Wednesday, October 28, 2020

Refleksi Maulid Nabi Muhammad Saw

Oleh: Nada Thursina Marzuki*
*Juara pertama lomba menulis esai bertema maulid Nabi Saw.
Nada Thursina Marzuki. (Dok. @nadathursina)

Seperti tahun-tahun biasanya, hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. bagi kaum muslim dunia menjadi tanggal yang penuh semarak dan gegap gempita. Masyarakat beramai-beramai saling berbagi makanan, manisan, halawiyat dan sebagainya, sebagai tanda berbahagia dalam menyambut tanggal kelahiran Baginda Nabi Saw. 

Majelis selawat ada di mana-mana, pun penceramah-penceramah yang biasa hanya muncul saat bulan suci Ramadan, kini tiba-tiba mulai naik daun dan kembali menjamur di mana-mana. Pengeras suara dari khotbah Jumat maupun majelis ilmu, semuanya berisi sirah dan perjuangan Baginda Muhammad Saw. dalam menegakkan agama. 

Tak luput tanggal kalender pun turut dimerahkan, agar anak-anak SD yang sudah bosan mengerjakan tugas matematika karena gurunya galak, hobi merepet dan membosankan, juga turut merasakan ingar bingar kebahagiaan. Spanduk dan baliho di jalanan kota turut menggalakkan ajakan untuk menghadiri ceramah maulid yang akan diisi oleh para penceramah kelas papan atas. Masyarakat pun berbondong-bondong berdatangan ke lapangan bola atau halaman Masjid di kampung-kampung yang sudah disulap menjadi panggung, tenda dan kursi-kursi yang berbanjar. 

Semua lomba yang dilaksananan pada bulan Rabiulawal pada umumnya harus dan wajib bertemakan maulid Nabi Saw.; lomba menulis esai ini salah satu contohnya. Jika pun di bulan tersebut kamu tidak melaksanakan lomba yang berbau demikianseperti lomba make up dan kalimat berantai misalnyakamu pasti akan di-japri

Beberapa waktu lalu saat ingin membeli jepitan jemuran di toko Ammu Hasan Pecah Belah—saya menamai nomor kontak beliau di Hp saya demikian, agar mudah diingat—ia menanyakan kepada saya bagaimana kebiasaan orang Indonesia dalam merayakan maulid Nabi Saw. 

“Kebiasaan kami membagi-bagikan halawiyat seperti kue-kue manis, permen dan cokelat. Kalau Kalian apa? apakah kalian juga semarak merayakan maulid Nabi seperti kami, atau malah tak ada kebiasaan maupun ritual apa pun?” tanyanya. 

Padanya, kemudian saya perkenalkan istilah bu molod. Mata Ammu Hasan seketika berbinar-binar mendengar istilah yang masih amat gharib di telinganya tersebut. 

“Kami yang berasal dari Aceh, biasanya membungkus nasi ke dalam daun pisang beserta lauk-pauk yang beragam-ragam dan mengantarkannya ke setiap menasah atau surau-surau terdekat untuk di makan bersama-sama. Lebih dari itu, kami mengundang seluruh sanak famili ke rumah-rumah kami untuk makan bersama. Begitu seterusnya, undangan makan datang silih berganti di rumah yang berbeda-beda sampai habis bulan Maulid; membuat para gadis merasa depresi berat dan meraung-raung karena ternyata kartu member gym discount 15% off yang didaftarkannya bulan lalu, rugi besar dan tak berguna.” 

Ritual maupun seremonial-seremonial membahagiakan yang sudah disebutkan di atas, mungkin bisa jadi salah satu jalan tempuh bagi kita untuk lebih mengingat segala perjuangan serta membangkitkan ghirah kecintaan kita terhadap Baginda Nabi Saw. dan tentu menjadi ajang refleksi diri. Dengan dilaksanakannya acara-acara tersebut, selain sebagai ajang revolusi mental, diharapkan juga dapat membuat batin dan sisi emosional yang ada dalam diri kita dapat lebih terikat dan terpaut dengan Baginda Rasul Saw. 

Saya ingat, sekitar empat atau lima tahun lalu, saya juga pernah mengikuti lomba yang bertajuk Maulid Nabi. Saat itu saya mengikuti cabang cerdas cermat sirah nabawiyah. Saat technical meeting pertama kali, tiba-tiba saja jidat saya basah dipenuhi keringat dingin. Bagaimana tidak, selain referensi buku yang harus dipelajari sangat-sangatlah tebal dan banyak, semua peserta perwakilan rata-rata merupakan siswa-siswi juara umum dari sekolahnya. Dan lebih parahnya lagi, sekolah mereka kebanyakan dari SMA favorit. 

