Monday, April 20, 2020

Transportasi Umum dan Hak Perempuan di Dalamnya

Oleh: Ananda Putri Rahmi*
Seorang Ibu dan kedua anaknya dalam transportasi umum (@everydaycairo)
“Tega banget ya? Apa nggak kasian ngeliat kita berdiri begini?” 


“Nggak peka, seharusnya mereka mengalah untuk berdiri dan mengutamakan kaum hawa terlebih dahulu!” 

“Beda ya lelaki sekarang dengan dulu, sekarang kurang rasa peduli!” 

“Zaman berubah drastis, dulu ketika kita naik bus, mereka langsung mempersilakan duduk!” 

“Dulu untuk tingkat orang tua, baik itu kakek-kakek maupun nenek-nenek, mereka pasti mendapat tempat duduk. Nah, sekarang begitu jarang kita liat pemuda mengutamakan mereka untuk duduk.” 

Begitulah kira-kira yang dilontarkan sebagian perempuan sebagai ungkapan kekecewaan mereka terhadap sikap laki-laki sekarang terutama dari kalangan wafidin (warga negara asing). Bagaimana tidak, sudah menjadi hal lumrah pada zaman sekarang di mana perempuan lebih banyak yang berdiri saat naik bus ج24 atau 80 coret, bus yang menjadi langganan mahasiswa di Kairo, Mesir. 

Padahal mereka, baik dari kaum hawa maupun orang tua, sangat berharap untuk dapat duduk dan rasa peduli dari mereka terutama dari kalangan wafidin. Rasa kecewa ini juga disebabkan dengan perubahan zaman di mana dulu perempuan sangat diutamakan ketika naik angkutan umum dan bisa diperkirakan mereka akan dipersilahkan duduk. Dalam hal ini siapa yang patut disalahkan? Apa penyebab hal ini terjadi? Mengapa hal ini menjadi kekecewaan bagi perempuan? Bagaimana solusi yang tepat untuk permasalahan ini? 

Kehidupan di Mesir sudah dapat dipastikan berbeda dengan kehidupan di negara kita sendiri, sebut saja Indonesia. Banyak kalangan muda-mudi kita yang bersafar dari negerinya ke Mesir untuk menuntut ilmu agama. Di sini mereka kuliah dan memburu berbagai majelis talaqqi, bahkan ada yang sembari bekerja di math’am (restoran) untuk menambah biaya kehidupan atau sekedar ongkos transportasi.
Ada rambu bagi penumpang metro (@everydaycairo)

Nah, di Indonesia sendiri kita dapat melihat bahwa mayoritas mahasiswa sudah pasti memiliki kendaraan pribadi, baik itu mobil atau sepeda motor yang mereka gunakan sebagai alat transportasi ke kampus. Jarang sekali yang menggunakan kendaraan umum, paling hanya ketika pulang ke kampung halaman. Berbeda dengan di Mesir. Mahasiswa Indonesia termasuk mayoritas mahasiswa asing di Universitas Al-Azhar, mau kemana pun harus jalan kaki atau naik kendaraan umum. Kendaraan umum disini pun berbeda model, harga ongkos, serta jumlah penumpang yang ditampung. Penumpang yang berasal dari berbagai negara tampak sangat padat terlebih di siang hari. 

Biasanya untuk orang Asia, sudah langganan dengan bus 24ج (tujuan Sabi’-Darrasah) dan 80 coret (tujuan Asyir-Darrasah). Lumrah jika bus tersebut dipenuhi oleh wafidin. Tetapi perlu juga diketahui, banyak pengalaman, keluhan serta kekesalan yang dialami Masisirwati. Dulu sangat jarang kita melihat perempuan dan orang tua berdiri di bus, pastilah laki-laki berlomba-lomba mempersilakan mereka duduk, sedangkan mereka rela berdiri. Begitulah besarnya rasa empati dan peduli yang dimiliki kaum lelaki dulu. Berbeda sekarang di mana rasa sosial semakin berkurang. 

