Thursday, April 23, 2020

Epistemologi; Perspektif Plato dan Aristoteles

Oleh: Muhammad Mutawalli T.* 

Sumber foto: @mervekerl_
Pengetahuan yang dimaksud disini bukanlah tentang cabang-cabang ilmu pengetahuan yang ada, akan tetapi mengenai dari mana pengetahuan manusia itu berasal. Maka istilah ilmu filsafat dan filsafat ilmu adalah dua hal yang berbeda, yang pertama itu membahas tentang segala hal yang berkaitan dengan filsafat yang terdiri dari Ontologi (Al-Wujud), Epistemologi (Al-Ma'rifah) dan Aksiologi (Al-Qiyam). Adapun jika menyinggung masalah filsafat ilmu, tatarannya adalah fokus ke epistemologi saja, yaitu cabang ilmu filsafat yang membahas tentang dasar-dasar dan batas–batas pengetahuan manusia atau dari mana pengetahuan manusia itu berasal. Pembahasan akan fokus pada bagian ini. 

Di kalangan penuntut ilmu, siapa yang tak kenal dengan Plato dan Aristoteles. Sebenarnya jika berbicara mengenai filsafat, tak cukup hanya membahas mereka berdua jika kita tidak membahas Socrates. Mereka bertiga dijuluki dengan The Gang of Three. Tapi dalam artikel ini kita hanya fokus pada masalah epistemologi. Dari masalah ini ada topik yang sangat menarik untuk dibahas yakni perbedaan sudut pandang antara Plato dan Aristoteles mengenai pengetahuan. Plato adalah murid Socrates yang sangat terpengaruh dengan pemikiran-pemikirannya, sehingga walaupun Socrates tak pernah menulis satu kalimat apapun, Plato menuliskan semua ajaran-ajaran Socrates yang ditulis dalam format dialog yang menarik untuk kita telaah. 

Sedangkan Aristoteles adalah salah satu murid dari Plato yang juga belajar di Akademia-nya selama kurang lebih 20 tahun. Disana juga Aristoteles banyak melahirkan karya tulisan dan mencetuskan berbagai macam bidang ilmu pengetahuan, bila diperinci terdiri dari delapan cabang yang meliputi: Logika, Filsafat Alam, Psikologi, Biologi, Metafisika, Etika Politik, Ekonomi, Retorika dan Poetika. 

Kembali ke pembahasan, ternyata walaupun Aristoteles sudah menjadi murid Plato selama 20 tahun di Akademia, Aristoteles mengkritik filsafat Plato mengenai teori pengetahuan (nadzariyah ma'rifah). Tidak sependapat atau saling mengkritik antara murid dan guru sebenarnya sudah menjadi hal yang biasa di dunia akademik, maka sebagai orang yang berpendidikan, kita juga harus memaklumi adat saling mengkritik pendapat antar pelajar bahkan murid dan guru. Sebelum mengungkap apa yang membedakan filsafat Plato dengan filsafat Aristoteles mengenai asal-usul pengetahuan, akan dijelaskan terlebih dulu bagaimana teori ataupun filsafat Plato mengenai kepengetahuan. 

Dunia Ide (Plato) 

Kita sering mendengar teka-teki “Ayam dulu atau telur dulu?”. Tapi pernahkah anda mendengar teka-teki seperti ini “Ayam dulu atau Ayam Ide dulu?” 

Ide yang dimaksud disini adalah gambaran dari pengetahuan manusia mengenai bagaimana bentuk dan ciri khas dari ayam itu. Jadi apa yang lebih awal, gambaran di pengetahuan manusia mengenai ayam itu atau eksistensi ayam itu sendiri. Menurut Plato, ayam ide lah yang pertama ada dibandingkan wujud ayam yang kita lihat dengan indra penglihatan manusia. 

