Monday, July 13, 2020

Depresi, Jauh dari Tuhankah?


Oleh: Nada Thursina Marzuki*
 *pemenang juara 2 lomba opini 

@nadathursina

Akhir tahun 2019 lalu, dunia perfilman dunia sontak dihebohkan dengan rilisnya sebuah film yang mengusung tema penyakit kejiwaan atau yang lebih kita kenal saat ini dengan ‘mental ilness’. Arthur Fleck yang kemudian bertransformasi menjadi Joker merupakan representasi yang sangat dekat -walau tak sepenuhnya relevan- dengan realita kehidupan manusia saat ini. 

Sang sutradara Todd Phillips, menggambarkan Arthur dalam film ini sebagai seorang yang mempunyai permasalahan yang sangat kompleks dalam hidupnya. Ia hidup miskin di sebuah apartemen kumuh sambil mengurusi ibunya yang sudah lansia. Ia kemudian dipecat dari satu-satunya pekerjaan tempat ia menggantungkan hidup karena ulah rekan kerjanya sendiri. Tak tanggung-tanggung ia kerap mendapat bully-an atas Pseudobulbar Affect yang ia derita -sebuah kondisi kelainan pada saraf yang menyebabkan seseorang tertawa tanpa sebab atau ketika dirinya sedang sedih, gugup, atau ketakutan- yang ia derita. Ia kerap berdelusi dan berhalusinasi. Lebih dari itu pada bagian akhir-akhir cerita, Arthur dipaksa menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang anak adopsi yang mendapat kekerasan dari seorang ibu angkat yang juga memiliki penyakit kejiwaan. 

Berangkat dari renungan rentetan miris akan kejadian hidup yang dialami Joker, kita sebagai manusia biasa tentu juga mengalami banyak problematika dalam hidup yang sama sekali tak bisa kita pungkiri kedatangannya. Dan tanpa kita sadari, bisa saja mental illness itu juga terjadi pada diri kita sendiri, lingkungan tempat kita tinggal atau orang-orang terdekat dan terkasih tanpa kita sadari polanya. 

Secara penyebab, mental illness bisa saja terjadi karena banyak faktor. Bisa karena stres, depresi, mengalami pressure dari orang tua, society, tingginya espektasi, kurangnya kasih sayang, dll. 

Maka dapat kita simpulkan bahwa mental illness merupakan kumpulan penyakit gangguan kejiwaan yang mempengaruhi pikiran, perasaan dan perilaku. Gangguan kepribadian ini membuat penderita sangat sulit untuk mengetahui perilaku yang dianggap normal atau tidak. Bahkan dalam kasus Arthur Fleck dalam film Joker, ia sampai merasa bahwa dirinya tidak nyata. 

Sama seperti penyakit fisik yang berbeda-beda jenis dan tingkat keparahannya, gangguan kejiwaan pun memiliki banyak jenis. Di sini, saya sama sekali tidak akan menjelaskan panjang lebar secara spesifik mengenai macam-macam gangguan mental secara medis dengan berbagai istilah ilmiahnya. Karena lagi, saya bukan seorang yang ahli dalam bidang ini. Tulisan yang saya tuangkan dalam opini ini murni hanyalah berdasarkan pengalaman, beberapa bacaan; baik jurnal maupun buku, dan tentu film-film yang pernah ditonton. 

Yang perlu kita ketahui, bahwa genjala mental illness sendiri sangatlah beragam, dan itu semua tergantung dari jenis gangguan mental yang diderita. Pada umumnya, gejala yang terjadi bisa menyerang fisik maupun kondisi psikologis yang tentunya sangat berpengaruh pada emosi dan pikiran. Diantara hal-hal menonjol yang kerap dialami para penderita mental illness adalah sering sedih, sulit bahagia, susah berkonsentrasi, mood sering naik-turun, menghindar dari teman dan aktivitas yang disuka, cepat merasa lelah, dan tidur tidak nyenyak. Dan pada kasus terparahnya, para pengidap gangguan kejiwaan bisa saja bunuh diri, atau bunuh orang lain seperti Joker. 

Saya ingat bahwa dalam salah satu sampel depresi yang paling ringan saja seperti Pospartum Depression atau yang lebih dikenal masyarakat dengan baby blues, Nirina Zubir dalam film ‘Get Married 3’ sempat mencelakakan anaknya sendiri dengan menggantung sang bayi di tali jemuran. Pospartum Depression merupakan sebuah gangguan mental yang rentan menyerang seorang Ibu pasca melahirkan. Hal ini disebabkan oleh mood swing yang dirasakan oleh sang Ibu yang dituntut untuk dapat survive menghadapi sang bayi pasca melahirkan. 

