Friday, April 3, 2020

Kita Berharga, Kok!

Oleh: Ulinnuha Sa'dan*
Sumber foto: @everydaycairo

“Jangan bersedih, setiap kamu berharga, setiap kamu punya bakat.”
***

Banyak orang yang merasa gagal. Banyak keinginan yang belum tercapai. Untuk bangkit saja susah. Sehingga membuat orang takut mencoba karena kegagalan terus menimpanya. Kadang apa yang kita harapkan, apa yang kita perjuangkan, tidak sesuai dengan kenyataan. Ya, di situlah letak seninya hidup. Semua orang juga punya masa sulit, punya cerita perjuangannya masing-masing. Tergantung bagaimana cara menghadapinya saja.

Ketika merasa gagal, berarti ketika itu kita sedang berada di titik paling akhir, tidak ada jalan lain selain melangkah maju ke depan karena ini bukanlah akhir dari perjuangan melainkan awal dari sebuah kesuksesan. Banyak orang sukses yang awalnya gagal seperti Albert Einstein yang pernah gagal berkali-kali tapi berkat usaha dan kerja kerasnya ia dinobatkan sebagai ilmuwan fisika. Juga Bill Gates kegagalannya hingga bisa membuat Microsoft dan menjadi salah satu orang terkaya di dunia untuk saat ini. Dan masih banyak lainnya.

Hidup tidak selalu seperti jalan tol yang lurus dan mulus. Terkadang jalan juga berbelok dan berkelok. Begitu juga dengan kehidupan ini, tidak selamanya lancar tanpa tantangan. Hidup juga punya warna dengan lika-liku yang terjadi. Jatuh bangun hal biasa. Kalau jatuh bangkit lagi, kalau sudah memulai ya harus diakhiri. Impian yang telah dibangun jangan dibunuh tapi dihidupkan.

Setiap persoalan perlu jawaban dan untuk mendapatkan jawaban harus dibarengi dengan proses. Jadi, jangan takut untuk menghadapi proses. Karena baik buruknya proses akan menentukan hasilnya dan setiap hasil yang didapatkan akan menjadi pengalaman terbaik serta guru terbaik yang akan mengajarkan secara tidak langsung untuk tidak salah di persoalan yang sama.

Saya yakin banyak dari kita sering berbisik dalam hati, “Waah, dia hebat ya, aku ingin seperti dia, tapi apalah daya aku tak sepintar dan semampu dia". Kata-kata ini lah yang kerap membuat kita berjalan sebagaimana biasanya tanpa ingin mencoba hal baru. Padahal bukan tidak mampu tapi malas mencoba dan berusaha. Kita telah terpaku dengan ketidakbisaan sehingga membuat kita tidak maju. Diam membatu dan kaku. Maju segan mundur pun tak mau.


Allah telah menganugerahkan kepada kita berbagai macam bakat dan kemampuan. Setiap kita berbeda, mungkin antara kita dan dia berbeda kemampuannya. Paham-pahamilah kemampuan yang kita punya. Asahlah ia, jadilah diri sendiri. Percaya pada diri sendiri bahwa kita mampu. Bisa jadi keandalan yang kita miliki ternyata bertujuan untuk memperbaiki sesuatu, menambah warna dalam hidup orang lain, yang hingga kini kita belum menyadarinya. Jangan anggap apa pun bakat yang kita miliki itu sia-sia. Setiap kita berbeda, setiap kita berharga.

Ada orang yang belajarnya lewat mendengar, ada yang dengan membaca. Ada yang cepat tangkap dan hafalannya kuat. Ada yang mahir dalam berbicara dan menyampaikan, ada yang menyampaikan lewat tulisan. Setiap kita punya metode tersendiri. Jangan paksa orang lain untuk mengikuti metode kita. Pun sebaliknya, jangan paksa diri sendiri untuk mengikuti metode di luar batas kemampuan yang dimiliki. Kita juga tidak tahu apa yang disimpan masa depan untuk seseorang. Jadi jangan pernah meremehkan siapapun jua.

Sama halnya dengan keahlian, ada yang ahli di bidang seni, olahraga atau olahjiwa. Seni sendiri terbagi lagi seperti; ada seni dalam berbicara, seni tarik suara, seni tangan, seni tari-menari, dan seni lainnya, juga termasuk seni dalam menjalani kehidupan. Karena hidup juga butuh seni kan. Jadi, jangan bersedih, setiap kamu berharga, setiap kamu punya bakat!

Terkadang sadar atau tidak kita juga sering merendahkan diri dengan menyesali kekurangan, padahal kenyataannya ketika kita mencoba melihat ke dalam diri bahwa kita mendapati sesungguhnya tubuh yang kita anggap tidak beruntung ini juga memiliki kelebihan, bahkan itu sesuatu yang tidak orang miliki. Fokuslah pada apa yang disukai atau yang menjadi kelebihan dalam diri, dan buktikan bahwa kita bisa dengan apa yang kita punya dan bisa berhasil dengan cara kita sendiri.


Semua itu juga perlu dibarengi dengan iman dan ketaqwaan. Ikhlas dalam menjalani, serta niat yang benar. Seperti penggalan ayat suci Al-Quran yang berbunyi :

{ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّه أَتْقَاكُمْ } 

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Jika niat benar, semua hal akan benar. Misalkan ingin kaya dan berdoa supaya bisa kaya dan bisnis lancar, agar dapat bersedekah menolong fakir miskin, agar bisa berdakwah dengan harta yang kita punya. Bukan kaya agar hidup senang, makan enak, jalan-jalan ke mall, dan untuk berfoya-foya lainnya. Karena setiap kita juga akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang kita punya dan atas apa yang kita mampu. Bermanfaatkah kita buat yang lainnya. Kemampuan yang kita miliki sebaiknya digunakan pula di jalan yang benar. Jangan sampai disalah gunakan. 

Seorang sarjana pun tak selamanya sudah terjamin pekerjaannya, banyak juga didapati pengangguran. Sebab ia lebih mengutamakan ijazah dan gelar sedangkan ia tidak punya kemampuan atau bakat tersendiri. Atau banyak sarjana begitu bekerja ternyata tidak bisa apa-apa. Masuk kantor gagah, pulang-pulang gagap. Dunia berubah, dunia makin berkembang, tantangan pun bertambah. Dunia profesional menuntut begitu tinggi. Banyak sarjana tak pandai ilmu hidup, hanya ilmu silabus saja. Oleh karena itu, belajar dan belajar teruslah biar tetap bergairah. 

Ijazah dan gelar perlu agar apa yang kita punya diakui. Apa yang telah dipelajari bermanfaat. Namun, ia tak selalu menjadi segala-galanya. Maka berkaryalah, karna karya akan menciptakan sejarah. Ia akan dikenang sepanjang masa. Ya, tentu dengan bakat dan potensi yang ada.


*Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Syariah Islamiyah Universitas Al-Azhar, Kairo.


No comments:

Item Reviewed: Kita Berharga, Kok! Rating: 5 Reviewed By: kmamesir