Thursday, August 20, 2020

Nilai Kepakaran di Era Modern

 Oleh: Ali Akbar Alfata*

Bradley university.com

Suatu hari, saya berselencar di beranda twitter. Seperti biasanya, twitter kalau ingin kita telusuri, memang memilki banyak sekali bacaan - bacaan menarik. Bacaan menarik itu semakin banyak karena intensitas penggunaan media sosial termasuk twitter juga sangat meningkat akibat Covid-19  yang menjadi momok dunia beberapa waktu lalu. Yang saya maksud dari bacaan yang menarik adalah bacaan yang begitu distracting untuk dibahas dan rasanya krenyes-krenyes.

Salah satu dari yang menarik itu adalah tentang teori konspirasi. Saya di sini tidak ingin membahas masalah teori konspirasinya sendiri, benarlah pepatah Arab yang mengatakan,

ترك الجواب على الجاهل جواب

“Meninggalkan jawaban(nya) kepada orang bodoh itu adalah jawaban”.

Praktis persoalan teori konspirasi memang tidak perlu dijawab karena ia bukanlah sebuah ruang diskusi yang sehat, yang tidak harus dijawab adalah isi dari teori konspirasi itu, adapun ideologi tentang teori konspirasi itu sangat layak dan harus dilawan.

Saya di sini ingin membahas hal yang lebih umum dari teori konspirasi, yaitu bagaimana nilai sebuah kepakaran hari ini. Pakar merupakan seorang yang menghabiskan waktu selama pendidikannya di bidang tertentu dan mendaki penghetahuannya melalui metodologi ilmiah serta mereka para pakar sangat otoritatif, sesuai dengan basis kompetensinya. Singkatnya, pakar adalah orang yang sangat terpercaya di bidangnya.

Apakah meletakkan bawang di teras rumah dapat mencegah Covid? Apakah Covid buatan manusia? Apakah ini agenda elite global? Apakah bulan itu benar-benar ada? ini merupakan segudang pertanyaan yang orang bisa saja menjawab apapun meskipun itu konyol dan salah. Permasalahan sebenarnya adalah hari ini pengikut dari jawaban-jawaban konyol itu sangat banyak, bahkan sudah merambat ke kalangan-kalangan yang “katanya” terdidik.

Sebenarnya mudah saja, kita tinggal mencari jawaban yang benar kepada ahlinya, kepada mereka yang ber-tabahhur di dalamnya, sesuai dengan firman Allah:

فاسألو أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”

Namun lagi-lagi, karena kebanyakan berpikir, muncul pernyataan lain, yaitu, “ilmuwan bisa saja keliru”. Tidak ada yang salah dari itu, ilmuwan bisa keliru, saya bisa keliru, anda bisa keliru, kita semua bisa keliru, tapi apa yang menjamin mereka yang melontarkan pernyataan ini tidak keliru? Tidak ada. Saya rasa sangat ngakak sekali ketika diskusi ilmiah dieksekusi dengan pernyataan semacam itu.

Pernyataan “ilmuwan bisa saja keliru” lantas membuat mereka melontarkan hal-hal yang berlawanan dengan ilmu pengetahuan. Mereka meyakini hal yang mereka sampaikan benar dan mereka pintar, hal ini disebut dengan efek dunning- kruger, yaitu suatu keadaan di mana seseorang merasa lebih pintar dari ahlinya dan kehilangan kemampuan untuk menganalisa kesalahan diri sendiri.

David Dunning dan Justin Kruger, selaku penemu penyakit ini berpendapat bahwa orang yang berpengetahuan rendah cenderung sangat percaya diri karena menganggap dirinya lebih dari kenyataan atau beyond the reality, hebat, dan berada di langit sana, hal ini biasa disebut Illusory Superiorty. Adapun orang yang berpengetahuan tinggi, cenderung kurang percaya diri karena merasa ilmunya belum cukup dan masih harus belajar, sehingga sering kita melihat kalau ada kejadian kontroversial, para pakar terbiasa diam dan melihat lebih dalam terlebih dahulu baru setelah itu mengeluarkan pernyataannya. Hal ini disebabkan karena para pakar sangat intens dalam memahami nilai dari ilmu pengetahuan dan tanggung jawabnya.

Kembali lagi ke permasalahan tadi, manusia hari ini kebanyakan telah kehilangan kemampuan untuk menyadari kesalahan, kemampuan untuk sedikit mengambil jarak dan melihat kembali apa yang telah dilakukan, semua itu hilang. Penyebab hilangnya kemampuan metakognisi tersebut salah satu andil besarnya adalah media sosial. Media sosial beberapa tahun belakangan telah menjadi episentrum bias informasi karena memiliki fleksibilitas yang tinggi. Nantinya, hal ini membuat seseorang cenderung mencari informasi sendiri untuk mendukung apa yang dipercayai, melihat fakta-fakta yang mendukungnya, dan memalingkan diri dari fakta-fakta yang menentangnya.

