Tuesday, March 24, 2020

HIEMMER


Oleh: Muhammad Dany*

Instagram @akbar_zeder


“Bintang peu yang han tem deuh bak langet?...” Tanya ayah. 
Pikir Abdur sejenak sambil menatap langit-langit rumah yang lembab akibat hujan. 

“Bintang film…” dengan nada menyejutkan serta irama lawakan yang membuatku tertawa terbahak-bahak. 

Abdur tidak mengira seorang ayah berprofesi sebagai petani mampu memikirkan hal-hal lucu yang dapat menandingi pelawak papan atas. Yang mana tawanya hanyalah tawaan buaya dari penonton bayarannya. Ditambah lagi memiliki tim kerja yang super lengkap dengan bayaran yang tidak murah.  

Hal ini dapat menurunkan kreatifitas seorang pelawak dalam berkomedi dan kebangkrutan stasiun tv di masa yang akan datang. 

………. 

Abdur tersadar ketika listrik rumahnya hidup kembali yang baru saja mati akibat hujan deras. Tv pun kembali nyala menayangkan reklame yang berselogan “Jupiter planet, semakin melayang”. Dengan bersinopsis: masyarakat kocar-kacir bahkan bajunya sobek-sobek akibat dilewati oleh pembalap yang mengendarai Jupiter planet yang sangat kencang melayang layang. Terlintas dipikiran Abdur “dari awai sampoe jinoe peken iklan hana kreatif sagai awak pegeut, padahai ka geusewa Valencia Rossa lom” kataku dengan nada bisikan kesal. 

Tiba-tiba Abdur mulai berandai-andai di kegelapan malam di tengah hujan yang mulai reda, “Adak menteng na ayah, jeut lah ta khem khem tiep sepot” sambil tersenyum menatap tv yang baru dimatikan akibat kekecewaannya. 

Betapa kini ia merindukan kehadiran sang ayah, sudah bertahun-tahun ia lalui hidup tanpa sang ayah yang sering membuatnya hiem-hiem lucu. Abdur sangat berharap ayah bisa kembali untuk membuatnya ketawa untuk terakhir kalinya, akan tetapi hal itu sungguh mustahil, semua itu hanya tinggal kenangan. 

*Hiem merupakan suatu tradisi masyarakat Aceh yang memacu otak untuk berpikir kreatif dan inovatif walaupun dominannya bersifat humor, serta berbentuk pertanyaan yang sering disebut beat dan jawaban yang sering disebut panclen, dengan demikian tradisi ini dapat mengasah otak kedua pihak, pihak yang bertanya dengan membuat hiem tersebut dan pihak yang menjawab dengan menebak atau berpikir kreatif untuk menjawab pertanyaan yang super aneh itu.* 

Di suatu pagi ayah melantunkan hiem yang tiba-tiba muncul di benaknya. “Peut basah dua thoe…?” Aku berharap bisa menjawab hiem yang muncul tiba-tiba itu. Akan tetapi setiap hal yang kupikirkan tidak dapat dimunasabahkan ke hiem tersebut. Akhirnya aku mengalah yang ke 1001 kalinya. “Rukun wuduk” jawab ayah sambil merasa bijak sambil merapikan kerah kemejanya yang memang sudah rapi. 

Biasanya aku tertawa setelah mendengar jawaban dari hiem ayah. Kali ini aku merasa beda, aku merasa mempuyai ayah layaknya seorang Abu Nawas yang dilahirkan kembali guna memperluas ranah Islam dengan metode yang disukai banyak orang. 

Akan tetapi dugaanku salah, itulah hiem yang terakhir kali yang keluar dari mulutnya. 

……………… 
Sumber foto: Hipwee.com


Kini Abdur berada di bangku SMA, yang terletak jauh dari desa. Tinggal bersama ibu dan adiknya. Bertahun-tahun sudah ibu menjadi single parent setelah ayah meninggal. Untungnya, rezeki seperti tak pernah berniat untuk meninggalkan mereka, berbagai rezeki tak henti-hentinya datang. Ibu diajak bergabung di sebuah perusahan sukses, sementara Abdur dan adiknya lulus beasiswa sekolah terbaik di kota. Itu sebabnya kenapa mereka meninggalkan kampung halamannya. 