Menurut survey Global Health Data Exchange tahun 2017 menunjukkan, setidaknya ada 27,3 juta orang di Indonesia mengalami masalah kejiwaan. Hal ini menunjukkan satu dari sepuluh orang di Negara Indonesia mengidap gangguan kejiwaan. Dan di Asia Tenggara sendiri, Indonesia menjadi Negara yang menduduki jumlah tertinggi pengidap gangguan kejiwaan. Dan faktanya, di Asia Tenggara, penyakit jiwa merupakan penyebab kematian terbesar ke dua setelah penyakit jantung (sebelum wabah COVID-19 menyerang dunia). 

Beberapa waktu lalu dalam rangka memperingati hari kesehatan mental dunia akun Instagram @apdcindonesia sempat memposting sebuah statement yang cukup saya setujui benar adanya terjadi di dunia nyata. Ketika seseorang telah di-diagnose mengalami symptom gangguan mental maka bagian tersulitnya adalah ketika harus menerima espektasi lingkungan sekitar bahwa mereka diminta untuk bersikap “seolah-olah” mereka tidak mengalami hal tersebut, dan hal ini tentu sangatlah berat. 

Contoh kecilnya saja, kerongkongan kamu sedang gatal tapi kamu dilarang keras untuk batuk, kamu sedang flu tapi kamu tidak diperbolehkan untuk bersin. Coba bayangkan bagaimana tersiksanya? Nah, hal ini juga sama persis seperti yang dialami teman-teman yang mengalami symptom depresi atau gangguan kejiwaan. 

Suatu ketika saya pernah mendengar cerita dari seorang Ibu saat mengantri obat di sebuah Apotek Rumah Sakit ternama di Banda Aceh. Kepada saya, Ia mengaku sangat malu terhadap keluarga dan rekan kerjanya karena memiliki seorang anak yang memiliki gangguan kejiwaan. Sebagai remaja usia 16 tahun, edukasi saya tentang penyakit kejiwaan saat itu masih sangat minim. Saya sadar, alih-alih mencoba meluruskan persepsi si Ibu, saya hanya merespon secara pasif-impulsif seadanya, dan memilih untuk bersikap sebagai pendengar yang “baik” saja. Namun satu hal yang saya tahu, sebagai manusia yang dianugerahkan Tuhan sifat perasa sejak lahir, ketika mendengar cerita si Ibu, saya merasa sangat broken hearted. Perasaan saya saat itu miris; bukan atas penyakit yang menimpa si anak, namun atas sikap si Ibu yang tidak bisa menerima keadaan anaknya dan takdir Tuhan. 

Sebenarnya tanpa kita sadari, ini merupakan salah satu dampak yang mengarah pada upaya bunuh diri dari si penderita. Dan memang seperti itu adanya, bahwa mereka sangat butuh suatu penerimaan terhadap label gangguan mental yang mereka hadapi.
@toddphillips1
 
Contoh paling populer yang terjadi pada akhir tahun 2019 lalu adalah seperti apa yang terjadi pada aktris Korea Selatan, Choi Jin-ri atau yang lebih dikenal dengan panggilan Sulli. Pada 14 Oktober 2019 lalu, ia ditemukan gantung diri di sebuah apartemen pribadi miliknya. Penyebab utama gantung diri yang dilakukan oleh salah satu Pemain Film Hotel Del Luna ini, diduga karena mengalami depresi atas perisakan dunia maya yang ia hadapi. Meski Sulli secara blak-blakan telah mengakui akan penyakitnya tersebut, namun komentar netizen tidak sedikit yang masih menjelek-jelekkan Sulli. Bahkan setelah kematiannya, Sulli masih saja dihujat, dan dikata-katai jauh dari Tuhan. 

Budayakanlah banyak membaca wahai para netizen yang dirahmati Allah. Gangguan jiwa terjadi bukan karena kurang iman. Pemahaman masyarakat (Indonesia) khususnya, masih sangat minim akan kesehatan mental. Karena minimnya pengetahuan inilah yang kemudian hal-hal seperti yang dialami Sulli bisa terjadi pada siapapun tak terkecuali orang yang berada di sekitar kita. 

