang kita menilai sesuatu dengan telinga tanpa kita cari tahu dan mempelajari dulu. Jangan pernah termakan oleh opini dan omongan orang lain jika anda masih mampu menilai sendiri. 

Penulis bangga memiliki tanah air yang merdeka dan disegani, Indonesia. Bangga memiliki Ibu Kota bernama Jakarta dan bersaudara dengan banyak suku disana. Semoga Anda pun begitu, bangga memiliki Aceh dengan segala kekurangannya.[]



*Penulis merupakan mahasiswa fakultas Ushuludin jurusan Akidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar
Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: Benarkah Aceh itu Rasis? Rating: 5 Reviewed By: kmamesir