Thursday, December 31, 2020

Petuah Maryam

Oleh: Rahmiatul Aini*
Pinterest

Secangkir peppermint tea telah kuseruput habis, hangatnya sedikit menenangkan pikiranku yang kacau serta menghangatkan tubuhku dari dingin yang semakin malam semakin menusuk tulang. 

Sa’ah kam dilwa’tiy?, seorang bocah kecil yang sedari tadi menawariku untuk membeli setangkai mawar yang ia jajakan bertanya. 

Ku buka layar hp bututku untuk melihat jam, ternyata sudah pukul 21.00 CLT. Bukannya meringkuk di bawah selimut nyaman di dalam kamar, aku malah masih terjebak di Jabal Muqattam. Tidur beratapkan langit, beralaskan tikar sewaan dan berteman angin. Kaki enggan untuk beranjak, mata enggan untuk terpejam. 

Di tengah riuh musik Mesir, canda tawa bapak-bapak yang sepertinya sedang bernostalgia, pikiranku pun riuh. Target yang belum tercapai, waktu yang rasanya begitu cepat berlalu, serta pundak yang semakin berat, entah beban apa yang dipikul. 

Tiga tahun telah berlalu sejak kakiku pertama kali menginjak bumi para nabi, tak pernah tertulis dalam diary, tak pernah terbersit dalam mimpi, tiba-tiba diamanahkan untuk menjalani skenario indah ini. 

“Kak, aku insecure banget, temen-temen banyak yang udah hafizah, dapat nilai mumtaz, mereka hebat di bidang mereka masing-masing. Aku malu banget rasanya, belum dapat apa-apa”. Seorang adik kelas menceritakan kegalauannya padaku minggu lalu. 

Curhatan semacam ini bukan hal yang asing didengar tentunya, terutama jika kamu adalah mahasiswa tahun ketiga. Mahasiswa baru yang masih bingung menentukan arah, kamu dituntut untuk memberi mereka arahan. Teman-temanmu yang kelelahan di tengah perjalanan, kamu diharapkan untuk mengulurkan tangan. Padahal kamu pun tak jarang merasa lelah dan kehilangan arah. 

Pekan lalu, setelah mendengar uneg-uneg Manda selama satu jam, bukannya memberikan nasehat, aku malah menceritakan sebuah kisah yang baru kupelajari di perkuliahan. Sebuah kisah dari salah satu karya sastra masa Abbasiyah. 

*** 

Pakaian dari sutera menyelimuti tubuhnya. Perhiasan dari emas dan perak menambah keelokan parasnya. Wangi semerbak dari parfum terbaik menyempurnakan pesonanya. 

Para anggota keluarga yang hadir terpana, ia berhasil mengangkat derajatnya di depan keluarga Ayahnya. 

“Bidadari itu, putriku.” Senyum Maryam sembari membetulkan penampilan putrinya. Hari ini merupakan hari yang sangat ditunggu-tunggu, hari pernikahan putri berharganya yang pada saat itu berumur 12 tahun. 

Suami Maryam yang sedari tadi merasa kaget dan takjub bertanya. “Dari mana kamu mendapatkan semua ini, Maryam?” 

“Ini merupakan rezeki dari Allah”. Jawabnya singkat. 

“Tentu saja aku tahu itu. Sekarang katakan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi. Demi tuhan, kamu bukanlah orang yang kaya, tidak pula mewarisi harta yang banyak dalam waktu dekat. Kamu juga bukan seorang pencuri. Apakah kamu telah dihujani harta karun? Bagaimana ini bisa terjadi? Kamu telah melepaskan tanggunganku serta menyelesaikan masalahku. 

Kemudian Maryam menjawab, “Ketahuilah suamiku, sejak aku melahirkan putri kita hingga menikahkannya, setiap hari aku mengumpulkan sedikit tepung dari tiap adonan roti yang kita miliki. Sebagaimana kamu tahu, kita memanggang roti sekali setiap harinya. Maka ketika tepung itu telah terkumpul sekitar satu kilo, aku menjualnya. 

“Allah telah memberikan petunjuk kepadamu, dan memberikan kebahagiaan bagi siapapun yang membersamaimu, Maryam”. Ujar sang suami. 

*** 

"Di dalam buku “Al-Bukhala” karangan Jahidz, dikatakan bahwasanya kisah ini diceritakan oleh seorang syekh kepada sekelompok remaja masjid pada hari kematian Maryam. Setelah mendengar kisah tersebut, mereka segera mendatangi suami Maryam untuk menghiburnya serta ikut merasakan kesedihannya”. Jelasku kepada Manda. 

“Cuma ngumpulin tepung doang tiap hari selama 12 tahun dia bisa beli semua itu?”, tanya Manda. 

“Iya, di akhir cerita syekh tersebut berkata seperti ini: 

“Janganlah kalian meremehkan suatu perkara kecil, karena setiap hal besar awalnya hanyalah suatu hal yang kecil juga. Ketika Allah menghendaki, hal yang kecil itu dijadikannya besar, hal yang sedikit dijadikannya banyak”. 

Inget nggak peribahasa Indonesia yang selaras dengan makna ini?” tanyaku. 

“Hmm, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit?” 

Yap bingo! Yang perlu kita lakukan hanyalah konsisten dengan apa yang kita kerjakan. Sekecil apapun progress setiap harinya tidak masalah. Baik itu dalam menghafal, belajar, nabung, atau apapun bentuk kegiatan positif lainnya”. 

Sometimes, it’s okay to be insecure. Jadikan insecure itu energi positif yang membuat kita bersemangat untuk terus memaksimalkan potensi yang kita miliki”. 

*** 

Konsisten. Sekecil apapun progress setiap harinya tidak masalah. Jadikan insecure energi positif. 

Kata-kata itu terus aku ulang untuk mengingatkan diriku sendiri ketika mulai goyah atau lelah. Seperti saat ini. Berbagai pertanyaan terus bermunculan di kepalaku. Penyesalan akan hari kemarin. Ketakutan akan hari esok. Bahkan detik demi detik yang aku gunakan sekarang pun terbuang oleh overthinking

“Ra, udah jam 11 nih, pulang yuk”, Risa menyadarkanku dari lamunan. 

Aku pun beranjak pulang dengan kepala yang masih dipenuhi banyak pertanyaan. Semoga esok, esoknya lagi satu persatu jawaban itu ditemukan. Mungkin saja ini adalah salah satu bentuk pembelajaran. 

Semoga ibrah dari kisah Maryam sedikit demi sedikit bisa kita aplikasikan dalam keseharian kita. Semoga kedepannya akan ada lebih banyak Maryam yang hadir di generasi ini. Perempuan-perempuan yang memiliki tujuan hidup jelas, konsisten dalam menjalani setiap progress, dan bisa diandalkan. 

***

*Penulis adalah mahasiswi Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar Kairo.

Editor: Hayatul Rahmi
Badan Takaful Aceh


No comments:

Item Reviewed: Petuah Maryam Rating: 5 Reviewed By: kmamesir