Ajaran tentang ide merupakan inti dan dasar seluruh filsafat Plato. Ide yang dimaksudkan Plato disini bukanlah suatu gagasan yang terdapat dalam pemikiran saja yang bersifat subjektif. Ide itu tidak diciptakan oleh pemikiran kita, tidak tergantung pada pemikiran, tetapi sebaliknya, pemikiranlah yang tergantung pada ide. Justru karena adanya ide yang berdiri sendiri, pemikiran kita dimungkinkan. Pemikiran itu tidak lain dari pada menaruh perhatian kepada ide-ide. 

Jadi Plato menggunakan konsep dualisme, Plato percaya bahwa realitas itu terbagi menjadi dua wilayah. 

1.) Dunia Indra 

Manusia hanya mampu mengetahui yang tidak tepat atau tidak sempurna dengan menggunakan lima indranya. Segala sesuatu berubah dan tidak ada yang abadi atau permanen. Dalam dunia ini tidak ada yang selalu ada, yang ada hanyalah segala sesuatu yang datang dan pergi. 

2. Dunia Ide 

Manusia dapat memiliki pengetahuan sejati dengan menggunakan akalnya. Dunia ide ini tidak dapat ditangkap dengan indra, ide itu kekal dan abadi. 

Masih mengenai pengetahuan, menurut Plato, ketika kita belajar atau menuntut ilmu misalnya, itu bukanlah proses abstraksi atau menambah pengetahuan baru, melainkan itu adalah mengingat kembali atau anamnesis. Misalnya Ahmad belajar tentang apa itu Hadits Dha'if dan klasifikasinya dalam Musthalah Hadits, dari kaca mata pemikiran Plato, proses belajar Ahmad itu adalah “mengingat kembali”, bukan “menambah pengetahuan baru”. Ide atau pengetahuan Ahmad mengenai Hadits Dhaif itu sudah ada di akalnya Ahmad dan proses belajarnya itu walaupun dia sebelumnya tak pernah dengar sama sekali atau tidak pernah dirasakan oleh panca inderanya sama sekali, tapi secara natural itu sudah ada di akalnya Ahmad. 

Maka dapat disimpulkan, menurut Plato, manusia adalah makhluk ganda. Akal Budi dan panca indra yang berbeda dan berpisah.
The Gang of Three, Socrates, Plato dan Aristoteles. (Sumber foto: wips.plug.it).
Filsafat Idealisme [1] 

Maka dari pemikiran ini, muncullah aliran filsafat yang dikenal dengan Filsafat Idealisme (Mitsaliyah), aliran ini memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melalui panca indra adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tidak tetap dan tidak berubah. 

Apakah muridnya Plato, Aristoteles setuju dengan pemikiran atau pendapat gurunya ini? 

Aristoteles; Memandang Realitas secara Dualistis 

Hakekat realitas ialah terdiri dari dunia fisik dan dunia rohani. Hasil pemikiran. 

Salah satu kebiasaan para filosof adalah mencari objek kajian yang kekal dan abadi di tengah semua perubahan. Maka dari itu sebagai filosof, Plato menemukan satu ide yang jauh lebih unggul dari dunia indera (materi). Dia berpendapat bahwa ide itu lebih nyata dibandingkan dengan alam dan fenomena-fenomenanya. 

Aristoteles setuju dengan Plato mengenai dunia indera bahwa semuanya tidak ada yang tetap dan kekal, semua berubah-ubah dan pasti ada akhir. Dia juga setuju bahwasanya bentuk nyata atau bentuk umum dari ayam itu kekal. 

Hal yang tidak disetujui oleh Aristoteles adalah konsep mengenai dunia idenya Plato. Menurutnya, ide adalah konsep yang dibentuk oleh manusia setelah melihat sejumlah objek tertentu. 

Aristoteles tidak percaya konsep ide yang terbentuk di luar dunia alam dan tak dapat dirasakan oleh manusia itu. Tapi dia percaya kalau “ide” dari suatu benda itu ada di dalam suatu benda tersebut, karena mereka merupakan ciri khas benda-benda tersebut. 