Saya memutar otak, bagaimana bisa, saya yang sebelumnya sangat payah dalam pelajaran sejarah kemudian tiba-tiba sok-sokan ikut lomba sirah? Singkat cerita, saya sepakat dengan diri sendiri, agar tidak apa-apa jika tak menang, yang penting jangan kelihatan bodoh-bodoh amat lah

Saya mulai membaca seluruh referensi buku yang saya punya dengan seksama dan serius. Saya mulai menggabungkan dan memetakan lebih luas di dalam otak setiap kejadian yang dialami Nabi Saw., baik sedih, bahagia, dan seluruh perjuangan beliau dan para sahabat. Menghafal rentetan tahun kejadian, nama-nama sahabat, beragam nama suku, kabilah dan tempat. Mempelajari kehidupan rumah tangga beliau, cara berdagang, berperang, bercanda, muamalah, sopan santun, dan sebagainya. Segalanya, dari lahirnya Nabi Saw. hingga wafatnya. 

Singkat cerita, setelah segala rangkaian lomba tersebut usai, entah mengapa saya merasa lomba tersebut menjadi salah satu hal yang sangat berkesan dan patut disyukuri dalam hidup. Terlepas dari saya berhasil keluar menjadi pemenang utama, layaknya esensi dari perayaan maulid itu sendiri, saya mendapati diri saya merasa lebih dekat dengan Nabi Muhammad Saw setelah mendalami sirahnya. Maka benarlah jika ada pepatah yang mengatakan, “Tak kenal, maka tak sayang. Tak sayang, maka tak cinta”. 

Walau begitu wahai Saudara-saudaraku sekalian sebangsa dan seagama, dalam perayaan maulid Nabi Muhammad Saw. ini sendiri, tentu tetap ada hal-hal yang harus kita garis bawahi. Agar Jangan sampai, seremonial-seremonial dan segala rangkaian di atas menjadi pesan dominan dari diadakannya maulid Nabi Muhammad Saw.. Ia sudah seyogyanya hanya sebatas kita jadikan sebagai wasilah untuk lebih menambah kecintaan kita kepada Baginda Muhammad Saw., sehingga, jikalau pun suatu saat nanti maulid Nabi tak dirayakan lagi atau bahkan tak pernah dirayakan sekalipun, kita tetap akan cinta dan berselawat kepada Baginda Nabi Saw. 

Dibanding hanya sekedar makan-makan enak, kita tetap harus selalu mengutamakan esensi dari perayaan maulid Nabi tersebut. Dibanding kerasnya suara back Sound di kampung-kampung pada agenda ceramah safari maulid itu sendiri, kita harus lebih keras bertanya pada diri. Sejauh apakah rasa cinta kita terhadap Nabi Saw.? Amalan sunnah Nabi Saw. yang manakah yang telah benar-benar kita amalkan secara istikamah? Berapa banyakkah dalam sehari kita berselawat kepada Nabi Saw.? Sudahkah akhlak dan perilaku kita sehari-hari mengikuti Baginda Nabi Saw.? 

Barangkali mengingat akhlak atau sisi batin Baginda adalah mengingat sesuatu yang terlalu tinggi, dan amat sulit untuk digapai. Tatkala Siti Aisyah ditanya perihal akhlak Baginda Nabi Saw, ia berkata bahwa akhlaknya adalah Al-Qur'an. Ia menyukai apa yang disukai Al-Qur'an dan membenci apa yang dibenci Al-Qur'an. 

Salah satu perilaku Nabi Saw. yang teramat sangat saya kagumi adalah toleransi. Beliau sungguh menghargai segala perbedaan yang ada di sekelilingnya. Dikisahkan, beliau juga selalu menampilkan iktikad baik kepada kaum Yahudi, yang tak seiman dan bahkan sering mencaci maki dirinya. Termasuk dalam hal keyakinan pun Baginda tak pernah sama sekali memaksakan keyakinan, bahkan kepada pamannya sendiri, Abu Thalib. 