Ya, disinilah Abdur sekarang. Sebuah kota yang sangat modern dengan berbagai fasilitas yang super canggih. Gedung tinggi dimana-mana. Kota yang penuh dengan suara berisik kendaraan. Kota yang ingin bersahabat dengan oksigen, tetapi sudah direbut karbon dioksida. Kota yang setiap paginya selalu diramaikan dengan karyawan-karyawan kantor yang terburu-buru berangkat kerja. 

Rumah berlantai dua milik keluarga Abdur sangat jarang berpenghuni di pagi hari karena selalu disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Rumah itu luas dan memiliki banyak kamar. 

Ada satu kamar yang baru kali ini Abdur sadari kehadirannya. Ruangannya luas, tapi berisi barang-barang tak terpakai, atau bisa disebut gudang yang dipenuhi debu dan sarang laba laba. Wajar saja, dulu saat pindah ke sini, Abdur tengah disibukkan dengan ujian nasional, yang membuatnya tidak dapat membantu ibu dan adiknya memberesi rumah. 

Ia melihat foto ayah yang mulai berdebu, ia pun menyapunya dengan tisu. Dia mulai menyadari bahwa didalam dirinya ada titipan hiem ayahnya untuk dinikmati oleh banyak orang. Pikirannya melayang setinggi langit yang tiada ujungnya, ia bagaikan sosok Hiemmer yang berdiri di jutaan penoton. 

“Heeuuuh” suara nafas Abdur serta berbisik di hatinya “mustahil”. Sambil merenungkan perkataan gurunya, “Bedakanlah antara menghayal dan bercita-cita!” 

Tiba tiba ibu datang dan duduk di sampingku dan berkata “Ayah pernah bercita-cita, ingin terus melantunkan hiem di bumi Aceh, bahkan Nusantara. Sangat ingin dirinya melestarikan keindahan seni komedi Aceh, sampai ke cucu-cucunya nanti”. Ayahmu pernah berkata “Komedi itu dimana kita menertawakan takdir karena Allah bertitah pada hambanya untuk bersyukur dalam senyumnya”. “Tapi Bu, mana mungkin hiem dapat dinikmati di zaman modern ini yang penuh dengan hiburan sana sini. Mana mungkin mereka terfokus dengan hiburan tradisonal!” jawab abdur dengan sopan. 

Ibu menarik nafas, lalu membuangnya perlahan. Tiba-tiba saja senyumnya menghilang, diikuti raut wajah yang menunjukkan kesedihan akan kemustahilannya. 

Ibu wajar saja merindukan hal itu. Pasti di luar sana ada juga beberapa orang yang merindukan hal yang sama. Termasuk Abdur sendiri. Ntah kenapa tiba-tiba saja di kepalanya terpikir untuk memainkan hiem itu. Apa salahnya mencoba? 

“InsyaAllah Ibu, akan Abdur coba”. 

Abdur masih ingat apa yang telah ayah ajarkan. Bagaimana cara membuat hiem dan cara menampilkannya agar memiliki khas tersendiri dan menimbulkan tawaan. Ia masih ingat saat ayah mengajaknya ke acara pembukaan PKA dulu. Seorang hiemmer yang berdiri di sekumpulan masa dan dengan mudahnya menarik perhatian masa dengan komedinya. Bahkan menjadikan bahasa Aceh tertarik di mata asing. 

………………………… 
Wikipedia.com

Ternyata, tidak mudah membuat teman-temannya tertawa dengan panclne yang dibuatnya semalam. “Bloe saboh gratis saboh?” Abdur bertanya sambil tersenyum-senyum sendiri. “Kiban… maksud jih..??“ Tanya temannya, “Silop….hahahah” sahut Abdur sambil tertawa sendiri. Sesuai dugaan, mereka mencacinya, “Garing ahhh….. garing….” Mungkin mereka menganggapnya ribet dan konyol. Hampir semua teman-temannya sudah dicobanya, tapi belum ada seorangpun yang memberi dukungan untuknya. 

Usahanya belum gagal. Abdur memutuskan untuk terus mencobanya. Dia seakan Thomas Alfa Edison “Aku tidak pernah gagal, aku hanya menemukan 10.000 cara yang tidak tepat” katanya dalam hati. 

Tapi lagi-lagi percobaannya gagal. Rasa putus asa sudah menghampirinya. 

