Saturday, April 25, 2020

Membahas Kiamat, Apa yang Tidak Penting?

Oleh: Annas Muttaqin*
"Kullu nafsin dzaiqatul maut..." (Foto: @everydaycairo).


Kiamat merupakan salah satu janji Allah yang pasti benar akan terjadi. Dalam ranah akidah Islam pembahasan mengenai kiamat digolongkan ke dalam bab al ghaibiyyat (hal-hal ghaib) bersama hal-hal lain yang sama-sama tidak bisa dijangkau oleh akal pikiran manusia seperti syurga, neraka, dan segala apa yang berkaitan dengan alam kubur dan kematian. Artinya pembahasan ghaibiyyat ini merupakan pembahasan yang tidak akan mampu dijangkau oleh akal manusia namun dituntut untuk diyakini sebagai bentuk iman seorang muslim. Jika ada dari Muslim yang mengingkari adanya hari kiamat maka bukan tidak mungkin iman dari muslim tersebut dinilai cacat. 

Pembahasan ghaibiyyat juga merupakan pembahasan yang jalan pengetahuanya sangat terbatas yaitu hanya melalui ayat-ayat Al-Quran, hadis-hadis mutawatir. Jika kemudian ada orang yang menanyakan eksistensi hal-hal ini, maka kita tidak mungkin dapat membuktikannya sebelum kita bisa meyakinkan bahwa Tuhan itu Maha Esa dan Nabi Muhammd Saw. merupakan utusan terakhir-Nya. Oleh karena demikian dalam pembahasan akidah Islam, pembahasan ini diletakkan setelah dua pembahasan lain mengenai sifat-sifat Allah dan para nabi. 

Ibarat orang sakit yang patuh terhadap larangan dan anjuran yang dikatakan sang dokter. Ataupun masyarakat yang percaya bahwa akan terjadi gerhana pada waktu dan tempat tertentu setelah mendengar pengumuman dari ahli astronomi, atau bahkan ibarat penduduk kota yang sangat yakin dan percaya terhadap pengumuman dari perusahaan listrik bahwa listrik akan dipadamkan pada waktu dan tempat tertentu, begitulah ibarat yang dituliskan oleh As-Syahid Syekh Dr. Muhammad Sa’id Ramdhan al-Buthi dengan tinta emasnya pada kitab Al-Kubra Al-Yaqiyniyyat Al-Kauniyyah

Semua kepercayaan tersebut dibangun bukan lantaran kita sanggup menjangkau apa yang mereka katakan namun semata-mata karena kita yakin terhadap kemampuan yang mereka miliki, ditambah lagi informasi tersebut disampaikan langsung oleh mereka yang memiliki otoritas di bidangnya. Begitu pula kepercayaan yang dibangun terhadap hal-hal ghaib tersebut, semua itu bukan karena hal tersebut bisa dibuktikan eksistensinya saat ini, melainkan karena hal tersebut datang dan diberitakan oleh Sang Pencipta alam semesta melalui perantara Rasul-Nya. 

Dalam karya tersebut pula beliau mengingatkan kepada mereka yang suka mengandai-andaikan serta menalarkan hari kiamat. Beliau juga menjelaskan betapa Allah telah memberi peringatan tentang dahsyat dan hebatnya kondisi semesta pada hari kiamat hingga Allah Swt. dalam Al-Quran menggambarkannya dan memperingati hamba-Nya dengan lafadz dan uslub bahasa yang berbeda-beda. Sesekali Allah menyebutkan kiamat sambil mengandengkan dengan nama dan kebesaran-Nya. 

ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ لَيَجۡمَعَنَّكُمۡ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ لَا رَيۡبَ فِيهِۗ وَمَنۡ أَصۡدَقُ مِنَ ٱللَّهِ حَدِيثٗا  

"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan terjadinya. Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah." (Q.S. An-Nisa': 87) 

Pada Ayat lain Allah mengisahkan tentang tempat kembalinya mereka yang suka mendebat serta meragukan hari tersebut seraya menghilangkan keraguan yang terlintas dalam benak mereka dengan menampakkan keagungan dan kebesaran-Nya. 

وَيَقُولُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَءِذَا مَا مِتُّ لَسَوۡفَ أُخۡرَجُ حَيًّا . أَوَ لَا يَذۡكُرُ ٱلۡإِنسَٰنُ أَنَّا خَلَقۡنَٰهُ مِن قَبۡلُ وَلَمۡ يَكُ شَيۡ‍ٔٗا . فَوَرَبِّكَ لَنَحۡشُرَنَّهُمۡ وَٱلشَّيَٰطِينَ ثُمَّ لَنُحۡضِرَنَّهُمۡ حَوۡلَ جَهَنَّمَ جِثِيّٗا  

"Dan berkata manusia: "Betulkah apabila aku telah mati, bahwa aku sungguh-sungguh akan dibangkitkan menjadi hidup kembali? (66). Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali (67). Demi Tuhanmu, sesungguhnya akan Kami bangkitkan mereka bersama syaitan, kemudian akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahannam dengan berlutut (68)." (Q.S. Maryam: 66-68) 
@cesaref

Kadang-kadang Allah Swt. juga menggambarkan kedahsyatan dan kehebatan pada hari kiamat dengan berbagai hal yang belum pernah disaksikan seorangpun dari makhluk-Nya. Hingga akal dan nalar manusia tidak berhak dan tidak akan mungkin memiliki kapasitas dalam membayangkannya. 