Menghormati dan tidak memaksa kehendak orang lain entah mengapa serasa menjadi hal yang semakin lesap di zaman ini. Berbeda preferensi politik saja bisa sampai bunuh-bunuhan, apalagi jika dihadapkan kepada hal-hal yang lebih sakral? Intoleransi antar agama misalnya, antar kepercayaan, bahkan yang seagama tapi berbeda kehendak pun juga tak jarang menjurus ke arah aksi kekerasan.

Mungkin kalau kita berbincang tentang kehendak orang lain yang menganggap perayaan maulid adalah sebuah perkara bid'ah dan tidak ada di zaman Nabi Saw., saya kira ini sudah menjadi cerita lama, dan perdebatannya juga sudah panjang dan ada di mana-mana. Jika memang kita mungkin serumah atau berteman dengan orang yang tidak setuju dengan perayaan maulid Nabi Saw., selama ia menghargai kita yang merayakan, maka hargailah ia sebaliknya. Enggak perlu nyinyir, julid, apalagi sampai menganggap diri paling benar dan orang lain salah. Begitu pun sebaliknya. Intinya, enggak perlu ada musuh-musuhan apalagi sianida di antara kita, as simple as that

Kata Guru Hadis SMA saya dulu, jika kita mengaku umat Nabi Muhammad Saw., sekurang-kurangnya berselawatlah kepada Nabi Saw, keluarga, dan sahabatnya minimal sepuluh kali dalam sehari. Para pujangga cinta juga mengatakan bahwa, yang benar-benar cinta biasanya akan sering menyebut-menyebut nama kekasihnya siang dan malam. Lalu Jika berselawat atas Nabi Saw. pun ternyata terasa masih berat, seharusnya kita harus ribuan kali bertanya pada diri, “Apakah saya benar-benar cinta terhadap Baginda Nabi? atau cinta ketika ada maunya saja?” 

Bahkan jika kita menyaksikan sendiri, kerap kali setelah acara ceramah tentang maulid di kampung-kampung usai, sampah bekas kulit kacang, kulit jagung, dan plastik-plastik bekas jajanan Es Gogo dan lain sebagainya bertebaran di sana-sini. Bagaimana bisa, lima menit seusai penceramah berkoar-koar sampai habis suara dalam menceritakan kemulian jiwa serta perilaku agung Baginda Nabi, kita masih saja menganggap menjaga kebersihan bukanlah salah satu akhlak yang diperintahkan dan bahkan dianjurkan Nabi Saw.? Oh sayangku, cintaku…! 

Barangkali kita harus benar-benar lebih serius bertanya pada diri, apakah cinta kita selama ini terhadap Nabi Muhammad Saw. benarkah merupakan sebenar-sebenar cinta yang murni? atau hanya cinta palsu yang melulu butuh alasan? Mungkin saja kita berselawat selama ini hanya ketika hafalan muqarrar kita ambyar saat di ruang ujian, mungkin pula saat melihat polisi sedang berpatroli di ujung jalan tapi kita tak punya visa tinggal, atau bahkan hanya saat detik-detik mau turun natijah atau nilai ujian? 

Terkadang saya suka iri melihat para masyaikh dan ulama-ulama yang sudah sampai ke maqam di mana ketika mendengar atau hanya sekedar menyebut nama Baginda sekali saja, isak air matanya sudah tak terbendung lagi untuk ditahan, bahkan suara dan napasnya pun sampai tersengal saking menahan rasa rindu yang teramat sangat. Terlebih iri lagi dengan orang-orang yang dihadirkan oleh Allah, Baginda Nabi di dalam mimpinya. Masyaallah.


Oleh karenanya, Sebagaimana terdapat dalam kitab Dalail Al-khairat, bahwa setiap mukmin yang saleh dan salehah hendaknya selalu berdoa: 

“Aku memohon kepada-Mu wahai Tuhanku, untuk memanfaatkan diri kami bagi Nabi Saw., mematikan kami sebagai umatnya, memasukkan kami ke dalam barisannya, di bawah panji-panjinya, dan menjadikan kami sebagai sahabat-sahabatnya, memberi kami apa- apa dari sumbernya, memberi kami minum dari cangkirnya, dan memberi kami anugerah cintanya.” 

Allahumma shalli 'ala Sayyidina Muhammad. Selamat merayakan maulid Nabi Muhammad Saw.[]

*Penulis adalah mahasiswi Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.
Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: Refleksi Maulid Nabi Muhammad Saw Rating: 5 Reviewed By: kmamesir