Belajar Cara Memanusiakan Manusia dari Buku "Kemanusiaan dan Agama: Mana yang Harus Didahulukan?"

Oleh: Setia Farah Dhiba*
"Al-Insaniyyah qabla At-Tadayyun" versi bahasa Arab. (Dok. Pribadi). 


Judul kitab: Kemanusiaan dan Agama: Mana yang Harus Didahulukan? 
Penulis: Habib Ali Zain Al-Abidin Al-Jufri 
Penerbit: Dar Al-Faqih 
Tanggal terbit: 2015 M./1436 H. 
Cetakan: Pertama 
Halaman: 428 
Kategori: Non-Fiksi 
Teks: Bahasa Indonesia 

Terjemahan berbahasa Indonesia dari serial artikel Habib Ali Zainal Abidin Al-Jufri yang telah dibukukan ini menjawab dan menjelaskan serta mengikuti persoalan-persoalan pemikiran dan tantangan bahasa keislaman di tengah peristiwa-peristiwa rumit yang terjadi di negeri Arab dan Islam. Keadaan dunia hari demi hari, tentang pemuda pemudi masa kini, juga melirik para pemimpin negeri, apakah yang sebenarnya mereka cari? Dan Menyoal akhlak yang kian hari kian tabu untuk direnungi. 

Di dalam buku ini jiwa dan hati kita dibawa untuk berani, berani untuk memulai mengkritik diri, merenungi hati, dan mengakui apa tujuan hidup yang hakiki. Kembali mempertanyakan niat diri. Apakah kita lengah hanya karena pandangan mata atas pujian-pujian orang yang menyetujui kita serta tepuk tangan mereka. Kita lupa bahwa kotoran ketenaran dan penampilan menumpuk pada diri yang aib-aib dan segala keburukannya telah ditutupi oleh yang Maha Terpuji. Ibnu Atha'illah As-Sakandari –semoga Allah Ta’ala merahmatinya- berkata: “Berapa banyak maksiat yang membuat diri merasa hina dan hancur lebih baik daripada ketaatan yang membuat diri merasa mulia dan sombong." 

Mengkritik bahasa keislaman. Pada bagian ini beberapa persoalan kompleks terhimpun di dalamnya, menggambarkan besarnya amanah yang dipikul pemuka agama untuk menyampaikan persoalan kepada masyarakat pada penerapan hukum atas realita di lapangan hingga tidak melompati nas-nas syariat tanpa keahlian ilmu. Juga tidak menjadikan “mimbar Nabi Shallaallhu 'alaihi wa sallam” sebagai bagian dari persaingan politik, karena utamanya itu adalah mimbar yang memberikan penjelas petunjuk Nabi Saw. untuk kehidupan manusia. 

Persoalan, harapan, penderitaan, pemahaman dan kebingungan, faktor-faktor kebahagiaan dan kemarahan kaum pemuda. Lalu sejenak melihat pada sistem hirarki generasi dalam sejarah Rasulullah Saw., tanggung jawab mendidik generasi penerus dan membekali dengan peralatan ilmu dan pengetahuan. Membangun pandangan dari level keberuntungan, ambisi dan keinginan terhadap jabatan, menjadi level mencintai pengabdian, memuliakan pengorbanan dan mengutamakan orang lain, dan menilai kesalahan tanpa menghancurkan orang yang melakukan kesalahan. Maka dimanakah tuntunan ini untuk para pemuda di zaman sekarang? 

"Humanity Before Religiosity" versi bahasa Inggris. (Dok. Pribadi).

Dilalaikan dan diabaikan.
Topan globalisasi menghantam keluarga dalam memberi pengetahuan dan akhlak pada anak-anaknya, serta pendidikan yang tertinggal tidak lagi mampu mengelola kaderisasi generasi. Kesewenangan pemimpin zalim terhadap pemuda, tuduhan dalam agama hingga menjual darah dan luka mereka adalah bukti kelemahannya. Kekasaran pelaku dan kata-kata kasar adalah tanda ketakutannya, dan kontradiksi tuduhan adalah tanda kehilangan kepercayaan orang yang menuduhkannya. 