يَوۡمَ نَطۡوِي ٱلسَّمَآءَ كَطَيِّ ٱلسِّجِلِّ لِلۡكُتُبِۚ كَمَا بَدَأۡنَآ أَوَّلَ خَلۡقٖ نُّعِيدُهُۥۚ وَعۡدًا عَلَيۡنَآۚ إِنَّا كُنَّا فَٰعِلِينَ  

"(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai panciptaan pertama begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati; sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya." (Q.S. Al-Anbiya': 104)

Dalam ayat lain Allah Swt. juga menyebutkan hari kiamat dan kebesaran-Nya sambil mengandengkannya dengan tahapan penciptaan manusia beserta fasenya yang penuh dengan pembelajaran ilmiah dan mengajak akal manusia untuk senantisa memperhatikannya dengan seksama. Seakan Allah swt. sedang memberi pembelajaran dan didikan bak seorang guru kepada muridnya. 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمۡ فِي رَيۡبٖ مِّنَ ٱلۡبَعۡثِ فَإِنَّا خَلَقۡنَٰكُم مِّن تُرَابٖ ثُمَّ مِن نُّطۡفَةٖ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٖ ثُمَّ مِن مُّضۡغَةٖ مُّخَلَّقَةٖ وَغَيۡرِ مُخَلَّقَةٖ لِّنُبَيِّنَ لَكُمۡۚ وَنُقِرُّ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمّٗى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلٗا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوٓاْ أَشُدَّكُمۡۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرۡذَلِ ٱلۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۢ بَعۡدِ عِلۡمٖ شَيۡ‍ٔٗاۚ وَتَرَى ٱلۡأَرۡضَ هَامِدَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَأَنۢبَتَتۡ مِن كُلِّ زَوۡجِۢ بَهِيجٖ ٥ ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّهُۥ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٦ ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّهُۥ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٦ وَأَنَّ ٱلسَّاعَةَ ءَاتِيَةٞ لَّا رَيۡبَ فِيهَا وَأَنَّ ٱللَّهَ يَبۡعَثُ مَن فِي ٱلۡقُبُورِ ٧ 

"Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah (5). Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (6). Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya; dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang di dalam kubur (7)." (Q.S. Al-Haj: 5-7) 

Dan juga pada banyak ayat lainnya Allah Swt. meggambarkan seakan menusia sudah menyaksikan kedahsyatan hari kiamat tersebut sampai mereka lalai di dunia dalam perandai-andaian yang mereka ciptakan tentang hari kiamat hingga Allah Swt. membangkitkan mereka dari kelalaiannya. Padahal tidaklah apa yang terlintas di benak mereka kecuali sesuatu yang mengundang keputus asaan yang amat sangat karena kedahsyatan dan kehebatan hari kiamat tersebut jauh lebih dahsyat dari apa yang terlintas dibenaknya. 

وَنُفِخَ فِي ٱلصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ ٱلۡأَجۡدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يَنسِلُونَ٥١ قَالُواْ يَٰوَيۡلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرۡقَدِنَاۜۗ هَٰذَا مَا وَعَدَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَصَدَقَ ٱلۡمُرۡسَلُونَ ٥٢ 

"Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka (51). Mereka berkata: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?". Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul-rasul(Nya) (52)." (Q.S. Yasiin: 51-52)

Kemudian setelah menyebutkan kebesaran hari kiamat dengan uslub bahasa yang berbeda, Allah Swt. menegaskan sekaligus menjelaskan sebagai peringatan bahwa hari kiamat tersebut akan benar-benar terjadi dan kehebatan dan kedahsyatan hari tersebut tidak akan mungkin mampu terlintas dibenak manusia sedikitpun. Bahkan kesungguhan dan usaha manusia dalam membayangkan dan menebak-nebak hari kiamat tersebut hanya akan membawanya pada rasa inkar terhadap kebesaran hari kiamat yang sesungguhnya. 

يَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلسَّاعَةِ أَيَّانَ مُرۡسَىٰهَا ٤٢ فِيمَ أَنتَ مِن ذِكۡرَىٰهَآ ٤٣ إِلَىٰ رَبِّكَ مُنتَهَىٰهَآ ٤٤ إِنَّمَآ أَنتَ مُنذِرُ مَن يَخۡشَىٰهَا ٤٥ 

"(Orang-orang kafir) bertanya kepadamu (Muhammad) tentang hari kebangkitan, kapankah terjadinya (42). Siapakah kamu (hingga) dapat menyebutkan (waktunya) (43). Kepada Tuhanmulah dikembalikan kesudahannya (ketentuan waktunya) (44). Kamu hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya (hari berbangkit) (45)." (Q.S. An-Nazi'at: 42-45) 

Semua uslub dan bahasa tersebut tidaklah akan terasa dahsyat dan hebat kecuali kita memandang dengan pandangan iman dalam Islam serta mata hati sebagai muslim. 