Saya juga sering mendengar statement bahwa, “Jika kamu seorang Muslim dan kamu menderita depresi, it means you don’t have enough faith and your relationship with God is not strong enough.” Tapi sebenarnya yang harus terlebih dahulu kita pahami adalah menjadi seorang depresi itu, normal. Dan depresi bisa terjadi ke siapa saja tanpa pandang bulu; baik tua, muda bahkan orang yang religius sekalipun. 

Saya percaya bahwa seseorang punya alasan yang begitu banyak ketika pada akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Ketika mendengar seseorang bunuh diri, maka pertanyaan pertama yang akan muncul di otak saya adalah, sebagaimana beratnya ya kira-kira beban si doi sampai akhirnya ia memutuskan untuk bunuh diri? 

Karena secara alamiah, sebelum seseorang bunuh diri, setidaknya ia pasti akan memunculkan beberapa pernyataan dan pertanyaan di dalam otaknya –loncat dari atas gedung ini pasti rasanya sakit, nanti kalau sudah mati enggak akan bisa hidup lagi, nanti masuk surga atau neraka ya? Dengar ceramah ustadz ini, katanya yang bunuh diri itu enggak punya iman— dan banyak lagi. 

Coba kita bayangkan, effort kita untuk bunuh diri saja sudah pasti akan sakit, ditambah lagi kita tidak tahu pasti kemungkinan apa yang terjadi setelah percobaan bunuh diri tersebut kita lakukan. Lagipun, kita kan tidak pernah punya honest review atau video tutorial dari orang yang sudah meninggal tentang ‘How feels like to die’ di YouTube. Dan anehnya, orang yang berkeinginan keras untuk bunuh diri sama sekali tidak peduli lagi akan hal itu. Masalah hidupnya yang berat telah benar-benar membuatnya mati rasa dan masa bodo atas apapun. 

Lalu bagaimana kira-kira sikap kita, jika suatu saat nanti kita akan benar-benar menghadapi orang-orang depresi ini di ruang lingkup kita atau mungkin bisa saja terjadi pada diri kita pribadi? 

Pertama, terima mereka apa adanya dan dengarkan keluh kesah mereka. Sarankan mereka untuk berobat ke Psikolog. Karena kesulitan terberat adalah ketika diminta untuk fit oleh lingkungan sekitar tapi sama sekali tidak dibantu dan diberi pertolongan. Lalu ketika bunuh diri, kita hujat mereka kurang iman. Benar adanya bahwa spiritual memang menjadi salah satu dukungan untuk meningkatkan kesehatan mental. 

Namun terlepas dari itu semua, seorang yang mengalami gangguan mental memang butuh penanganan secara khusus. Dan kita harus meyakinkan mereka, bahwa ke Psikiater untuk berobat itu bukan sebuah aib dan dosa besar! 

Kita tetap shalat, tetap berdoa dan yang punya hati tetap Tuhan. Tapi kita juga tetap butuh penanganan langsung dari ahlinya untuk menyambung sinapsis-sinapsis di dalam kepala yang harus disambungan dengan minum obat secara rutin. Dengan demikian, jika spiritual diselaraskan dengan pengobatan secara rutin, kita berharap si penderita dapat lebih mudah untuk disembuhkan. 

Selain menerima, apalagi respon yang harus kita lakukan? 

Ke dua, Berilah respon positif saat mereka berkeluh kesah kepada anda. Yang sering terjadi di kehidupan nyata adalah kita kerap kali meremehkan keluh kesah seorang terhadap kita, bahkan tidak jarang kita merespon mereka dengan nada satire, “Ah itu aja baper, ah bucin lo, baru itu aja cengeng, dll". Honestly, kata-kata nasehat sotoy dari kita adalah hal yang sebenarnya paling tidak ingin didengar oleh si penderita. 

Karena, setiap hal negatif terjadi dalam hidup kita, itu merupakan given sources dari Tuhan yang sama sekali tidak bisa kita kendalikan kedatangannya. Mau kita sekaya apapun, seberkuasa apapun, seganteng apapun, yang namanya musibah tetap sebuah pemberian yang sama sekali tidak bisa kita utak-atik kedatangannya. 

Maka perasaan negatif itu akan otomatis ada ketika seseorang mengalami kejadian negatif. Sehingga, dapat kita gambarkan bahwa perasaan kita saat ini, dipengaruhi oleh kejadian yang kita alami sebelummya. Jika perasaan kita sebelumnya negatif maka perasaan kita ke depan juga pasti akan negatif, begitupun sebaliknya. Itu alamiah dan mutlak hukumya. 