Jika kembali ke teka-teki sebelumnya, maka Aristoteles tidak sependapat dengan Plato bahwa ayam “ide” itu ada sebelum eksistensi ayam yang dapat dirasakan oleh panca indra manusia. Ide yang dimaksud Aristoteles adalah setiap makhluk atau benda sebagai ciri khas makhluk atau benda tersebut. Maka jika dikaitkan lagi, ayam nyata dan ayam “ide” tidak dapat dipisahkan sebagaimana tubuh dan jiwa. 

Perbedaan Pendapat di Hal yang Lain Terkait Epistemologi 

Tambahan lagi mengenai konsep pengetahuan. Kalau menurut Plato ketika seorang manusia itu belajar atau menuntut ilmu itu adalah proses mengingat kembali atau anamnesis, berbeda dengan Aristoteles yang mengatakan bahwa menuntut ilmu itu adalah proses abstraksi atau menambah ilmu baru, dia juga tidak mengingkari dunia pengalaman, sedangkan ide juga dihargainya serta diterangkan bagaimana pula mencapainya dengan berpangkal pada realitas yang bermacam-macam. 

Mengenai tingkat realitas apa yang paling tinggi, sesuatu yang kita pikirkan dengan akal kita adalah realitas tertinggi menurut Plato, sedangkan sesuatu yang kita lihat dengan indra kita adalah realitas tertinggi menurut Aristoteles. Plato juga berpendapat bahwa semua benda yang kita lihat di dunia ini semata-mata adalah contoh atau cerminan dari benda-benda yang ada dalam realitas yang lebih tinggi dari pada dunia ide dan itu terdapat dalam jiwa manusia. 

Aristoteles berpendapat sebaliknya, yang ada pada jiwa manusia itu adalah cerminan objek-objek alam. Aristoteles juga mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu pun dalam kesadaran yang belum pernah dialami oleh indra. 

Contohnya sederhana, dalam akidah Islam diajarkan bahwasanya manusia atau makhluk tak akan mampu untuk melihat, membayangkan apalagi mendeskripsikan bagaimana bentuk atau zat dari Tuhan. Manusia secerdas apapun tak akan mampu untuk membayangkan atau mendeskripsikan bagaimana bentuk Tuhan. Mau dibayangkan pun, pasti Tuhan yang kita bayangkan itu tetap tak akan keluar dari objek-objek yang pernah kita rasakan langsung lewat panca indra, kenapa? Jawabannya sangat simpel, karena kita tak pernah melihat Tuhan secara langsung bentuknya bagaimana. 

Hal ini juga disebutkan oleh Syekh Abdurrahman Habanakeh Al-Maidaniy dalam kitabnya Al-Aqidah Al-Islamiyah wa Asasuha, bab pertama, halaman 13. Manusia tak akan mampu mengetahui hal yang tak pernah sama sekali dirasakan oleh kelima panca indra. 

Ini menjadi penguat akan teorinya Aristoteles, bahwa tidak ada sesuatu apapun di dalam kesadaran manusia hal yang belum pernah dialami oleh panca indra. Sedangkan Plato berpendapat bahwa tidak ada sesuatu apapun di alam ini yang sebelumnya tidak lebih dahulu ada di dunia ide. 

Maka dari itu, Aristoteles memutuskan bahwa realitas terdiri dari berbagai benda terpisah yang menciptakan suatu kesatuan antara bentuk dan substansi. Substansi adalah bahan untuk membuat benda-benda, sedangkan bentuk adalah ciri khas masing-masing benda. 

Ia berpendapat bahwa dunia yang sesungguhnya adalah dunia nyata, yang bermacam-macam, bersifat relatif dan berubah-ubah. Dunia ide, sebagaimana anggapan Plato, hanyalah dunia abstrak yang bersifat semu, terlepas dari pengalaman. 

