Monday, July 13, 2020

Ketagihan Teori Konspirasi, Bisa-Bisa Manusia Punah di Panggung Komedi



Oleh: Haris Akbar Zahari*
*pemenang juara 3 lomba opini
@haris_znr

Neil Amstrong tidak pernah mendarat di bulan. Michael Jackson hanya memalsukan kematian. Bumi itu bulat atau datar, sih? Penyiraman air keras pada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi Novel Baswedan beneran, gak? Alien pernah bertamu ke bumi. 

Daftar di atas adalah beberapa teori konspirasi yang sudah populer di dunia. Ada yang percaya, dan tentu juga banyak yang menolak. Wikipedia mengartikan konspirasi sebagai teori yang menjelaskan penyebab tertinggi suatu peristiwa bersifat rahasia dan direncanakan diam-diam oleh kelompok rahasia. Upaya untuk menyampaikan konspirasi tersebut disebut teori konspirasi. 

Teori konspirasi sama tuanya dengan waktu, selalu beriringan dan berkembang. Hebatnya lagi, teori ini bisa menyesuaikan diri dengan masa-masa tertentu, dan bertahan selama bertahun-tahun atau bahkan tidak akan hilang. Dan yang paling unik, otak manusia semakin hari semakin mudah menerima berbagai informasi tanpa bukti dan fakta yang jelas, padahal banyak sarjana dan master yang sudah lahir di bumi. 

Teori konspirasi yang paling segar saat ini adalah perihal penyebaran virus Corona atau COVID-19. Lini masa media sosial Indonesia, bahkan dunia, sedang gemar-gemarnya mempublikasikan teori-teori konspirasi terkait COVID-19. Sifat manusia yang penasaran tentu saja sangat tertarik untuk membaca berita-berita seperti ini. 

Terhitung mulai dari awal tahun 2020, teori konspirasi ini mencuat ke berbagai media. Baru-baru ini, tepatnya 19 April lalu, Deddy Corbuzier menggugah sebuah video ke akun YouTube miliknya. Deddy mengajak diskusi rapper Young Lex yang terkenal sebagai penggemar teori konspirasi. Video yang berdurasi 1 jam 8 menit itu berjudul, “Corona Hanya Sebuah Kebohongan Konspirasi!?” itu memunculkan banyak sekali teori konspirasi terkait virus Corona. 

Salah satu klaim di video itu menyatakan bahwa satu dari tiga penduduk di bumi terkena kanker, kenapa beritanya tidak dibesar-besarkan seperti kasus Corona? Tentu saja perbandingan ini tidak cocok karena kanker merupakan pertumbuhan sel abnormal di dalam tubuh, dan sel kanker tidak menular. Selain itu, COVID-19 adalah pandemi yang secara resmi diumumkan oleh WHO sejak 11 Maret 2020. Perbandingan ini tidak sebanding dikarenakan kanker bukan wabah. Deddy bahkan mengklaim pemerintah sengaja menaik-turunkan jumlah kasus virus ini. 

Seperti beberapa orang, Jerinx yang lagi viral karena teori konspirasinya berpendapat seperti, “Pertahun, jutaan manusia meninggal akibat kelaparan di seluruh dunia. Itu fakta. Kenapa tidak menjadi pandemi? Karena kelaparan tidak membunuh orang kaya!” 

Lagi-lagi, dalam konteks ini, perbandingan tersebut keliru. Kelaparan bukan penyakit menular, walaupun memang banyak yang meninggal. Kelaparan itu masalah besar juga, tetapi memiliki solusi. Pemecahan masalah seperti ini bisa kita rumuskan dengan kebijakan-kebijakan sosial yang bisa menstabilkan keadaan ekonomi dan sosial masyarakat. Selain itu, virus Corona juga belum sepenuhnya bisa dikenali. 

