Tuesday, April 28, 2020

Sehat dan Waktu Luang

Oleh: Deffa Cahyana Harits*
@whysosyriasss


Pagi itu tak seperti biasanya. Aku harus buru-buru ke kampus. Ada hal penting yang harus aku selidiki tentang teman sebangku-ku. Sebut saja namanya Sausan. Tidak ada yang aneh sih dari kelakuan dia. Hanya saja aku cuma ingin tahu satu hal yang membuatku kagum dengan dirinya. 

Jam masih menunjukkan pukul 06.00 Clt. Tapi aku harus segera bersiap-siap ke kampus. Jarak dari rumahku ke kampus lumayan jauh. Jangankan ke kampus, ke terminal busnya saja bisa mencapai sepuluh menit kalau naik bajai. Tapi seringnya aku berjalan kaki, jadinya agak lebih lama lima menit. Totalnya lima belas menit lah kalau dihitung-hitung. 

Itu masih jarak dari rumah ke terminal bus. Kalau mau dihitung-hitung lagi dari terminal bus sampai ke kampus biasanya tiga puluh menit. Belum lagi jalan dari gerbang kampus ke ruanganku, kira-kira sejam-an lah jumlah keseluruhannya. Jadi teringat soal cerita matematika aja; ibu naik becak ke pasar. Ibu berangkat pukul 06.00 dan sampai pasar tepat pada pukul 07.00, kecepatan becak tersebut adalah 20 km/jam. Maka jarak pasar dari rumah adalah.. Km? Wkwk.. 

Parahnya kalau sampai ketiduran di bus, yang tadinya udah rapi-rapian, eh jadinya kusut sana kusut sini. Biasanya sih aku sempetin baca buku, Al-Quran, kadang juga chatingan. Tapi seringnya malah ketiduran. Hufft.. 

“Pokonya paling telat jam 8.00 Clt aku sudah harus sampai”, paksa batin-ku. 

Semester ini aku sering terlambat masuk ke kampus. Tapi temanku Sausan selalu setia menjaga tempat duduk untukku di sebelahnya. Tentunya di bagian depan. Aku tak pernah memintanya untuk itu. Aku baru mengenalnya ketika hari pertama masuk kuliah. Iya, kami duduk bersama di barisan depan saat itu. 

Semenjak SD aku memang suka duduk di depan, kalau tidak ya badmood pas belajar. Haha teringat pas kelas tiga SD aku bela-belain dari sekolah pulang ke rumah cuma untuk menyuruh ibuku ke sekolah buat jumpain guru. Pokoknya waktu itu, bagaimanapun caranya aku harus duduk di kursi nomer satu. Kalau tidak! nggak mau sekolah. Sejak itu teman-temanku mengalah dan mengikhlaskan kursi nomer satu untukku sampai kelas akhir SD. Egois? Ya iyalah orang masih budak kecik. Temen-temen SD-ku maafin ya! Hehe

Satu jam lagi, tepat pukul 09.00 Clt dosen akan masuk. Aku segera menuju ke ruangan dan untuk ke sekian kalinya ternyata,

“Ah, Sausan sudah duluan sampai. Jam berapa sih dia berangkat dari rumah. Cepet amat. Jangan-jangan abis subuh.” Oceh batinku. 
@tk.arch

Sausan melambaikan tangan ke arahku. Seperti biasa juga mengisyaratkan untuk duduk di sebelahnya. Aku gengsi untuk bertanya padanya kenapa selalu datang lebih cepat. Di sisi lain harusnya aku yang bertanya pada diri sendiri kenapa selalu datang lebih lambat. Misiku gagal. Pikirku, kalau aku yang duluan datang tentunya bisa bertanya padanya kenapa datang terlambat dari biasanya, otomatis dia juga akan bercerita kenapa dia juga datang lebih awal dariku dan teman-temanku yang lain. 

“Wa’alaikumussalam Abi, iya gapapa. Nanti siang biar Ummi aja ya yang jemput anak-anak ke sekolah...” Jawab Sausan pelan sambil menutup telponnya. 

Sontak aku terdiam sebentar. Aku kaget. Alis kanan dan kiriku berusaha bertemu tapi tetap nggak bisa. Ternyata Sausan sudah menikah? Udah punya Abi alias suami? Udah jadi Ummi-ummi? Anak-anak? Berarti lebih dari satu atau minimal dua. Hatiku bertanya-tanya. 

Sejenak Aku menghela napas. 

“Sausan, kamu sudah berkeluarga ya? Maksudku menikah..” Tanyaku untuk lebih memastikan. 

“Hmm Iya.” Balasnya singkat sambil tersenyum. 

“Jadi selama ini kamu harus mengurus rumah, suami, anak-anak sebelum ke kuliah bukan?” Tanyaku penasaran. 

“Hehe iya.. itu rutinitasku. Aku selalu berusaha untuk bisa menjadi istri yang terbaik untuk suamiku dan juga ibu yang baik untuk anak-anak. Setiap hari selepas shalat Tahajud biasanya aku lanjut memasak untuk sarapan pagi sekaligus siang. Abis itu bangunin keluarga untuk shalat Subuh. Mandiin anak-anak. Nyiapin perlengkapan suami kerja. Setelah semuanya beres baru aku siap-siap ke kampus,” jawabnya lembut seakan tak ada beban. 

“Maa syaa Allah...” Bisik batinku. Lagi-lagi aku gengsi memujinya. 

“Terus kok bisa secepat itu kamu sampai di kuliah, padahal hari ini aku berusaha secepat mungkin untuk sampai duluan dari kamu, San.” Lanjutku. 

“Anak-anakku harus sampai ke sekolah pukul 07.00 Clt. Dari situ aku langsung ke kampus. Jarak dari sekolah anak-anakku ke kampus lumayan dekat. Kira-kira Cuma lima belas menit. Jadi pukul 07.15. Clt aku sudah sampai di kampus.” Lanjutnya. 

“San, aku kagum San sama kamu,” ucapku melepas gengsi. 

Al-Ummu madrasatul ula. Ibu adalah sekolah pertama untuk anak-anaknya. Kalimat ini yang selalu kupegang. Aku nggak mau menjadi contoh buruk untuk anak-anakku. Aku juga nggak mau membuat kecewa suamiku yang sudah mencintaiku dengan segala kekuranganku. Dan Aku baru sadar setelah menjadi seorang ibu. Seharusnya di masa seperti kamu yang nantinya juga akan sepertiku juga harus benar-benar ingat nasehat Imam Al-Ghazali; nikmat sehat dan waktu luang. Selama kita masih merasakan keduanya jangan disia-siakan!”. 



*Penulis adalah Mahasiswi Tingkat 2 Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo.

No comments:

Item Reviewed: Sehat dan Waktu Luang Rating: 5 Reviewed By: kmamesir