Wednesday, April 29, 2020

Mengenal Identitas Diri Sebagai Kekuatan dalam Berbangsa

Oleh: Muhammad Zulfa*
Mesjid Raya Baiturrahman sekarang. (@wisataaceh).


Para ulama telah bersepakat bahwa "kaum yang tidak mempunyai huwiyah (jati diri) dia akan tenggelam oleh masa, dan berjalan dengan tubuh yang sama tapi ruh yang berbeda". Huwiyah adalah identitas yang seharusnya menjadi tolok ukur dalam bergaul, berbudaya, dan berislam tentunya.

Huwiyah itu berbeda-beda, huwiyah yang paling utama adalah huwiyah insaniyah, apa itu identitas manusia? Atau lebih akuratnya huwiyah insaniyah adalah huwiyah yang digaris bawahi dalam firman Allah Swt:

 وماخلقت الجن و الإنس إلا ليعبدون 
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat: 56).

Ubudiyahlah hakikat insan, dengan mengenal hakikat insaniyah manusia tahu apa yang patut dikerjakan di dunia ini dan menyiapkan bekal. Tema huwiyah insaniyah ini banyak diangkat oleh para dalam buku-bukunya, seperti Syekh Muhammad Ramadhan al-Buthi dalam banyak karyanya. Sebut saja Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Ahmad Thayyib dalam hiwarnya menyeru umat Islam untuk lebih mengenal identitasnya. 

Sebab utama kemunduran Islam bukan karena ekonomi yang pincang, politik yang karuan, tanah Islam yang dirampas, keilmuan yang merosot, budaya yang luntur, tidak! Bukan ini sebab utamanya, ini cuma cabang yang tumbuh dari satu akar, apa itu? الضياع الذات hilangnya identitas akar dari semua masalah, begitu kurang lebih kalimat yang sering diulang Syekh al-Buthi dalam beberapa bukunya.

Setelah huwiyah insaniyah ada satu huwiyah yang tidak kalah penting yaitu huwiyah ummat khassah (umat tertentu). Semua umat Islam di berbagai penjuru dunia mempunyai ciri khas masing-masing dalam berislamnya, sehingga budaya setempat menjadi sifat yang tidak bisa dipisahkan dari zat Islam. Huwiyah ini jika hidup dan berjalan akan muncul suatu kekuatan yang skalanya besar untuk Islam, sebagai contoh dalam huwiyah kedua ini lihat bagaimana Syekh Usamah al-Azhari mendongkrak huwiyah mishriyah dalam bukunya Syakhshiyyah Mishriyyah. 
Mesjid Raya Baiturrahman tempo dulu. (@wisataaceh).

Dalam buku itu Syekh Usamah menampilkan huwiyah mumayyizat, rakyat Mesir harus bangga dan mempertahankan huwiyah mishriyahnya. Bertujuan untuk mengembalikan percayaan diri rakyat Mesir dengan identitas mareka juga berupaya mengingat kembali sejarah megah yang mungkin di era post modern ini hampir tertimbun di bawah piramid.

Contoh kedua di Pakistan, bagaimana Muhammad Iqbal filsuf sekaligus panyair menulis satu puisi yang intinya membangkitkan gairah pemuda Arab agar bangga dengan huwiyah arabiyahnya. Karena waktu itu daya tarik kemajuan Eropa membuat pemuda Arab lupa dan malu dengan huwiyahnya, lebih mengagungkan budaya dan huwiyah Eropa. Melihat krisis tersebut, beliau mendongkrak semangat dengan tujuan mengembalikan huwiyah arabiyahnya.

Begitu juga bapak pembaharu Islam Syekh Hasan An-Nadwi berkebangsaan India mengikuti jejak Muhammad Iqbal dengan visi yang sama, membangkitkan jati diri islamiyyah. Dalam bukunya Rijal al-Fikri wa ad-Da'wah, beliau berorasi kental untuk meningkatkan semangat muslim dengan keislamannya. Kemudian disusul Syekh Ali Ath-Thanthawi ulama besar asal Suriah juga sastrawan Arab, mendorong kembali semangat cita-cita yang mulai rapuh dalam bukunya Ar-Rijal mina At-Tarikh. Juga masih banyak tokoh lain seperti Syekh Muhammad Abduh dan madrasahnya, dengan misi mengembalikan huwiyah arabiyah. Ini semua mareka lakukan dengan keyakinan bahwa "kemajuan satu umat sangat tergantung kepada huwiyahnya".