Di berita internasional, teori konspirasi lain muncul dengan klaim bahwa akar permasalahan penyakit ini ada di Base Transceiver Station (BTS) 5G yang menyebarkan virus ini. Akibatnya, di Inggris, total ada 77 BTS rusak karena dibakar sejak serangan yang berlangsung pada awal April. Di Belanda juga begitu, sekelompok orang membakar beberapa BTS. Tentu saja para pekerja di sana kena getahnya. 

Sebagai tindakan, World Health Organization (WHO) menyatakan di halaman resminya bahwa jaringan 5G tidak menyebabkan COVID-19. 

Teori konspirasi juga tidak segan-segan menempatkan pendiri Microsoft Bill Gates sebagai orang yang bertanggung jawab dengan virus Corona yang menjadi pandemi dan sudah menjatuhkan ribuan korban jiwa. 

@everydaycairo

Pada tahun 2015, Bill Gates pernah berpidato di depan publik dengan judul, “Wabah berikutnya? Kami belum siap”. Dia mengambil wabah Ebola sebagai contoh penyakit yang menewaskan ribuan orang di Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Bill Gates juga memperingatkan potensi pandemi di seluruh dunia yang jauh lebih besar. Nah, demi mengutip pernyataan-pernyataan Bill Gates beberapa tahun lalu dan menyoroti sumbangan Yayasan Gates sebesar US$250 juta untuk memerangi COVID-19, para tokoh teori konspirasi pun mengklaim Gates sebagai biang keladi di balik pandemi ini. 

Masih banyak teori konspirasi yang diseru-serukan saat ini, terutama mengenai virus Corona. Beberapa pihak menuduh Amerika sebagai aktor intelektual yang berkerja menyebar penyakit ini, namun faktanya, malah Amerika yang menjadi negara dengan kasus paling banyak. Di AS, tuduhan lain muncul mengatakan bahwa Corona adalah senjata biologi yang disokong oleh China. 

Teori konspirasi menyebar lebih cepat dari virus itu sendiri. Dan di saat sedang masa sulit dan susah seperti ini, menjadi momen yang sangat bagus untuk menyebarkan berita-berita bohong, konspirasi yang tidak mempunyai fakta apa pun. Masyarakat yang sedang panik dan takut tidak mau berpikir panjang dan langsung menerima informasi. Mereka lebih menerima omong kosong seperti ini dikarenakan sulitnya memahami kondisi yang sedang kita hadapi. 

Ada yang bilang penyakit ini ditimbulkan oleh lalat, COVID-19 bisa disembuhkan dengan cairan pemutih, virus tidak akan menyebar ke daerah yang suhunya di atas 25 derajat dan berbagai pendapat sok tahu lainnya. WHO pun merilis sebuah halaman nasihat kepada publik di situs resminya dengan judul “Myth Busters”. 

Di era serba modern ini, semua narasi pihak mana pun bisa dilihat publik dengan mudah. Apalagi jika yang berargumen adalah seorang tokoh publik yang memiliki banyak “umat” di sosial media. 

Berbagai teori konspirasi lain akan muncul beberapa waktu ke depan. Lucu dan omong kosong memang, tetapi karena kondisi pandemi yang tidak stabil seperti sekarang, membuat manusia tidak pikir panjang. Bisa saja nanti akan muncul konspirasi seperti, “Manchester United adalah dalang di balik COVID-19 sebagai upaya untuk menggagalkan Liverpool juara liga Inggris”, “Ini pasti ulah orang jomlo Indonesia agar pernikahan Jessica Iskandar tertunda”, atau “Presiden Real Madrid-lah yang melakukan ini semua demi menunggu kepulihan Eden Hazard untuk bertanding di leg kedua melawan Manchester City”. 

Teori konspirasi sering kali hanya menjadi narasi semata, tanpa fakta dan data yang akurat. Kondisi umat manusia yang mudah menerima informasi membuat jalur penyebaran hoaks ini merembes ke mana-mana. 