Banyak didapati bahwa perempuan merasa kecewa dengan sikap acuh tak acuh mereka. Berdasarkan pengalaman seseorang yang sudah lama tinggal di Mesir. Dulu ketika dia naik bus dan tidak mendapat tempat duduk, berbondong-bondong laki-laki mempersilahkan duduk orang tua, mulai dari kakek-nenek hingga anak kecil. Mereka mendapat perlakuan yang luar biasa. Terasa aneh dengan keadaan sekarang yang sudah sangat berubah, terutama bagi sebagian wafidin Asia. Karena rasa penasaran yang terus muncul, akhirnya penulis bertanya pada salah satu pemuda Asia mengenai hal ini. Maka jawaban mereka pun beragam. Ada yang beralasan malu menawarkannya, ada pula karena capek. Begitulah kira-kira yang terjadi. 

Menurut saya jika alasan mereka malu, maka benar saja zaman telah berubah dari rasa peduli menjadi acuh tak acuh. Jika karena malu mengapa laki-laki dulu tidak malu, rela-rela saja, dan berani menawarkan tempat duduknya. Jika alasan karena capek, masih dalam kategori bisa dimaklumi. Tapi apakah hampir di setiap waktu mereka capek? Apakah setiap lelaki semuanya capek dengan hal dan keadaan yang sama? Apa bedanya dengan masa dahulu? 

Coba pikirkan. Perempuan itu lebih lemah dari laki-laki. Jika enggan memberi tempat duduk bagi perempuan yang muda, yang kelihatannya masih sehat, berilah tempat duduk untuk orang tua, ibu hamil, dan ibu yang membawa anak. Namun seperti kejadian di lapangan, malah perempuan yang lebih peka untuk memberikan tempat duduk. 

Berdasarkan hasil pengalaman seorang perempuan, pernah suatu ketika ia melihat tidak ada seorang Masisir (dari laki-laki) yang memberikan tempat duduk untuk orang tua yang baru saja naik bus. Dengan cegat perempuan tersebut menawarkan tempat duduknya untuk diduduki. Di saat itu pula berdirilah seorang lelaki yang di sebelahnya menawarkan tempat duduknya saja untuk orang tua tersebut. Di sini timbul pertanyaan apakah harus perempuan terlebih dulu bereaksi dalam hal ini barulah mereka peka? Apakah harus perempuan dulu meminta dan memohon pada lelaki baru lah mereka mau menawarkan tempat duduknya? 
Seorang Ibu sedang berdiri menggendong anaknya dalam bus 80 coret. (Dok. Pribadi) 

Seperti yang kita ketahui bahwa supir di Mesir saat mengendarai bus sangat tak karuan, badan pun mudah terombang-ambing kesana-kemari, hingga mereka yang berdiri bisa jatuh. Apalagi bagi perempuan yang seharusnya terjaga dengan baik aurat mereka, tetapi malah terombang-ambing dan tersentuh lelaki yang bukan mahramnya. Hal itu juga menjadi kesempatan bagi lelaki jahat, sehingga terjadilah pelecehan seksual. Begitu juga bagi orang tua seperti kakek-nenek, wanita hamil, wanita yang membawa anak, mereka pun tidak sanggup jikalau harus berdiri lama. Dengan daya kekuatan yang semakin lemah, sakit-sakitan, dan bawaan barang yang banyak. 

Memang jika ditinjau dari Hak Asasi Manusia (HAM), setiap individu memiliki hak dalam hal ini yaitu hak memperoleh tempat duduk karena sudah membayar, karena siapa cepat maka dia lah yang dapat. Tetapi ketahuilah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mencontohkan teladan kepada kita bahwa adab dan akhlak lah yang paling utama. Memuliakan kaum hawa dan orang tua. Bukankah peduli terhadap sekitar, mendahulukan yang lemah itu lebih utama dan termasuk akhlaqul karimah

Oleh karena itu, diharapkan untuk Masisir (laki-laki) agar lebih meningkatkan kesadaran dan kerelaan hati untuk memberikan tempat duduk bagi perempuan dan orang tua, jika memang kita masih punya hati dan rasa simpati. Tunjukkanlah pada mereka adab thaalibul ‘ilmi seperti adanya rasa peduli dan bersikap ramah dengan menawarkan tempat duduk untuk mereka. Adapun penulis tidak menafikan ada banyak Masisir di luar sana yang bermurah hati. Ini beranjak dari segelintir pengalaman pahit beberapa Masisirwati, semoga tulisan ini mampunya menyadarkan kita semua untuk saling peduli pada sesama.


*Penulis adalah Mahasiswi tingkat 1 Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo

No comments:

Item Reviewed: Transportasi Umum dan Hak Perempuan di Dalamnya Rating: 5 Reviewed By: kmamesir