Namun berbeda dengan aksi (sikap). Walau kita tidak bisa memilih perasaan apa yang terjadi setelah kita mendapat kejadian negatif, namun kita bisa memilih sikap apa yang akan kita lakukan untuk menghadapi perasaan negatif tersebut. 

Maka sejujurnya saya kurang setuju dengan quote viralnya Joker di status-status medsos yang mengatakan bahwa, “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti” karena sesungguhnya, orang baik yang tersakiti itu tidak akan menjadi jahat apabila ia dapat mengelola kondisi dirinya dengan baik, termasuk mencegah depresi yang menjadikannya akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. 
@everydaycairo

Sebagai manusia yang memiliki akal pikiran dan memiliki hak istimewa sepenuhnya atas diri dan tindakan yang dilakukan, kita tentu dapat mengubah perasaan negatif menjadi perbuatan yang positif. Kita tahu, banyak orang jika sedang dirundung permasalahan hidup mereka akan memilih untuk berdiam diri di dalam kamar, tidak bekerja, tidak produktif, menangis berhari-hari sampai-sampai tak mau makan; berlarut-larut dan akhirnya jatuh sakit. 

Tanpa kita sadari, hal negatif yang tadinya hanya sebatas ada di dalam perasaan, kini telah berwujud dan nyata; berkontemplasi dalam tindakan kita yang sia-sia. Secara enggak langsung hal negatifnya bertambah dong? Iya. Kita semakin merasa terpuruk, dan tak berdaya. Dan perasaan tidak berdaya inilah yang akhirnya membuat kita semakin sakit. Kita akan semakin menarik diri dari lingkungan sosial, sampai akhirnya kita benar-benar tidak punya teman dan selalu merasa kesepian. 

Nah di tahap inilah, para penderita depresi akhirnya banyak yang memilih untuk mengakhiri hidup. Sejujurnya, ini seperti semacam circle depresi yang sebenarnya sangat bisa kita patahkan lingkarannya dengan mengubah action kita. 

We don’t have to be okey to do something okey, tidak mengapa jika perasaan kamu sedang negatif, namun action kamu bisa positif kok! Karena pilihan kita adalah hak kita. Maka berbaik hatilah di masa-masa sulit yang kita hadapi. Ingatlah pada Tuhan yang dengan Rahman Rahim-Nya kita masih bisa bernapas sampai detik ini, ingat orang tua yang telah membesarkan kita, ingat pula kembali purpose dan hope kita dalam menjalani hidup ke depan. 

The last but not least, untuk siapapun di luar sana yang tengah membaca tulisan ini dan kalian merasa punya permasalahan hidup apapun itu. Baik masalah keluarga, ekonomi, pendidikan, relationship, dll. Mungkin ini akan terdengar agak klise, tapi ketika kamu memang merasa punya masalah, tolong bicara dengan seseorang. Mungkin untuk sebagian orang ini tidak akan membantu, namun at list kamu bisa mengeluarkan isi hati yang kamu punya. 

Yang perlu kita tahu, bahwa semua orang di dunia ini punya masalah dan punya ketakutannya masing-masing. Apalagi saat ini zamannya media sosial. Dan salah satu efek negatif dari medsos adalah, kita dapat sebisa mungkin memfilter hidup pribadi kita. Yang baik-baik semuanya kita up agar bisa dijadikan citra. Kita jarang -bahkan tidak sama sekali- menampakkan sisi negatif dari diri kita sendiri. 

Namun yang tetap harus kita imani adalah, kamu bukan satu-satunya orang yang punya masalah di seluruh jagat raya ini, hanya saja semua orang pintar memalsukan hal tersebut sehingga sama sekali tak terlihat. We all lie my dear! 

Yang harus terus kamu ingat adalah, cara orang lain memperlakukan kamu sama sekali tidak menentukan nilaimu. Apa yang terjadi padamu di masa lalu sama sekali tidak menentukan nilaimu. Kegagalan yang terjadi padamu di masa lalu sama sekali tidak menentukan nilaimu. Apa yang orang lain pikirkan terhadapmu sama sekali tidak menentukan nilaimu. Setiap inci berlebih yang ada pada lingkar pinggangmu sama sekali tidak menentukan nilaimu. It might be hard to see this but, kamu adalah manusia yang berharga dan tak ternilai harganya, maka syukurilah apapun!



*Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar, Kairo. 

No comments:

Item Reviewed: Depresi, Jauh dari Tuhankah? Rating: 5 Reviewed By: kmamesir