Jika rasa kemanusiaan rusak, maka setiap langkah dalam beragama akan bertentangan dengan tujuan agama itu sendiri. Asal risalah Nabi Saw. adalah akidah tauhid, namun sebelum beliau memintanya untuk bertauhid beliau mendahulukan tiga perkara, yaitu: menyambung tali silaturrahmi, menghentikan pertumpahan darah dan mengamankan jalan kemudian menyebutkan mengancurkan berhala dan menyembah Allah semata. Mengapa beliau mendahulukan perkara ini? Karena tanpa adanya jaminan kehidupan, keamanan sosial dan keamanan umum, manusia tidak dapat memiliki kebebasan memilih. Agama ini berdiri atas dasar kebebasan memilih, Allah Swt. berfirman: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (islam)." 

Kemudian perkara hati. Hati adalah rumah dan gudangnya iman, maka iman itu menetap di dalam hati manusia. Tanpa “hati manusia”, tidak ada ketetapan yang hakiki bagi iman. Habib Ali dalam bukunya menyatakan “dahulukan kemanusiaan sebelum keberagamaan, dan saya tidak mengatakan sebelum agama”. Oleh karenanya perlu mengembalikan kemanusiaan kita hingga keberagamaan kita menjadi benar, dan perlu mengarahkan keberagamaan kita untuk menghidupkan hati kita agar kemanusiaan kita bangkit dan hidup kembali. 

Seorang laki-laki yahudi mendatangi Nabi Saw. dan memintanya membayar hutang yang dipinjamnya sebelum jatuh tempo, dan menyerangnya di depan para sahabat, memegangi kerah bajunya serta mencaci kabilah sambil membelalak ke wajah Nabi Saw. Maka bergejolaklah kemarahan dari kedua mata Umar yang kalau bukan karena kesepakatan yang ia jaga, niscaya pedangnya langsung menghampiri kepala pendeta yahudi tersebut. Apa balasan Nabi Saw.? Habib Ali telah menjabarkan makna balasan dari Nabi Saw. dalam buku ini dengan sarat hikmah yang patut untuk kita renungi. 
"Kemanusiaan dan Agama: Mana yang Harus Didahulukan?" versi bahasa Indonesia. (Dok. Pribadi).

Terakhir salah satu bab yang paling menarik adalah tentang peringatan yang besar. Banyak bahkan sungguh sangat banyak peringatan bagi kita untuk berhati-hati. Hati-hati terhadap yahudi, nasrani, serta konspirasi mereka. Orang-orang kafir liberal dan sekuler atau kekuatan sipil freemasonry, terhadap gereja dan para pendetanya. Juga pada syiah rawafid atau majusi Persia, wahabi yang mentajsimkan Allah atau kelompok jihad salafi yang suka mengafirkan dan teroris Alqaeda, ikhwan yang berkedok Islam para pengikut Sayid Qutub, terhadap orang-orang sufi ahli bid’ah dan kuburan serta kehati-hatian lainnya. 

Namun satu kewaspadaan lagi yang harus kita ketahui, apabila kehati-hatian ini lurus dan tulus. Maka kehati-hatian yang lurus dan tulus ini tidak memiliki sifat angkuh, merendahkan dan berburuk sangka. Berhati-hatilah terhadap hilangnya nilai-nilai akhlak dan prinsip-prinsip, tersebarnya penipuan, kebohongan, pencurian, dan kezaliman. Peringatan yang bermanfaat adalah yang menginginkan kebaikan, dan yang keluar dari ketulusan cinta, kasih sayang dan kemurahan hati. 

Untuk pemuda, para pemimpin dunia, dan seluruh manusia, dari buku ini tergambarkan akhlak sang pecinta Nabi Muhammad Saw. untuk saling mengingatkan, mendoakan, dan memperjuangkan pemikiran umat. Sadar kalau kita hidup bukan hanya untuk sekedar hidup tapi lebih dari itu. Kita hidup untuk mempersiapkan kehidupan yang baru di masa depan, belajar cara memanusiakan manusia dalam mencapai tujuan agama, keridhaan tuhan semesta alam. 



*Penulis adalah Mahasiswi Tingkat 2 Fakultas Syariah Islamiyyah Universitas Al-Azhar Kairo.

Posting Komentar

Keluarga Mahasiswa Aceh (KMA) Mesir
To Top