…………….. 

“Kenapa kamu Dur?”. Beberapa teman SMA menghampirinya. “Loe kelihatan murung hari ini? Sebenarnya loe ada apa? Cerita dengan kami, mungkin kami bisa ngebantuin loe ”. Abdur baru menyadari dirinya sudah terduduk sangat lama di halte bus sendirian. Temannya itu terlihat tulus ingin membantunya. 

Mereka adalah Ari, Babe, Dzawin, dan Remind. Beruntungnya lagi mereka sebaya dengan Abdur. Abdur pun mulai menceritakan segalanya. Kenangannya bersama ayah yang mengajarkan hiem. Dia pun menceritakan panjang lebar dengan mereka. 

“Beli satu gratis satu?” Tanya Abdur. mereka pun mulai berpikir dan menjawab “buka lapak” jawab Dzawin, “indomaret” jawab Ari , dan mencoba untuk memikirkan hal yang lebih dekat. Di tengah kegaringan tersebut “Sandal” kata Abdur sambil masih merasa sedih. “H…h..hahaahahaha”. ketawa Babe sambil terpingkal-pingkal di awal, pada akhirnya mereka tertawa semua setelah mengetahui konsepnya. “tapi lumayan sih, gua ngak nyangka loe bisa segokill ini” kata Remind sambil bertepuk tangan. “Peken jet awaknyoe ikhem padahai lon hana ku niet hiem….” pikir Abdur dalam hati. 

“Abdur, loe keberatan ngak kalau kami bergabung dengan loe sambil ngajarin kita hiem” tanya Dzawin. “Saya pribadi sih tidak keberatan, dengan catatan kalian harus ngajarin saya bahasa gaul…” kata Abdur dengan terbata-bata logat Aceh, “kalau itusih asiyapp” kata Ari, “gua tertarik dengan hiem ini setelah dengar beat-beat loe. Simple dan keren, gua sangat tertarik memainkanya di atas panggung” kata Babe semangat. 

Ini semua di luar dugaannya. Ia tidak berpikir masih ada orang yang memiliki rasa ingin tahu terhadap budaya Aceh lama itu. Mentari yang awalnya sedikit mendung, mendadak cerah seolah ikut bersemangat. Mereka memutuskan untuk berlatih bersama di setiap malam Minggu, dan langsung mencoba menampilkannya di café-café. 

“Orang tua sekarang itu masih banyak yang beranggapan bahwa anak yang cerdas itu anak yang pandai matematika, anak yang pintar di bidang lain tidak di anggap cerdas. Sekarang gini buat loe yang tidak terlalu menyukai matematika buat apa loe belajar matematika terlalu dalam, ingat men! Loe belajar matematika dari SD sampai SMA, persamaan linier tidak dipakai waktu ngebelik somay” Seisi cafe pun tertawa “Bang! beli somay bang, kalau somaynya 1 tahunya 2 kan 4000, kalau somaynya 4 tahunya 1 kan 6000 berapakah harga satu somay…?” tawa penonton semakin memuncak. 

Ari pun tak mau kalah, dia pun menaiki panggung. “Ujian itu dimana orang pandai dan orang bodoh itu kelihatan. Orang pandai sibuk pikirkan jawaban, orang bodoh sibuk surve jawaban teman” hahahaha…… tertawa seisi café. 

Tanpa disadari metode hiem pun berubah mengikuti perubahan zaman. Yang pada awalnya ditampilkan oleh dua orang yang saling bertanya jawab kini hanya ditampilkan oleh seorang saja. Yang awalnya berbahasa Aceh kini sudah berbahasa Indonesia. 

Dengan perkembangan zaman yang begitu cepat, hiem pun mulai terkenal kembali di bumi Aceh dan Indonesia walaupun dengan metode dan juga nama yang beda, bahkan hampir di setiap acara ditemui penampilan tersebut. 

“Ada saatnya dimana komedi menjadi alternatif terbaik dalam melakukan hal positive seperti berdakwah, menasehati seseorang dan sebagainya. Abdur berharab agar masyarakat tidak salah menempatkan komedi di masa yang akan datang” tegas Abdur ketika diwawancara media Indonesia. 


*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar Kairo.

No comments:

Item Reviewed: HIEMMER Rating: 5 Reviewed By: kmamesir