Akal tidak mengandung ide bawaan, melainkan mengabstraksikan ide yang terdapat dalam bentuk benda berdasarkan hasil tangkapan panca indra. 

Filsafat Realisme 

Dari pemikiran Aristoteles, maka lahirlah aliran Filsafat Realisme (Waqi'iyah) yang memandang realitas secara dualistis. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subyek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realitas di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. 
Plato (@life.educated)
Kesimpulan 

Dari beberapa paparan di atas, penulis dapat menarik kesimpulan: 

1.) Socrates, Plato dan Aristoteles adalah The Gang of Three dalam dunia filsafat maupun dalam dunia akademik. Pemikiran mereka menjadi dasar pemikiran dan mempengaruhi dunia pemikiran Barat. 

2.) Pengetahuan dan akal adalah hal yang menarik dibahas, karena menjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lain. 

3.) Sisi-sisi perbedaan antara filsafat Plato dan Aristoteles: 

- Tentang Epistemologi, menurut Plato pengetahuan adalah ingatan kembali (anamnesis), sedangkan menurut Aristoteles adalah teori abstraksi. 

- Tentang Jiwa, Plato menganut pendapat akan kekekalan jiwa, Aristoteles percaya kalau jiwa manusia akan binasa.

- Perbedaan secara signifikan, Plato memulainya dengan intelek, pemahamannya bersifat matematis, sedangkan Aristoteles memulainya dengan persepsi akan dunia natural, pemahamannya bersifat ilmiah. 

- Sikap berjalan, Plato memandang ke atas (dunia ide), Aristoteles memandang ke bawah (dunia nyata). 



Catatan Kaki: 

[1] Sedikit catatan, jika anda kuliah di Fakultas Ushuluddin, tingkat 2 dan seterusnya, Universitas Al-Azhar di mata kuliah “Falsafah 'Ammah” atau mata kuliah lain yang berhubungan dengan itu, jika mendengar istilah “Mitsaliyah Maudhu'iyyah; Hum Allati ja'ala likulli syai'in Mutsul” itu bukan bermakna menjadikan setiap yang ada di dunia ini ada kembarannya (dunia parallel), melainkan itu bermakna menjadikan semua yang ada di alam indra ini ada dunia “ide”nya. 



Referensi: 

-Kristiawan, Muhammad: “Filsafat Pendidikan, The Choice is Yours”, 2016, Valia Pustaka, Jokjakarta. 
-Gaarder, Jostein: “Dunia Sophie; Sebuah Novel Filsafat”, 2019, Mizan, Bandung. 
-Zaqzuq, Prof. Dr. Mahmud Hamdi & Afifi, Prof. Dr. Jamal Ad-din Husain: “Ma’a Al-Falsafah 'Ammah fi ba'dha Qadhayaha Al-Asaasiyyah”, 2019, Jami'ah Al-Azhar, Cairo. 
-Al-Maidaniy, Abdurrahman bin Habanakeh : “Al-Aqidah Al-Islamiyah wa Asasuha”, 1979, Dar Al- Qalam, Beirut. 
-Utama, MA, I Gusti Bagus Rai : “Filsafat Ilmu dan Logika”, 2013, Universitas Dhyana Pura Badung, Kuta Utara, Bali. 
-Lubis, MA, Prof, Dr, Nur A. Fadhil : “Pengantar Filsafat Umum”, 2015, Perdana Publishing, Medan. 

Video: 

-Life, The School of : “PHILOSOPHY – Plato, Youtube, https://youtu.be/VDiyQub6vpw.
-Life, The School of : “PHILOSOPHY – Plato, YouTube, https://youtu.be/csIW4W_DYX4.
-Richey, Tom : “Plato and Aristotle (Introduction to Greek Philosophy), YouTube, https://youtu.be/Q7K59sHKCTM.


*Penulis adalah Mahasiswa Tingkat 2 Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo.


No comments:

Item Reviewed: Epistemologi; Perspektif Plato dan Aristoteles Rating: 5 Reviewed By: kmamesir