Setelah proses itu, mereka keluar ke media sosial dan mengatakan “ini lah bukti”, ya, bukti yang mereka yakini sebagai “hal yang dianggap benar” bukan “hal-hal yang telah teruji sebagai fakta melalui peraturan-peraturan yang telah disepakati”. Proses tersebut, meskipun tampak atau memang konyol setelah dijabarkan, namun, aktualisasinya memilki kepuasan intelektual yang luar biasa, yang bikin nagih untuk melakukannya lagi, apalagi kalau berhasil meraup respon yang banyak.

Tentu, kita lagi-lagi bertanya, kenapa yang demikian bisa terjadi? Mungkin tidak kita katakan penyebab sepenuhnya, namun, dapat kita katakana bahwa salah satu keyman-nya adalah pendidikan. Hari ini mungkin kita melihat sekolah bukan tempat merawat akal dengan sehat. Hal-hal yang dicari di sekolah adalah euphoria yang sebenarnya bukan hakikat dari sekolah itu sendiri. Sekolah sejatinya menawarkan metodologi dan materi, bukan hanya nama besar dan secarik kertas. Ketidakrataan standar pendidikan di negara kita juga yang menyebabkan hal tersebut. Biaya sekolah dan universitas yang bagus sangat mahal, sehingga hanya sebagian kecil dari masyarakat yang melek masalah beginian, walaupun juga tidak dijamin sekolah yang dikenal “bagus” sekarang pasti terbebas dari ideologi semacam itu.

Walhasil, hari ini pengetahuan maknanya hanya sesuatu yang didapatkan di internet, sehingga perbedaan antara internet dan sekolah semakin terkikis. Peran para pakar telah direnggut dari situ, setiap permasalahan kontroversial malah merujuk ke selebritis, bukan ke pakar, dan akhirnya mudah dipercaya sebagai fakta. Mitos dan fakta pun semakin bias wujudnya, karena hiruk pikuk seperti ini, banyak pula orang yang asal bunyi, sehingga terciptalah sebuah kesetaraan antara “awam” dan “pakar”.

Tom Nichols, dalam bukunya, The Death of Expertise, atau yang diterjemahkan menjadi “Matinya Kepakaran” mengatakan, “Keadaan sekarang hampir seperti evolusi terbalik, kita menjauhi pengetahuan yang teruji dan mundur menuju legenda dan mitos yang disampaikan dari mulut ke mulut. Hanya sekarang semua itu dikirimkan melalui alat elektronik”. Mitos tidak berubah menjadi fakta apabila disampaikan di media sosial, mitos tidak berubah menjadi fakta apabila disaji dengan bahasa-bahasa tinggi yang akademis, mitos adalah mitos.

Akhirnya, pakar telah kehilangan nilainya, mereka yang badzala juhduhum dalam sebuah bidang tidak dipercaya lagi sebagai ahli dalam bidang itu, yang berbahaya apabila ketidakpercayaan itu menyebabkan Sesuatu yang berbahaya misalnya, di skala luas seperti pemerintahan. Kalau kita menonton film holywood, yang genre-nya adalah bencana-bencana besar, plot film tersebut pasti diawali dengan ketidakpercayaan pemerintah kepada para ilmuwan, pemerintah lebih mempertimbangkan opini publik tentang kapabilitas politiknya, kemudian setelah itu bencana terjadi. Yah, itu hanya sebagai contoh saja.

Hal yang bisa dilakukan sebagai calon pakar-pakar muda, dalam hal apapun itu, adalah meningkatkan kemampuan menyederhanakan informasi yang rumit, atau menyampaikan informasi tersebut melalui hal-hal yang disukai. Diharapkan, nantinya informasi tersebut dapat dikunyah dengan baik oleh orang banyak. Benar lah kata sayyidina Ali radhiyallahuanhu,

خاطب الناس على قدرعقولهم

“Berbicalah dengan orang-orang sesuai dengan ukuran akal (pengetahuan) mereka.”

Image seorang pakar yang terkenal kaku dan alot dalam menyampaikan sesuatu, nantinya berubah menjadi sumber informasi yang atraktif, walaupun para pakar tidak bisa menghadirkan sesuatu yang mindblowing seperti teori konspirasi, tapi setidaknya mampu hadir sebagai pihak yang mencerdaskan dan memperkenalkan nilai-nilai dari ilmu pengetahuan itu sendiri.

Di ruang yang lebih luas lagi, masyarakat nantinya akan menghormati nilai-nilai dari buah pikir atau yang kita sebut sebagai ide, sehingga ruang-ruang diskusi yang sehat akan menjamur, ah, hal yang benar-benar indah. Saya sendiri sampai detik ini masih percaya itu akan terjadi di masa depan nanti, karena api para penuntut ilmu tidak padam semudah itu. Optimisme dan andil para calon pakar muda sangat diperlukan disini demi mencapai cita-cita itu.

Demikian hanyalah seonggok unek-unek yang sudah lumayan lama tertahan dalam benak saya, harapannya tulisan ini dapat sedikit membuka pikiran kita bersama, kalau memang ada yang tidak percaya dengan tulisan ini, ya, seperti yang kita katakan tadi, “tanyakan pada pakarnya”. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.



*Penulis merupakan Mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar Kairo.

Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: Nilai Kepakaran di Era Modern Rating: 5 Reviewed By: kmamesir