Bahaya Teori Konspirasi 

Penyebaran teori konspirasi memiliki risiko yang sangat besar dan harus dibayar dengan harga mahal. Kalau masyarakat sudah mengonsumsi teori ini, maka bahaya yang ditimbulkan akan cukup tragis. 

Di abad ke-14, penyebaran teori konspirasi medis tersebar ke khalayak ramai selama Wabah Hitam atau Black Death. Saat itu, orang-orang Yahudi dijadikan kambing hitam pandemi. Teori ini kemudian menyebabkan serangan kekerasan dan pembantaian komunitas yahudi di seluruh Eropa. 

Saat kasus Pizzagate, teori konspirasi ini membuat sebagian orang panik dan merasa tidak aman dikarenakan banyak rumor yang muncul tentang politikus yang diduga melakukan kekerasan seksesual terhadap anak di bawah umur. Setelah rumor merebak, restoran pizza Comet Ping Pong dianggap menyediakan anak kecil untuk menjadi mangsa predator seksual, pihak toko pun menerima teror berkali-kali hingga tiba puncaknya pada 4 Desember 2016. Edgar Maddison yang berusia 32 tahun mendatangi pemilik restoran Comet Ping Pong setelah membaca teori konspirasi perdagangan anak dan langsung menembakkan senjata api yang dibawanya. Beruntung tidak ada korban, pria itu pun ditahan. 

Nah, kondisi yang sedang kita hadapi juga sama. Boleh jadi, ada beberapa pihak yang setelah mendengar teori konspirasi COVID-19 langsung menyerang infrastruktur 5G seperti yang sudah terjadi, meneror Bill Gates suatu saat, dan membunuh semua elite yang dituduh tanpa bukti yang nyata. 

Dan yang paling parah di tengah kondisi seperti ini adalah, orang-orang akan menganggap COVID-19 sebagai sebuah kebohongan dan penipuan. Hal ini akan meningkatkan potensi penularan virus. 

Tercatat, Studi Pew Research menyatakan bahwa 30 persen penduduk Amerika percaya bahwa virus Corona diciptakan di laboratorium. Sekitar bulan Maret, komunitas pegiat teori konspirasi QAnon masih menyakini bahwa COVID-19 hanya hoaks yang digunakan untuk menjatuhkan Trump. Sebagian orang yang anti kebijakan lockdown malah menggerakkan demo tanpa memakai alat pelindung diri. Dan sekarang apa yang terjadi? Amerika berada di papan atas negara dengan kasus COVID-19 paling banyak. 

Untuk itu, sudah seharusnya kita berjuang membuang jauh-jauh teori konspirasi dari masyarakat. Mungkin kita tidak bisa melenyapkannya sampai tidak bersisa, tetapi setidaknya bisa meminimalisasikan. Solusi jangka panjangnya adalah dengan meningkatkan minat literasi negara, sehingga orang-orang mau berpikir sebelum menerima informasi yang sembarang. 

Dan untuk jangka pendeknya, mungkin pemerintah bisa mempublikasikan nasihat-nasihat publik, atau para tokoh masyarakat, artis, otoritas kesehatan juga bisa membantu negara dalam hal ini. 

Kalau teori konspirasi ini sudah mewabah dan dianggap benar, masyarakat akan ketagihan orang-orang akan meninggalkan saran-saran kesehatan seperti lockdown, jaga kebersihan, cuci tangan, jaga jarak dan memakai pelindung diri. Jika nanti manusia juga masih yakin dengan teori konspirasi yang menyesatkan ini dan mengabaikan Pandemi COVID-19, maka tinggal tunggu tanggal mainnya, manusia akan punah di panggung komedi. Ditertawakan virus-virus pandemi itu sendiri.



*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Kairo.

No comments:

Item Reviewed: Ketagihan Teori Konspirasi, Bisa-Bisa Manusia Punah di Panggung Komedi Rating: 5 Reviewed By: kmamesir