Berangkat dari hal tersebut maka pembahasan mengenai kiamat bisa berguna dan penting jika membahasnya sekedar sebagai bentuk peringatan kita untuk meningkatkan iman kepada Sang Pencipta. Namun sangat berlebihan dan sangat tidak penting jika ada yang membahas mengenai hari kiamat hingga mencocok-cocokkannya dengan berbagai kondisi alam seraya membawakan hadist-hadist yang belum tentu sampai dan cocok untuk menjadi pegangan terhadap ranah Al-Ghaibiyyat (hal-hal ghaib) bahkan tak jarang mengundang prasangka buruk dan kebencian terhadap segelintir kaum manusia. Padahal jelas-jelas berprasangka buruk dan mengundang kebencian dilarang dalam ajaran Islam. Tak jarang pula ada yang membahas hari kiamat tersebut hingga berani memprediksi dan menetapkan kapan akan terjadinya hari kiamat. Padahal sudah jelas-jelas ketetapan hari kiamat merupakan hak prerogatif Allah Swt. Sang Pencipta semesta. 

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa akal dan nalar manusia memiliki keterbatasan dalam membayangkan suatu hal. Nalar dan bayangan kita terhadap suatu hal selalu saja berkaitan dengan apa yang panca indra kita dapatkan. Misalnya, saat ada orang yang memerintahkan kita untuk membayangkan suatu hal yang belum pernah kita lihat sama sekali di dunia nyata. Katakanlah alien, hal yang sebahgian orang meyakini eksistensinya namun sangat jarang bahkan hampir tidak ada orang yang melihat langsung. 
Salah satu kuburan peninggalan Mesir kuno. (@mad_darsh)

Bayangan yang pertama yang terlintas di benak kita adalah bayangan yang pernah kita saksikan dan mengatasnamakannya alien atau bacaan deskritif (tentang penggambaran) yang pernah kita baca mengenai alien. Sebagian ada yang membayangkannya berkepala lonjong ke samping, berleher pendek, dengan mata lebar dan bertubuh kecil. Ada juga yang membayangkannya layaknya manusia namun memiliki rahang yang sempit lacip ke bawah dengan mata lebar dan dahi berkerut tanpa disertai rambut di kepala dan memiliki empat jari. Bahkan mungkin ada yang membayangkannya seperti layaknya dalam Bollywood India “Jadu” ataupun dalam film-film Hollywood Barat, atau bahkan seperti dalam film-film kartun. Intinya setiap kita tidak akan memiliki suatu bayangan yang konkrit dan sama terhadap alien seperti layaknya kita membayangkan seekor lalat atau sapi. Kita akan cenderung membayangkan apa yang sering panca indra kita dapatkan. 

Hal tersebut secara tidak langsung menunjukkan betapa akal dan nalar manusia sangat liar dan lemah. Kelemahan akal dan nalar manusia dibuktikan dengan bergantung penalaran kita pada panca indra. Liarnya akal manusia ditunjukkan dengan penalaran terhadap suatu hal yang belum pernah disaksiakannya dengan berbagai macam bayangan yang tentunya bukan bentuk nyata dari hal tersebut. Seperti yang dicontohkan di belakang dalam membayangkan rupa alien. Begitupun ketika ada orang yang berbicara mengenai hari kiamat serta hal-hal ghaib lainnya yang sama sekali belum pernah kita saksikan, kita akan cenderung mengekpektasikannya sesuai dengan apa yang kita lihat.

Padahal tidaklah hari kiamat tersebut melainkan jauh lebih dahsyat dan hebat dari apa yang kita bayangkan dan akal manusia dengan segala kelemahannya tak berhak menalarkan peristiwa yang maha dahsyat tersebut. Bahkan dengan membayangkan dan menalarkan kondisi pada hari kiamat tersebut bukan tidak mungkin dapat membawa kita mengundang rasa ingkar terhadap kedahsyatan dan kehebatan hari kiamat sesungguhnya dan juga bukan tidak mungkin membawa pada keingkaran terhadap Maha Besar dan Maha Hebatnya Allah Swt. Seperti yang dijelaskan pada ayat-ayat sebelumnya. 

Maka dari itu sebagai seorang muslim merupakan sebuah kewajiban kita untuk percaya pada hari kiamat dengan segala kedahsyatannya, sambil terus memperbanyak amalan baik dan ibadah kepada Sang Pencipta tanpa harus membayangkan apalagi sampai harus mencocoklogikannya dengan berbagai peristiwa alam yang belum tentu benar adanya dan memiliki keterkaitanya sama sekali. Waallahu a’la wa a’lam. 



*Penulis adalah Mahasiswa Tingkat 2 Fakultas Syariah Islamiyah Al-Azhar Kairo. 


No comments:

Item Reviewed: Membahas Kiamat, Apa yang Tidak Penting? Rating: 5 Reviewed By: kmamesir