Nah huwiyah kita (Aceh dan Sumatera) apa? Apakah kita umat Islam yang baru lahir? Apakah kita bangsa yang lahir setelah Pancasila dilantunkan? Bukan saudaraku, kita mempunyai huwiyah yang tidak kalah keren dengan saudara kita di Arab. Mari kita kembali ke sejarah. Kita sudah sama-sama tahu bahwa di Islam Asia Tenggara berangkatnya dari Aceh, benarkah?

Pengaruh Islam Asia Tenggara jejak pertamanya dimulai dari dayah (pesantren) Aceh pesantren yang terletak di Langsa, bernama Dayah Cot Kala. Dayah Cot Kala adalah lembaga pendidikan Islam tertua di Asia Tenggara, di abad 9 M Dayah ini didirikan oleh Tgk. Chik Amin Cot Kala, sultan sekaligus ulama.

Beliau belajar kurang lebih 15 tahun di Universitas Baitul Hikmah Iraq yang saat itu universitas nomor satu dunia. Dayah Cot Kala itu mencapai puncaknya pada zaman Samudra Pasai.
Potret Lawas Orang Aceh dulu. 

Alumni Dayah ini banyak berpengaruh dalam penyebaran Islam khususnya di Asia Tenggara, setengah dari Wali Songo pun tercatat alumni Dayah Cot Kala. Selain alumni, guru besarnya juga sering diutus untuk misi pengislaman Nusantara, diantara yang paling terkenal adalah Syekh Jamaludin Kubra, Maulana Ishaq diutus untuk dakwah di Palembang, Jawa dan Sulawesi. Lalu ada Haji Mukidim mengemban misi yang sama ke Bengkulu, Imam Pasai ke Maluku, Syeh Abdul Ghaffar ke Papua, dan banyak alumni lainnya yang diutus ke tanah Batak hingga Melayu, semua itu jaringan Dayah Cot Kala.

Setelah Samudera Pasai tenggelam, lalu berganti dengan kerajaan Aceh Darussalam. Alumni Cot Kala lah yang membangun dan memajukan dakwah di Banda Aceh. Seperti Syekh Abdullah Kan'an atau lebih dikenal dengan Tgk. Syik Lam Peneueun bersama muridnya Sultan Ali Mughayat Syah juga alumni Cot Kala. Mareka berdua lah yang mengislamkan Lamuri, yang kemudian hari menjadi kota imperium Aceh Darussalam.

Mesjid Raya Baiturrahman menjadi pusat dakwah, saat itu dikenal dengan Jamiah Baiturahman dan sebagai universitas pertama di Asia Tenggara. Disana tidak hanya diajarkan ilmu agama tapi juga arsitektur, filsafat, kedokteran, militer, hingga pertanian.

Diantara guru besarnya ada Syekh Abdurrauf As-Singkily, guru dari Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, beliau ini tokoh penyebaran Islam ke tanah Sunda. Lalu Syekh Burhanuddin Ulakan ke tanah Minang, Baba Daud Fatany berpengaruh besar di Thailand dan Malaysia, beberapa tokoh besar Islam lain juga diutus dari jamiah ini. Tiga Datok dari Minang atas persetujuan Sultan Aceh diutus untuk mengislamkan Sulawesi dan Kalimantan. Mereka adalah Datok RI Bandang, Datuk RI Tiro, dan Datuk Patimang. Hampir seluruh tokoh dakwah Asia Tenggara punya kaitan erat dengan jaringan Dayah Cot Kala.

Inilah sejarah kita yang memberi gambaran huwiyah sebagai aswaja dengan ciri khas keislamannya. Kalau di Timur Tengah saudara kita bangga dengan Azhar di Mesir, Darul Hadist Asyrafiyah di Syam. Asia Tengah jaringan Nizamiyah, Asia Selatan punya jaringan Syah Waliyullah, Afrika jaringan Fez, maka kita punya jaringan Cot Kala.

Nah dari kisah singkat di atas dapat diketahui kita punya ikatan erat dengan Asia Tenggara khususnya Sumatera. Kesamaan budaya baik dari sama-sama baca Dalail Khairat, baca kitab jawi ala mubtada khabar (bahkan di Malaysia dan Thailand), pernikahan raja dengan wanita seperti Minang, Medan, Riau, dan lain-lain.

Alangkah baiknya huwiyah corak keislaman kita ini dibangkitkan sebagai corak yang berbeda tapi tidak bertentang. Jika saja huwiyah kita ini bangkit, maka dipastikan kita mempunyai kekuatan besar yang tidak kalah hebat dari kekuatan saudara kita di daerah lain. Haba dari kede kupi.


*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

No comments:

Item Reviewed: Mengenal Identitas Diri Sebagai Kekuatan dalam Berbangsa Rating: 5 Reviewed By: kmamesir